Saksi kita siapa yah?

Januari 14, 2012 pukul 8:26 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Kisah Para Rasul 4:13-14
Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.
Tetapi karena mereka melihat orang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya.

Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang yang cacat sejak lahirnya, usianya kira-kira 40 tahun.
Karena kejadiannya dekat Bait Suci di Yerusalem, maka perhatian orang terutama imam-imam dan penatua-penatua Yahudi tertuju kepada perkara “janggal” ini.

Sekian dari penuatua itu adalah dari golongan Saduki, golongan yang tidak mempercayai akan roh-roh, tentang kebangkitan orang mati, dan segala yang berbau dengan itu.

Mereka geram kepada Petrus dan Yohanes, karena beberapa orang telah menjadi percaya kepada pekabaran Injil. Pekabaran tentang kekuatan YESUS Kristus, Juruselamat. Petrus malah membuat mereka tercengang ketika mengutarakan Kitab Suci, mahir sekali, menghubungkan Kitab Suci Yahudi (Perjanjian Lama), dengan penggenapannya, penggenapan atas YESUS.Dan ia melanjutkan: “Tidak ada nama selain YESUS di bawah kolong langit ini yang dapat menyelamatkan”. Tidak ada kekuatan selalin kekuatan YESUS, tidak ada kekuatan selain kekuatan ALLAH.

Penatua itu pertama menghakimi Yohanes dan Petrus melalui jalur yang umum, yaitu pengetahuan literatur. Jelas dua rasul ini tidak lolos, sebab tak satupun sekolah keimaman yang mereka ikuti, atau tak satu sekolah pendalaman Kitab Suci manapunpun yang mereka ikuti,sekolah keagamaanpun formalpun tidak, tetapi setelah mereka pelajari, hanya karena mereka mengikuti YESUS-lah maka mereka dapat mengetahui dan dapat berkata-kata dengan berani mengenai Kitab Suci, bahkan tidak hanya berkata-kata, tetapi melakukannya dengan penuh kuasa, kita dapat melihat Kitab Kisah Para Rasul perihal mukjijat-mukjijat yang menyertai rasul-rasul Kristus tersebut.
Dan satu hal yang membuat mereka terdiam adalah ketika “saksi” Yohanes dan Petrus berdiri di samping mereka, dia adalah buah dari karya kuasa Nama Kristus, kesembuhan seorang cacat tadi. Orang yang disembuhkan adalah personifikasi, tetapi saksi utamanya adalah kekuatan Kristus yang tersalur dari memanggil Nama YESUS untuk menyembuhkan person tadi.

Pendakwa kita adalah roh-roh jahat, iblis, si raja dusta. Terkadang ia mendakwa kita jauh di dalam batin kita, memberikan peluang-peluang pemikiran, penghakiman-penghakiman atas segala yang kita lakukan. Dapatkah kita melewati dakwaan itu? Jika saksi hasil perbuatan, buah-buah kekuatan Roh TUHAN berdiri di samping kita, maka pendakwa itu akan diam sama sekali, mereka tidak berani melanjutkan langkah yang lebih dari terdiam saja, atau ia akan mencari celah lain, tetapi jika dia mendapati kehampaan, kesemrawutan atau kekacauan, maka mereka akan semakin menjadi-jadi.

Jadi buah-buah rohaniah adalah saksi-saksi kita dihadapan pendakwa, kita adalah personifikasinya. Ketika si cacat yang telah sembuh itu berdiri di sebelah Yohanes dan Petrus dalam “dakwaan” penatua yang merasa dan mungkin malah benar mengetahui segala sesuatu hukum agama, mereka bungkam.
Jadi siapa saksi kita kelak, dulu, dan sekarang?
Ketika saksi kita terlihat nyata, antara lain berupa kelalaian, maka bukan menjadi sebuah keheranan bahwa banyak penatua-penatua gereja, bahkan hamba-hamba TUHAN, menjadi batu sandungan kepada pekabaran Injil.
“Gereja telah menjadi ladang bisnis, saya tidak percaya TUHAN”, itulah salah satu keluh kesah seorang teman.
Batu sandungan karena saksi Gereja adalah perbuatan keserakahan, roh tamak.
Saksi kita adalah Kristus, karena kita melakukan apa yang YESUS perbuat,semoga kita dikuatkan untuk semakin mengenal DIA (mengenal dalam term Alkitab adalah semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat dan semakin dekat, memikirkan tentang TUHAN selalu, dan memikirkan tentang TUHAN berarti menyadari bahwa malaikat-malaikat bagaikan awan berada di sekeliling kita melihat semua perbuatan kita).

