Yang menajiskan

Juni 27, 2015 pukul 7:00 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Konteks bisa saja berbicara tentang hal-hal apa yang dilarang dan hal apa yang diperbolehkan dalam kaitannya tentang makanan dan minuman, atau tentang hal-hal prosesi, tentang tata cara, tentang apa yang layak dan tidak, dan sebagainya.

Semua itu perlu, tetapi manusia hidup bukan dari roti saja.

Mat 15:18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.

Kita sebagaimana orang yang disebutkan Protestan, sungguh tidak asing dengan ratusan atau mungkin ribuan denominasi, tidak rahasia, ada saja denominasi tertentu yang mengejek denominasi tertentu, atau merendahkan, atau menyalahkan, atau dan atau yang lainnya.
Nyata di hadapan mata, memang ada saja hal-hal yang bisa kita koreksi dari apa yang sudah membudaya, dan kemudian tidak jarang juga sebuah pertanyaan terungkapkan: “Dia itu atheis, tetapi koq lebih lemah lembut dari si Kristen yang ini?”.

Mari kita ulang kutipan singkat tentang hidup bukan dari roti saja:

Mat 4:4 Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Betul dan benar sekali; kita bukan hanya perlu mendengarkan makanan rohani di denominasi kita masing-masing, tetapi makanan itu kalau tidak terjawantahkan dalam kehidupan sehari-hari, keluar sebagai yang disebut tidak linier dengan apa yang masuk ke dalam, tak lebih kita hanya manusia-manusia najis.

“Jangan mencuri”, makanan ini tidak asing, dan tidak rahasia, sudah bagaikan garam yang awam dalam makanan.
Tetapi, yang keluar adalah….”Indonesia negara terkorup”, bisa diartikan kita belum hidup oleh Firman Allah.
Masih sebatas apa yang masuk ke dalam, belum apa yang sanggup keluar dari dalam diri kita.
Bandingkan saja “agama” yang berbeda sebagai “denominasi” yang berbeda, jika harus demikian kasarnya generalisasi dalam lingkup Indonesia di atas.

Yang menajiskan…

Ajarku ‘tuk semakin percaya

Juli 29, 2014 pukul 8:20 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 6 Komentar
Tag: , , , ,

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego adalah nama yang diberikan pemerintahan Babel kepada tiga pemuda yang terpilih. Mereka adalah pemuda-pemuda buangan dari Israel, meski demikian mereka terpelajar, sehat dan baik perawakannya. Terpilih untuk melayani di dalam pemerintahan para pemuja dewa-dewa. Nama asli mereka, Sadrakh adalah Hananya, Mesakh adalah Misael, dan Abednego adalah Azarya. Sepertinya nama-nama itu diambil dari nama-nama yang berhubungan dengan dewa-dewa Babel. Abednego contohnya, dapat diartikan sebagai anak dari dewa Nebo, pada masa itu tentu Babel menamai dewa ini bukan dewa Nebo, tetapi dalam konteks sekarang, menjadi Allah dengan nama Nebo.

Yang menarik adalah ketika mereka pada suatu ketika dipaksa untuk menyembah patung buatan pemerintahan Babel, mereka menolak. Mereka diancam akan dimusnahkan jika tidak mengikuti perintah penyembahan ‘Allah’ itu.
Jawab mereka:

Daniel 3:17-18 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Paling tidak ada dua hal yang menarik.
1. Nama para pemuda di atas diubah menjadi nama dewa-dewa Babel,
2. Para pemuda itu dipaksa untuk menyembah dewa-dewa Babel.

Ketika nama dirubah, mereka tidak melakukan sesuatu apapun untuk paling tidak menolak. Pada masa-masa sekarang tentu itu menjadi sesuatu yang bisa dikatakan tabu bukan. Karena suatu nama yang berbau dewa, nama allah lain, seseorang rela ‘berganti’ nama. Mungkin ada ritual-ritual, kedengaran aneh, tetapi kenyataannya ada beberapa orang meyakininya.
Atau katakanlah banyak orang ‘beradu’ ngotot hanya demi mempertahankan Yahweh, Yehowa, Yehova, Yesus, Allah, dan sebagainya sebagai Nama yang Ajaib itu.
Namun yang patut di ketahui dari kutipan di atas, ‘nama’ tidak menjadi yang terutama, ‘Nama’ tidak akan menjadi suatu masalah atau perdebatan, selama Pribadi, Object sembahan itu tidak diubah.

Saya tambahkan hal yang menarik yang lain. Dalam suasana pesimis sekarang ini, dalam dunia yang penuh keraguan ini, skeptik, kata pembuka atas jawab tiga pemuda di atas mungkin tidak asing bagi kita:
Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, katakanlah kita tidak perlu menelaah terlalu jauh, kita artikan saja seperti yang tertulis itu, bahwa ada sedikit ketakutan, keraguan bukan.
Dalam hal menyembah ALLAH, kita tidak meragukan tiga pemuda itu, mereka sudah merasakan hadirat TUHAN. Ketika cobaan sedikit meningkat, bayangkan dibakar di pembakaran, sesuatu yang baru dihadapkan, tidak pernah dilalui oleh pendahulu-pendahulu, maka mungkin akan terbersit sebuah kegetiran, bisikan hati: “Apakah TUHAN sanggup?”.

