Nama kamu siapa?

Mei 26, 2020 pukul 9:28 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Waktu usia dini ayat yang pertama sekali, yang umumnya, dihapalkan dan diucapkan pada saat perayaan natal adalah Kejadian 1:1.

בראשית 1:1 (WLC) בְּרֵאשִׁית בָּרָא אֱלֹהִים אֵת הַשָּׁמַיִם וְאֵת הָאָרֶץ׃

https://alkitab.app/v/7556a3717937

Dari ayat di atas ada dua kata yang kita mau lihat. yaitu kata: Elohim (אֱלֹהִים), dan kata bara (בָּרָא). Kata “Elohim” adalah bentuk jamak, tetapi kata kerja yang mengikutinya yaitu “bara” adalah kata kerja singular. Interesting.

Singkatnya dari kata kerja dan kata yang mengikutinya kita bisa tahu dengan mudah mana kata “Elohim” untuk menjelaskan TUHAN dan mana kata “elohim” untuk menjelaskan dewa-dewa atau sesembahan yang bukan TUHAN.

Kata “Elohim” di awali dengan kata “El”. Ya itu adalah bentuk singular dari kata jamak “Elohim”. “El” atau “Eloah” adalah kata singular dari “Elohim”

Ada ayat yang amat sangat terkenal yang akan saya kutip…

דברים 6:4 (WLC) שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה ׀ אֶחָד ׃

https://alkitab.app/v/2d5ccf2542ce

Itu adalah Shema Israel…. TUHAN kita ESA…

Di sini ada kata yang biasanya kita temui umum untuk “penamaan” TUHAN. Sebagai informasi, kata “TUHAN” dengan capslock semua biasanya adalah subsitusi dari kata ini, yaitu יְהוָה

Jika dilihat dari hurufnya kata ini disusun oleh tetragramaton YHWH atau YHVH. Biasanya kata ini tidak boleh diucapkan sehingga sering disubsitusi. Di bahasa ibrani sendiri tetragramaton sering disubsitusi ke banyak kata, salah satunya adalah “Adonai” (אדוני). Kata ini adalah kata jamak dari kata singular “tuan” “Adon” (אדן). Jadi ketika membaca kata “יְהוָה” biasanya diganti dengan kata “אדוני”.

El atau Adon itu singular, Elohim atau Adonai itu kata jamak. Tetapi jika mengacu kepada TUHAN maka semua kata kerja yang mengikuti kata ini selalu sama yaitu singular. Interesting.

Kata YHWH mengandung unsur-unsur kata yang umum kita dengar yaitu huruf “Yod” (biasanya ditrasliterasi menjadi huruf “I”, “Y” atau “J”) dan kata “Yah”, atau “Vah”, “Weh”, “Wah”, “Ah”, dll.

Berikutnya kata yang sering digunakan untuk menjelaskan keberadaan TUHAN adalah kata “Bapa”, “Ab”, atau “Av” (אב).

Ada beberapa pengaruh bahasa aramaik yang memperkaya kata-kata di atas tentunya. Mungkin kita sering mendengar kata “Abba”, kata ini adalah sama dengan “Ab”. “Abba” aram dan “Ab” adalah ibraninya. Dua-duanya dipakai di Alkitab.

Lalu apa hubungannya kata-kata di atas dengan judul post ini?, yaitu nama. Tiga kata di atas (El, YHWH, Ab) sering digunakan atau disematkan menjadi nama. Biasanya dipecah sebagian atau seluruhnya digunakan, menjadi kata bentukan baru, ya kata-kata itu telah digunakan menjadi nama orang-orang, manusia-manusia, tempat, dll. Dengan demikian akan mudah mengetahui keimanan seseorang, mengenal siapa Sang Sesembahan, dls . Tentunya akan sangat sulit jika diterapkan pada jaman sekarang ini, contohnya ada namanya Yosua, tetapi dia perampok, atau ada yang namanya Yohanes tetapi koruptor, dan lain sebagainya..