Iklan

Warisan harta

Februari 10, 2011 pukul 7:40 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 1 Komentar
Tag: , , ,

link tambahan bisa baca:
aku juga tahu koq
jatuh

Jika seorang kaya melahirkan keturunan, maka anak-anaknya entah bagaimana juga disebut anak orang kaya, simplenya anak kaya, lebih umum lagi, orang kaya.

Jika seorang miskin melahirkan keturunan, maka …… titik saja.

Artinya harta orang tua diwariskan kepada anak-anaknya, umumnya begitu, meski ada beberapa orang yang mewariskan hartanya bukan kepada anak-anaknya melainkan yayasan sosial tertentu atau lain-lain.

Terkadang warisan harta itu tidak dilimpahkan kepada anak-anaknya karena ada sesuatu pada anak itu atau ada sesuatu yang membuat orang tua itu tidak mewariskannya kepada si anak.

Jadi di sini jelas terlihat dua hal yaitu sesuatu yang wajib/khas/umum/harus, dan sesuatu yang menjadi tidak wajib/khas/umum/harus oleh karena perbuatan.

Warisan tidak berbicara tentang perbuatan, tetapi perbuatan bisa mendapatkan warisan. Sebentar lagi mungkin kita akan mengerti dari perkataan ini.

Ketika ADAM/HAWA diciptakan mereka diberi janji untuk mengusahakan seluruh ciptaan lain, dan janji itu akan diwariskan kepada semua keturunannya, sebab bukan ADAM/HAWA saja yang akan memenuhi bumi tetapi keturunannya juga, ADAM/HAWA amat sangat penting, karena mereka adalah manusia pertama. Tentu tidak akan ada yang protes akan satu hal ini kecuali yang berikut:…

Ketika ADAM/HAWA telah memulai pelanggaran terhadap satu perintah TUHAN, maka ADAM dan HAWA mewariskan sesuatu kepada kita. Dan kita yang terwaris satu pelanggaran itu malah telah melakukan pelanggaran-pelanggaran yang tidak cuman satu, bahkan bisa lebih, ratusan, ribuan atau malah buaaanyak sekali. Kita tidak pernah melakukan suatu apapun sehingga kita harus lepas dari hubungan akrab dengan TUHAN. Kita tidak pernah bisa memilih untuk dilahirkan oleh orang tua tertentu, kita lepas dari perbuatan itu.
Sehingga kita juga tidak bisa lepas dari keadaan terbuang dari EDEN.

ADAM melakukan satu dosa, tidak setia, tetapi coba cek diri kita, kita telah melakukan tidak setia, berbohong kepada orang tua, berdusta kepada Guru, memaki orang yang sedang mencari Mesias,…mengatai orang Kafir,..d.l.l, buanyak sekali…jadi hati-hatilah, jika Anda masih bisa membuat anak, maka jika anak Anda melihat hal-hal yang demikian maka roh Anda bisa berbicara kepada roh si anak…
Ada efek sosial dari melahirkan anak, bahwa kita harus menjaga dan memeliharanya…dan karena harus maka kita jangan sembarangan memiliki hubungan yang bisa melahirkan anak. Contohnya sudah jelas pada peristiwa Hagar dan Sarah, Ismael dan Ishak… karena Abraham sembarangan terhadap Janji TUHAN maka anak Ismael dan anak Ishak pada umumnya “berantam” bahkan sampai jaman sekarang.
Karena anak tidak memiliki perbuatan apapun yang bisa membuat dia lahir sebagai sesuatu kelas tertentu, dan karena orang tua yang memiliki perbuatan pembatasan itu, maka orang tua bertanggung jawab terhadap warisan rohaniah apa yang didapatkan anak-anaknya. Kalau anak Anda tidak ingin menjadi miskin, maka hai orang tua janganlah miskin… itu sederhananya.

Ada sesuatu di dalam diri ADAM/HAWA yang langsung “tewas” ketika menyadari dosanya. Dan itu berlanjut kepada kita. Sesuatu yang tewas itu adalah kita (kala itu ADAM/HAWA) tidak dapat lagi berhubungan langsung dengan TUHAN di EDEN, di Firdaus.

Di Taman Eden ADAM dan HAWA bisa “bercakap-cakap” langsung dengan TUHAN, tetapi ketika manusia berani berontak kedekatan itu menjadi renggang, ditandai dengan diusirnya manusia pertama itu dari EDEN.
Kerenggangan hubungan itulah yang menjadi nenekmoyang dari segala penderitaan yang kita alami. Dan susahnya “bercakap-cakap” dengan TUHAN itulah yang dicoba oleh keturunan SET anak ADAM, yaitu jaman ENOS, dalam bentuk pemanggilan Nama TUHAN, memanggil kehadiran TUHAN dalam ritual-ritual spiritual, dan sejak itulah dimulai penyembahan kepada TUHAN.