Relevansi cerita di atas sangat membantu kita yang senantiasa setia, tetapi bisa juga berobah arah menghujat ALLAH karena tidak mendapat perlakuan yang sama. Banyak orang mengharap perlakuan yang sama dalam plot, titik yang sama. Mengharapkan TUHAN hadir, turun dari SorgaNYA menolong setiap penderitaan. Bahkan dalam penderitaan yang tidak jelas juntrungannya. Perhatikan kalimat sederhana untuk contoh yang di-simple-kan. Seseorang meminta pertolongan yang Khalik untuk menghilangkan rasa pedas dilidahnya yang seolah membakar. Bayangkan, siapa yang tidak tahu cape pedas?, tetapi berani-beraninya memakannya, dan setelah terserang pedas, berteriak minta tolong, menyumpahi orang lain, dan sebagainya. Bukankah banyak kejadian terjadi atas kesalahan kita sendiri, tetapi lalu menyumpahi TUHAN atas segala kebiadaban kita sendiri?

Meski TUHAN tidak sanggup (dalam nada ragu) melepaskan kami dari bara api, tetapi kami tidak akan mau menyembah ‘ALLAH’ Babel, hanya ALLAH yang akan kami sembah.
Meski TUHAN tidak sanggup (dalam nada ragu) melepaskan kami dari penderitaan, tetapi kami tidak akan mau menyembah dukun, setan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan sebagainya, hanya ALLAH yang akan kami sembah…

Tidak selamanya ALLAH hadir dalam ‘bara’ api, dalam ‘perapian’ dalam theofanyNYA, tetapi keyakinan kita bahwa DIA senantiasa memelihara demi kebaikan kita, itulah yang disebut iman percaya. Tidak terlihat, tetapi pondasinya kokoh.

Maka TUHAN ajarlah kami untuk semakin percaya kepadaMU.

Pura-pura

April 13, 2014 pukul 3:45 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Berkabung adalah suatu keadaan yang tidak dapat dihindari bagi kita, mereka, semuanya yang masih hidup. Sebab jika hidup, maka siap-siaplah, kematian pasti menunggu di depan, entah bagaimana caranya.
Isak tangis biasanya tersisip di sana, sini. Kata-kata penghiburan diturunkan berupa berkat-berkat supaya keluarga yang hidup itu tetap kuat, dan bisa menyelesaikan “masalah perpisahan” sementara itu.
Berbalik dari arah berkabung itu, ada juga kegembiraan, lihat saja prosesi-prosesi kelahiran generasi baru, kado-kado berwarna-warni diberikan sebagai ungkapan kegembiraan.

Idealnya begitu, tetapi ada beberapa gerakan fisik yang menyimpang dari dalam hati, beberapa orang bisa saja begitu tabiatnya.
Maksudnya adalah, orang sedang menangis, gerak-geriknya sama juga menangis, tetapi bukan ungkapan terdalam hati, bisa saja itu hanya sebuah ‘keharusan’, “apa kata orang kalau saya tidak menitikkan air mata?”, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan di dalam hatinya, toh kita susah melihat hal-hal yang sudah berbau di dalam hati seperti itu. Ada banyak yang bergembira ria dalam acara yang semestinya berupa ucapan syukur, tapi siapa dapat menduga ada beberapa orang yang membawa bebannya dipundaknya, sarat, berat, hatinya luluh lantak,… geriknya ‘tak selaras dengan hati’.

Roma 12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!
Tentu kutipan ini tidak bisa dilepaskan dari ayat-ayat sebelumnya. Ayat sebelumnya menjelaskan kita umat ALLAH adalah satu tubuh, meski banyak anggota. Karena satu tubuh itulah, maka cubitan di kelingking kiri akan terasa pada semua tubuh, sebar rasa. Karena satu tubuh itulah yang memampukan untuk dapat bersuka cita bersama orang yang bersuka cita, dan menangis dengan orang yang menangis.
Di luar itu pasti adanya hanya ke-galau-an, tidak selaras, atau bisa disebutkan munafik. Jadi bersatulah dengan umat ALLAH, tanpa itu hanya ada pura-pura.

Serasa Benar

April 6, 2014 pukul 6:07 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 3 Komentar
Tag: , , , , ,

Alkitab mencatat dialog sewaktu peristiwa SALIB. Dua orang di kiri dan kanan YESUS saling melontarkan pendapatnya.
Dan ada juga para imam kepala dan para ahli Taurat, salah satunya berkata demikian:
Harap diingat sekali lagi, argument ini terlontar dari imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat, meski kita tidak terpaku kepada apa yang mereka ucapkan dan tahu sebagai menjadi pondasi kepercayaan, pastinya sepertinya mereka paham apa yang mereka tujukan atas argument itu.


Matius 27:42-43 “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.
Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.”

Kita pisah beberapa argumen beliau sebagai berikut:
1. Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan
2. Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.
3. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia,…dst

Kita membahas dua point, 1 dan 2 saja.
Jika kita terpatri pada kutipan ini, maka amat sangat benar argument mereka. Toh banyak argument seperti ini beredar dari sejak jaman itu sampai terkini, terlahir dari ahli-ahli agama, imam-imam kepala. Tuhan koq mati, ngga sanggup lawan manusia? ,… argument ini bukan tidak awam bukan?. Jamak kita dengar, awam, umum. Kemungkinan besar, argument ini melihat dari sisi ke-manusia-an Kristus. Banyak yang diselamatkan dari lapar, dari penyakit, yang buta melihat, yang pincang berlari, dan sebagainya, mungkin argument ini sangat kuat mengarah kesana. Bagaimana seorang yang menyelamatkan orang lain, malah dirinya sendiri tidak sanggup ia selamatkan?

Berlanjut ke point dua, dimana argument semakin tajam. Raja Israel. Semua umat Yahudi tahu pondasi argument ini. Sisi ini sudah menyerang sisi ke-Allah-an YESUS. Bagaimana tidak, umat Israel mengakui siapa Raja Israel, yakni TUHAN. Mengutip sebuah ayat di Perjanjian Lama :
Zep 3:15 TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.
Mereka, imam, ahli Taurat, tahu ayat ini adalah nubuat tentang Mesias yang akan datang. YESUS berapa kali mengklaim tentang penggenapan Kitab Nabi, Mazmur, kitab Musa, telah terjadi kepada YESUS sendiri, Ia menggenapi nubuat, yang mana artinya YESUS mengaku sebagai Raja Israel.

