Dimana Dia

Maret 23, 2013 pukul 9:09 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,

Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (Kejadian 4:9 ITB)

Bagi beberapa orang pertanyaan itu aneh, “Bagaimana mungkin ALLAH yang Maha Mengetahui bertanya seperti itu?”, begitu kira-kira pertanyaan itu.

Kalau kita telusuri satu pasal diatasnya masih dapat kita temukan pertanyaan dari TUHAN yang bernuansa sama,

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” (Kejadian 3:9 ITB)

Itu pertanyaan kepada Adam dan Hawa ketika TUHAN hadir di bumi sesaat setelah Adam dan Hawa telah melakkan pelanggaran besar.

Ternyata pertanyaan seperti itu untuk memperlihatkan keadaan hati kita yang terdalam. Dengan bertanya seperti itu hati Kain tergambar, hati Adam dan Hawa yang saling lempar tanggung jawab terlihat.

Salah satu nasehat tertua yang seusia dengan manusia adalah…

Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” (Kejadian 4:7 ITB)

TUHAN bicara masalah hati kepada Kain, sesaat sebelum beliau membunuh adeknya sendiri. Dan masalah hati inilah yang tidak pernah beres dari Kain yang membuat pertanyaan TUHAN “Dimana Habel adikmu?” seolah menjadi palu yang keras, dan bukannya palu itu menghancurkan batu hatinya, justu itu memuntahkan granit-granit berikutnya, beliau malah berteriak di hadapan Sang Maha Tahu itu, …”Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”, itu suaranya.

Intinya apa yang TUHAN lakukan dapat mengungkap isi hati kita masing-masing. ‘Seolah’ tidak tahu dari Yang Maha Tahu dapat mengungkap keadaan hati Adam, Hawa, Kain,… kita.

Lihatlah jaman ini, ada wacana dunia aneh yang menyelimuti bumi ini, kekacauan, kemelaratan moral meningkat, bahkan ada orang bertanya jika ada TUHAN Yang Maha ADA, kenapa Dia tidak ADA untuk penderitaan si anu, si itu, si ini, dan sebagainya,… Atau perhatikan penghinaan terhadap TUHAN Semesta Alam di diskusi-diskusi online, “Dimana TUHAN yang ditakuti para Nabi itu?” ketika NamaNYA YANG KUDUS dicaci dan dimaki?, PB berkata bahkan Iblis-iblis gemetar kepada DIA, kenapa manusia tidak?, …. Untuk mengetahui kedalaman hati manusia itu sendiri.

Kita dapat melihat dan semakin jelas melihat, hati manusia sudah semakin bobrok. Dosa sudah masuk ke dunia, ia menggoda kita, dan menurut nasehat sorgawi di atas, kita harus berkuasa atasnya, bagi beberapa orang bukannya berkuasa atas dosa itu, malah dimanfaatkan untuk melahirkan pertanyaan-pertanyaan angkuh macam Kain kepada TUHAN.

Tetapi tidak mengapa toh, dengan demikian hati setiap orang semakin jelas. Dan kitapun dapat membuat jalur langkah kita semakin terang.

Jadi kalau ada yang bertanya “Dimana DIA?” atau ada yang menghujat, berdoa saja, DIA ADA, dan sanggup, bahkan seoalah “tidak ada” itu hanya menunjukkan keadaan hati kita masing-masing. 

Iklan

Ujian datang, karena kita berkemah, studi kasus Rahab

November 4, 2011 pukul 12:32 pm | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | 4 Komentar
Tag: , , , , ,

Kemah kita adalah tubuh kita ini. Dan karena kita masih memiliki tubuh sepanjang hidup ini, maka ujian itu akan datang terus dan silih berganti.
Kesehatan adalah ujian, ketika beberapa virus atau bakteri datang “bertamu” kepadanya.
Ucapan adalah ujian, ketika sesuatu yang indah mungkin lebih enak diucapkan ketika seharusnya nasehat yang membuat sakit perut lebih diperlukan.

Tok tok tok…
Pintu keras diketok, dan mungkin sedikit ada bantingan dari tentara Yeriko yang sedang mencari dua orang mata-mata. Mata-mata Israel sedang ingin melihat Yerikho yang terkurung oleh tembok yang tinggi dan tertutup rapat.

Rahab: “Apa yang kalian inginkan?”
Tentara: “Dua orang mata-mata Israel, mereka memasuki daerah sini, kami yakin mereka ada di rumahmu, dan kamu mengetahuinya, hayo kasih tau dimana mereka”.

Mungkin tentara itu sedikit memaksa dengan beberapa “akting” ancaman.
Dan kita tahu, Rahab berbohong kepada tentara-tentara itu bukan?, wanita yang tidak berdaya itu, yang dikenang dalam imannya, sekarang harus berbohong, akibat keadaan yang memaksa.

Jika mengingat TUHAN yang sedang “bekerja” bersama ISRAEL maka tidak ada alasan untuk dapat melakukan hentakan-hentakan sedikit jika toh kedua pengintai itu tertangkap, tetapi “kemah” Rahab lebih tidak tahan terhadap angin yang mendera, ia memilih rubuh ketimbang menguatkan tali-tali pengikatnya, dan ia mengeluarkan perbendaharaannya yang masih perlu belajar lebih percaya. Ia berbohong untuk alasan ingin menyelamatkan dua mata-mata Israel. Berbohong lebih ampuhkah dibanding buah iman yang melihat KUASA TUHAN?

Berbohong macam ini justru lebih berbahaya dan lebih menghujat TUHAN, karena sekaligus berbohong, juga telah menghina TUHAN tidak sanggup menolong sekaligus, serta sekaligus yang satu lagi yaitu menghina TUHAN tidak melihat dan bekerja.
Parah bukan?
Jadi tidak ada gunanya berbohong demi alasan apapun itu.

Meski hal-hal semacam itu terjadi dan terkadang diijinkan terjadi bukan berarti hal itu dibenarkan.
Kita diijinkan mengucapkan kata-kata kotor dan bertindak kotor bukan berarti karena diijinkan maka itu bisa diterima dan bisa dikatakan benar. Kristen terkadang melakukan pembunuhan dan pembantaian atau malah menyetujui perang, bukan berarti Kristen mengajarkan begitu,… ada ujian yang menghampiri…

Diijinkan itu sebagai pertanda bahwa kita masih hidup dalam kemah, dan kemah akan selalu dapat menerima terjangan-terjangan angin, dan sebisa mungkin oleh terjangan-terjangan itu kita dapat semakin belajar mengikat tali temali yang kuat sehingga kita dapat menahan dan menolak terjangan angin itu.

Kata diijinkan tidak sama dengan diperbolehkan. Diijinkan maksudnya adalah kita dibebaskan memilih dan terkadang pilihan kita itu salah. Kemah yang indah cenderung terlihat dari bagaimana merespon terhadap pilihan yang salah. Tidak jarang orang seperti DAUD dengan respon pertobatan, mungkin kebanyaka seperti Saul yang malah semakin “brutal”, atau mungkin “theologi Yudas Iskariot”, yang konon karena mengasihani dirinya ia melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan, atau mungkin seperti Petrus, yang menangis kerasa, meraung karena penolakan, tetapi menjadi keras seperti batu karang oleh tangisnya itu…
Banyak contoh, banyak lakon, .. kita melakoni seperti apa? Rahap?

Dari Hizkia ke Manasye ke Amon

Mei 26, 2011 pukul 9:08 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Jika kita meneliti Raja Hizkia maka kita akan mengenang seorang raja yang takut akan TUHAN. Awal cerita pemerintahannya di dalam Alkitab langsung dibuka dengan kata-kata berikut:
Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya.
(2Raja-Raja 18:3)

Beliau disamakan dengan Daud, dan tentu bagi mereka yang berdiri pada janji TUHAN, itu sebuah berita yang menyenangkan.

