Jika TUHAN ada kenapa ada penderitaan

Agustus 19, 2011 pukul 4:04 pm | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Beberapa pandangan selalu getol mengumandangkan ketiadaan TUHAN dari suatu hal yang bertentangan dengan keadaan “baik”.

Ada rumusan:
a. Adanya ketiadaan keadaan baik. Contohnya adalah penderitaan.
b. TUHAN dikenal dengan awam sebagai Maha tahu dan Penolong/Penyayang.

sehingga ada rumusan:
a maka b,
atau
adanya penderitaan membuktikan ketidakadaan dari TUHAN.

TUHAN jika disebut Maha Kudus, maka IA selalu akan berhadapan dengan keadaan negatif dari KUDUS itu.
Jika tidak ada kekudusan maka yang ada adalah penderitaan.
sehingga dirumuskan, ketiadaan TUHANlah yang membuat penderitaan itu ada, bukan memanfaatkan rumus sebaliknya.

Orang yang melakukan kejahatan disebut orang yang menolak keberadaan TUHAN.
Dan orang yang menolak keberadaan TUHAN membawa penderitaan.

Iklan

Matahari, Bulan dan 11 Bintang

Agustus 5, 2011 pukul 8:05 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 9 Komentar
Tag: , , , ,

Lalu ia memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: “Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku.”
(Kejadian 37:9)

“Ia” di atas adalah Yusuf anak Yakub.
Mendengar kata Yusuf bisa jadi kita langsung mengingat beberapa hal mengenai beliau. Bisa jadi kita mengingat tentang Mesir, atau bisa jadi kita mengingat tentang saudaranya yang menjual dia, bisa jadi tentang ibunya Rahel, ibu yang paling dicintai ayahnya, Yakub, sekaligus membuat Yusuf menjadi anak kesayangannya. Bisa juga tentang kemampuan mengartikan mimpi (meski ia akui bahwa Allah-nyalah yang mengungkapkan itu kepadanya). Bisa juga tentang kemampuan memimpin, bisa juga tentang ketaatannya kepada TUHAN, bisa juga tentang Potifar, bisa juga tentang Perjanjian Allah tentang turunan keempat yang akan keluar dari Mesir, atau tentang pernyetaan Allah dalam menepati janjiNYA.

Dalam hal ini penulis akan menguraikan salah satu pandangan saja, yaitu bagaimana hubungan TUHAN dalam kehidupan manusia, khususnya mereka yang telah dianggap anak oleh DIA, Bapa dari segala yang ada.

Semasa Yusuf bersama kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya, ia sering memimpikan hal-hal yang membuat saudara-saudaranya berang, geram, dan berujung kepada dijualnya dia kepada saudagar Mesir.

“Matahari, Bulan dan 11 bintang akan menyembah aku”, katanya pada waktu jamuan makan. Saudaranya sedang berhitung, dan langsung penat dengan kata-kata itu. “Sial neh anak, masak ayah, ibu dan kami abang-abangnya menyembah dia”, gerutu saudara-saudara tuanya.

Berbicara tentang perjanjian TUHAN, maka ada nubuatan yang menyertainya. Dan beberapa nubuatan telah diucapkan kepada Abraham, kakek dari ayah Yusuf. Perjanjian itu adalah bahwa keturunan bapa leluhur (Abraham/Ishak/Yakub) akan dibuang ke daerah asing, dan setelah 400 tahun akan kembali ke Kanaan.
Sekali lagi, berbicara Perjanjian dan Nubuatan maka selalu ada TUHAN Yang menyertai, Imanuel.

Ketika kita mendengar kata TUHAN menyertai, Imanuel, bisa jadi kita salah kaprah. Bisa jadi kita beranggapan ada hal-hal yang indah yang dirasakan secara jasmani maupun rohani. Ternyata?….
Yusuf, mari kita lihat jalan penggenapan Matahari, Bulan dan 11 Bintang menyembah Yusuf.

Pertama, ia harus dibenci saudara-saudaranya. Ia dikucilkan, dan puncaknya adalah ia dijual ke orang asing. Pahit sekali dikucilkan bukan?.

Kedua, ia harus mengembara sendirian di daerah yang sama sekali asing baginya, bahkan ia menjadi hamba (TKI=Tenaga Kerja Israel, mungkin begitu gambarannya)

Ketiga, ia disalah mengerti oleh tuannya di Mesir, dan harus dipenjara.

Keempat, puluhan tahun ia tidak pernah berjumpa dengan orang tuanya.

Kelima, ia harus menghadapi bahaya kelaparan di wilayah yang sekarang telah menjadi wilayah kuasanya.

Mungkin itu masih terlalu sedikit, jika kita pada pihak Yusuf, mungkin masih banyak derita yang dapat kita ucapkan. Tetapi derita-derita yang ia alami itu adalah “jalan-jalan TUHAN” untuk menuju penggenapan nubuatan yang diungkapkan ALLAH kepadanya melalui mimpi.

Peristiwa kelaparan hebat di Mesir telah sampai kepada wilayah-wilayah disekitarnya termasuk di wilayah asal-asulnya, kampungnya Kanaan. Dan kelaparan hebat itulah yang akhirnya membawa ‘Matahari, Bulan dan 11 Bintang’ berangkat dari Kanaan menuju Mesir.

Melihat ke awal sebentar, bahwa mimpi di atas membuat saudaranya iri, tetapi ayahnya yang juga seorang yang percaya kepada TUHAN, merenungkannya dalam-dalam di hatinya, sepertinya ia bisa memandang jauh kepada TUHAN dan ingin mendalami maksud TUHAN kepada Yusuf.

Dan setelah puluhan tahun kedepan, seluruh saudaranya “menyembah” Yusuf di Mesir, ketika Yusuf masih merahasiakan identitasnya, dan seterusnya setelah identitasnya dijelaskan, sanak saudaranya, orang tuanya “disambung ” nyawanya oleh keberadaan Yusuf. TUHAN memelihara keluarga Yakub/Israel oleh keberadaan Yusuf. TUHAN menyertai Yusuf untuk dapat menjadi jalan kepada pemeliharaan Israel. Israel sedang dipelihara untuk “dibantai” selama 400 tahun di Mesir.

Jadi Penyertaan TUHAN sering diikuti oleh “penderitaan”, dan mungkin pada akhirnya barulah kita sadari, tepat pada waktu TUHAN, sesuai rencanaNYA, kita melihat bahwa “Matahari, Bulan dan 11 bintang” sujud kepada kita, artinya rencana TUHAN barulah terasa indah setelah segala prosesnya kita lalui. Pemazmur berkata:

Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Engkaupun memberi mereka makanan pada waktunya;
(Mazmur 145:15)

Artinya segala sesuatu ditetapkan TUHAN dengan tepat dan teliti. Percayalah.

Tekun, Siap Siaga, Mengucap Syukur!

Agustus 4, 2011 pukul 7:47 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , , ,

Hendaklah kalian berdoa dengan tekun dan siap siaga, sambil mengucap syukur kepada Allah.
(Kolose 4:2)

Menurut beberapa pakar Alkitab, Kitab Kolose ditulis pada saat Kaisar Nero memerintah di kekaisaran Romawi.
Dari beberapa sumber sejarah mencatat bahwa Kaisar yang satu ini sangat dikenal dengan tirani, dan pembabat Kekristenan.

Pada saat yang sama penulis Kitab Kolose sedang dipenjarakan. Hukuman mati sedang menanti beliau.