Argument di atas jika di-kini-kan menjadi: “Jika YESUS adalah TUHAN, maka …….(lanjutkan saja segala yang bisa disematkan kepada TUHAN),.. sehingga aku akan percaya kepadaNYA!”
Dari sisi perkara “politis”, arah argument di atas bisa melahirkan perpecahan hebat. Yang benar bisa salah, yang salah jika diutak-atik terus, bisa serasa benar. Serasa benarnya adalah… YESUS mengklaim sebagai TUHAN,… maka sekali lagi, kenapa tidak sanggup lepas dari salib?…. serasa benar, amat benar bagi mereka yang tertancap pada titik ini saja.

Peristiwa penyaliban dalam argument di atass, hanya setitik dari seluruh peristiwa, jikalau nurut, penyelidikan seharusnya menarik.
Yang tidak merasa menarik dan sudah membuat kesimpulan, tentu kesimpulan itu akan melahirkan keputusan “hakim” yang mentah, tidak berkebenaran, dan ujungnya tidak ada keadilannya.

Salah satu argument, pondasinya adalah, bahwa Mesias itu bukanlah semata mengklaim predikat mutlak TUHAN, tetapi
Mesias itu adalah juga sebagai pusat dari semua titik keselamatan,… nubuat itu berteriak dalam:


Yesaya 53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

dan lebih spesifik YESUS menjelaskan nubuat Mesias yang menderita itu, kepada murid-murid IA berkata:

Markus 9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.”

Maka,…justru untuk menderita IA datang, untuk mengangkut semua derita kita, kepada kematianNYA, dan membawa kita kepada kemenangan oleh kebangkitanNYA. Bukankah argument para ahli agama di atas semakin jelas? yaitu, mereka adalah anak-anak iblis yang tidak ingin:
1. pekerjaan TUHAN tuntas
2. manusia selamat.

YESUS tidak menghardik ahli agama itu, karena argument-argument seperti itu sudah menjadi seperti ideologi yang tidak dapat dilawan,… sudah membumi, mengakar.

Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Unik tapi ‘tak tidak manusiawi

Maret 10, 2014 pukul 7:10 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Yunus 4:1-2
Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.
Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.

Mungkin kita sering mendengar para pemberita berkata: “Mari kita semakin intim dan semakin mengenal TUHAN”.
Tentu ajakan itu bisa benar, dan hanya kurang detail saja.
Bayangkan seorang Yunus di kutipan di atas, bahkan karena beliau mengenal TUHAN-lah maka beliau begitu geram kepadaNYA. Jadi ajakan itu kurang mengena dengan tepat. Kadang-kadang, melihat konteks, mungkin.

Kita tidak harus bertahan kepada seolah seperti batu yang tidak berjiwa dan bergerak, tidak dinamis, kita bahkan dihebuskan roh, toh kita bisa memilah, memilih dan menilai, dan itu harga yang sangat melangit,.. karena dinamis, ALLAH yang hidup juga bisa menjadi objek dari anugerah yang diberikan kepada kita itu, salah satunya adalah mempertanyakan DIA SANG KHALIK.

Pernahkah kita mengetuk dan meminta?, dan belum ada tanda jawaban YA, terlalu sabar kita menanti, terlalu kita mengalahkan ketakutan untuk bertanya… sampai….kita memaksa…. arah hanya dua, kecewa dan dihembuskan dengan amarah, atau bersabar sampai membatu,… ada pilihan lain tentunya, yaitu KEHENDAK-MU jadilah, tetapi apa kita tahu kehendakNYA yang sebenarnya?. Kita tidak seperti Yunus yang bisa bercakap-cakap langsung dengan TUHAN, mungkin kita hanya memainkan perasaan-perasaan, indera-indera, kebiasaan-kebiasaan yang tidak lajim,…

Yunus 4:9
Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.”

Beberapa filsuf menyenangi gaya Yunus, yang tidak tedeng aling-aling, yang kesal kepada TUHAN. Orang kesal kepada jawaban TIDAK, bisa membuat orang anti TUHAN, toh TIDAK dianggapnya bukan jawaban, YA selalu dianggap jawaban, .. bagaimanapun seolah tidak dapat membedakan mana jawaban yang dipaksakan dibanding kerelaan hati atas semua jawaban. Bayangkan setiap delik pembukuan dengan angka-angka akhir disodorkan kepada TUHAN untuk dipenuhi, setelah dipenuhi, syukurnya datang,.. “Oh TUHAN menjawab doa kita”, coba tidak dipenuhi, apa masih bisa bersyukur. Justru makin banyak yang dijawab, dipenuhi angka-angka itu, semakin orang bebal, sering memaksa TUHAN.

Itukah yang terjadi dengan Nabi Yunus?,…. kalau kita membahas mutlak sang Yunus yang meski nabi, tentu unik, sampai beliau dipanggil sebagai Nabi, tetapi beliau juga tidak bisa lepas dari sisi kemanusiaannya.
Tetapi tidak hanya di sana, surat Nabi Yunus tetaplah cerita tentang cinta kasih TUHAN yang Maha Besar.

Yunus
4:10-11 Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

Meski Allah adalah ALLAH yang Murka atas dosa, tapi lihatlah kutipan terakhir yang menutup Kitab Yunus di atas…
TUHAN tidak begitu mudahnya mengumbar amarah, meski TUHAN dipertanyakan, bahkan ada kesan dipaksa dan ditekan oleh kemaauan dari sisi kemanusiaan Yunus.