Sampai suatu saat nubuat datang kepada Nabi Yesaya, demikian:
Lalu Yesaya berkata kepada Hizkia: “Dengarkanlah firman TUHAN! Sesungguhnya, suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada barang yang akan ditinggalkan, demikianlah firman TUHAN. Dan dari keturunanmu yang akan kauperoleh, akan diambil orang untuk menjadi sida-sida di istana raja Babel.”
(2Raja-Raja 20:16-18)

Raja Hizkia hidup sejaman dengan Nabi Yesaya, seorang nabi yang begitu dihormati.
Kita tidak terlalu mengerti memang kenapa Raja Hizkia membuat nama penerus tahtanya dengan Manasye, entah karena nubuatan itu atau apapun itu yang pasti Manasye diambil dari kata dasar nasha (lupa), yang dapat diterjemahkan sebagai menjadi lupa, atau dilupakan, atau menyebabkan terlupa.

Yah Manasye memang menjadi penerus Raja Hizkia, dan menjadi seperti arti namanya sendiri, ia menjadi raja yang amat sangat jahat. Kejahatannya sendiri dibandingkan dengan orang Amori yang pernah nenek moyangnya hancurkan oleh karena kejahatan mereka. Dikatakan bahkan Raja Manasye lebih jahat dari mereka. Ia membangun kembali tugu-tugu, mezbah-mezbah berhala. bahkan di dalam Bait Suci yang di Yerusalem, yang dikuduskan oleh TUHAN, dibangunnya mezbah berhala. Tak sampai disana ia bahkan membakar anaknya demi sesembahan kepada roh-roh jahat, roh tenung, horoskop, dan lain sebagainya. Ia seperti lupa akan bagaimana menyembah TUHAN seperti yang pernah dilakukan oleh ayahnya.

Sang ayah yang disejajarkan dengan DAUD oleh karena kesetiaan kepada TUHAN, sekarang Manasye dibandingkan dengan orang Kanaan, yang bahkan disebut lebih jahat dari mereka.
Nubuat YESAYA kepada Raja Hizkia ayahnya, sekarang sudah mulai terbuka untuk terlaksana, secepatnya…
Dan semakin dapat dilihat beridiri di muka gerbang, sebab anak Raja Manasye yaitu Amon sekarang menjadi raja menggantikan dirinya, dan ia juga dikenang sebagai raja yang sama jahatnya.

Sebelum kematiannya dengan cara dibunuh, Alkitab mencatat sejarah hidupnya dengan amat sangat memilukan…
Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN seperti yang telah dilakukan Manasye, ayahnya. Ia hidup sama seperti ayahnya dahulu sambil beribadah kepada berhala-berhala yang disembah oleh ayahnya dan sujud menyembah kepada mereka. Ia meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyangnya dan tidak hidup menurut kehendak TUHAN.
(2Raja-Raja 21:20-22)

Ia meninggalkan TUHAN…. dan ia dikenang sama seperti ayahnya Raja Manasye, penyembah berhala, menantang TUHAN…
Dua raja terakhir yang disebutkan di atas menjadi pondasi dari ‘dilupakannya’ janji TUHAN kepada ISRAEL. Dan sudah sedang menunggu penghancurkan kepada YEHUDA, sebab ISRAEL saudaranya sendiri sudah terbuang ke ASYUR.
BABEL, di ujung timur wilayah Israel, sudah sedang menggeliat untuk meluluhlantakkan YEHUDA, bahkan menghancurkan Bait Suci yang di Yerusalem.

Hizkia mengingatkan orang kepada Raja Daud, Manasye tahu cara melupakannya, dan Amon melanjutkan cara ayahnya.

Merah seperti kermiji, seperti kesumba

Mei 24, 2011 pukul 10:32 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

MERAH kermiji, MERAH menyalak..MERAH kesumba, merah benderang….
Itulah yang ‘digambarkan sebagai’ dosa. Menyalak, dan langsung terlihat. Kalau dipelototin terus mata bisa merasakan ketidaknyamanan, apalagi jika di dalam keadaan sinar matahari yang terik, bisa menyakitkan mata.

Merah ini sering disebut juga merah darah,.. beberapa penafsir menyebutkan bahwa merah seperti kermijilah YESUS tergantung di salib, IA benar-benar memerah oleh karena siksaan sebelum kematianNYA.
Bahkan merah seperti kesumbalah YESUS di atas kayu salib itu, karena darahNYA mengucur deras,… demi apa?

Marilah, baiklah kita berperkara! –firman TUHAN–Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.
(Yesaya 1:18)

Ya, YESUS menjadi merah seperti kermiji dan merah seperti kesumba, untuk membuat perkara Nama ALLAH mengayomi dunia, menjadikan dosa dunia putih seperti salju, putih seperti bulu domba.

Akan menjadi…. kata TUHAN kepada YESAYA…
Sudah menjadi…. oleh YESUS….
dan akan nampak kelak pada diri kita masing-masing ketika YESUS datang kembali dalam kemuliaanNYA…

YESUS yang memerah penuh darah itu, sekarang menjadi di dalam keadaan putih benderang, IA menyilaukan oleh karena kemuliaanNYA, IA adalah cahaya kemuliaan ALLAH, IA adalah penerang sorgawi.

Warisan harta

Februari 10, 2011 pukul 7:40 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 1 Komentar
Tag: , , ,

link tambahan bisa baca:
aku juga tahu koq
jatuh

Jika seorang kaya melahirkan keturunan, maka anak-anaknya entah bagaimana juga disebut anak orang kaya, simplenya anak kaya, lebih umum lagi, orang kaya.

Jika seorang miskin melahirkan keturunan, maka …… titik saja.

Artinya harta orang tua diwariskan kepada anak-anaknya, umumnya begitu, meski ada beberapa orang yang mewariskan hartanya bukan kepada anak-anaknya melainkan yayasan sosial tertentu atau lain-lain.

Terkadang warisan harta itu tidak dilimpahkan kepada anak-anaknya karena ada sesuatu pada anak itu atau ada sesuatu yang membuat orang tua itu tidak mewariskannya kepada si anak.

Jadi di sini jelas terlihat dua hal yaitu sesuatu yang wajib/khas/umum/harus, dan sesuatu yang menjadi tidak wajib/khas/umum/harus oleh karena perbuatan.

Warisan tidak berbicara tentang perbuatan, tetapi perbuatan bisa mendapatkan warisan. Sebentar lagi mungkin kita akan mengerti dari perkataan ini.

Ketika ADAM/HAWA diciptakan mereka diberi janji untuk mengusahakan seluruh ciptaan lain, dan janji itu akan diwariskan kepada semua keturunannya, sebab bukan ADAM/HAWA saja yang akan memenuhi bumi tetapi keturunannya juga, ADAM/HAWA amat sangat penting, karena mereka adalah manusia pertama. Tentu tidak akan ada yang protes akan satu hal ini kecuali yang berikut:…

Ketika ADAM/HAWA telah memulai pelanggaran terhadap satu perintah TUHAN, maka ADAM dan HAWA mewariskan sesuatu kepada kita. Dan kita yang terwaris satu pelanggaran itu malah telah melakukan pelanggaran-pelanggaran yang tidak cuman satu, bahkan bisa lebih, ratusan, ribuan atau malah buaaanyak sekali. Kita tidak pernah melakukan suatu apapun sehingga kita harus lepas dari hubungan akrab dengan TUHAN. Kita tidak pernah bisa memilih untuk dilahirkan oleh orang tua tertentu, kita lepas dari perbuatan itu.
Sehingga kita juga tidak bisa lepas dari keadaan terbuang dari EDEN.

ADAM melakukan satu dosa, tidak setia, tetapi coba cek diri kita, kita telah melakukan tidak setia, berbohong kepada orang tua, berdusta kepada Guru, memaki orang yang sedang mencari Mesias,…mengatai orang Kafir,..d.l.l, buanyak sekali…jadi hati-hatilah, jika Anda masih bisa membuat anak, maka jika anak Anda melihat hal-hal yang demikian maka roh Anda bisa berbicara kepada roh si anak…
Ada efek sosial dari melahirkan anak, bahwa kita harus menjaga dan memeliharanya…dan karena harus maka kita jangan sembarangan memiliki hubungan yang bisa melahirkan anak. Contohnya sudah jelas pada peristiwa Hagar dan Sarah, Ismael dan Ishak… karena Abraham sembarangan terhadap Janji TUHAN maka anak Ismael dan anak Ishak pada umumnya “berantam” bahkan sampai jaman sekarang.
Karena anak tidak memiliki perbuatan apapun yang bisa membuat dia lahir sebagai sesuatu kelas tertentu, dan karena orang tua yang memiliki perbuatan pembatasan itu, maka orang tua bertanggung jawab terhadap warisan rohaniah apa yang didapatkan anak-anaknya. Kalau anak Anda tidak ingin menjadi miskin, maka hai orang tua janganlah miskin… itu sederhananya.