Sebut saja satu “Yehuda”, ada asal kata “Ye” dari kata YHWH dan “Ode”, bernyanyi, bersyukur artinya, dengan demikian kita akan paham kutipan di bawah ini:

Kejadian 29:35
Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: “Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN.” Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi.

Ada agama Yudaisme, … artinya.. agama yang memuji YHWH.

Atau Ismael (יִשְׁמָעֵֽאל), transliterasinya Yish-ma-El, lihatlah kata “El”, itu untuk “Elohim”, atau “Elah”.

Ada juga nama Yoab, salah satu panglima perang Raja Daud. Yoab diambil dari kata “Yo” dari “YHWH” dan “Ab” dari “AB”, artinya YHWH adalah Bapa

Jadi dari nama tokoh-tokoh di Alkitab, kita tahu siapa TUHAN yang mereka sembah, dan memang TUHAN yang sedang bekerja dan berkarya.

Di dalam Alkitab kita mengenal kata Yehoshua (יְהוֹשֻׁ֣עַ), Yeshua (יֵשׁוּעַ), atau Hosea (הוֹשֵׁ֙עַ֙), ya tiga kata ini dibentuk dari kata YHWH. “Y” untuk Yehosua dan Yeshua dan “Ah” untuk Hosea, namun ketiganya memiliki makna yang sama TUHAN adalah Keselamatan.

Dengan melihat nama-nama maka kita tahu ada Nama TUHAN disematkan di dalam, dan kita tahu cara membedakan mana TUHAN dan mana yang bukan TUHAN:

Yohanan atau pengaruh yunani menjadi Yohanes, ada unsur YHWH… YHWH menyukai pengampunan, itu artinya

Nama Abigail, dari kata Ab-i-gail. Ab adalah bapa, i adalah kata pengganti milik kepunyaan pertama tunggal, jadi “Abi” artinya “bapakku”, Abigail bapakku adalah kegembiraan, cemerlang, dll.

Nama Abel, dari kata “Ab” dan “El”

Kejadian 33:20 (TB) Ia mendirikan mezbah di situ dan dinamainya itu: “Allah Israel ialah Allah.”

Satu kata penutup…. Yisrael (יִשְׂרָאֵל), Israel, ya gunakan kata itu Yis-ra-El jangan dengan kata lain. Maka kita tahu Allahnya adalah EL bukan yang lain.

בראשית 33:20 (WLC) וַיַּצֶּב־שָׁם מִזְבֵּחַ וַיִּקְרָא־לֹו אֵל אֱלֹהֵי יִשְׂרָאֵל׃ ס

Perhatikan kata yang digunakan di akhir kalimat itu “El Elohei Yishrael“. Ada tiga kata “El” dipakai sekaligus, keras maknanya supaya tidak keliru. Jadi ingat: IsraEl bukan Israil. El bukan il.

Masih digunakan di jaman Perjanjian Baru, contohnya Χρι¦στι¦α¦νούς. Ini sebutan yang akar katanya dari, Kree-stee-ah-noos, huruf “X” dan “ρ”, dua huruf untuk subsitusi Nama Yang Mulia: Yesus Kristus. Artinya pengikut atau penyembah TUHAN, YHWH. Firman YHWH telah menjadi daging atau menjadi manusia, DIA digelari Kristus, atau Mesias, Yesus Kristus, Yeshua haMmashiach (יֵשׁוּעַ הַמָּשִׁיחַ). Kristen, penyembah TUHAN, mempercayai Firman TUHAN telah menjadi manusia sesuai janji-janjiNYA.

Salah arah berujung derita

April 2, 2020 pukul 7:08 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Lukas 24:21 (TB) Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.