Ada, mungkin, yang takut mempertanyakan ke-AKU-an TUHAN, silahkan, toh DIA bukan TUHAN yang membatu, bukan TUHAN yang membara, DIA terbuka akan itu semua, bahkan menjadi manusia-pun DIA rela, meski sejuta pertanyaan yang tidak dapat terjawab mengiringi langkahNYA.

“TUHAN” yang tidak bisa dipertanyakan adalah tirani, bukan ALLAH YANG MAHA PENGASIH.

Buktikan padaku

Desember 31, 2013 pukul 9:33 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Kata-kata yang paling menggelitik di dunia sekuler sekarang adalah..”Mana buktinya“.
Bahkan sekiranya kita memberi “bukti”, atau katakanlah sanggahan, maka paling-paling akan dibalas dengan seruan: “Tapi itukan iman…“.

Mungkin reduksi kata “iman”, sedikit dipraharakan dengan kata “meyakini”.
Kita, orang percaya, meyakini bahwa Alam semesta diciptakan ALLAH.
Kita, para murid sekolah, atau katakanlah pengagum fisika, meyakini bahwa rumus energi adalah E = mc2
Kenapa disebut meyakini?, karena dua “kita” di atas tidak menyaksikan sendiri perihal object yang diyakini, melainkan diterima sebagai suatu kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Meyakini, kita tahu itu benar, jadi tidak usah diganggu gugat.

Atau dalam istilah penemu, banyak penemu. Nama-nama disematkan untuk mengingat penemu-penemu itu.
Oleh karena suatu temuan tertentu, maka seorang akan terkenal, dan tidak perlu lagi seorang yang lain mengerjakan hal yang sama untuk menemukan hal yang sama.
Sederhananya, si A menemukan A, jadi tidak perlu si B bekerja keras untuk menemukan A, karena A sudah ditemukan si A.
Si B hanya bisa meyakini bahwa si A telah menemukan A, mungkin hanya dalam mengolah beberapa pola saja sampai si B menemukan B dari pengembangan A oleh si A. Katakanlah si B mengkorfirmasi temuan si A.

Gampangannya lagi, kita tidak musti membawa laboratorium tingkat mutakhir untuk selalu meneliti kadar nasi, supaya dapat dimakan 3 kali sehari, ya toh?, yakini saja bahwa nasi adalah makanan sehari-hari, khususnya di Indonesia.

Iman Kristen dalam banyak hal didasarkan pada pola ini.
Kita perhatikan tulisan Rasul Yohanes berikut:

1 Yohanes 1:1 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Bukankah itu pola-pola yang digunakan para penemu, dalam kolom ilmiah yang akan ia gunakan dalam mengungkapkan suatu argumentasi modern?
Ya betul, mereka mendengar, melihat, meraba, … mengolah data-data dalam statistik-statistik, rumuspun tercipta dengan pendekatan-pendekatan segresi…
Kita tinggal menggunakan hasil temuan itu, tanpa harus menjadi “penemu lagi”.

Jadi didasarkan oleh buktilah pondasi Kekristenan didirikan,….
Yakinilah hal itu,… tetapi Kristen adalah antikemapanan, kita tidak bisa stagnan di titik itu saja, kita harus jauh menyelami keyakinan itu, sampai bisa ke dalam konteks kekinian, yaitu kita turut serta merasakan, mendengar, meraba… tentang Firman Yang telah menyelamatkan itu.

Anak-anak tidak usah dibawa-bawa dalam ranah penemuan smartphone tercanggih, selain menerima bahkan beberapa game ia mainkan di sana, sudah ada khusus team lain pengembang smartphone. Artinya ada memang beberapa orang yang tidak usah repot-repot menanyakan bagaimana sesuatu itu bisa ada, melainkan realistis dengan keadaan itu, lalu menggunakannya sedemikian rupa.

Jadi kalau ada kata: “Buktikan padaku”….
Apa yang perlu dibuktikan, semua sudah terbukti,…

Jikalau semuanya harus diperjelas, satu-satunya cara adalah melalui perbuatan kita, kita tunjukkan karakter kita sebagai bukti bahwa TUHAN ada di dalam kita.

Yohanes 10:37-38 Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku,
tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”

Orang tidak selamanya bisa melihat ALLAH,… tetapi orang bisa melihat sesamanya, jika sesamanya adalah kita, yang percaya Kristus, maka baiklah orang melihat pekerjaan-pekerjaan kita, Oleh pekerjaan itu iman kita dibuktikan dengan sendirinya.

“Buktikan padaku”, …..

Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Orang tidak selamanya mengerti iman kita, tetapi orang bisa melihat karakter kita..
Bahwa para nabi, rasul dan bapa-bapa pendahulu, telah membuktikan Jalan Keselamatan itu.
Tidak ada lagi cara-cara untuk membuktikan itu selain kita meyakini apa yang sudah benar..

Buktikanlah

Salmon si Pengintai

Oktober 19, 2013 pukul 9:36 am | Ditulis dalam Apologet | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

(Mat. 1:5) Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai,…
Dan setrusnya…. Kristus secara sah hukum Israel adalah keturunan Yusuf, tunangan Maria. Darah Yusuf mengalir darah perjanjian, darah kerajaan.

Pengintaian adalah salah satu ‘prosesi’ awal dari ‘lenggangnya Israel ke Yerikho.

(Yos. 2:1) Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, katanya: “Pergilah, amat-amatilah negeri itu dan kota Yerikho.” Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ.