Ada sesuatu di dalam diri ADAM/HAWA yang langsung “tewas” ketika menyadari dosanya. Dan itu berlanjut kepada kita. Sesuatu yang tewas itu adalah kita (kala itu ADAM/HAWA) tidak dapat lagi berhubungan langsung dengan TUHAN di EDEN, di Firdaus.

Di Taman Eden ADAM dan HAWA bisa “bercakap-cakap” langsung dengan TUHAN, tetapi ketika manusia berani berontak kedekatan itu menjadi renggang, ditandai dengan diusirnya manusia pertama itu dari EDEN.
Kerenggangan hubungan itulah yang menjadi nenekmoyang dari segala penderitaan yang kita alami. Dan susahnya “bercakap-cakap” dengan TUHAN itulah yang dicoba oleh keturunan SET anak ADAM, yaitu jaman ENOS, dalam bentuk pemanggilan Nama TUHAN, memanggil kehadiran TUHAN dalam ritual-ritual spiritual, dan sejak itulah dimulai penyembahan kepada TUHAN.

Kata mati dalam perintah TUHAN yang pertama yaitu Larangan memakan pohon pengetahuan secara etimologi bisa diartikan “kamu pasti menderita”. Dan jelas sejak peristiwa itu menderitalah manusia, salah satu pointnya adalah setiap wanita akan sakit kala bersalin… tanah menjadi “mengerikan”,…perjuangan menafkahi keluarga, d.l.l…

Lempar tanggung jawab adalah salah satu efek dari kerenggangan hubungan dengan TUHAN. Ingat Adam melempar tanggung jawab kepada Hawa, dan Hawa kepada ular… ketika kita tidak setuju dengan warisan, maka kita bisa saja lempar tanggung jawab…menyalahkan orang tua, menyalahkan pemerintah, menyalahkan si koruptor sana, d.l.l, padahal kita bisa menjadikan diri kita kaya dengan memilih warisan yang seharusnya milik kita, yaitu warisan akrab dengan TUHAN.

Sebagai contoh sederhana, seorang koruptor jelas akan dihukum oleh karena pelanggarannya sendiri, kita tidak akan pernah dihukum sebagai koruptor sebab kita tidak melakukannya, tetapi oleh ulah seorang koruptor maka seantero negeri bisa merasakan masuknya penderitaan bernama kemiskinan, dan kita harus menanggung akibat-akibat kemiskinan itu, antara lain kerusuhan, pencurian, perampokan, ketidaknyamanan,… dan itu adalah dosa-dosa baru yang dilahirkan oleh efek si koruptor.

Peristiwa ini dicatat di Kitab Kejadian, di Kitab Kejadian dikisahkan banyaknya peristiwa awal, peritiwa asal muasal. Dan disitupulalah kita temui asal muasal kenapa tangis, ratap tangis, kesedihan, penderitaan ada dan hadir di dunia ini, yaitu kala manusia melawan dan berontak dan tidak setuju kepada hadirnya hadirat TUHAN di bumi. Dosa warisan berbicara tentang bagaimana penderitaan masuk dan dimulai di dunia ini.

TUHAN menciptakan segala sesuatu baik, artinya manusia tidak diciptakan untuk menderita, tetapi manusia menjadi menderita karena perbuatan melanggar kesetiaan/ketundukan kepada Pemerintah YANG SATU, TUHAN.
Keadaan “tidak dekat” dengan TUHAN itu langsung dibuktikan dari peristiwa anak ADAM, Kain dan Habel. Belum beberapa generasi, masih generasi pertama dari ADAM, sudah terjadi pembunuhan pertama,… sudah terjadi pembangkangan ke dua yang lebih parah,… sampai generasi ke tujuh, sudah terjadi manusia membuat hukum sendiri,…dan seterusnya dan seterusnya…

Kain yang orang tuanya terusir dari EDEN sekarang malah telah melakukan dosa yang lebih parah dari ADAM, ia seorang pembunuh.
Kenapa bisa? apakah ADAM mengajari Kain membunuh? apakah TUHAN mengajari cara membunuh?
TIDAK. Apa yang terjadi? yang terjadi adalah bahwa ada pada diri Kain yang menggambarkan tentang ROH yang ditolak.
Terusir dari EDEN maka tidak ada satupun manusia yang akan sanggup memasuki EDEN itu lagi, dan ketidaksanggupan itu diwarisi oleh ADAM kepada semua keturunannya. Tidak ada satucarapun dari manusia yang bisa membalikkan keadaan dunia ini kepada keadaan semula tak kala dunia baru selesai diciptakan TUHAN. Karena ada perkara rohaniah berat yang sedang terjadi. ADAM dan HAWA diberi warning, dan sebelum warning ADAM dan HAWA deberi janji untuk beranak pinak, sehingga ketika mereka menyepelekan Warning itu sekaligus mereka melepas tanggung jawab kepada keadaan rohaniah anak-anaknya.
Jadi orang tua bijaksanalah, berdoalah. Hai para pemimpin hati-hatilah, takutlah akan TUHAN (itu yang dikumandangkan oleh Kitab Suci sejak dahulu kala). Hai kepala rumah tangga, hai manusia, takutlah akan TUHAN, sebab kita adalah manusia sosial, bukan manusia egois,…(itu juga dikumandangkan sepanjang sejarah Kitab Suci)…

Perbuatan dosa ditanggung oleh diri kita yang melakukannya, tetapi ada efek sosial yang berlaku kepada mereka yang memiliki kesanggupan untuk beranak pinak.
Seorang bapak yang menjadi pembunuh akan dihakimi sebagai pembunuh, tetapi anak dari bapak pembunuh ini bisa dicemooh sebagai pembunuh oleh lingkungannya dan itu bisa tertanam dan bisa membuat dia sebagai seorang pembunuh berdarah dingin juga.

Seorang yang merasa A adalah yang terbaik di muka bumi ini akan berusaha mewariskan A kepada anak-anaknya, ia akan berusaha mendidik si anak sejak di kandungan bahkan, …. jika ternyata A adalah sesuatu yang salah di mata TUHAN, maka orang tua itu telah mewariskan sesuatu yang salah, itu juga disebut warisan harta, warisan dosa.

Dari keadaan asal muasal penderitaan di atas maka sangat masuk akallah kenapa begitu banyak aliran-aliran kepercayaan di muka bumi ini. Karena semua orang bisa mengeluarkan atau memraktekkan apa yang menurutnya benar, sementara YANG BENAR telah undur dari manusia itu sendiri.

Keadaan yang amat sangat pahit inilah yang oleh pemazmur ungkapkan sebagai hutang darah:

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
(Mazmur 51:5)

Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!
(Mazmur 51:14)

yang kemudian sekitar 900 tahun berikutnya dikutip oleh Paulus, yang kemudian disalah mengerti oleh orang-orang di jaman-jaman akhir ini.

Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.
(Yehezkiel 18:4)

Ini bicara perbuatan. Siapapun yang berbuat atas pelanggaran, maka ia sendiri akan menanggung akibatnya.
Adam menanggung akibat dosanya, Kain menanggung akibat dosanya, kita semua akan menanggung akibat dosa pelanggaran kita.

Tetapi ketika saya misalkan seorang pendosa oleh karena membunuh maka ini menceritakan tentang ada yang terbunuh, jika ada yang terbunuh maka ada efek lain dari dosa saya itu, yaitu keluarga korban, dan hukum, jika hukum tidak baik maka keluarga korban bisa menuntut balas secara individual, dan…terjadilah kekacauan… maka pembunuh membuat orang lain menjadi pembunuh… dan seterusnya…lahirlah penderitaan,.. sebab TUHAN telah berkata: “Ketika kamu melawan kamu pasti mati”, mati = menderita.