Dalam keadaan itulah penulis Kolose mengatakan:
Hendaklah kalian berdoa dengan tekun dan siap siaga, sambil mengucap syukur kepada Allah.
(Kolose 4:2)

Tekun berdoa mungkin bisa dilakukan, tetapi point setelahnya adalah…”mengucap syukur”.
Jika kita masih beranggapan bahwa ucapan syukur hanya dikumandangkan ketika “raga” dan jasmani dan keuangan membubung, beruntung (secara materi), maka perlu kita koreksi lebih dalam, sejauh mana kita mengenal TUHAN. Bahkan beberapa gunung juga dikeramatkan, diberi sesajen karena dianggap sanggup menggerakkan beberapa iblis untuk memberi keuntungan. Apakah kita melihat TUHAN seperti itu?

Sekarang penulis Kolose sedang dipenjara, dan dipenjara karena dianggap merongrong kekaisaran, disebut pemberontak, dan Kaisar Nero yang bahkan keluarganya sendiri dibantai demi kekuasaan,… masih bisa bersyukur… dan mengajak kita bersyukur. Roh Kudus sedang tidak memaksa beliau untuk menulis demikian itu, melainkan Paulus menjadi sebuah kesaksian bagi kita, bahwa Kristus yang mengajak memikul salib ternyata sudah ada contohnya, Rasul Paulus, penulis Kitab Kolose, dengan sadar dalam budi pekertinya mengucap syukur kepada ALLAH meski raganya remuk.

Percaya ngga kamu sama AKU

Juli 29, 2011 pukul 8:11 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 1 Komentar
Tag: , , , ,

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”
(YESAYA 30:15)

Dalam beberapa kesempatan di Alkitab kita diajak untuk berjuang keras, untuk memikul salib, bahkan siap sedia untuk menderita, diajarkan untuk memegang teguh iman meski dihadang segala sesuatu yang mungkin menyakitkan.

Dalam sekejab di ayat kutipan di atas jika dibaca secara sederhana kita diajarkan untuk tinggal tenang.
Apa maksudnya?

Yesaya menuliskan firman TUHAN ini tak kala sedang membicarakan Israel yang dalam keadaan himpitan besar. Pernah TUHAN berjanji kepada raja-raja awal Israel, bahwa jika mereka taat maka TUHAN akan memelihara mereka tetapi kutuk juga akan hadir jika mereka melawan dan menjauh dari TUHAN. Ketika YESAYA menjadi pelayan TUHAN kutuk itu ternyata sudah menjalar, dia sedang di dalam upaya mengingatkan bangsanya untuk kembali kepada TUHAN, mereka harus bertobat.
TUHAN punya alasan sebab jika mereka tidak bertobat maka Israel akan diluluhlantakkan sama sekali.
Pada saat itu penjajah sedang memasuki Israel, datang dari wilayah utara. Sedang dalam keadaan begitu Israel diharapkan bergantung saja kepada TUHAN mereka, nyatanya mereka bergantung kepada Mesir, menjadikan mereka sekutu yang kuat untuk melawan penjajah, asal tahu saja Mesir memang bangsa yang dipandang waktu itu.

Sedemikian Israel, kita juga demikian, sering kita dihimpit oleh masalah-masalah, baik jasmani baik rohani, dan terkadang kita susah untuk memilah dan memilih, terkadang frustasi. Sebab kadang kala kita merasa pertolongan TUHAN tidak kunjung datang, kita diperhadapkan dengan pilihan yang amat berat. Ketika dukun gampang dicari dan bisa merasakan kesembuhan, maka beberapa orang akan berdoa kesetan dan rela memberi uang kepada dedengkan iblis itu, ketimbang harus bersabar menunggu waktu TUHAN.
Sakit penyakit di dunia modern ini semakin kompleks, sekilas bisa kita buat ukuran, semakin maju pengobatan malah penyakit makin terlihat kompleks, ada beberapa diantara mereka yang memang membutuhkan tangan TUHAN untuk disembuhkan, atau tangan-tangan di luar medis, dan sering yang terjadi adalah manusia mencari si Gelap satu itu, Iblis, Olkustisme.

Sekarang TUHAN juga mengajak kita, melalui Kitab YESAYA, yaitu: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”

Tinggal diam menjelaskan tentang bagaimana kita mempercayakan sepenuhnya diri kita kepada campur tangan TUHAN yang perkasa itu. Biarkan DIA beracara secara menyeluruh.
Jika kita maju mundur, atau ragu-ragu, maka semakin sulit terlihat dan semakin kabur waktu TUHAN, dan semakin bimbang kita melihat rancangan damai sejahtera TUHAN. Pertanyaan kita ketika di dalam keadaan ini adalah…”Waduh bener ngga ya, TUHAN menolong ngga ya”.
Ketika kebimbangan ini terjadi maka melalui kutipan di atas mungkin dalam bahasa sederhana TUHAN sedang berkata: “Percaya ngga kamu sama AKU”. Jika tidak maka bertobatlah, setelah itu serahkan semuanya kepada DIA yang MAHA mengerti, jika ada hambatan maka tenang saja, legakan hatimu dalam memikul salibmu, lapangkan dada ketika darahmu kemungkinan harus menetes, … dalam bahasa tragis tersenyumlah seperti Paulus tak kala beberapa saat lagi harus dipenggal. Sebab pertandingan kita adalah pertandingan yang berakhir kepada kemenangan yang ajaib, TUHAN beserta kita, IMANUEL.

Dibawa senang saja

Juli 26, 2011 pukul 8:22 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 6 Komentar
Tag: , ,

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
(Matius 11:29)

Salah satu pelajaran yang kita dapatkan dari YESUS adalah untuk rela menderita.
Mungkin agak susah kita mengejawantahkannya di dalam kehidupan sehari-hari, amat susah.

Ketika memulai suatu kegiatan berbau birokrasi, kala ini, di negara tercinta, tentu salah satu dilema, atau mungkin ujiannya adalah mempraktekkan seruan ini.
Apakah kita harus berlama-lama mendapatkan sesuatu, atau bisa jadi malah tidak mendapatkannya, atau malah menyeberangi jalan pintas, melawan moral.
Ketika sudah sering dilakukan maka akan menjadi lumrah, lalu keluarlah kata-kata “dibawa senang saja”, … “itu biasa”. Banyak yang harus melawan hati nurani memang, dipaksakan dan diharuskan demikian,… dan karena sudah tercipta begitu, selalu dan dapat dipastikan sudah ada budaya yang berkata demikian itu.

YESUS melambaikan tangan, sebab kejadian atau budaya seperti itu sudah, sedang, dan akan terus tercipta. Kebobrokan akan selalu ada, dan karena begitulah relefansi seruan YESUS akan terus berlanjut.

Daripada harus pesimis melihat kerusakan, kenapa tidak mau ikut menderita, tampil bercahaya saja yuk. Memikul penderitaan, dengan konsekuensi, biasanya akan terlihat “culun”, “bodohj”.