Kata mati dalam perintah TUHAN yang pertama yaitu Larangan memakan pohon pengetahuan secara etimologi bisa diartikan “kamu pasti menderita”. Dan jelas sejak peristiwa itu menderitalah manusia, salah satu pointnya adalah setiap wanita akan sakit kala bersalin… tanah menjadi “mengerikan”,…perjuangan menafkahi keluarga, d.l.l…

Lempar tanggung jawab adalah salah satu efek dari kerenggangan hubungan dengan TUHAN. Ingat Adam melempar tanggung jawab kepada Hawa, dan Hawa kepada ular… ketika kita tidak setuju dengan warisan, maka kita bisa saja lempar tanggung jawab…menyalahkan orang tua, menyalahkan pemerintah, menyalahkan si koruptor sana, d.l.l, padahal kita bisa menjadikan diri kita kaya dengan memilih warisan yang seharusnya milik kita, yaitu warisan akrab dengan TUHAN.

Sebagai contoh sederhana, seorang koruptor jelas akan dihukum oleh karena pelanggarannya sendiri, kita tidak akan pernah dihukum sebagai koruptor sebab kita tidak melakukannya, tetapi oleh ulah seorang koruptor maka seantero negeri bisa merasakan masuknya penderitaan bernama kemiskinan, dan kita harus menanggung akibat-akibat kemiskinan itu, antara lain kerusuhan, pencurian, perampokan, ketidaknyamanan,… dan itu adalah dosa-dosa baru yang dilahirkan oleh efek si koruptor.

Peristiwa ini dicatat di Kitab Kejadian, di Kitab Kejadian dikisahkan banyaknya peristiwa awal, peritiwa asal muasal. Dan disitupulalah kita temui asal muasal kenapa tangis, ratap tangis, kesedihan, penderitaan ada dan hadir di dunia ini, yaitu kala manusia melawan dan berontak dan tidak setuju kepada hadirnya hadirat TUHAN di bumi. Dosa warisan berbicara tentang bagaimana penderitaan masuk dan dimulai di dunia ini.

TUHAN menciptakan segala sesuatu baik, artinya manusia tidak diciptakan untuk menderita, tetapi manusia menjadi menderita karena perbuatan melanggar kesetiaan/ketundukan kepada Pemerintah YANG SATU, TUHAN.
Keadaan “tidak dekat” dengan TUHAN itu langsung dibuktikan dari peristiwa anak ADAM, Kain dan Habel. Belum beberapa generasi, masih generasi pertama dari ADAM, sudah terjadi pembunuhan pertama,… sudah terjadi pembangkangan ke dua yang lebih parah,… sampai generasi ke tujuh, sudah terjadi manusia membuat hukum sendiri,…dan seterusnya dan seterusnya…

Kain yang orang tuanya terusir dari EDEN sekarang malah telah melakukan dosa yang lebih parah dari ADAM, ia seorang pembunuh.
Kenapa bisa? apakah ADAM mengajari Kain membunuh? apakah TUHAN mengajari cara membunuh?
TIDAK. Apa yang terjadi? yang terjadi adalah bahwa ada pada diri Kain yang menggambarkan tentang ROH yang ditolak.
Terusir dari EDEN maka tidak ada satupun manusia yang akan sanggup memasuki EDEN itu lagi, dan ketidaksanggupan itu diwarisi oleh ADAM kepada semua keturunannya. Tidak ada satucarapun dari manusia yang bisa membalikkan keadaan dunia ini kepada keadaan semula tak kala dunia baru selesai diciptakan TUHAN. Karena ada perkara rohaniah berat yang sedang terjadi. ADAM dan HAWA diberi warning, dan sebelum warning ADAM dan HAWA deberi janji untuk beranak pinak, sehingga ketika mereka menyepelekan Warning itu sekaligus mereka melepas tanggung jawab kepada keadaan rohaniah anak-anaknya.
Jadi orang tua bijaksanalah, berdoalah. Hai para pemimpin hati-hatilah, takutlah akan TUHAN (itu yang dikumandangkan oleh Kitab Suci sejak dahulu kala). Hai kepala rumah tangga, hai manusia, takutlah akan TUHAN, sebab kita adalah manusia sosial, bukan manusia egois,…(itu juga dikumandangkan sepanjang sejarah Kitab Suci)…

Perbuatan dosa ditanggung oleh diri kita yang melakukannya, tetapi ada efek sosial yang berlaku kepada mereka yang memiliki kesanggupan untuk beranak pinak.
Seorang bapak yang menjadi pembunuh akan dihakimi sebagai pembunuh, tetapi anak dari bapak pembunuh ini bisa dicemooh sebagai pembunuh oleh lingkungannya dan itu bisa tertanam dan bisa membuat dia sebagai seorang pembunuh berdarah dingin juga.