Jika sekiranya ada waktu silahkan buka link berikut http://en.wikipedia.org/wiki/Jericho
untuk sekedar mengetahui latar belakang Yerikho. Alkitab menarasikan Yerikho sebagai daerah yang bertembok kuat, dipastikan sulit untuk dihadapi oleh Israel, bangsa yang masih mencari tanah untuk dapat disebut sebuah negara/kerajaan.

Di Perjanjian Lama tidak ada informasi yang dapat kita gunakan untuk detail pengintai yang dikirim oleh Yosua, tetapi di Perjanjian Baru oleh Matius dijelaskan bahwa salah satu pengintai itu adalah Salmon.
Salmon adalah generasi kesekian dari Yehuda, anak Yakub cucu Abraham.

Nubuat kepada Yehuda, berupa berkat yang diucapkan oleh Yakub, bapa leluhur mereka.
(Kej. 49:10)
Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.

Perhatikan kalimat ini sekali lagi..

Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.

Penulisan silsilah dalam Alkitab yang tergolong ribet dan memusingkan itu, tentu maknanya luar biasa, dari bangsa yang terpilih ini sedang menantikan ‘dia yang berhak atasnya’, mengalir janji, mengalir darah kerajaan, … penantian dikumandangkan, siapa kah dia gerangan?

Jika suku Yehuda mengharapkan seorang ‘dia’, tentu banyak alasan untuk menempatkannya kepada orang-orang pilihan yang terbaik. Nyatanya TUHAN memilih Salmon sang pengintai menjadi contoh, model, akan DIA, KRISTUS yang akan datang, yang dinantikan itu, yang sudah datang itu.

Salmon, si pengintai, pilihan bangsanya untuk melihat bangsa luar sana, bangsa najis, Yerikho, Kanaan, dan bahkan tidak sampai di situ, ia menikahi salah satu dari penduduk kota nista itu, Rahab. Rahab sang pelacur. Bayangkan mata manusia kita melihat itu, dari kawasan najis, masih diambil orang ternajisnya menjadi istri, Salmon, menikahi Rahab.

Lihat paralelnya…
(Yoh. 3:16) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

dan

(Wah. 21:9) Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.”

dan jangan tinggalkan ayat ini

(Mar. 2:17) Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Yesus, Sang Utusan, Firman Allah yang dipilih untuk dunia ini, dunia yang nista dan kotor akan dosa, bahkan tidak saampai di situ, IA yang adalah Mempelai Anak Domba, menyelamatkan beberapa dari mereka, yang terkotor, untuk hidup yang kekal.

Jika mata manusia kita berkehendak tentu tak akan pernah kita mampu melihat ada apa gerangan dengan si pengintai Salmon sampai harus memilih Rahab sang pelacur dari kota najis, separah itukah selera Salmon?, bahkan mungkin tidak ada seorang orangtua yang sanggup mengiakan lamaran jenis itu, melamar seorang pelacur?…

Salmon disanggupkan melihat apa yang tidak dilihat mata secara kasat, ada sesuatu yang lebih berharga daripada harta, harga diri, dan sebagainya,…

Ibrani 11:31 Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.

Sesuatu pasti terjadi,… sampai-sampai seorang pelacur tiba-tiba berubah menjadi taat kepada TUHANnya Salmon.
Bacalah Yosua 2 dengan teliti.
Rabah telah beriman karena mendengar, mendengar berarti ada yang memberitakan,… ada yang memberitakan berarti ada yang pemberita, ada pemberita berarti ada yang diutus,… dan seterusnya dan seterusnya, tentu tidak asing kata-kata ini bukan? rujukannya pasti tahu dimana.

Ijinkan aku menumpasnya

September 15, 2013 pukul 12:12 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran | 1 Komentar
Tag: , ,

 2 Samuel 16:9  Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: “Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.”

Awalnya Raja Daud menyeberang ke suatu tempat, di sana Simei meradang, mengutuki Raja Daud, melempari dengan tujuan menghina…

Asal tahu saja Simei ini adalah kerabat Raja Saul, raja pertama yang memerintah Israel. Dan mereka ini adalah keturunan bermarga Benyamin.
Bayangkan betapa kesukuannya membara ketika suksesor Raja Saul melewati tanahnya. Jangan salah sangka Simei ini cukup militan, sepertinya dia tau apa yang ia perbuat, baginya suatu kemuliaan, suatu upah yang layak, tak hanya rela mati demi keyakinannya bahwa memusuhi musuh ideologinya adalah mutlak, karuan saja, meski Raja Daud dijaga pengawal-pengawalnya, meski Raja Daud dikelilingi pahlawan-pahlawan perangnya, Simei berani menghina beliau, tidak cukup dengan kata-kata; bahkan Simei melempari iringan itu dengan batu.

Abisai, dan banyak orang tulus lainnya akan berkata: “Ijinkan aku menebas penghina ini..”. Kalau kita lihat ayat kutipan di atas, Simei dikatai anjing, ingat dalam term Yahudi, term Israel, anjing adalah mahluk najis, kotor, kafir, artinya oleh hinaannya Simei sangat layak dibantai. Itu kebenaran menurut Abisai.

Kita tahu Raja Daud melarangnya, dan….
2 Samuel 19: 
16  Juga Simei bin Gera, orang Benyamin yang dari Bahurim itu, cepat-cepat datang bersama-sama dengan orang-orang Yehuda untuk menyongsong raja Daud. 17  Juga ada seribu orang dari daerah Benyamin bersama-sama dengan dia. Dan Ziba, hamba keluarga Saul, dan kelima belas anaknya laki-laki dan kedua puluh hambanya bersama-sama dengan dia datang tergesa-gesa ke sungai Yordan mendahului raja, 18  lalu menyeberang dari tempat penyeberangan untuk menyeberangkan keluarga raja dan untuk melakukan apa yang dipandangnya baik. Maka Simei bin Gera sujud di depan raja, ketika raja hendak menyeberangi sungai Yordan, 19  dan berkata kepada raja: “Janganlah kiranya tuanku tetap memandang aku bersalah, dan janganlah kiranya tuanku mengingat kesalahan yang dilakukan hambamu ini pada hari tuanku raja keluar dari Yerusalem; janganlah kiranya raja memperhatikannya lagi. 20  Sebab hambamu ini tahu bahwa hamba telah berbuat dosa; dan lihatlah, pada hari ini akulah yang pertama-tama datang dari seluruh keturunan Yusuf untuk menyongsong tuanku raja.”