Semakin suram

Februari 9, 2011 pukul 7:24 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan.
Akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat,
dan akan ada kelaparan.
Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.
(Markus 13:8)

Jika kita memberi waktu 1 hari penuh menonton TV khusus di channel berita, maka kita bisa getir, pahit, takut, gamang menghadapi jaman ini. Pembunuhan, penjarahan, penipuan, pengurusakan, pesawat jatuh, kapal karam, perampokan, pemerkosaan, bunuh diri, demonstrasi anarkis, pemaksaan kehendak, hipokritasi golongan, d.l.l,… semua membuat getir, gamang, pahit, …suram…

Tujuan utama suatu negara tentu adalah membuat rakyatnya sejahtera, dan tujuan dunia ini adalah memang menjadi memiliki “harta”, itulah kebahagiaan dunia.
Tetapi dari berita-berita yang kita dengar, baca, saksikan, seolah hal-hal yang merongrong kebahagian itu semakin lama semakin variatif, semakin sering terjadi, dan malah semakin mendekati diri kita sendiri.

Bahkan nubuat-nubuat ALKITAB-pun mencatat hal itu, bahwa memang kehidupan ini akan semakin suram.
Jika dahulu kita masih bisa ini dan itu dengan jumlah pendapatan X, maka jika dikalikanpun pendapatan kita tetapi tidak bisa lagi memberi barang yang sama. Jelas sebab harga naik ekponiensial, sementara pendapatan biasanya linier saja.
Alkitab mengatakan kepahitan di masa mendatang itu disebabkan oleh semakin dinginnya kasih, dan semakin dinginnya kasih itu dapat dijelaskan dari semakin pentingnya Hitam di atas Putih. Orang tertentu tidak akan mau meluangkan waktu mengerjakan suatu hal jika Hitam di atas Putihnya tidak dicantumkan,…. Profesional istilah sekarang. Bayangkan jika LSM kemanusiaan harus bekerja di atas Hitam-Putih. Dan semakin jelas lagi, Rumah Sakit terkadang tidak akan mau melayani pasien yang napasnya tinggal satu sebelum ada kesanggupan orang itu untuk membiayai dirinya. Suram. Saya pernah mengalaminya, ketika saudara saya sakit parah, yang pertama dianjurkan adalah harus rawat inap, maka harus mendaftar di meja registrasi, dan di situ akan diajukan persyaratan-persyaratan,… “DP-nya 3,5 juta yah”, begitu kata pekerja administrasinya.
Semisal uang itu tidak ada apa bisa dirawat di rumah sakit?,…. nyatanya banyak yang tidak dapat masuk karena tidak dapat memberi DP…Suram.

Semakin sejahteranya suatu negara bisa berimbas kepada semakin miskinnya suatu negara yang lain. Hiruk pikuknya pasar di suatu negara tertentu akan menggiurkan bagi pasar menyalurkan produsen-produsen ke sana, dan sepinya pasar di negara tertentu akan meningkat, sebab pembeli tidak ada. Sehingga produsen akan mengalir ke negara maju, dan negara ketiga akan terus mengemis bantuan. Tetapi majunya suatu negara bukan berimbas kepada toleransi yang tinggi, malah justru sebaliknya egoisme mendunia.
Seorang penduduk kota misalnya bisa memiliki HP sampai 5 buah, yang bahkan seorang yang lain untuk membeli baju saja tidak bisa. Bukan karena 5 HP itu tidak diperlukan, tetapi keadaan membuat dia mengharuskan dia untuk memiliki 5 buah HP. Timpang.

Dan salah satu Janji TUHAN kita tentu bukan pada Lepas dari penderitaan,..
tetapi adalah menyertai kita mengalahkan penderitaan itu. Sebab penderitaan akan selalu ada, dan penderitaan adalah salah satu indikasi kedatangan YESUS yang kedua, dan penderitaan sebagai suatu indikasi bahwa kita mengerti apa itu perjuangan. Bagi yang pernah merasakan penderitaan, maka rasakanlah hidup di dalam tidak ada penderitaan kala YESUS memerintah sebagai RAJA… sebab IA telah berjanji demikian:

Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi;
tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”

Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!”
Dan firman-Nya: “Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.”
Firman-Nya lagi kepadaku: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.

Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.
(Wahyu 21:4-7)

Jika manusia berjuang untuk semakin sejahtara, tetapi kita percaya penderitaan adalah ujung dari segala sesuatunya, dan jika penderitaan itu semakin terlihat jelas, maka amini di dalam hati, bahwa firman TUHAN harus segera digenapi, TUHAN YESUS segera datang, Maranatha.

Itu nyata adanya

Desember 10, 2010 pukul 8:37 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Untuk pemimpin biduan.
Dari hamba TUHAN, yakni Daud yang menyampaikan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN, pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari tangan Saul.
Ia berkata: “Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!
Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!
(Mazmur 18:1-2)

Raja Daud memanggil TUHAN sebagai Bukit Batu (Kubu Pertahanan), Penyelamat, Allahnya, Gunung Batu (Tempat Berlindung), Perisai, Tanduk Keselamatan, Kota Benteng (capslok saya tambahkan sebagai penekanan personal saya)…
Semua nama itu ia ucapkan setelah ia mengucapkan syukurnya, melaluai perenungan atas apa yang ia peroleh dari selamatnya dia dari kepungan Raja Saul….

Dua raja ini sama-sama adalah raja yang diurapi oleh TUHAN. Artinya berasal dari TUHAN yang sama.
Ini sebagai pertanda bagi kita bagaimana memaknai manusia secara universal, jika kita mengaku percaya TUHAN maka kita harus memaknai bahwa semua berasal dari Yang Satu…

Tetapi reaksi diantara keduanya terhadap keputusan TUHAN, reaksi cara memecahkan masalah itulah yang membedakan…. TUHAN tidak membuat kita manusia-manusia yang cengeng dan bayi yang meminum minuman susu dan makan makanan yang lembek terus, IA mau dan berkenan untuk mendewasakan kita…
Dan untuk membuat patung terindah biasanya banyak sisa-sisa dari batu yang harus dihilangkan,… tanah harus ditunggangbalikkan untuk mendapat hasil yang terbaik,… masakan harus diiris-iris… bahkan kita harus memakan pil pahit demi kesembuhan… itulah yang membuktikan kepada kita bahwa memang penderitaan itu nyata, amat sangat nyata…

Bicara penderitaan, beberapa orang menyebutnya cobaan atau pencobaan, maka ada saat-saat tertentu kita merasakan keputusasaan, kesia-siaan, diamnya TUHAN melekat pada perasaan tak berujungnya derita….
Mungkin sekarang kita masih sedang di dalamnya,… dan mungkin ada yang sudah geram tak ketulungan…

Menyerah?
Jika menyerah maka semakin nyata deritamu itu berkepanjangan,… itulah Raja Saul…. dan malah akan ada upaya untuk menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam, agama anu ini dan itu,… kelompok anu ini dan itu…. Raja Saul,… yang haus kesejukan…

Jika terus berjuang, Raja Daud membuktikan bahwa memang TUHAN menolong,… dan pertolongan itu juga nyata… senyata penderitaan yang kita lihat dan rasakan…

Tertarik membuktikan bahwa Raja Daud benar?
Tertarik membuktikan bahwa Kitab Suci tidak sia-sia dituliskan?
Coba saja menyelami penderitaan hidup ini bersama DIA Yang berkenan menolong…

Jika terbukti bahwa Anda seperti Raja Saul atau hebatnya seperti Raja Daud, … maka segala sesuatu sudah dekat pada waktunya…

Penderitaan yang dilihat dengan hati

September 16, 2010 pukul 8:37 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag:

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa maka akibat yang menyertainya adalah adanya penderitaan.
Kita bisa merumuskan dan mengumbar berbagai macam teori untuk menjelaskan bagaimana menyelesaikan penderitaan. Tetapi Yesus berkata bahwa penderitaan tidak melulu sebagai hukuman, tetapi juga sebagai cara untuk menunjukkan kemulianNYA. Oleh penderitaan yang dilihat dengan hati, mata hati, maka akan berjalan di jalan yang disebut pertobatan, oleh pertobatan kita bisa melihat kuat Kuasa TUHAN. Penderitaan hanya bisa diselesaikan dengan cara berkorban. Jika kita tidak mau berkorban dengan menggunakan mata hati kita dan membiarkan rengekan demi rengekan, membiarkan jasmaniah kita melangit, maka selamanya kegelapan menaungi kita, kita tidak bisa melihat kemuliaan TUHAN, dan jika YESUS tidak berkorban maka sia-sialah kita hidup selamanya, kemuliaan Juruselamat dapat kita lihat semakin nyata dari kerelaan Kristus menderita, IA menjawab bagaimana menyelesaikan penderitaan itu sendiri.