Seorang yang merasa A adalah yang terbaik di muka bumi ini akan berusaha mewariskan A kepada anak-anaknya, ia akan berusaha mendidik si anak sejak di kandungan bahkan, …. jika ternyata A adalah sesuatu yang salah di mata TUHAN, maka orang tua itu telah mewariskan sesuatu yang salah, itu juga disebut warisan harta, warisan dosa.

Dari keadaan asal muasal penderitaan di atas maka sangat masuk akallah kenapa begitu banyak aliran-aliran kepercayaan di muka bumi ini. Karena semua orang bisa mengeluarkan atau memraktekkan apa yang menurutnya benar, sementara YANG BENAR telah undur dari manusia itu sendiri.

Keadaan yang amat sangat pahit inilah yang oleh pemazmur ungkapkan sebagai hutang darah:

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
(Mazmur 51:5)

Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!
(Mazmur 51:14)

yang kemudian sekitar 900 tahun berikutnya dikutip oleh Paulus, yang kemudian disalah mengerti oleh orang-orang di jaman-jaman akhir ini.

Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.
(Yehezkiel 18:4)

Ini bicara perbuatan. Siapapun yang berbuat atas pelanggaran, maka ia sendiri akan menanggung akibatnya.
Adam menanggung akibat dosanya, Kain menanggung akibat dosanya, kita semua akan menanggung akibat dosa pelanggaran kita.

Tetapi ketika saya misalkan seorang pendosa oleh karena membunuh maka ini menceritakan tentang ada yang terbunuh, jika ada yang terbunuh maka ada efek lain dari dosa saya itu, yaitu keluarga korban, dan hukum, jika hukum tidak baik maka keluarga korban bisa menuntut balas secara individual, dan…terjadilah kekacauan… maka pembunuh membuat orang lain menjadi pembunuh… dan seterusnya…lahirlah penderitaan,.. sebab TUHAN telah berkata: “Ketika kamu melawan kamu pasti mati”, mati = menderita.

Jadi dosa warisan tidak berbicara tentang dosa perbuatan, tetapi asal muasal dari tentang hilangnya keadaan baik dari manusia. Perbuatan adalah efek dari dalam keadaan terwaris jauh dari TUHAN, yang digambarkan sebagai selalu memilih yang salah.

Dalam keadaan yang hilang baik itulah ROH ALLAH bekerja di dalam KRISTUS YESUS. KRISTUS yang baik yang tinggal di dalam kita menjadikan kita dapat merasakan Hadirat TUHAN, dapat merasakan EDEN, Firdaus, meski kita masih hidup di dalam dunia yang telah terkutuk ini.

Surat warisan harta akan sah jika ada “materai”, dan materai darah YESUS telah mensahkan bahwa kita bisa mewariskan Kerajaan Sorga kepada mereka yang dipanggil TUHAN. Dan karena SAH itulah YESUS mengatakan supaya kita memateraikan setiap orang yang percaya dalam Baptisan BAPA, ANAK dan ROH KUDUS…Dipilih oleh Bapa, dimateraikan dalam damai darah YESUS dan dibenarkan oleh Saksi Kebenaran ROH KUDUS…sebagai simbol bahwa dari keadaan terusir dari EDEN oleh Adam kita menjadi dapat merasakan EDEN oleh darah YESUS. Hutang darah dibayar oleh YESUS. Dan dihidupi dalam kelimpahan anugerah-anugerah rohaniah.

Dalam darah YESUS semua manusia seyogyanya diberi warisan sorga, tetapi tidak semua mau menerima warisan itu. Dan ketidakmauan menerima warisan itu adalah buah dari perbuatan memilih. Jika Anda memilih tidak mau menerima warisan sorga dari ALLAH, apakah Anda rela mau memberi pilihan kepada anak Anda untuk memilih antara menerima atau menolak warisan YESUS? tentu yang menolak YESUS tidak akan pernah melakukan hal sedemikian itu. Dalam hal ini ia juga telah turut mewariskan suatu penolakan kepada warisan YESUS. Tidak semua mau menerima karena tidak semua mau menjadikan YESUS sebagai Raja di dalam dirinya. Bahkan yang menerima bisa saja tidak mau mengaku YESUS sebagai RAJA, persis seperti ADAM/HAWA diawal kejatuhan, ketidakmauan mereka setia, tidak melihat Tuan mereka sebagai sesuatu yang harus dipatuhi, ditakui, maka mereka berani memakan pohon pengetahuan…dan ternyata benar, kita diwarisi keadaan yang sama, yaitu tidak mau dan tidak rela menjadikan YESUS Raja, syukur ada yang mau.