Jadi dosa warisan tidak berbicara tentang dosa perbuatan, tetapi asal muasal dari tentang hilangnya keadaan baik dari manusia. Perbuatan adalah efek dari dalam keadaan terwaris jauh dari TUHAN, yang digambarkan sebagai selalu memilih yang salah.

Dalam keadaan yang hilang baik itulah ROH ALLAH bekerja di dalam KRISTUS YESUS. KRISTUS yang baik yang tinggal di dalam kita menjadikan kita dapat merasakan Hadirat TUHAN, dapat merasakan EDEN, Firdaus, meski kita masih hidup di dalam dunia yang telah terkutuk ini.

Surat warisan harta akan sah jika ada “materai”, dan materai darah YESUS telah mensahkan bahwa kita bisa mewariskan Kerajaan Sorga kepada mereka yang dipanggil TUHAN. Dan karena SAH itulah YESUS mengatakan supaya kita memateraikan setiap orang yang percaya dalam Baptisan BAPA, ANAK dan ROH KUDUS…Dipilih oleh Bapa, dimateraikan dalam damai darah YESUS dan dibenarkan oleh Saksi Kebenaran ROH KUDUS…sebagai simbol bahwa dari keadaan terusir dari EDEN oleh Adam kita menjadi dapat merasakan EDEN oleh darah YESUS. Hutang darah dibayar oleh YESUS. Dan dihidupi dalam kelimpahan anugerah-anugerah rohaniah.

Dalam darah YESUS semua manusia seyogyanya diberi warisan sorga, tetapi tidak semua mau menerima warisan itu. Dan ketidakmauan menerima warisan itu adalah buah dari perbuatan memilih. Jika Anda memilih tidak mau menerima warisan sorga dari ALLAH, apakah Anda rela mau memberi pilihan kepada anak Anda untuk memilih antara menerima atau menolak warisan YESUS? tentu yang menolak YESUS tidak akan pernah melakukan hal sedemikian itu. Dalam hal ini ia juga telah turut mewariskan suatu penolakan kepada warisan YESUS. Tidak semua mau menerima karena tidak semua mau menjadikan YESUS sebagai Raja di dalam dirinya. Bahkan yang menerima bisa saja tidak mau mengaku YESUS sebagai RAJA, persis seperti ADAM/HAWA diawal kejatuhan, ketidakmauan mereka setia, tidak melihat Tuan mereka sebagai sesuatu yang harus dipatuhi, ditakui, maka mereka berani memakan pohon pengetahuan…dan ternyata benar, kita diwarisi keadaan yang sama, yaitu tidak mau dan tidak rela menjadikan YESUS Raja, syukur ada yang mau.

Dosa warisan bukan berbicara mengenai nenek moyang yang melanggar dosa tetapi kita anak cucunya yang menanggungnya (baca kutipan Yehezkiel di atas), karena kita sudah mengatakan bahwa dosa warisan bukan berbicara mengenai akibat dari perbuatan , tetapi berbicara mengenai ketidaksanggupan manusia menghadap TUHAN secara langsung, mati rohaniah, tentang penderitaan, tentang hutang darah, asal muasal penderitaan.
Seorang orang tua yang berhutang akan membuat anaknya terhutang, atau Pemerintah yang berhutang akan membuat warganya terhutang, bahkan anak cucu kita telah diwarisi hutang kepada negara-negara maju, rusaknya hutan telah kita warisi sebagai bentuk pemanasan global kepada anak cucu kita.

Dosa warisan juga bukan berbicara mengenai TUHAN yang tidak Maha Pengampun, karena TUHAN melalui YESUS ternyata mengampuni siapa saja dari manusia, perkaranya adalah apakah kita tahu bahwa kita telah diampuni?, tetapi berbicara mengenai tanggung jawab kita sebagai manusia yang dianugerahi untuk dapat memenuhi bumi ini, mengenai KEKUDUSAN TUHAN dan berbicara tentang KEADILAN TUHAN, dan lebih lagi yaitu berbicara tentang seriusnya TUHAN melihat pelanggaran dan penolakan akan TUHAN sebagai RAJA. Jika TUHAN ditolak, tidak terlalu mudah berkata maaf, berkata maaf kepada si penolak akan membuat dia manja dan tidak terdidik. Sekali lagi KASIH tidak sama dengan memanjakan. KASIH tahu kapan berkata TIDAK.

Jadi point utamanya adalah di kata dosa itu sendiri.
Dosa bisa disebut sebagai pelanggaran terhadap hukum/perintah TUHAN…
tetapi ada satu dosa lagi yang amat mematikan, yaitu Dosa jauh dari TUHAN, dan itulah yang dilakukan ADAM/HAWA, jauh dari TUHAN. Iblis ingin manusia tidak akrab dengan TUHAN, salah satu caranya adalah dengan menyuntikkan firman yang ia pelintir,… dan ia berhasil.

Di sini kita dapat pahami, bahwa memang ada orang yang tidak berdosa karena tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum ALLAH, tetapi meski ia tidak melakukan pelanggaran secara roh ia tetap terpisah dari ALLAH, sebab memang tidak ada manusia yang Maha, atau sederhananya manusia berdosa bukan karena perbuatan melanggar peraturan tertentu, tetapi karena secara roh mereka telah tidak akrab lagi dengan TUHAN.

Jika oleh perbuatan kita disebut melanggar dan berdosa, dan ternyata akan lebih parah lagi adalah jika dikatakan seseorang menganut agama tertentu akan masuk sorga padahal perbuatan kebaikan yang ia perbuat tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan seseorang yang menganut agama lain ada hal yang tidak adil di sini. Seorang menganut agama X tetapi merusak dan membunuh oleh alasan agama dan dijanjikan masuk sorga akan menjadi aneh jika dibandingkan dengan Bunda Theresa yang menyayangi kaum papa tetapi harus masuk neraka karena menjadi seorang Katolik… itu tidak adil…
Tetapi karena dosa warisan bukan perkara perbuatan, maka adil juga TUHAN memberi anugerah sorga bukan oleh karena perbuatan kita sendiri.

Pelanggaran dosa baru diperhitungkan setelah Hukum Taurat diberikan, itu menjelaskan tentang dosa akibat pelanggaran, tetapi sebelum Taurat itu diberikan jelas manusia banyak yang melanggar, mereka cenderung melanggar karena asal muasalnya sudah cenderung berbuat dosa,… agama banyak, keyakinan banyak, orang berkata benar banyak, karena sejak asalnya manusia telah cenderung salah…
dan supaya tidak cenderung salah terimalah ROH KEBENARAN, karena kita menyembah ALLAH hanya di dalam ROH dan KEBENARAN.
Orang yang menerima ROH KEBENARAN bisa saja melakukan pelanggaran, dosa pribadi. Tetapi rohnya sendiri telah diperdamaikan dengan TUHAN oleh tebusan KRISTUS, dan kita berdoa agar setiap orang dapat mengingat pondasi ini di dalam hukum Jangan Menghakimi, sebab kita tidak tahu kapan TUHAN menjamah seseorang. Sebab orang diuji menurut “kemauannya” sendiri, dan orang bisa saja gagal dan gagal, tetapi umat ALLAH dikatakan meski gagal sampai tujuh kali, maka tujuh kalipula dia akan bangkit. Salah satu bagian dari Kasih adalah Lemah Lembut, sehingga jika kita menemukan kesalahan pada orang lain, yang rohaniah, ajarlah mereka dengan lemah lembut, itu Pesan ROH KUDUS melalui tangan PAULUS. Karena pada jaman Paulus banyak orang membawa senjata dan pentungan untuk menyelesaikan masalah.