Suatu masa Yehuda dikuasai oleh seorang raja yang sangat jahat. Raja Manasye namanya, arti namanya adalah “membuat lupa”, dan kita akan mengerti arti namanya itu dari kisah hidupnya berikut.
Raja Manasye memerintah dimulai pada usia yang sangat belia, usia 12 tahun. Ia adalah anak dari Raja Hizkia, Alkitab mencatat bahwa Raja Hizkia menyenangkan TUHAN, tentu di dalam pandangan TUHAN. Pada masa itu TUHAN sudah terlalu sering menggerakkan kerajaan-kerajaan di sekitar Yehuda untuk menghancurkan seluruh Israel Raya. Kitab Raja-Raja dan Tawarikh sangat kuat menggambarkan bagaimana posisi Israel seperti di atas tanduk, dan sangat rapuh jika tidak bergantung kepada TUHAN. Memang di waktu Keluaran TUHAN berjanji melalui Musa bahwa jika mereka tidak taat maka mereka akan diusir dari tanah perjanjian itu, mereka akan sangat menderita, bukti pertama adalah kerajaan Israel Utara sudah musnah, sekarang menunggu kerajaan Yehuda, mereka masih bisa bertahan karena raja mereka sebagai simbol dari seluruh rakyatnya masih ada yang mau melihat dengan hati mereka.

Kejahatan Manasye dijelaskan di Alkitab antara lain sebagai berikut:
1. Ia mengikuti kebiasan jahat dari penduduk lokal, Kanaan yang diperlihatkan dengan mendirikan kembali mezbah-mezbah dewa yang telah dihancurkan oleh bapaknya Raja Hizkia.
2. Ia melakukan penyembahan-penyembahan kepada Baal, Dewi Asyera bahkan bintang-bintang
3. Ia bahkan mengurbankan anaknya sendiri untuk kurban kepada dewa-dewa.
4. Ia melakukan praktek-praktek perdukunan, pemanggilan roh-roh, ilmu-ilmu gaib, dan praktek-praktek olkultisme lainnya.
5. Bahkan tidak sampai di situ, ia berani menaruh patung berhala di dalam Bait Suci. Sesuatu yang lebih lancang telah dilakukan. Bait Suci sebagai simbol kehadiran TUHAN, sebagai simbol TUHAN mendengar umatNYA telah dikotori dengan patung berhala, buatan manusia dan menghina TUHAN sebagai patung yang tidak bisa mendengar, merasakan, dan turut hadir dalam semua penderitaan umatNYA. Lancang, hanya itu yang bisa menggambarkannya.
6. Ia tidak mendengarkan teguran TUHAN. Kita tahu pada masa itu cukup banyak nabi-nabi digerakkan TUHAN, dan tak satupun teriakan mereka itu yang ia hiraukan.

Hingga pada suatu masa….
Hukum tabur tuai juga berlaku, sebab Perjanjian dengan TUHAN itu adalah BERKAT dan KUTUK, tinggal pilih, dan entah bagaimana terkadang manusia memilih salah, dan kitapun sering demikian, kita cenderung mengikuti apa yang dapat ditangkap mata kepala kita, padahal itu sangat bertentangan dengan mata rohani. Dan itu jugalah yang terjadi pada Manasye, sekitar 6 kesalahan yang dapat disebut di atas telah menyebabkan TUHAN memilih cara lain… yaitu PENDERITAAN.
TUHAN dengan hikmadNYA berkuasa menggerakkan penguasa di muka bumi ini untuk menjalankan rancanganNYA. IA menggerakkan Raja Asyur, untuk membuat kehancuran di Yehuda, sebab Yehuda telah memilih KUTUK, maka oleh pilihan itu mereka menuai PENDERITAAN.
Raja Manasye ditangkap dan diangkut ke Babel, ia terbuang dan terasing. Seorang yang memerintah sebagai raja dan terbiasa dengan kemewahan sekarang telah menjadi tawanan, tahanan dan budak. Bagi seoarang raja itu adalah penderitaan yang amat sangat. Seorang pejabat kaya yang korupsi kata pejabat anu di Indonesia sangat adil jika hanya ditahan 1 atau 2 tahun saja, bandingkan dengan maling ayam yang bisa divonis 5 atau 6 tahun penjara.
Raja Manasye menderita, dan di dalam penderitaannya tangan TUHAN bekerja, ia bertobat, ia melihat dengan mata hatinya, ROH TUHAN menyentuh rohnya dia. Bukan TUHAN memang kalau tidak mampu merekakan segala kejahatan yang kita pilih menjadi berjalan ke arah rancangan awalNYA DIA, yaitu rancangan damai sejahtera. IA sanggup menjangkau segala pilihan kita dan Nama YANG IA tunjukkan lagi adalah bahwa IA tidak memandang didalam keadaan apa kita, jika IA memandang kejahatan Raja Manasye maka IA tidak akan menghiraukan dia, tetapi TUHAN memiliki rancangan, dan rancangan itu harus terjadi, akan terjadi, maka IA dengan NamaNYA sanggup dan berkuasa menangani segala apa yang kita pilih. Pemrograman terkadang di-nested dengan error-error trap, supaya jika ada error maka eksekusi akan menjalankan logik yang lain, tetapi cara TUHAN lebih jauh lagi, IA mengijinkan error itu, menanganinya, dan mengubahkannya menjadi baharu.
Dan berhasil Raja Manasye bertobat,… bicara bertobat berarti TUHAN melupakan keadaan kita sebenarnya, IA memberikan apa yang ada padaNYA kepada kita yang tidak memiliki itu sebelumnya, dan dengan demikian ketika kita melihat pemberian TUHAN itu, yaitu ROHNYA, maka kita bisa melihat kemuliaan TUHAN.
Ketika TUHAN menyembuhkan si buta itu, maka ia bisa melihat kuasa kemuliaan KRISTUS, itulah pemberian Kristus kepada si buta, dan bukan hanya itu IA bahkan memberikan penghapusan dosa.

Jika ada yang merasa menderita secara nyata, maka bukalah mata hati, dan terima ROH KUDUS, ROH Yang sanggup melihat kemuliaan TUHAN.

Salomo-Bait ALLAH-Kristen-Kuasa ALLAH

September 13, 2010 pukul 12:33 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 3 Komentar
Tag: , , ,

Salomo adalah Raja Solomo, anak dari Raja Daud.
Yesus adalah Raja Penyelamat, yang secara manusia disebut Anak Daud dan oleh Roh Kekudusan disebut Anak Allah.