Para pengikut Yesus telah dikagetkan oleh perempuan-perempuan yang berniat merempahi mayat Yesus di pagi Minggu. Betapa tidak, dengan gempita mereka mengatakan bahwa mayat Yesus sudah tidak ada, malaikat telah menyaksikan bahwa Yesus telah bangkit dan hidup kembali seperti yang telah Ia katakan berapa kali. Entah kenapa beberapa tidak terlalu mengambil serius pemberitaan itu.

Kemungkinan besar itulah yang ada di benak kedua orang pengikut yang sedang akan menuju desa Emaus. Sekitar delapan kilometer dari Yerusalem ke arah barat. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan, kita akan terus menderita oleh jajahan bangsa-bangsa, Israel jaya adalah impian, … atau mereka sedang berpikir lebih panjang, apakah kita harus menunggu Mesias yang lain?… banyak hal kalut yang terngiang jika kita menyelami pikiran mereka. Mereka meninggalkan Yerusalem, menuju Emaus, dengan kecewa.

Jika kita baca narasi pertemuan kedua orang itu dengan Yesus, kita dapat hal-hal detail yang mereka ketahui; bahwa mereka mengetahui detail Yesus dengan baik, mereka mengetahui keajaiban yang Ia lakukan, mereka mengetahui bahwa Yesus telah bangkit, namun arah mereka berbeda dalam menerjemahkan semua kejadian itu.

Seperti kutipan di atas, mereka memimpikan bahwa Yesus, Raja Yahudi, memerintah di bumi dengan gilang gemilang. Semua itu tho tertulis bahwa Mesias adalah Raja, Dia akan memerintah dalam keadaanNYA yang mulia. Tetapi ada titik derita yang terlewatkan, bahwa Mesias itu harus mati dahulu, untuk keselamatan semua manusia.

Kesaksian-kesaksian perihal itu semua sudah tertulis pulak, tersedia kepada kita dengan berbagai bahasa dan jenis aksara malahan, tetapi bisa saja kita salah arah, entah pikiran kita, entah latar belakang kita, itu semua bisa sebagai pengarah maunya kita dalam mengendalikan maksud utama. Jika kita tidak membiarkan TUHAN Yesus dalam keadaan keesaanNYA dengan ROH KUDUS menjelaskan maksud dan tujuan TUHAN, maka sudah dapat dipastikan derita yang ada diujungnya. Bisa jadi kita tidak mengakui atau malah masih menanti MESIAS. Tiada derita yang lebih menggetarkan selain penuh gertakan amarah di dalam api kematian kedua, hanya karena kehilangan satu titik kejadian saja.

Dosa dan Penderitaan

Maret 28, 2020 pukul 8:23 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Pasal 13 Injil Lukas, ayat 3 dan 5 menuliskan kalimat yang bermakna sama, dalam Alkitab terbitan LAI terjemahan baru, malah menulis sama persis.

Lukas 13:3 (TB) Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.

Kata-kata ini diawali oleh dua kejadian yang ramai dibicarakan waktu itu, yang pertama adalah sekumpulan orang Galilea yang dibantai oleh Pilatus. Pembantaian berdarah itu mengerikan, sampai-sampai darah mereka dicampurkan dengan darah kurban persembahan mereka. Kemungkinan besar mereka ini adalah dari golongan ultra nasionalis yang sangat reluktan terhadap pemerintahan Romawi. Mereka mati mengenaskan bersama kurban-kurban yang sejatinya dikurbankan untuk TUHAN.

Yang kedua adalah sekumpulan orang yang ditimpa bangunan di Siloam, dikabarkan delapan belas orang mati tertimpa. Jika yang dimaksud adalah Siloam tempat orang mencari kesembuhan, maka dapat dibayangkan kesedihan dari keluarga mereka, berharap mendapat kesembuhan, malah kematian yang mengerikan yang didapatkan.