Beberapa saat setelah peristiwa  itu, ketika Raja Daud kembali ke ibu kota, beliau disambut rakyatnya, Simei disana, bahkan seribu orang dia bawa menghadap Raja, ia tunduk, ….

Apa berita yang dibawanya dari prespektif Mesias?
Haleluya, Raja Daud adalah simbol Kristus, Raja segala raja, dan entah bagaimana Rasul Paulus orang Benyamin mirip dengan Simei. Simei orang Benyamin dan Saulus orang benyamin menghina Raja awalnya, berani sangat malah, keyakinan tingkat tinggi, tetapi oleh kebaikan Raja, mereka berbalik 180 derajat, dan malah bukan hanya dirinya tetapi juga membawa seribu penghina-penghina yang lain…

Toh masih banyak Simei di sini, di sana, dimana-mana, meski Sang Raja sedang melawat, hinaan yang didahulukan, yang mungkin datang dari keyakinannya masing-masing..

Jangan seperti Abisai, jangan terpikir menebas lehernya…
Jika Dia berkenan, Simei akan datang sujud sampai ke tanah…

Berubah

September 7, 2013 pukul 8:34 am | Ditulis dalam Apologet | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Titus 3:14  Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.

Beberapa ahli bahasa mengatakan kata pekerjaan di atas bisa diterjemahkan menjadi “berdagang”, dalam konteks sekarang “berbisnis”. Kata asalnya ditransliterasikan menjadi ergon dalam chreia

Toh pada masa itu memang banyak pengikut Kristus yang berprofesi sebagai pedagang. Dalam kekiniin, banyak orang yang percaya tidak melulu sebagai seorang pendeta, atau menyerahkan seluruh hidupnya kepada pelayanan-pelayanan gerejawi. Banyak dari latar belakang dengan apa yang kita sebut sebagai dunia sekularisme, chreia.

Ergon, jujur, pekerjaan yang baik, bisnis yang jujur. Itu tantangannya. Kalau kita hidup di kota metropolis macam Jakarta, dimana oportunis dan persaingan membaur, langkah paling cepat menjadi godaan yang paling membuat keringat dingin. Jika ini maka untung besar, tetapi ini jelas tidak baik, itu beberapa bisikan kontra kepada ketidakjujuran dalam berbisnis.
Kalau satu dua kali tak tersandung, maka sudah akan sedang menjadi kebiasaan, tetapi jika berani menyatakan kebaikan, itulah yang disebut belajar berbuat baik.

Jika KPk, contohnya, menangkap seseorang yang mengaku percaya, dianggap menyelewengkan keuangan negara oleh karena jabatannya, yang ternyata dia itu telah belajar lama dalam hal kebaikan, kejujuran, maka buahnya akan tertulis di koran-koran, televisi, perbincangan umum, si dia itu berintegritas tinggi, nyatanya?… karena banyak yang memilih jalan pintas, semua integritas berubah menjadi cemoohan, dan bukan hanya cemoohan perorangan bahkan cemoohan komunitas atau bisa menghina Tuhan Yang Esa.

Belajar memang nyatanya berat bagi yang belum memulai atau bagi yang telah memiliki kecenderungan tak menyukai pemikulan salib kasar. Tapi nyatanya harapan kita akan Janji Allah itu haruslah menjadi pilihan, atau mungkin bukanlah suatu pilihan lagi melainkan keharusan, ketunggalan yang terlihat di segala jembatan langkah kita.

Bisa berubah jika belajarnya dimulai atau distop.

Terhukum turun temurun

September 1, 2013 pukul 6:07 pm | Ditulis dalam Pemikiran | 2 Komentar
Tag: ,

Ratusan tahun Samaria dan Yudea terpisah. Dari sejak penjajahan Babel, lalu Persia, lalu Macedonia, lalu Romawi, mereka telah terpisah. Israel terbagi dua sejak jaman akhir Raja Salomo, menjadi dua bagian Utara dan Selatan. Utara disebut Israel ibukotanya Samaria. Selatan disebut Yudea ibukotanya Yerusalem. Meski pada jaman-jaman Romawi pernah menjadi satu propinsi, toh mereka telah terpisah dalam praktek agama yang berbeda.

Turun temurun orang Yudea dalam agama Yahudi telah menghukum orang Samaria sebagai bangsa najis, kotor, kafir, tak layak disebut sebagai sesama manusia. Bahkan perintah Allah untuk mencari hanya orang Israel telah disalah mengerti bahwa hanya latar belakang Yudealah yang dapat mengecap Berita Gembira, 12 rasul toh berpikir demikian awalnya.

Mungkin pengajar-pengajar yang kita kenal bisa saja menyatakan hal-hal yang berbau demikian, bahwa si anu, si agama anu, si itu, si ini, adalah najis, kotor, kafir, tak layak dihadapan Tuhan, praktek kehidupannya jauh dari kebaikan… katanya… jauhi saja…

Lukas 17:15-16
15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,
16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

Lihat respon terhadap anugerah kesembuhan Yesus. Justru seorang Samaria yang datang kepada Yesus mengucapkan syukurnya. Kemana yang lain? Mungkinkah mereka adalah orang-orang yang merasa layak menerima karunia karena segala usaha mereka?