Salomo mendirikan Bait Suci oleh perintah Raja Daud, dan semua persediaan telah disediakan oleh Raja Daud, dan jika ada yang diperlukan lagi dapat disediakan sendiri oleh Salomo.

Yesus adalah Bait ALLAH Yang menopang segala sesuatu, sebagai Gambaran dari ALLAH YANG tidak terlihat itu, IA adalah WAJAH ALLAH, yang sementara berkemah di dalam daging manusia untuk tugas yang telah dituliskan, disediakan oleh ROH KRISTUS sejak dahulu oleh Nabi-nabi.

Bait Allah didirikan oleh Salomo dengan keringat, dengan kerja paksa. Dan satu hal yang harus diingat, pekerja Salomo adalah para penduduk lokal, para penyembah allah lain, orang-orang Kanaan. Kala pembangunan itu di Yerusalem bahkan tidak terdengar bunyi palu, bunyi besi, bunyi peralatan tukang lainnya, karena semua keperluaannya sudah dikerjakan di luar Yerusalem, dan dari sekian banyak itu sudah disediakan Raja Daud.
Orang lokal, orang Kanaan, di dalam darahnya ada nubuatan yang harus digenapi, mereka harus menjadi budak oleh keturunan Shem, dan…. sekarang mereka telah menjadi budak untuk mendirikan Bait Allah.
Mereka mengolah batu, menghancurkan beberapa sudut batu yang tidak relevan dengan bentuk yang dinginkan, mengukir emas, perak dan perunggu, membentuk kayu Lebanon yang terkenal keras,… mereka mengangkat pedang dan peralatan tajam lainnya untuk mengukir, membentuk dan lain sebagainya… BAIT ALLAH dibangun….dengan proses begitu.

Gereja adalah orang Kristen, adalah TUBUH KRISTUS, adalah Bait ALLAH…
dan ingat, kita orang yang percaya juga harus semakin diolah oleh orang yang tidak percaya, beberapa lecutan, beberapa darah akan menetes, semua untuk memurnikan kita, agar tampil seperti emas yang berukir, perak yang dibentuk, perunggu yang diindahkan, dan kayu Lebanon yang diolah menjadi indah. Sebab semua olahan itu hanya terjadi di bumi, sementara di Yerusalem Baru, di Sorga, Taman Firdaus TUHAN, kita akan diletakkan pada BaitNYa Yang INDAH.

TUHAN berkuasa memakai segala sesuatu demi DIA. IA terkadang menahan hukuman demi KASIHNYA, dan terkadang untuk menjalankan FirmanNYA yang kalau sudah diucapkan tidak akan berlalu dan kembali hampa tanpa hasil.

Hai TUBUH KRISTUS, hai yang percaya, ingatlah satu ketukan palu di hati kita hanya memecahkan bagian-bagian yang tidak berguna, supaya pada akhirnya kita tampil indah dan layak di hadapanNYA.

Shalom Alenu

Beda pemazmur dengan orang skeptik

Agustus 27, 2010 pukul 8:26 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 10 Komentar
Tag: , , ,

Tirani,.. sewenang-wenang, kesewenang-wenangan, salah satu dari bentuk penderitaan bagi umat manusia.
Pemazmur dan skeptik terkadang terlihat mengeluh. Bisa disamakan dalam hal apa yang terlihat dari efek penderitaan ini.

Si Skeptis sering mengeluarkan kata-kata yang demikian ini,
“Jika TUHAN ada, maka tirani tidak akan ada”,
“Jika TUHAN ada, maka penderitaan tidak akan ada”,

Ucapan-ucapan seperti ini nyatanya adalah ucapan yang sering juga diucapkan oleh para pemazmur di dalam makna yang sama.

Maknanya apa?

Si Skeptik sebenarnya sedang mengharapkan tentang adanya keadilan,
dan dimana keadilan kalau bukan pada hakim.
dan siapa Hakim kalau bukan ALLAH?

lihat contoh ayat berikut:
Bangunlah, ya Hakim bumi, balaslah kepada orang-orang congkak apa yang mereka lakukan!
(Mazmur 94:2)

Bedanya dimana dong?
Bedanya nyata sekali, walau terkadang kesannya sedang mengatakan TUHAN tidak ada, nyatanya seruan itu muaranya adalah mengharapkan kehadiran Sosok ALLAH, mengharapkan Hakim, karena HAKIM adalah ALLAH…
tetapi karena ia tidak dapat melihat dengan mata kepala tentang gambar besar Sang Hakim, maka ia katakanlah TUHAN tidak ada, karena apa yang tertutup di matanya hanyalah segala yang membutakan, fokus kepada masalah dan bukan kepada Rencana penyelesaian…

bedakan dengan ucapan pemazmur berikut:
Jika bukan TUHAN yang menolong aku, nyaris aku diam di tempat sunyi. Ketika aku berpikir: “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku. Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.
(Mazmur 94:17-19)

Si Skeptic mencari penghiburan kepada sesamanya yang kemungkinan besar juga mengalami beban pikiran yang sama, dan akhirnya orang buta membimbing orang buta, … sementara itu pemazmur mendapat hiburan dari Yang Tetap, Yaitu Dia TUHAN dari segala bangsa.

DIA Baik

Agustus 24, 2010 pukul 10:11 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 5 Komentar
Tag: , , , ,

Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: “Ia menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–:”Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan orang itupun bangun lalu pulang.
(Matius 9:2-7)

Ada beberapa point yang dapat diucapkan di sini (yang nyatanya mungkin lebih dari beberapa point di bawah ini),
1. seorang yang lumpuh.
2. Yesus menyelesaikan masalah.
3. Kesembuhan spiritual dan fisik.
4. Konsekuensi “Kehendak Bapa jadilah”.

Mari kita lihat satu persatu, secara menyeluruh tentunya..
Seorang yang lumpuh ini mewakili “penderitaan”. Kita tidak usah berteori panjang lebar tentang penderitaan dan kenyataan yang diakibatkannya, sekali kita membuka mata, penderitaan begitu menggerogoti hidup manusia. Penderitaan mengingatkan kita akan kebahagiaan yang dapat dihasilkannya, seperti emas dipeleburan tentunya, walau ada orang yang memandangnya secara terbalik, yaitu penderitaan ada karena hukuman Allah atas dosa-dosa, nyatanya dosa itu adalah penderitaan juga, jadi Allah tidak menjadi caused atau tidak menjadi reaktor atas dosa yang kita perbuat lalu melahirkan penderitaan. Karena penderitaan berdiri diambang pintu setiap hidup manusia, maka Yesus memberi contoh yang akurat bagaimana cara memenangkan penderitaan. Bukan memenangkan penderitaan dengan kepura-puraan atau dengan “cerita kepahlawanan serba bisa”, atau superhero-superhero dengan segala keahlian yang di luar kekuatan biasa, tetapi dengan cara memberi patokan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, atau melainkan mengajarkan bahwa kematian adalah awal dari memasuki kekekalan bersama ALLAH di sorga. Memang tidak semua mengalami kematian akibat penderitaan, sebab nyata ada juga oleh karena kemurahan TUHAN mendapat kesembuhan-kesembuhan, karunia-karunia, berkat-berkat, tetapi semisalpun TUHAN berkehendak lain, ingatlah Kristus, ANAK ALLAH bahkan mati, tetapi oleh kebangkitanNYA karena iman kita beroleh kebangkitan juga, oleh NamaNYA.