Jangan mengingkari

Februari 4, 2011 pukul 7:47 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa;
berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam. Sela
(Mazmur 4:4)

Dengan menggunakan Septuaginta, Paulus mengutip ayat ini sbb:

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu
(Efesus 4:26)

Banyak konteks yang dibawa oleh ayat ini tentunya.
Bisa kita artikan jika kita marah maka jangan berikan Iblis mengacaukan, jangan serahkan kepada Iblis untuk masuk pada “marah” kita.

Bisa juga kita artikan, jika kita marah maka jangan sampai tersimpan dendam di hati, jangan sampai ada akar pahit, jangan sampai ada efek domino lanjutan sehingga hati kita atau hati orang yang kita marahi menjadi terluka, dan ia akan mengingat itu sepanjang hidupnya, …..

Dan banyak arti lainnya.
Di sini saya menyebutnya jangan mengingkari.
Marah adalah salah satu bentuk dari pengungkapan emosi.
Marah sama dengan menangis, tertawa, dalam arti “satu ruangan kelas”, ruangan kelas bernama emosi.
Jika kita menangis padahal orang sedang bersuka cita, itu bisa juga menjadi batu sandungan,
Jika kita tertawa padahal orang sedag berduka cita, itu bisa juga menjadi batu sandungan,..

Batu sandungan bisa menjadi dosa, menjadi kacau, menjadi buruk keadaannya..
Oleh makan makanan kita juga bisa berdosa,… dan sebagainya, bahkan jika kita duduk saja bisa berdosa…

Jadi bukan perkara hukum fisik, hukum badaniah, hukum yang dapat dilihat mata, tetapi hukum yang berlaku di dalam roh, sebab ROH TUHAN melihat segala sesuatu sampai ke kedalaman hati kita. Bisa saja kita menyumbangkan seribu dua ribu pada fakir miskin, tetapi jika kita menyumbang itu dengan mengharapkan TUHAN akan membalas sesuatu kepada kita, maka pemberian itu adalah sia-sia juga, dan jika kelamaan bisa disebut dosa…

Apa yang diberi pada kita jangan kita ingkari, jika kita diberi marah, maka pergunakanlah marah itu, syukuri marah itu…sama dengan tertawa, menangis, d.l.l, pergunakan emosi itu semua, syukuri,…
Tetapi,… ikatlah itu di dalam kasih karunia, di dalam hikmad dari Kristus, di dalam roh akan takut pada TUHAN, sebab emosi adalah pemberian TUHAN.

Artinya kita bisa melakukan apapun sebab kita adalah orang yang telah dimerdekakan, tetapi jangan oleh karena kita merdeka, kita tunduk kepada apa yang kita dapatkan dari kemerdekaan itu, tunduklah pada Satu Raja, yaitu Kristus, TUHAN Yang Mulia. Jangan mengingkari ROH ALLAH yang ada pada kita.

Singkatnya saya sebut sebagai berikut:
Kita boleh makan apapun, tetapi rakus bukan bagian kita,
Kita boleh minum apapun, tetapi pemabuk bukan kelas kita,
Kita merdeka, tetapi kita bukan orang-orang yang tanpa hukum..

Jangan sampai…

Desember 20, 2010 pukul 3:50 pm | Ditulis dalam Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

(1Timotius 6:6-10 [IBIS])
Memang agama memberikan keuntungan yang besar, kalau orang puas dengan apa yang dipunyainya.

Sebab tidak ada sesuatupun yang kita bawa ke dalam dunia ini, dan tidak ada sesuatupun juga yang dapat kita bawa ke luar!

Jadi, kalau ada makanan dan pakaian, itu sudah cukup.

Tetapi orang yang mau menjadi kaya, tergoda dan terjerat oleh bermacam-macam keinginan yang bodoh dan yang merusak.

Keinginan-keinginan itu membuat orang menjadi hancur dan celaka.

Sebab dari cinta akan uang, timbul segala macam kejahatan.

Ada sebagian orang yang mengejar uang sehingga sudah tidak menuruti lagi ajaran Kristen, lalu mereka tertimpa banyak penderitaan yang menghancurkan hati mereka.

Dunia modern cenderung memiliki siklus berikut:
Lahir–> Sekolah–> Bekerja

Bekerja untuk mendapat uang,…
Semakin besar uang semakin banyak kesenangan yang dapat dikonversi dari uang itu.

Coba hidup satu bulan di Singapura contohnya, dan uang Anda hanya 100 dolar…
Bandingkan dengan hidup di pedalaman sumatera dengan uang yang sama,…. akan terasa bedanya.

Hebatnya adalah semua hunian hampir selalu menjurus menjadi kota-kota modern, memfasilitasi warganya dengan baik, dan tentu biaya harus digantikan dari konsumen, … produsen berlomba,… dan konsumen semakin serakah….. Dulu dengan komputer XT sudah menganggap “OK”, sekarang mau “Core 2 Duo”-pun masih bisa mencak-mencak karena banyaknya Software yang membutuhkan perangkat Maximum,…
Bahkan dulu oragn pacaran naik pedati, di perkotaan bisa-bisa minimal taxi atau sepeda motor.
Bicara sepeda motor, karena cepat, maka terbiasa dengan yang cepat-cepat, melihat yang lambat emosi akan naik, … maka lihatlah klakson pengendara motor lebih galak dibanding pengendara yang lain….

Itulah yang terjadi dengan uang juga, semakin besar kita dapat, semakin besar perubahan pada kita di dalam memperdayakannya, hutang orang miskin akan sama faedahnya dibanding hutang orang kaya raya. Sekaleng beras bagi miskin akan sama dengan 4 triliyun bagi si kaya,… dan apa yang terjadi?….
beberapa orang telah melupakan “moral” hanya demi uang,.. sebab semakin besar uang, semakin besar hal-hal yang dapat dimanifestasikan, baik bentuk kesenangan, harkat, dan martabatnya..
Orang kaya cenderung lebih didengar dan dihargai daripada orang miskin, G8 atau G20 lebih menentukan masa depan dunia ketimbang negara ke tiga… itu contoh…

Dan…. Jangan sampai itu terjadi, maunya seh seperti itu, tetapi memang tidak semua bisa mengendalikan perilakunya, bahkan ada orang yang marah jika dinasehati, meski nasehat itu dapat membuat dia bertumbuh.

Bukan mengatakan orang kaya berbahaya atau tidak bisa, dan juga tidak mengatakan menjadi kaya itu salah,… tetapi sesuai syahadat kita, bahwa jadikanlah TUHAN sebagai satu-satunya TUAN atas diri kita dan kemauan kita,… maka harta tidak lagi bisa memperbudak kita. Jika harta telah menjadi tuan, maka segala dosa celaka, kesesatan, keserakahan, bahkan maut bisa mengiringi langkah kita.

Lihat saja, hampir 7 kekaisaran masa silam, hancur,… salah satu penyebabnya adalah melalui harta. Harta telah menggantikan TUHAN. Aneh buat kita, justru pada saat yang paralel umat TUHAN justru diperbudak, menjadi budak di MESIR…

Kasih menutupi banyak dosa

Desember 1, 2010 pukul 10:25 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 58 Komentar
Tag: , ,

Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. (1Petrus 4:8)

Contoh perkara akan kita sari masih dari pasal 9 dari Injil Yohanes. Menarik sekali bukan…

Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata: “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka.
(Yohanes 9:16)

Jawab mereka: “Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?” Lalu mereka mengusir dia ke luar.
(Yohanes 9:34)

Oleh kasihlah YESUS tergerak untuk menyembuhkan si Buta.
Tetapi oleh pekerjaan kasih itu, ada pertentangan. Beberapa orang mengajukan pikirannya masing-masing.