Pengajarkah yang salah, yang mencekokin pikiran kita sehingga menghukum orang-orang ‘Samaria’ sebagai ‘anti-Tuhan’, tanpa mengecek kebenarannya? Sementara nyatanya justru beberapa dari mereka adalah orang Israel sejati.

Roh Kudus di dalam pena Rasul Paulus menyimpulkan, justru dalam keadaan berdosalah kita di-‘jenguk’ TUHAN semesta alam, atau Tuhan Yesus berkata: “Orang sakitlah yang membutuhkan tabib”, kedua hal itu sama.

Ada orang, banyak, yang merasa sehat, mana mau dia datang kepada Tabib.
Ada orang, banyak, yang dicekokin pengajar-pengajarnya untuk membenci orang-orang lain yang dianggap kafir, najis, kotor, sampai-sampai tidak ada waktu untuk memikirkan cara mengasihinya.

Tuhan Yesus mengajarkan… kasihilah sesamamu. Berdoalah kepada musuhmu.

Memukul seorang anak dengan rotan adalah bagian dari mengasihi sang anak, dengan tidak ada ketegasan, turun temurun akan lahir generasi-generasi yang suka membangkang.

Dasar ‘Penghujat’

Agustus 22, 2013 pukul 7:33 pm | Ditulis dalam Apologet | 2 Komentar
Tag: , , ,

Matius 9:3  Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: “Ia menghujat Allah.”

Ahli taurat, expert, jagoan, mahir. Menjelaskan segala sesuatu berbau agama itulah dia. Mendengar seorang sakit disapa oleh Yesus dengan kata: “Dosamu diampuni”. Para expert kebakaran jenggot.
Bagaimana tidak; YESUS mereka kenal kemanusianNya sebagai si tukang kayu dari Nazaret, manusia yang sama bisa merasa lapar, dahaga, dan penderitaan. Siapa yang tidak marah coba, ‘Penghujat’ satu ini sangat keterlaluan.

Matius 9:2  Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”

Mungkin saja sakit beliau itu akibat suatu dosa, makanya beliau dihapuskan dulu dosanya, kita tidak tahu; yang pasti jika kita baca ayat selanjutnya, beliau ini sembuh total seketika ketika Yesus mengucapkan suatu kata yang merupakan hak tunggal Allah, “Dosamu diampuni”.

Jangankan kita, orang fana yang tidak tahu menahu tentang peristiwa itu kecuali dalam iman, bahkan ke-12 murid awal, ratusan pengikut Yesus awalnya masih tegar, belum paham, sampai tiba pada mati, bangkit, naik ke sorga dan kesaksian Roh Kuduslah, maka mereka sadar ‘Penghujat’ itu, digelari begitu oleh ahli agama; ternyata adalah Penghulu Agung. Firman Allah; TUHAN YANG ESA sedang berkarya, melakukan pekerjaan penyelamatan, sedang dalam misi menghapuskan kutuk dosa sampai rela mengambil rupa sebagai manusia.

Kita mungkin sakit rohani, jangan katai Anak Allah itu penghujat, karena hanya Dia yang bisa menyembuhkanmu.

Kalau tidak, saking ahlinya kita suatu agama, Tuhan Yang Mulia itu berkata dalam tahta penghakimanNya kelak demikian: “Dasar penghujat”.

Mintalah.

Ada gunanya ‘nyerocos’

Juli 20, 2013 pukul 6:16 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Yunus 1:16  Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar.

Orang-orang yang sekapal dengan Yunus tersengat ketakutan kepada TUHAN. Alkisah Yunus, sejak dia menaiki kapal pelariannya, menceritakan perihal kaburnya beliau dari tugas.

Orang-orang ini mungkin menyengir ketika mendengar celoteh sang warga baru itu. Tapi tak menjadi demikian kala badai datang menerjang. Ketika semua orang memanggil allahnya masing-masing tak satupun allah itu berkuasa menahan deru ombak. Tak satupun seberkuasa itu, sekitar 700 tahunan setelah itu peristiwa Sang Kristus menghardik deru ombak mengingatkan kita. Petrus berteriak tolong; Yesus menghentikan amukan air, dan calon-calon rasul berteriak: “Orang apakah Dia ini?”; toh kejadiannya mirip; “Tuhan apakah ini yang mendatangkan ombak dan menghentikan ombak; allah kami tak sanggup mengendalikannya?”. Pertanyaan yang sama membawa mereka kepada pengenalan selangkah akan Sang Penguasa segala-galanya, Allah dari segala allah.

Tak musti terancam kepada kematian begitu bukan baru kita berani mengamini Tuhan Yesus?.

Tak musti mendengar para penginjil-penginjil nyerocos sepanjang hidupnya bukan?.
Toh kita diberi kemampuan mengenal akan apa yang dapat disebut bersifat ilahi, kemampuan itu dapat kita olah dari beberapa “nyrocos”-nya pemberita kabar baik; meski beberapa pemberita dalam keadaan tersembunyi sedang menyimpang; atau sedang menjadi batu sandungan oleh perbuatannya; dengarkan “nyrocos”-nya jangan tiru pelariannya; jika waktuNya datang titik balik juga yang hadir.

Mungkin kita sesekali lemah, tapi jangan lupakan untuk “nyrocos” tentang DIA, pemilik segala sesuatu.

Nyrocos koq ada gunanya?
Ya ada dong; segala sesuatu kan dapat Tuhan rekakan demi kebaikan; salah satu bukti bahwa Ia Maha Kuasa; kita diberi kemampuan bebas memilih; dalam kebebasan itu Dia berencana.