Jadi orang yang lumpuh ini sudah mengerti, bahwa YESUS sanggup dan berkuasa, ia memiliki iman, bahwa apa yang belum ia lihat akan ia dapatkan, dan… memang mendekatlah kepada YESUS, DIA yang baik, akan menyelesaikan masalahmu, penderitaanmu… itu sudah langkah yang tepat dari si lumpuh ini.

Terkadang memang keadaan fisik bisa membutakan. Orang bisa saja kelihatan dari luar di dalam keadaan sehat-sehat saja. Ia bisa tertawa dan ia bisa melakukan aktifitas yang membutuhkan raga yang bugar, sehat, atau katakanlah tidak di dalam keadaan sakit, tetapi rohaninya amburadul, jiwanya meraung. Rohnya menderita, sakit.
Si lumpuh di atas memiliki penyakit itu juga. Bukan fisiknya saja, tetapi berikut juga rohnya menderita. Mungkin saja beliau ini telah sekian lama lumpuh,…. dan kita bisa paham dari tindakan mengasihani diri sendiri. Jika oleh penderitaan mata kita fokus kepada diri sendiri, maka akibat yang lebih buruk akan terjadi. Ia terkadang menanti, dan ketika memuncak maka derita demi derita akan saling menopang di pundak kita. Kita kelelahan oleh pikiran kita sendiri, dan roh kita semakin lelah… Dan apa yang terjadi di dunia rohaniah akan nyata dari semua gerak gerik kita jika sudah menumpuk dan memberatkan.

Yesus berkata: “Dosamu sudah diampuni”.
Beruntung sekali kita diberi pengajaran yang kokoh ini. Bukan hanya si lumpuh yang mendengar, tetapi berikut juga ahli Taurat. Dan mereka tahu betul arti dari kata ini. “Dosamu sudah diampuni”. Dosa memang tidak terlihat, dan kita bisa beranggapan bahwa kata-kata itu hanya retorika, seperti yang biasa diucapkan oleh si mulut besar, tokoh-tokoh populer,… tetapi ini bukan kata yang bermanis mulut. Yesus sedang tidak di posisi mengejar popularitas. Sebab DIA tahu betul akibat dari perkataan itu, yaitu menghujat ALLAH. Sebab hanya ALLAH yang bisa menghapus dosa, nyatanya ahli Taurat tahu betul akan hal itu…dan menghujat ALLAH adalah “mati”. Mati, bagi orang popular adalah ujung dari segala sesuatu, maka jika ada kematian orang popular menjauh dari itu semua. Yesus menghujat atau DIA adalah ALLAH?, ahli taurat tahu betul, Kristen tahu betul topik ini, akibat “Dosamu sudah dihapuskan” kematian yang kehendak Bapa menjadi nyata, dosa dihapuskan didalam kebangkitanNYA.

Setelah Yesus menyelesaikan masalah si lumpuh dibagian rohaniahnya, lalu Yesus masih bertindak lebih jauh lagi, IA menyembuhkan apa yang bisa dilihat oleh orang. Fisiknya sembuh. Bagi manusia biasa kesembuhan fisik itu adalah tanda kuasa yang lebih wah, tetapi tidak bagi ahli Taurat. Dan juga tidak bagi kita yang mengenal arti terdalam dari penderitaan, dan tidak bagi Kristen. Kesembuhan spiritual yang pertama itulah yang utama dan terpenting. Yang fisik juga penting tetapi jangan sampai terpaku di sana.

Oleh kesembuhan itu, maka kita dapat mengerti bahwa penderitaan bukan oleh karena hukuman Allah atas dosa-dosa kita, tetapi supaya nyata akan kuasa dan kemuliaan ALLAH di bumi. Sebab DIA baik.

Kesembuhan rohaniah memampukan kita melihat dengan iman. Yaitu menyadari kata “Kehendak Bapa jadilah”, atau “Biarlah kehendaMU jadi”…seperti yang Yesus ucapkan di Getsemani.
Kata iman bisa menjelaskan banyak hal, tetapi iman Kristen adalah iman yang melandaskan kepada sesuatu yang tidak kelihatan oleh mata, tidak populer… sebab iman Kristen adalah bukan perkara kita mengejar ALLAH, tetapi perkata membiarkan ALLAH, Yang tidak terlihat itu mengejar kita. Itu pokok utamanya. Sama seperti si Lumpuh, membiarkan YESUS berkarya kepada kesembuhan dirinya sendiri…Dan oleh iman ini, maka kita mampu mendekat kepada DIA… oleh iman orang berani membawa si lumpuh ini mendekat kepada YESUS. Oleh iman kita mengerti, dan jangan dibalik karena kita mengerti kita memiliki iman, hanya menunggu waktu saja, oleh sedikit trigger penderitaan ia akan beralih dari Janji Setia kepada ALLAH. Peristiwa salib menjelaskan banyak hal di dalam keadaan “menjauh” dari Yesus akibat dari penyelesaiaan penderitaan yang tidak disetujui.

Bukan tanpa alasan kita menderita

Juli 11, 2010 pukul 2:36 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

(1Petrus 3:17-20 [ITB])
Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.
Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.

TUHAN memang menjanjikan damai sejahtera, sukacita dan sebagainya kepada mereka yang diam dan hidup di dalam Kristus, tetapi jika ada rencana TUHAN yang sedang atau akan terjadi maka IA berdaulat untuk membawa “penderitaan”.
Tidak akan ada yang menyangsikan akan murid-murid awal, betapa mereka mengikuti Tuan mereka, Yesus Kristus, tetapi tidak akan ada sejarah yang tidak mencatat betapa mereka penuh ratap dan tangis di dalam menjalakankan iman mereka….mereka 99 % mati mengenaskan, Stefanus sebagai martir pertama mati dilempari batu, Petrus disalib terbalik, bahkan saudara-saudara yang lain banyak yang dikasih ke binatang-binatang buas sebagai makanan, ada yang ditenggelamkan ke dasar air, ada yang dibakar, digergaji…. itu semua penderitaan…. Paulus mati martir juga di Roma,…dan pertanyaan, kenapa mereka bisa kuat dan tabah?….karena mereka mengenal alasan kenapa itu semua terjadi. Saking dekatnya mereka kepada TUHANNYA, KRISTUS, maka mereka begitu mengenal rancangan, kehendak TUHAN, yang harus dijalankan, yaitu menyebarkan secepatnya Injil kepada dunia…. dapat kita bayangkan jika Petrus tidak mengalami pengejaran di mana-mana ia tidak akan ke Anthiokia, atau tidak akan ke daerah-daerah lain, jika Paulus tidak mengalami penganiayaan maka ia tidak akan bersaksi di Roma….jika mereka nyaman di Yerusalem, maka nubuat YESUS sewaktu kebangkitan tidak akan terjadi, kehendak Yesus adalah supaya murid-murid memberitakan Kristus keluar dari Yerusalem, ke ujung-ujung bumi…

Katakanlah ada orang yang tidak terlalu mengenal kehendak ALLAH pada masa itu, itupun jika ada, kenapa Kristen pada masa itu kuat dan tabah?,…. satu kemungkinan besar, adalah bahwa mereka masih mengingat dengan jelas, baik dari orang perorang maupun sebagai saksi mata sendiri, betapa mereka mengenal teladan yang ilahi, teladan Kristus yang mereka kenal…..