Pemelihara hukum agama, Farisi. Dan kita bisa saja salah satu dari Farisi-farisi modern.
Karena hukum agama, atau hukum-hukum sosial, bisa saja kita langsung menghakimi.
Jika tidak ke Gereja, berarti bukan Kristen sejati. Contoh saja. Lalu mencap yang tidak Kristen sejati itu sebagai pendosa. Jika ini dan itu, maka pendosa. Sementara YESUS berkata: “Pekerjaan-pekerjaan TUHAN harus dinyatakan”. Apa yang harus dinyatakan? yaitu KASIH, sebab ALLAH adalah KASIH. Jika pemelihara hukum-hukum itu melakukan kasih, maka ia akan “terjun ke lapangan”, ‘membuat’ si pelanggar menjadi tidak melanggar dengan memberi contoh bagaimana caranya tidak melanggar. Jika penuduh ini melakukan kasih maka ‘acara penghakiman’, dan pertentangan tidak akan terlalu meruncing. Tetapi itulah kita, melalui perikop ini sifat dasar manusia itu ditunjukkan dengan tepat, akurat. Karena kita butuh kasih, maka kasih dipraktekkan, tetapi tidak banyak orang yang bisa menyadarinya. Tidak ada peraturan yang bisa membuat orang memraktekkan kasih, sebab kasih dapat dilakukan hanya jika SANG KASIH ada di dalam diri kita masing-masing.

Karena kita jauh dari KASIH, maka KASIH datang,…
Karena kita jauh dari KASIH, maka KASIH dikerjakan di bumi, dijelaskan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dijelaskan dengan perbuatan….
Karena KASIH sudah datang, maka terimalah, sebab KASIH hanya dapat dikenali dengan kasih…

Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.”
(Yohanes 9:40-41)

Yang tidak mempraktekkan kasih itu, dengan menuruti aturan-aturan tanpa ROH di dalamnya akan menaikkan status sebagai di pihak yang benar, merasa benar, sehingga menjadi buta. Dan karena buta itu, tetaplah dosanya,… dan dosa melahirkan dosa,….jika terus menerus terjadi maka….akibat dosa adalah maut.

Manusia celaka

November 25, 2010 pukul 1:06 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?
(Roma 7:24)

Ada sebuah paraphrase: “Hukum diberikan untuk dilanggar”.
Secara kalimat bisa saja benar. Tetapi jika dilihat dari pundasinya, itu salah kaprah.
Hukum diberikan bukan untuk dilanggar, tetapi diberikan untuk memperkenalkan hal-hal apa yang ada pada kita yang tidak boleh dilakukan.
Dalam Kitab Suci dikatakan untuk memperkenalkan standard kudusnya TUHAN, maka Hukum diberikan, diberitakan, dan dikumandangkan.

Jadi karena manusia itu sudah berdosa, terpisah dari ALLAH, maka keadaan dirinya semata-mata lepas dari kendali, lepas dari hukum, lepas dari tataan yang baik. Manusia menjadi di dalam keadaan harus memilih antara berbuat baik atau tidak. Tetapi kemampuan untuk berbuat baik dan tidak itupun harus memiliki acuan, pundasi, sehingga sesuatu itu dapat dikatakan baik, dan dapat dikatakan tidak baik.
Kehilangan acuan ini adalah bagian yang sepaket dari jatuhnya manusia ke dalam dosa. Sehingga dalam dirinya semata-mata cenderung hanya akan berbuat jahat semata. Dan keadaan jahat tertentu yang terkadang diberikan kesempatan untuk menguji kita, dapat membuat kita menjadi besar kepala, dan menganggap itu lumrah. Korupsi satu orang di kantor bisa berbahaya, tetapi jika satu negara korupsi, itu menjadi lumrah, biasa,….dapat diterima… nah rusak satu dunia inilah yang juga sepaket dengan dosa melahirkan dosa. Maut ujungnya,….

Jadi kehilangan acuan dari manusia itulah yang membuat dirinya condong untuk melakukan hal-hal yang salah.
Karena condong melakukan kesalahan itulah maka semisal hukum diberikan pun, tetap saja ia akan melanggarnya, karena di dalam dirinya berjuang antara mengikuti standard pemberi hukum, atau mengikuti hidup tanpa pola, masih di dalam dosa.

Hidup tanpa pola, tanpa acuan ini adalah sangat berbahaya.
Bisa saja seseorang mengatakan mengenal hukum-hukum agama, melakukan hukum-hukum agama.
Tetapi akan menjadi pertanyaan besar adalah…
TUHAN demi agama, atau agama demi TUHAN…
Agama memang mengajarkan tentang TUHAN, tetapi agama tidak dapat menjelaskan sepenuhnya tentang TUHAN, karena TUHAN dan agama tidaklah ESA…
Karena tidak ESA, maka seseorang yang melakukan hukum agama sama dengan orang yang hidup tanpa pola, tanpa acuan,…tetapi seseorang yang hidup bersama TUHAN, maka pada dirinya semoga ia selalu mendapat pencerahan, perubahan, pertumbuhan hari lepas hari, di dalam pengenalan akan TUHAN,.. yaitu DIA yang berkenan hadir di dalam kita.

Orang beragama, tetapi di dalam dirinya tidak ada ROH ALLAH, itu sama saja hidup tanpa agama.
YESUS berkata: ” Jika kamu mengenal AKU, maka kamu mengenal BAPA”.
sekarang ROH ALLAH sedang ada pada kita, maka jika ROH ALLAH ada pada kita maka kita mengenal BAPA.
Kita mengaku mengenal BAPA, artinya kita menuruti semua apa yang dinginkan oleh BAPA.
Jika kita teguh dan setia di dalamnya maka kita tidak lagi manusia celaka.

Pada akhirnya, manusia beragama masih bisa disebut manusia celaka.

Sekali lagi kenali dosamu

Oktober 6, 2010 pukul 7:19 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,

(Lukas 7:29-30 [ITB])
Seluruh orang banyak yang mendengar perkataan-Nya, termasuk para pemungut cukai, mengakui kebenaran Allah, karena mereka telah memberi diri dibaptis oleh Yohanes.

Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes.

Suatu waktu Yesus mengajar, ada dua jenis audiens. Mereka yang disebut dan dianggap pendosa, dan mereka yang disebut dan dianggap tidak berdosa alias benar atau suci.
Salah satu yang dianggap pendosa itu adalah pemungut cukai. Pemungut cukai adalah pegawai pemerintahan Romawi, biasanya orang Yahudi juga, cuman dipekerjakan oleh Pemerintah masa itu (penjajah) untuk memungut cukai, pajak. Bukan karena dipekerjakan penjajahnya yang terkadang mereka ini dicap sebagai ‘pendosa’ besar, yang paling menyesakkan adalah terkadang mereka memungut pajak lebih besar dari perhitungan normalnya. Bayangkan itu, sebangsanya sendiri, yang sama-sama didalam keadaan dijajah, masih menambah beban saudaranya, tentu demi memuaskan keserakahannya dan yang paling parah, yang mengikutinya, adalah biar dilihat atasannya ‘bekerja mantap’, biasanya yang bekerja mantap bonus akan menanti….Itulah pemungut cukai. Bandingkan gaya mereka memungut cukai itu dengan Nehemia dan jajaran pemerintahannya.
Sementara di lain sisi ada kelompok yang disebut kelompok Farisi, ini langsung menohok tentunya dari dua sisi yang di pandang awam secara radikal, yaitu pemungut cukai, radikal, atau garis ujung sekali dari pendosa, sedang farisi berdiri pada sudut paling ujung radikalnya mereka memraktekkan agama dan adat istiadat. Karena menjalankan segala peraturan terkadang mereka tidak bisa melihat sekitarnya… dan jika dipandang secara mendalam orang Farisi dan pemungut cukai ini sama saja, sebab Farisi ‘menyiksa’ saudara-saudaranya dengan peraturan ketat, yang mana mereka sendiri tidak dapat melihat dirinya sendiri di dalam keadaan bagaimana, legalisasi tentunya, persis sama dengan pemungut cukai, seperti yang diutarakan di atas. Mereka mengikuti peraturan, cuman satu peraturan pemerintah, dan satu lagi peraturan agama dan adat istiadat.

Kita akan memisahkan sementara demikian itu, yang radikal itu, dengan tidak membuka peluang sedikit kepada adanya kemungkinan pemungut cukai yang “keras” dan adanya Farisi yang “lembut”. Jadi sementara kita pandang dulu kedua kelompok yang berseberangan di atas sebagaimana keadaan radikal itu. Sayap kanan, kanan sekali dan sayap kiri, kiri sekali.