Dosa warisan bukan berbicara mengenai nenek moyang yang melanggar dosa tetapi kita anak cucunya yang menanggungnya (baca kutipan Yehezkiel di atas), karena kita sudah mengatakan bahwa dosa warisan bukan berbicara mengenai akibat dari perbuatan , tetapi berbicara mengenai ketidaksanggupan manusia menghadap TUHAN secara langsung, mati rohaniah, tentang penderitaan, tentang hutang darah, asal muasal penderitaan.
Seorang orang tua yang berhutang akan membuat anaknya terhutang, atau Pemerintah yang berhutang akan membuat warganya terhutang, bahkan anak cucu kita telah diwarisi hutang kepada negara-negara maju, rusaknya hutan telah kita warisi sebagai bentuk pemanasan global kepada anak cucu kita.

Dosa warisan juga bukan berbicara mengenai TUHAN yang tidak Maha Pengampun, karena TUHAN melalui YESUS ternyata mengampuni siapa saja dari manusia, perkaranya adalah apakah kita tahu bahwa kita telah diampuni?, tetapi berbicara mengenai tanggung jawab kita sebagai manusia yang dianugerahi untuk dapat memenuhi bumi ini, mengenai KEKUDUSAN TUHAN dan berbicara tentang KEADILAN TUHAN, dan lebih lagi yaitu berbicara tentang seriusnya TUHAN melihat pelanggaran dan penolakan akan TUHAN sebagai RAJA. Jika TUHAN ditolak, tidak terlalu mudah berkata maaf, berkata maaf kepada si penolak akan membuat dia manja dan tidak terdidik. Sekali lagi KASIH tidak sama dengan memanjakan. KASIH tahu kapan berkata TIDAK.

Jadi point utamanya adalah di kata dosa itu sendiri.
Dosa bisa disebut sebagai pelanggaran terhadap hukum/perintah TUHAN…
tetapi ada satu dosa lagi yang amat mematikan, yaitu Dosa jauh dari TUHAN, dan itulah yang dilakukan ADAM/HAWA, jauh dari TUHAN. Iblis ingin manusia tidak akrab dengan TUHAN, salah satu caranya adalah dengan menyuntikkan firman yang ia pelintir,… dan ia berhasil.

Di sini kita dapat pahami, bahwa memang ada orang yang tidak berdosa karena tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum ALLAH, tetapi meski ia tidak melakukan pelanggaran secara roh ia tetap terpisah dari ALLAH, sebab memang tidak ada manusia yang Maha, atau sederhananya manusia berdosa bukan karena perbuatan melanggar peraturan tertentu, tetapi karena secara roh mereka telah tidak akrab lagi dengan TUHAN.

Jika oleh perbuatan kita disebut melanggar dan berdosa, dan ternyata akan lebih parah lagi adalah jika dikatakan seseorang menganut agama tertentu akan masuk sorga padahal perbuatan kebaikan yang ia perbuat tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan seseorang yang menganut agama lain ada hal yang tidak adil di sini. Seorang menganut agama X tetapi merusak dan membunuh oleh alasan agama dan dijanjikan masuk sorga akan menjadi aneh jika dibandingkan dengan Bunda Theresa yang menyayangi kaum papa tetapi harus masuk neraka karena menjadi seorang Katolik… itu tidak adil…
Tetapi karena dosa warisan bukan perkara perbuatan, maka adil juga TUHAN memberi anugerah sorga bukan oleh karena perbuatan kita sendiri.

Pelanggaran dosa baru diperhitungkan setelah Hukum Taurat diberikan, itu menjelaskan tentang dosa akibat pelanggaran, tetapi sebelum Taurat itu diberikan jelas manusia banyak yang melanggar, mereka cenderung melanggar karena asal muasalnya sudah cenderung berbuat dosa,… agama banyak, keyakinan banyak, orang berkata benar banyak, karena sejak asalnya manusia telah cenderung salah…
dan supaya tidak cenderung salah terimalah ROH KEBENARAN, karena kita menyembah ALLAH hanya di dalam ROH dan KEBENARAN.
Orang yang menerima ROH KEBENARAN bisa saja melakukan pelanggaran, dosa pribadi. Tetapi rohnya sendiri telah diperdamaikan dengan TUHAN oleh tebusan KRISTUS, dan kita berdoa agar setiap orang dapat mengingat pondasi ini di dalam hukum Jangan Menghakimi, sebab kita tidak tahu kapan TUHAN menjamah seseorang. Sebab orang diuji menurut “kemauannya” sendiri, dan orang bisa saja gagal dan gagal, tetapi umat ALLAH dikatakan meski gagal sampai tujuh kali, maka tujuh kalipula dia akan bangkit. Salah satu bagian dari Kasih adalah Lemah Lembut, sehingga jika kita menemukan kesalahan pada orang lain, yang rohaniah, ajarlah mereka dengan lemah lembut, itu Pesan ROH KUDUS melalui tangan PAULUS. Karena pada jaman Paulus banyak orang membawa senjata dan pentungan untuk menyelesaikan masalah.