Haleluya.

Tersandung kerikil

Juli 18, 2013 pukul 8:05 pm | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Mungkin jarang orang sekarang berjalan tanpa alas kaki. Kalau bosan dengan kenyamanan alas kaki, mari coba-coba jalan kaki tanpa alas di jalan beraspal yang tidak terawat, maklum mumpung hujan-hujan begini banyak jalanan beraspal mengeluarkan kerikil-kerikilnya. Terinjak satu dengan bentuk bulat mungkin belum terasa, ada saatnya si kerikil kecil tajam mengintai, dan…. meringislah kita dibuatnya.
Tersandung kerikil.

Yunus 1:15  Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk.

Ingat peristiwa Yunus yang melarikan diri dari hadapan Tuhan?, pasti ingat, kisah ini awam dari sejak kanak-kanak.

Kisah ini bisa kita tarik satu makna, bahwa kita bisa jadi adalah si kerikil tajam, si batu sandungan.
Nabi Yunus batu sandungan yang menjadi berkat bagi kawanan kapalnya, bisa saja kita seburuk yang tidak dapat kita bayangkan, malah bisa membuat orang lain menghina Allah segala allah. Raja Sorga.

Kita tidaklah Nabi Yunus, kita tidaklah melulu sedang melarikan diri dari hadapanNya, kita tidak juga seorang melulu teguh hati, ada saat-saat tertentu kita melakukan dengan sengaja sebagai batu kerikil, yang bukan kerikil biasa, tetapi si kerikil memuakkan yang menjadi batu sandungan, ingat bukan seperti Yunus, batu sandungan yang menjatuhkan orang kapal kepada pertobatan dan pengenalan akan Tuhan, kita bisa saja telah membuat orang lain tersandung kerikil, tersandung hadirat kita,….. dan menyebabkan mereka menyemburkan kata hujat kepada Kristus Raja.

Kita wajib minta ampun…. wajib,… mari mengingat-ngingat masa-masa kita, jika kemungkinan itu ada, mari belajar berubah, dan olehnya kita beroleh bijaksana.

Bisa kabur

Juli 17, 2013 pukul 7:18 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

2 Petrus 1:12  Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima.

Seperti olahragawan, jika ia tidak melatih tubuhnya, maka tujuan dari gelar olahragawan akan kabur, buram, sirna, perlu dipertanyakan.

Dikatakan bahwa kehidupan di dalam Kristus diibaratkan sebagai perlombaan oleh para olahragawan, sehingga tubuh ini senantiasa perlu diasah, dilatih, seterusnya, sampai umur selesai waktunya.

Sebab meski kita telah dengan teguh mempercayai keagamaan kita, meski kita telah tahu pondasi doktrin, tetapi jika tubuh kita tidak diceburkan secara terus menerus kepada pertandingan kasih karunia Kristus, bisa jadi dan bahkan kemungkinan besar keteguhan kita, pengenalan kita akan Kristus semakin kabur.

Banyak orang jatuh kepada kemurtadan karena kegagalan atau diawali dari kekalahan dalam loncatan-loncatan pengenalan akan Kristus. Tubuhnya tidak dilatih untuk berbuah kasih, maka ketika keluar dari kasih karunia jangan salahkan jika dia, mereka, siapapun itu akan dengan senang hati menghujat Kristus Sang Raja segala raja.

Jangan jemu-jemu berbuat baik. Supaya semakin diteguhkan pengenalan kita, supaya tubuh kita ini beroleh ketidakkaburan.

Berjalan paling tidak 15 menit sehari bisa menolong kesehatan jantung kita, itu sebagai bukti pengajaran, sebagai saksi kebenaran kita, bahwa tubuh kita perlu dikasih pelajaran setiap hari supaya tujuan tubuh kita ada demi kemulianNya semakin diteguhkan.

Jangan kabur bro…
Jiwa olah raga
Pengetahuan olah raga
Tubuh olahraga

Tubuh, jiwa, roh
Komplit… satu tak terlatih, bisa kabur.

Tidak semestinya

Juni 17, 2013 pukul 7:00 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag:

image

Perhatikan skets di atas. Saya tidak bermaksud bahwa segala pengetahuan Alkitab dapat dirumuskan. Hanya penyederhanaan saja.

Garis biru menggambarkan kelengkapan informasi tentang hakekat Kristus pada Alkitab Perjanjian Barus khususnya. Saya misalkan f (x)

Garis g (x) , yaitu yang hijau, adalah sebuah garis yang didapat dengan menghubungkan beberapa titik di f (x).

Terlihat perbedaannya, kontras.

Kristus adalah pernah menjadi manusia. Pernah merasakan kemanusiaan.
Dalam keadaan manusia Ia menderita, sekaligus mengklaim asal usulNya adalah dari Tuhan, sering diucapkan dalam kata Anak Allah, utusan Allah, dsb.

Tetapi jika kita menarik titik simpul kemanusiaan itu maka selamanya kita akan menarik garis lurus , yang meski pointnya benar, karena terwakili dalam gambar misalnya adalah x1, x2, x3, …

Tujuan Injil ditulis adalah adanya berita gembira yang luar biasa, yaitu Allah menjadi manusia dalam diri Yesus, dan dalam keadaanNya manusia rela mati bahkan disalib, demi NamaNya. Dan bangkit bahkan naik ke sorga.

Itulah singkatnya yang lengkap.
Kalau kita potong sedemikian rupa sedemikian menjadi kelihatan lurus, maka tidak semestinya kita keras kepala mempertahankan pendapat.

Seorang matematikawan berkata: “Untuk menuju kepada kebenaran, maka kita harus berani mempertanyakan…. bla bla bla”, teruskan sajalah.

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.