Tetapi….
Ada beberapa pemungut cukai ini yang mengakui dosanya di hadapan TUHAN, dan dimateraikan dengan baptisan Yohanes Pembaptis…
Sementara beberapa Farisi ini tetap dengan status sosial mereka yang menganggap dirinya kudus, bersih dan layak di hadapan TUHAN, yang dimeteraikan dengan melakukan peraturan-peraturan, adat istiadat…dan tidak mengenal dosanya yang ditandai dengan penolakan maksud ALLAH kepada mereka di dalam nama YESUS dengan materai menolak baptisan Yohanes Pembaptis

Kedua kelompok inilah yang berhadapan dan mendengar pengajaran YESUS…

Dan Anda tahu siapa yang dapat mendengar dan mendalami pengajaran YESUS?
Yaitu dia, mereka, kelompok, yang mengenal dosa-dosanya….
Peraturan cenderung menciptakan mesin tak bernyawa, robot, sementara kasih membentuk manusia berkarakter… Kerajaan Sorga sudah dekat, kata YESUS… dan Kerajaan Sorga itu adalah mereka yang dipanggil, dipilih dan dibawa YESUS dengan penghapusan dosa yang IA lakukan. Kerajaan Sorga berarti ada Rajanya,…. Dan sekarang Raja sedang diterima oleh mereka yang mengenal dosanya.

Sadarilah kemalanganmu

Juli 1, 2010 pukul 12:03 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , ,

(Yakobus 4:9-10 [ITB])
Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita.

Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.

Dikutipan ini bisa menjelaskan kepada kita bagaimana atau kenapa orang harus merendahkan diri di dahapan TUHAN.

Jikalau kita mengenal diri kita yaitu manusia yang penuh dosa, manusia yang sebenarnya sangat malang, maka dengan otomatis kita akan berdukacita dan meratap, betapa kita tidak layak bertemu wajah dengan TUHAN YANG SUCI…
Orang bisa berdalih dan mengukur dirinya sendiri dengan segala perbuatannya, tetapi kalau orang tersebut berani mengenal Roh ALLAH, maka Roh ALLAH akan memampukan dia melihat tumpahan darah tebusan YESUS KRISTUS,…dan seterusnya akan terjatuh terjerambab di dalam pengakuan salah, lalu menangis sebesar-besarnya atau pengakuan itu, meratap hebat…inilah yang disebut dengan hati yang hancur,…. dan jika hati kita hancur lebur, maka TUHAN akan mengulurkan tanganNYA, IA akan menampakkan wajahNYA, dan kita akan melihat KASIHNYA YANG BESAR itu, dan kitapun bisa berteriak, MAHA BESAR ENGKAU Ya ALLAH-ku….kehancuran diri kita oleh pengakuan dosa memampukan kita memanggil ALLAH MAHA BESAR, bukan dengan kegagahan hati atau kedegilan lainnya….

(Ayub 22:29 [ITB])
Karena Allah merendahkan orang yang angkuh tetapi menyelamatkan orang yang menundukkan kepala!
(Matius 23:12 [ITB])
Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Orang yang mengenal dosanya, tentu akan meminta penolong, orang yang tahu dirinya sakit akan mencari tabib, dan YESUS adalah Tabib dari segala tabib, IA JURU SELAMAT…jadi orang yang menundukkan kepala adalah orang yang mengenal dosanya…

(Amsal 29:23 [ITB])
Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.

Karena orang yang hancur hatinya, yang mengaku dosanya akan terus menerima pembaharuan oleh ROH ALLAH, maka otomatis ia akan memancarkan terangnya, ia akan lemah lembuh, damai sejahtera, dan lain-lain, dan orangpun akan memujinya, semisalpun orang tidak memujinya, ALLAH adalah ADIL, TUHAN akan melihat, upahnya akan ia tabur…

Mari melihat perumpamaan YESUS ini, supaya semakin jelas dan nyata bagi kita…
(Luke 18:10-14 [ITB])
“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Perbandingan di atas langsung ke orang Farisi dan pemungut cukai, untuk temporal sekarang di Indonesia perbandingannya hampir mirip dengan perbandingan seorang pemuka agama (yang dianggap dapat dipercaya) dengan seorang yang bekerja di perpajakan (yang dianggap penuh korupsi), saya menekankan “yang dianggap”, supaya tidak dipergunakan iblis demi kericuhan di sini…
Karena orang menganggap orang tertentu mulia, maka bisa saja ia larut di dalam status sosial itu, padahal ia sama saja dengan orang lain yang sementara waktu bekerja di tempat yang penuh nista dan dosa. Tetapi respon terhadap kefanaan itulah yang membedakan, seorang puas dengan status ala manusia, yang seorang menyadari keadaannya yang sesungguhnya, sebab ia melihat apa yang TUHAN lihat, bukan yang manusia lihat.

Diskusi dua orang percaya

Juni 21, 2010 pukul 9:43 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 27 Komentar
Tag: , , , , ,

Diskusi dua orang yang mengaku masih percaya TUHAN,

A: “Pak, kenapa seh dua dikali dua harus sama dengan empat”
B: “Lho, kenapa emang pak?”

A: “Ya, kenapa dua dikali dua harus sama dengan empat”
B: “Yah, hukumnya sudah begitu, emang kenapa”

A: “Saya masih mikir bahwa ada kemungkinan bahwa dua dikali dua harus tidak sama dengan empat, tetapi bisa saja sepuluh atau tujuh”
B: “Hmm kenapa bisa berpikiran begitu?”

A: “Kan kita tahu ada Tuhan, dan bagi Tuhan apa saja mungkin”
B: “Trus?”

A: “Ya itu, bisa saja bahwa dua dikali dua tidak sama dengan empat. Kan manusia yang memunculkan perkalian itu”
B: “Trus?”

A: “Trus kan, satu hal, bahwa Tuhan kalau berfirman jadilah maka akan jadi, dan bagi Dia tidak ada yang mustahil”
B: “Ooo; jadi dua kali dua bisa saja tidak sama dengan empat dengan asumsi Tuhan bisa, begitu maksudnya?”
A: “Ya tepat…”

B: “Trus?”
A: “Pendapatmu gimana”

B: “Bapak percaya bahwa TUHAN adalah pencipta kan?”
A: “Percaya”

B: “Bapak percaya bahwa TUHAN adalah pencipta kan?”
A: “Percaya”

B: “Bapak percaya bahwa TUHAN adalah pencipta kan?”
A: “YA, Percaya, kenapa sampai ditanya berulang-ulang?”

B: “Karena sepertinya memang belum”
A: “Koq bisa?”

B: “TUHAN adalah Pencipta, dan artinya IA yang memberikan hikmat kepada manusia, semua berasal dari DIA, tetapi karena berdosa, manusia terpisah”
A: “Hubungannya?”

B: “Karena terpisah itu; manusia selalu berpikiran bahwa ia sanggup, dan ketika semakin merasa sanggup ia semakin jauh dari TUHAN”
A: “Saya belum bisa menangkap”

B: “Artinya biarpun ia semakin terpisah tetapi manusia tidak dapat menyangkal bahwa hikmat yang ada padanya asalnya dari TUHAN”
A: “Trus?”

B: “Karena hikmat manusia berasal dari TUHAN, maka TUHAN tentu tidak bertentangan dengan TUHAN…”
A: “Dengan bahasa yang sederhana please…”

B: “Manusia pada dasarnya berasal dari ALLAH, hikmatnya itu berasal dari ALLAH, karena berasal dari ALLAH maka apa yang berasal dari ALLAH itu pasti tidak akan
bertentangan dengan ALLAH itu sendiri, jadi yang kita tahu itu ya dari TUHAN asalnya… cuman menjadi ada pengetahuan itu yang rusak karena manusia sudah keluar dari ALLAH..”

A: “Hubungannya dengan dua kali dua sama dengan empat di atas?”