Kutipan di atas sangat jelas menggambarkan semua hal itu, Petrus sedang di dalam menasehati umat ALLAH, agar jika penderitaan ada, oleh karena kehendak ALLAH, maka mereka harus mengingat Kristus…Petrus sedang tidak berkata-kata tentang sosok yang sama sekali tidak mereka kenali, tetapi sangat mereka kenali…. tetapi meskipun mereka kenali ada rahasia yang sangat kuat yang diberitahukan Roh Kudus kepada umat ALLAH, yaitu tentang Kristus yang mengabarkan Injil di dunia orang mati…

Pelajaran buat kita adalah,… semisal kita tidak dapat melihat atau mendalami kehendak apa yang sedang TUHAN lakukan kepada kita, yang biasanya semuanya baru ditemui setelah segala sesuatu terjadi, maka, sekali lagi, semisal kita tidak tahu kehendak apa dari ALLAH yang sedang terjadi di dalam hidup kita, dan membuat kita menderita, maka tanamkanlah di hati bahwa ada teladan yang harus diikuti yaitu Kristus….jika kita kuat meneladani DIA, maka kita akan dapat membaca kehendak ALLAH. Dan pada akhirnya kita memahami bukan tanpa alasan kita menderita.

Ia tidak mengancam

Juli 5, 2010 pukul 12:43 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

(1Petrus 2:23 [ITB])
Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

(Lukas 23:34) Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.

Contoh kita ambil saja dari film-film laga, biar sedikit ada gambaran…

Pertama:
Jika sang pemeran utama yang dalam hal ini “sang pembela” kebenaran mengalami penderitaan dari tokoh antagonisnya, maka pada saat ia diikat misalnya atau sedang berada di balik jeruji, ia akan berteriak, “Awas kau nanti, akan kubunuh kau!!!”… dengan geram terkesan bengis…biasanya tokoh antagonis kalau mendengar itu akan tertawa puas….

Kedua:
Jika tokoh antagonis sekarang yang mengalami penderitaan, ia dipenjarakan misalnya oleh tokoh “kebenaran”, ternyata ia juga digambarkan akan menyebar ancaman, “Awas nanti setelah bosku datang, akan kubunuh kau”, ancamnya.

lucu juga ngebayanginnya hehehe…

Nah, jangan lupa peran-peran ini terkadang kita juga melakukannya dan kita ucapkan,… kita bisa saja melihat hal-hal yang tidak sesuai dengan nurani atau mungkin ajaran agama kita, lalu berucap, “Allah maha adil, kebenaran akan terungkap, yang jahat pasti mati, kamu pasti dikutuk….”, mengerikan bukan?…bahkan ucapan itu bisa ucapkan kala membaca berita, kala menonton tv, d.l.s.

Kutipan dari Lukas di atas menjelaskan tentang “perlawanan” atas keadaan rusak di atas. Melawan arah, tidak sesuai keadaan dunia yang ingin memuaskan “emosi” yang fana, melampaui itu….

Lalu kenapa Yesus bisa mengucapkan kata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” ?

Karena Ia mengenal maksud dan tujuanNYA, dan Ia mengenal Siapa DiriNya sendiri….
Maksud dan tujuan Yesus sampai menjadi manusia adalah untuk menjalankan misi yang Roh Kristus nubuatkan dengan perantaraan nabi-nabi, atau orang-orang kudus TUHAN di masa lampau, dan untuk misi itulah IA, Firman ALLAH menjadi manusia…dan di dalam keadaanNYA sebagai manusia itu, IA bukan seperti manusia yang di dunia, yang walau IA benar, IA tidak serta merta menghakimi, IA sabar di dalam penderitaan itu, karena IA sedang “mempertontonkan” KASIH , ALLAH adalah Kasih,…Yochana..

dan kita tentu tahu di dalam keadaan menunggu, menunggu adalah pekerjaan yang amat sangat melelahkan, butuh tenaga eksta dan kesabaran ekstra untuk itu… TUHAN YESUS sekarang menunggu sampai kesudahannya kelak, sebab IA tidak datang sebagai HAKIM waktu datang di dalam keadaan manusia, tetapi kelak ketika segala sesuatu sudah genap waktunya, TUHAN, YESUS akan turun di dalam keadaanNYA Yang sebenarnya, sebagai HAKIM…. dan karena maksud dan tujuan di sini adalah sebagai HAKIM, maka persiapkanlah tubuh dan roh dan jiwa kita untuk itu…

Kita memang tidak bisa menolong dunia, tetapi kita bisa mengoreksi diri kita sendiri…dan karena TUHAN mengenal siapa diriNYA, maka kita juga sekiranya dapat mengenal diri kita, TUHAN tidak sedang berkata :”Tunggu saja nanti setelah engkau mati, Aku akan mengirim engkau ke neraka”,… Tidak, bagaimana kita tahu? karena rancangan TUHAN adalah rancangan damai sejahtera, IA telah menyediakan begitu banyak kesaksian-kesaksian yang kasat mata kita dapatkan di setiap kehidupan kita, apakah kita sadar?….. apakah kesabaran TUHAN kita labrak, apakah kemerdekaan yang TUHAN berikan menjadikan kita sombong? tetapi selalu ada pilihan yang salah, Yudas Iskariot menjadi contoh kepada kita, ia seorang pencuri, bendahara yang korup, ultra nasionalis yang tidak membuka mata atas masalah-masalah rohaniah, padalah betapa rindunya nabi-nabi dan orang-orang kudus TUHAN yang bahkan para malaikat ingin menyaksikan ALLAH yang di dalam manusia, ingin menyaksikan YESUS di dunia,… Yudas yang setiap hari mendapat wejangan dari Guru tidak berubah, bahkan ketika dosanya menumpuk maka mautpun sudah dekat, ia binasa… tetapi bukan TUHAN namaNYA kalau tidak dapat merekakan “kedegilan” menjadi kebaikan, kekerasan hati Israel telah menjadikan kita mendapat anugerah mengenal TUHAN, kekerasan hati Yudas telah diubahkan menjadi berkat buat kita… darah tebusan tertumpah…Artinya TUHAN sabar menunggu sampai ada hari atau waktu bagi kita mau mengenal berkat anugerahNYA, tetapi ketika hati kita ada kecenderungan untuk bebal dan keras dengan segala dalihnya, dosa kita menumpuk, membubung sampai ke langit, maka TUHAN akan menunjukkan wajahNYA,… IA akan menghukum sebab IA adalah KUDUS, sebab IA MAHA ESA, dan karena kita sudah dibatasi waktunya, kita tidak dapat hidup sepanjang jaman, kita pasti mati, maka hidup kita di dunia adalah waktu yang diberikan TUHAN sebagai batas kesabaranNYA kepada kita masing-masing. Dalam hal ini, berbahagialah mereka yang mendapat hajaran dan hukuman di dunia ini, mereka jauh lebih berbahagia ketimbang TUHAN menghukum mereka pada saat Pengadilan Besar kelak.

Menerima Pujian

Juli 3, 2010 pukul 12:12 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: ,

(1Petrus 2:20 [ITB])
Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.

di dalam terjemahan bahasa Indonesia sehari-hari disebut

(1Petrus 2:20 [ISH])
Sebab apakah istimewanya kalau kalian sabar menderita hukuman yang seharusnya kalian tanggung karena bersalah? Tetapi kalau kalian dengan sabar menanggung penderitaan yang menimpamu karena berbuat yang benar, maka Allah akan memberkatimu.