Perbuatan apa untuk masuk Sorga Guru?

Maret 11, 2010 pukul 8:56 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 64 Komentar
Tag: ,

Suatu waktu seorang pemimpin agama, -ini ibarat Ephorus-lah di gereja-gereja “tradisional” Batak-, atau mungkin sejenisnya, bertanya kepada YESUS…

“Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”, Lukas 18:18.

lalu…

(Luke 18:19-20 [ITB])
Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.
Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu.”

Dua kalimat yang sangat dalam. Tentu si pemimpin agama bisa menjangkau itu…

pertama: Yesus sedang bertanya tentang pengenalan akan ALLAH dari si pemimpin
kedua : Yesus sedang bertanya tentang pengenalan akan sesama manusia…

Jelas si pemimpin ini lebih dahulu merespon yang kedua, karena tentu ia seorang pemimpin dan pemimpin adalah panutan di dalam hidup beragama dan bermasyarakat… perhatikan kata dia…

(Luke 18:21 [ITB])
Kata orang itu: “Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.”

Wooouu… orang ini benar-benar pemimpin yang taat…5 hukum taurat, tentang hukum cinta kasih kepada sesama semua ia libas dengan sempurna, pengkuan dia begitu….

Perhatikan sekali lagi yang berikut ini…akan sangat jelas betapa 5 hukum taurat, tentang hukum cinta kasih kepada ALLAH ia sedikit “lupa” hehehe….

(Luke 18:22-23 [ITB])
Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.
Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya.

Perkataan Yesus ini sekaligus menjelaskan tentang betapa rendahnya pengenalan pemimpin ini akan ALLAH,… pertama ia berkata ALLAH adalah Baik, tetapi ketika ia diharapkan untuk mengikut YESUS, ia sedih, kenapa ia sedih?, karena kalau IA mengikuti ALLAH yang BAIK, yang bahkan rela menjadi manusia, YESUS, maka ia harus berbuat baik juga sama seperti ALLAH Yang adalah Baik kepada sesamanya, yang miskin… dan segala harta tempat ia bergantung, harus ditinggalkan… mengikut YESUS… artinya tidak ada harta yang lebih indah daripada memiliki pusaka ALLAH… sama seperti suku Lewi, para imam, tanah pusakanya adalah ALLAH sendiri,… dan kita dipanggil untuk menjadi imam-imam, bak Lewi, menjadikan ALLAH sebagai pusaka yang paling berharga, yang harus dimiliki, diikuti…

Sang pemimpin dijelaskan bahwa 5 hukum taurat yang ia turuti sangat erat hubungannga dengan 5 hukum taurat lainnya, hukum kasihilah Allahmu dan kasihilah sesamamu…
Artinya, kalau tidak mengenal ALLAH maka sia-sialah segala jerih payahmu, tetapi dengan mengenal ALLAH, maka jerih payahmu tidak sia-sia, seperti kata Alkitab berikut ini…
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.(1 Korintus 15:58)

Itu bukan kerbau

Februari 4, 2010 pukul 8:31 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 37 Komentar
Tag: , ,


sumber gambar:
http://sdkmardiwiyata2.files.wordpress.com

Ada perbincangan neh….
A: “Ahhh binatang itu bukan kerbau”
K: “Kenapa bisa begitu”
A: “Kerbau itu tidak pernah berkata aku adalah kerbau.”
K: “Tapi kan dari pekerjaannya bisa kita tahu itu kerbau, dijadikan bajak koq bukan kerbau?”
A: “Kalau cuman bajak kan sapi juga bisa….”
K: “Ciri-cirinya kan dah jelas.. itu kerbau”
A: “Mungkin orang yang pertama memberi nama itu yang keliru, saya masih yakin itu bukan kerbau sebab ia tidak pernah mengaku kerbau”
K: “Apa pentingnya ia mengaku kerbau?, jelas-jelas itu kerbau”
A: “Karena…. saya tidak mau itu menjadi kerbau, jadi ….”
K: “Jadi apa…..?”
A :”jadi apa ajah deh asal jangan kerbau…”

Mengasihani diri sendiri?