B: “Sangat salah mengatakan dua kali dua bisa dirubah oleh TUHAN dengan berkata bahwa segala sesuatu bisa saja terjadi, tetapi jika kita bisa memahami bahwa
hikmat dua di kali dua itu adalah hikmat yang berasal dari ALLAH, bukan sesuatu yang diciptakan oleh manusia itu, karena kita sudah percaya bahwa TUHAN adalah pencipta”

A: “Oooo; mungkin ada kaitannya dengan TUHAN tidak bisa menyagkal diriNya itu yah?”

B: “Ngga usah terlalu jauh ke sana dulu deh, biar on track dengan obrolan kita, saya tertarik dengan Keluaran 31:3 dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan,”

Berbuat baik-Dosa-berkuasa

Februari 10, 2010 pukul 7:30 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Kejadian 4:7b
Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.

Dari kutipan ini jelas terlihat ada beberapa thema, yaitu:
– berbuat baik
– dosa mengintip
– berkuasa atas dosa

Berbuat baik harus dikerjakan, sementara di dalam waktu yang sama, dosa mengintip untuk dapat memasuki diri kita. Di dalam hal ini dosa adalah sesuatu yang bisa memberi cabang di dalam hati, pikiran dan pilihanpun jadi terlihat terlalu banyak, jikalau kita lebih menyetujui dosa itu maka bersiaplah kepada keadaan yang buruk. Sekali kita memasukkan atau menyetujui dosa, maka dosa-dosa berikutnya akan datang, menjangkiti hati, pikiran, sangat, dan ia akan hidup bertengger di sana, bukan hanya di pintunya lagi…. keadaanpun akan semakin buruk, sebab jika keadaan ini terus terjadi maka kita akan membenarkan diri sendiri, kehilangan nurani dan tidak ada sense untuk kata maaf….tegar tengkuk dan degil, inilah sebagian dari bagian paling ujung,… kalau masih berlanjut akan lahir pendusta, pembunuh,… lalu ujungnya adalah terkutuk.

Karena kita dapat melihat ujung dari menyetujui masuknya dosa yang selalu mengintip di pintu hati, di pintu pikiran di setiap pilihan kita, maka kita harus sedapat mungkin menolak dosa. Jika dosa memberi pilihan maka yang pasti negasinya adalah yang baik, jadi kuasailah dosa itu dengan cara demikian.
Sekarang kita sudah tahu siapa Yang Baik, maka turutilah DIA,.. tidak ada contoh yang paling sempurna dari kebaikanNYA selain cara DIA mengungkapkan KASIH-NYA.
Jika manusia kebanyakan menjunjung harga diri, maka di sini kita sedang disuguhi kata pengorbanan.
Jika manusia lebih terpuaskan jika sudah duduk di dalam tahta kebahagian dan kesenangan, TUHAN menyajikan Salib.
Jika manusia memilih untuk terlihat besar dan diagungkan oleh sesamanya, maka TUHAN berkata melayanilah….dan banyak lain hal…

Jika kita sudah sering merasakan godaan itu, dan kesekian kali pula kita menang, maka semakin kita menang semakin kita rasakan godaan itu keras dan kencang,…. ada juga saatnya kita tidak sanggup bertahan,… di dalam keadaan tertentu maka kita akan setuju bahwa kita memang tidak dapat di dalam keadaan sempurna sama sekali, sebab Sempurna hanya milik Kristus,… pada saat inilah kita dapat melihat betapa hebatnya Kristus hidup. Sebab ketidaksanggupan itu akan membawa kita kepada DIA, Roh Kudus, Penolong. Ia akan dan selalu membimbing di dalam segala ketidakberdayaan kita. Maka Kuasa TUHAN akan jelas terlihat di dalam segala kelemahan kita, dalam segala ujung ketidaksanggupan kita. Dengan menurutiNYA maka, lakukanlah terus baik itu dan kasih itu, kita akan berkata Allah Maha Kudus. Kita melihat dari segala kelemahan kita dan dari segala pekerjaan, mengerjakan iman. Kita sanggup karena Kristus mau ada di sini, di hati kita, sumber segala kebaikan dan anugerah. Dan betapa terkutuknya kita jika dosa kita masukkan sebagai pengganti Kristus. Kita memperilah, kita lebih setuju kepada dosa daripada Kristus,…. padahal Kristus adalah Penguasa baik Sorga dan Bumi, tetapi … kita berkata tidak dan memilih dikuasai dosa.

Tergoda, dosa, itu ada, berbuat baik itu harus dikerjakan,… dan berkuasalah atas dosa itu, karena ada Kristus, Penguasa, begitu dekat, lebih dekat dari sumsum.. di dalam kita.

Memaklumi sebuah dosa

Desember 16, 2009 pukul 8:26 am | Ditulis dalam Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Ada di sebuah jaman, TUHAN bertindak sangat tegas mengenai beberapa pelanggaran. Contohnya Gehazi, pelayan Elisa. Ketika ia menerima suap, TUHAN menghukumnya dengan kusta, bahkan sampai turun temurun.
Ada juga peristiwa TUHAN mematikan langsung orang yang tidak ‘sopan’ dengan tabut Allah, bahkan ada saat Allah mengutuk suatu bangsa karena mempermainkan tabut itu.
Mungkin peristiwa Sodom dan Gomora sedikit memakan waktu, karena dosa mereka sudah menumpuk, tetapi dari situ juga kita dapat pelajaran, bahwa TUHAN sangat murka, dan mau menjalankan murka itu.
Dan yang paling mutakhir dari catatan Alkitab adalah sepasang suami istri yang membohongi Roh Allah, langsung mati, di jaman para rasul, di Perjanjian Baru.

Ketika TUHAN memberi kasih setia dengan kemurahan atas kasih sayang, beberapa kekeliruan tidak IA hukum langsung, Petrus pernah ‘munafik’, dalam hal ini TUHAN memakai Paulus untuk menasehatinya. Alim ulama Yahudi keras kepala, TUHAN memakai Stevanus, Filipus, Petrus, Yohanes dan murid-murid yang lain untuk menasehati.

Dan ketika TUHAN memberi kita waktu untuk mengikuti jalanNYA, mengenal kasih setiaNYA, kita malah memaklumi dosa-dosa kita, dan beberapa di antaranya sudah berbuah maut. Keraskepala, mudah marah, tidak bijaksana dan sebagainya. Ketulusan seorang anak hanya dimengerti anak-anak, ketulusan seorang bijak berharga di mata yang menghargainya, saya yakin hanya ‘batu’ yang tidak dapat menerima didikan.

Memaklumi dosa adalah membiarkan dosa itu menguasai kita sedikit demi sedikit.
Mengenal dosa adalah supaya kita bisa menghindarinya, dan yang sanggup mengenalnya dengan sangat tajam adalah TUHAN di dalam RohNya. Dan yang memampukan kita melawan dosa adalah TUHAN di dalam Yesus Kristus.

Mengaku dosa?

Desember 9, 2009 pukul 4:50 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,


Kita pernah teringat kata Yesus:”Aku datang buat orang berdosa”. Dia sudah datang, dan Roh Kebenaran diutus kepada kita oleh Bapa di dalam nama Yesus Kristus.

Jadi mari yang bisa menghitung dosa-dosanya datanglah kepada Yesus, mengakulah dihadapan-Nya melalui doa-doa yang dibantu oleh Roh Kebenaran.

1 Yohanes 1:9, BIS
Tetapi kalau kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah, Ia akan menepati janji-Nya dan melakukan apa yang adil. Ia akan mengampuni dosa-dosa kita dan membersihkan kita dari segala perbuatan kita yang salah.

Semakin kita bisa me-list dosa, Roh Kebenaran akan lebih giat lagi menggali apa-apa yang masih menjadi noda hitam, semakin kita sadar pekatnya gelap itu, semakin kita sadar besar pengurbanan Kristus, semakin kita sadar besarnya pengurbanan Kristus, semakin kita melihat Kuasa Kasih Bapa.

Sungguh besar Kuasa Allah kita, Ajaib dan Adil-lah Dia.

Amsal 3:6,
BIS Ingatlah pada TUHAN dalam segala sesuatu yang kaulakukan, maka Ia akan menunjukkan kepadamu cara hidup yang baik.

TB Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.