Dunia memang bertolak belakang dengan sorga, dan karena Roh Allah ada pada kita, dan Roh Allah yang adalah Roh Kemuliaan di dalam Nama Kristus memanggil kita senantiasa berlaku benar, karena Kristus adalah Benar.

Satu hal, kita percaya dunia akan berkesudahan, kiamat namanya, tetapi sorga akan kekal, tentu kita tidak dikehendaki mati konyol, TUHAN berkehendak bahwa ciptaanNYA jangan sampai binasa, dan supaya jangan binasa maka mahluk di dunia itu diberi Cahaya Kemuliaan Kristus melalui darah tebusanNYA yang dikerjakan Roh Allah di dalam kita.

Sekarang kita tahu bahwa dunia berlawanan dengan ALLAH, dunia berbeda karena iblis, raja dusta telah berkuasa di dunia ini, ia di buang di sini sampai menunggu kesudahannya kelak. Ia yang dahulu adalah penghulu malaikat tentu tidak tinggal diam atas segala “merajalelanya” kekudusan. Ia sangat tidak menyukai itu.

Pekerjaan-pekerjaan iblis terkadang kita setujui di dalam berperilaku, di dalam berbicara, di dalam bertingkah laku setiap hari. Perbuatan-perbuatan dosa. Bisa saja kita kenak tampar atas kelancangan kita, bisa saja kita tergilas angkot saking ugal-ugalan naik motor, atau bisa saja kita gila karena terlalu memikirkan hal-hal yang tidak realistis…kenak tampar adalah penderitaan, kecelakaan adalah penderitaan, kegilaan adalah penderitaan, banyak bentuk penderitaan yang dapat kita rasakan,.. tetapi pertanyaannya, bukankah penderitaan itu layak kita terima? Kenapa? karena semua kehidupan dan tatacara itu kita lakukan berlawanan dengan kemauan sorga, kita menyimpang dari sasaran…. dan jangan ucapkan itu sebagai kehendak ALLAH,…

Ada juga yang terisak-isak karena dipenjara akibat pembunuhan, ada yang sakit parah karena divonis korupsi, banyak hal….semua itu menghasilkan penderitaan,…dan ada hal yang agak unik, seorang yang menderita tetapi tidak mengakui keberdosaannya malah sering mengundang simpati dari masyarakat, sambil berkata: “Doakan saya supaya tabah menjalani cobaan ini”,…. padahal ada dosa tersembunyi yang tidak ia akui, …
hal-hal seperti ini adalah bentuk ketidakpercayaan kepada ALLAH, … dengan mulut mungkin ia bisa mengaku beragama, tetapi kelakuannya jauh dari itu, ia tidak sadar bahwa malaikat-malaikat TUHAN bagaikan awan-awan mengelilingi kita, menyaksikan apa saja perbuatan kita…

Dan ada penderitaan yang lebih parah, seseorang mengajarkan tentang firman Allah, tetapi dirinya sendiri berjuang keras untuk dapat mengalahkan nafsunya sendiri….penderitaan yang sangat menyakitkan…

Ohhh penderitaan-penderitaan di atas memang layak kita tanggung, dan tidak ada satupun yang mendapat pujian dari TUHAN atas penderitaan itu semua…semua itu persis seperti kecelakaan akibat membawa motor dengan ugal-ugalan…salah kaprah, salah arah…. beda tujuan.

Ada penderitaan yang dapat pujian TUHAN,…yang mana?
Kita sudah percaya bahwa Roh Allah ada pada kita, nah karena Roh Allah adalah TERANG, maka kita wajib membuktikan bahwa ada TERANG di dalam kita, maka bercahayalah…Dan kita tahu bahwa tubuh kita juga mempunyai keinginan, dan itu selalu ingin dimenangkan,… mendapat uang adalah keinginan, untuk dapat hidup lebih layak di ibukota misalnya, tetapi karena ROH ALLAH Yang ada di dalam kita bukan ROH YANG mau disuap dan bukan roh dunia maka kita harus melawan suap tadi, dan konsekuensi dari tidak menerima suap itu adalah kita menjadi tidak cukup hidup layak di ibu kota.. itu adalah penderitaan karena menyetujui Roh ALLAH memimpin atas nafsu duniawi kita…..

Mencari pasangan sering juga begitu, kita terkadang membuat kotak-kotak sendiri, terkadang kita berdoa kepada TUHAN supaya TUHAN memberikan pasangan, dan tidak sesekali TUHAN memperkenalkan lawan jenis, tetapi karena keinginan kita lebih menonjol kita sering menolak sodoran TUHAN, “ah kurang cantik”, “ah kurang pintar”, “ah tidak pakai kaca mata”, “ah tidak putih”, dan ah ah yang lain, apa yang terjadi setelah usia lewat? ia berkata ahhh sudahlah mungkin memang TUHAN tidak menghendaki aku menikah? UPSSSSS ingat ADAM dilengkapi dengan HAWA, jadi jagalah kata-katamu, penderitaan menunggu pasangan itu layak Anda terima karena Anda selalu menolak sodoran TUHAN,…itu tidak akan mendapat pujian…. itu seperti mendapat kecelakaan karena membawa motor dengan ugal-ugalan. Tetapi jika kita bisa membaca kehendak TUHAN, maka kita akan mudah menentukan pasangan itu, dan kitapun akan diberkati olehnya,…

Banyak contoh, dan terlalu sempit ruang ini…sebab Kasih Setia TUHAN begitu indah dan luar biasa…
yang tidak memahaminya akan menderita juga, dan tidak ada waktu dan kesempatan untuk mengasihani diri sendiri, sebab penderitaannya disebabkan oleh pilihannya sendiri yang tidak mau tunduk kepada ROH ALLAH….

Penderitaan adalah penderitaan

Juni 16, 2010 pukul 2:33 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag:

(Yakobus 1:2-3 [ITB])
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

Ini sedang tidak menjelaskan tentang menipu diri sendiri. BUKAN. Contoh menipu diri adalah… kalau kita terbakar di bagian kulit kelingking, menangis saja, sebab itu memang sakit dan perih, tidak usah berpura-pura mengatakan seolah itu tidak perih atau tidak sakit…tapi rasakanlah sakit itu, karena Anda tahu itu sakit, maka jika nanti bertemu dengan sumber-sumber panas yang menimbulkan kebakaran kulit kita bisa bijaksana menghadapinya… Jadi penderitaan adalah penderitaan, hadapilah itu tanpa berpura-pura atau tanpa menipu diri sendiri…. Lapar adalah lapar, tidak usah berkata Anda sudah makan, kalau diajak makan oleh bawahan Anda, sampai-sampai Anda masuk angin lalu mencret-mencret, hanya karena tidak mau menerima keadaan dan kenyataan….

Tetapi itu semua hanya masalah-masalah sederhana untuk memudahkan pengertian saja. Sebab ada yang lebih mulia, yang lebih layak untuk dipikirkan dan dilakukan…

(Matius 5:11 [ITB])
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

(Roma 5:3-4 [ITB])
Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

(1Pet 1:6-7 [ITB])
Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

Kita hadapi semua penderitaan, kita menghadapinya karena kita dimampukan mengenal jenis-jenis penderitaan, dan oleh pengenalan itu kita bisa mengenal bagaimana Kristus menderita juga untuk kita. Dan karena Kristus telah berjalan sebagai Yang pertama, maka kita juga dimampukan untuk melewati itu semua….

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.