Desember 1, 2009 pukul 10:40 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 3 Komentar
Tag: , , ,

Sering kita menganggap layak menerima sesuatu, menerima penghargaan dari orang lain, karena kita telah melakukan sesuatu yang layak untuk disebut menghargai.
Kita juga sering beranggapan hal yang sama, kita layak mendapatkan “nilai” dari semua yang telah kita usahakan dan lakukan, dari Tuhan. Dan ketika apa yang kita terima itu tidak setara, tidak sesuai, kita protes dan kecewa, terlebih terkadang kita mengharapkan apa yang kita beri maka timbal baliknya harus melebihi semua itu.

Mengasihani diri sendiri?

Tidak.
Kita dipanggil untuk bekerja….untuk melakukan yang baik dan benar… untuk AGAPE, untuk memancarkan terang, karena kita telah dimampukan sebagai sumber terang, karena Sumbernya telah ada di sini, di dalam hati.

Yoh. 12:46 Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. <— Mat. 5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

Bukan yang berkata Tuhan, Tuhan

Desember 1, 2009 pukul 9:22 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 1 Komentar
Tag: , ,

Matius 7:21-23, TB
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Ini adalah berita yang paling besar, Yesus menunjukkan secara gamblang, Jalan Lurus menuju Surga, yaitu melakukan kehendak Bapa yang di sorga.

Lukas 6:46 “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?

Kita mengenal Allah yang tidak kelihatan itu sejauh Tuhan Yesus menyatakanNya kepada kita. Dan kita akan berhasil dalam pengenalan itu sejauh Kasih Kristus kita nyatakan di dalam hidup kita, dan kita menyatakan sejauh mana Kristus nyata di dalam hidup kita adalah sejauh roh kita menerima dan tunduk di bawah kuasa Roh Kudus. Roh-lah yang memampukan kita menghasilkan buah-buah.
Sebab Roh Kudus diutus oleh Bapa di dalam nama Tuhan Yesus.
Dan karena kita adalah ranting-ranting Kristus, yang seharusnya berbuah, maka Bapa melihat buah yang dihasilkan pada saat panen besar. Ranting yang berteriak, semata-mata, “Tuhan Yesus aku adalah bagian dari Pokok Anggur-Mu, aku mengenal Engkau karena Engkau adalah Pokok dan aku rantingnya”, … sayangnya Bapa tidak melihat buah di ranting itu, maka Bapa akan memotong ranting itu lalu membakarnya.

Sehingga sangat tegas Roh mengingatkan kita di atas dasar tangan Paulus yang menulisnya:
2 Timotius 2:19 Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” dan “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.”

Inilah yang dimiliki Roh yang harus kita pancarkan dan harus siap dikecap oleh setiap orang yang mengenal kita: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Dengan demikian kita, para imam, imamat rajani, menghormati TUHAN sebagai bapa, dan tuan…, yaitu mengenal Roh yang diberikanNYA kepada kita, dan tunduk, taat serta setia.

Maleakhi 1:6 Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?”

Doa:
Mampukan kamu Tuhan Yesus untuk sempurna seperti Engkau adalah Sempurna.

Ayub, perbantahan dan Kristus

Oktober 7, 2009 pukul 10:47 am | Ditulis dalam Apologet | 1 Komentar
Tag: , , , ,

Mendengar Ayub, kita teringat akan penderitaan.
TUHAN memang tidak menjawab secara gamblang semua pertanyaan-pertanyaan Ayub, sampai kepada kita yang mengenal Kristus maka jawaban untuk Ayub itu begitu digamblangkan.

Sekilas mengenai ajaran yang keliru dari sahabat-sahabat Ayub. Mereka mendiskusikan tentang Allah yang sama, tetapi Ayub menyelami secara dangkal, dan sahabat-sahabatnya memahami secara kaku.

Ayub :
-Orang benar dan takut akan Allah
-Tidak mengetahui rahasia Allah
-Ia menang dalam penderitaannya

Elifas, Bildad, dan Zofa :
-Mengenal Allah yang adil dan menghukum setiap dosa-dosa tersembunyi, pertobatan adalah jalan keluar (artinya mereka menduga bahwa Ayub menderita pasti karena sedang berdosa)
-Perbuatan adalah kunci keselamatan
-Kemungkinan mempercayai bahwa kematian adalah akhir dari segalanya

Elihu :
-Mengenal Allah, setiap penderitaan sedang menggambarkan tentang penebusan Allah

Mereka yang seharusnya menghibur malah berbalik membuat panas hati Ayub…

Ketika mereka terdiam dan perbantahan selesai, Allah bertindak, dan sahabat Ayub mendapat vonis “salah” dari TUHAN. Sahabat Ayub mengenal Allah yang kaku, yang hanya memiliki “wajah” Adil, Elihu mengenal “wajah” Penebus, tetapi pengetahuan Ayub diperkaya dan kita beroleh jawabannya, bahwa Kristus harus menderita dan menang untuk menunjukkan keadilanNYA dalam misi Penebusan.

Dan oleh Roh, Ayub, di dalam penderitaannya, di dalam panas hatinya yang sedang dihakimi sahabatnya, sebelum ALLAH turun menjawab pertanyaan hatinya, memberitahu kita berita suka cita:

Ayub 19:25-27
Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.
Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.

setelah TUHAN menemui Ayub…
Ayub berdoa kepada sahabatnya supaya beroleh selamat dari TUHAN,
setelah TUHAN menemui dunia…
Kristus berdoa dengan kita di dalam ROHNYA YANG KUDUS, supaya kita mendapat penghiburan dan kekuatan.

Roma 8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

Kenapa bukan karena perbuatan

Oktober 4, 2009 pukul 3:33 pm | Ditulis dalam Apologet | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Tuhanlah Sang Pencipta. Mungkin bagi kita sudah awam artinya, seolah menjadi proklamasi untuk menyatakan Dia-lah yang tidak ada tandingnya.

Bagi kita, itu mengartikan IA adalah asal mula segala sesuatu.
Kalau manusia berdosa, maka dari DIA jugalah datangnya penghapusan dosa.

Yesus pernah berkata di dalam:
Yohanes 10:1 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok

Orang yang menganggap pemberiaannya dapat menunjukkan bentuk-bentuk kesalehan, perbuatan baik dan lain sebagainya adalah perampok. Koq bisa? Ya mereka telah merampok Hak TUHAN sebagai sumber kebaikan, sumber keselamatan, mereka ingin menyamai TUHAN.

Lakukanlah perbuatan baik sebagai perlambang, sebagai bukti, sebagai peringatan bahwa IA Sang Sumber, sudah pernah, dan selalu, melakukan, sudah memberikan Yang BAIK, keselataman, dan terlebih IA sudah berada di dalam Anda, sebab IA adalah Pencipta, IA adalah asal.

Anda memberi itu baik, tetapi buatlah segala kebaikan itu dengan mengingat bahwa Allah juga telah melakukan kebaikan kepada Anda. Anda sudah terlebih dahulu menerima kebaikan, dan untuk mengingat itu lakukanlah yang baik.

Zombie

Agustus 4, 2009 pukul 1:14 pm | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Iman tanpa perbuatan adalah mati.
Dari perbuatan kita bisa melihat iman seseorang.
Paling tidak itulah yang ditekankan oleh Yakobus dalam Perjanjian Baru.

Tubuh atau daging yang tunduk terlihat dari perbuatan yang sejajar dengan imannya tadi.

Jadi jika kita pengetahui sesuatu, berbuat baik salah satunya, dan tidak melakukannya, maka kita adalah orang mati.
“Orang mati koq bernapas?”, tanya orang lain.
“Ya, ia telah mati, tetapi hidup”.

Tambah pusing toh?..

Zombie, ya namanya Zombie. Dagingnya hidup, tetapi rohnya telah mati.

Dan terkadang pikiran kita bisa melampaui perbuatan kita.
Sehingga sangatlah kita menderita untuk memenangkan roh kita atas suatu pelanggaran.
“Jangan teriak-teriak, jangan marah-marah, dia itu orang tuamu”, bisik hati.
Tetapi pikiran kita keras berkata,”Ia harus menerima semua konsekuensi ini, sebab dia telah mendidik saya dengan tidak benar, ia telah menipu saya, ia telah.. ia telah.. ia telah…”.
Apa susahnya mengingat,”Ampunilah kesalahan kami, seperti kami juga menyampuni orang yang bersalah kepada kami”. Tetapi oleh pikiran yang melesat kencang dan cepat, iman, bisikan roh, bisa kita abaikan.

Zombie, ya namanya Zombie. Dagingnya hidup, tetapi rohnya telah mati.

“Jika Anda mau hidup, ikutlah Aku”, kata Kristus, “sebab Akulah kehidupan”.
Ya..marilah berjuang untuk hidup, mengikis semua potensi untuk menjadi Zombie.
Jika Anda dikatakan datang kepada Kristus, maka yang datang bukanlah daging/tubuh Anda saja, tetapi jiwa, tubuh dan roh. Lengkap untuk tidak menjadi Zombie.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.