Kecenderungan sepanjang masa orang dapat menilai, bahwa saking besarnyalah dosa mereka maka yang ilahi nyata-nyata menghukum mereka. Hukuman yang setimpal, pembenaran atas pendapat ini bisa ditemukan. Orang Galilea itu pemberontak, melawan pemerintah. Orang yang berkerumun di Siloam itu mungkin tidak tertib, tidak antri dengan teratur, saling dorong-dorongan.

Kejadian 2:16-17 (TB) Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Tidak mengatakan bahwa karena ADAM dan HAWA berdosa maka kita berdosa, tetapi kutuk yang sama juga berlaku bagi kita, karena potensi berdosa yang ada pada kita cenderung selalu kita gunakan, kita berdosa. Dan akibat dosa adalah maut. Mati seseorang tidak melulu selalu tragis, ada juga yang tenang dalam tidurnya, ada dalam derita penyakit, dalam kecelakaan dan lain sebagainya. Tetapi bukan cara mati itu yang menggambarkan keberdosaannya. Bagaimanapun cara mati kita, jika kita masih di dalam dosa, belum menerima hidup yang baru dari curahan darah Kristus, maka semua kita akan sama dalam merasakan kutuk TUHAN, tetap namanya mati.

Jadi jika kita tidak bertobat, menerima Kristus dan hidup dalam bimbingan Roh KUDUS demi kemuliaan BAPA, maka semua kita, bagaimanapun cara matinya, akan binasa dalam roh, jiwa dan raga.

Penderitaan adalah sesuatu yang wajar, karena kita dalam keadaan rusak akibat dosa. Bayangkan kita ikut dalam sebuah kendaraan, tiba-tiba angkutan berhenti mendadak, kepala kita terantuk, bengkak. Selidik punya selidik, kendaraan berhenti mendadak karena ada lubang besar menganga. Kenapa bisa ada lubang sebesar itu?, pembangunan jalan itu sarat dengan korupsi. Jadi wajar kita mengalami hal-hal yang merugikan, karena dosa ada dimana-mana. Atau wajar beberapa orang mati tragis tanpa musabab yang tidak bisa kita telaah, karena apa faedahnya jenis kematian bagi orang yang harusnya juga binasa karena tidak adanya pertobatan.

Judul perikop Alkitab TB LAI Injil Lukas pasal 13 ayat 1 sampai 5, saya gunakan menjadi judul post ini.

Dunia ini tidak abadi

Maret 27, 2020 pukul 9:02 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Lukas 12:13 (TB) Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”

Seruan dari seorang dari salah satu kerumunan yang mengikuti Yesus di atas sangat lumrah kita dapati. Baik di masa itu maupun sampai sekarang dan mungkin ke depan.

Orang ini menuntut Yesus akan mengeluarkan hukum-hukum, aturan-aturan, dan jika sedemikian maka akan dituliskan, dibukukan, dan hukum-hukum agama dengan versi-versi lainnya akan terlahir.

Kecenderungannya memang begitu, jika kita sudah mempercayai sesuatu maka kita akan menyelidiki protokol-protokol yang disediakan, bagaimana cara makan, bagaimana cara bersalaman, bagaimana cara ini dan itu, bahkan ke hal terkecil, bagaimana cara duduk dan bagaimana-bagaimana yang lain, manusia merasa nyaman jika telah melakukan itu semua, dan nyentriknya dikirinya TUHAN akan senang dengan itu semua.

Bagaimanapun Yesus mengajarkan hal yang jauh lebih dalam dari itu semua, Yesus mengajarkan hal yang berujung kepada kehidupan kekal berikutnya, bukan kehidupan di dunia yang sementara ini. Dalam Kitab Injil Lukas kita sudah tahu bagaimana Yesus berkata bahwa TUHAN mampu melakukan hal yang lebih fatal dari sekedar kematian raga, DIA bisa mengirim roh, jiwa dan raga sekaligus ke neraka, bahkan setelah kematian raga; manusia hanya bisa melakukan kematian raga kepada sesamanya. Sedemikian bahwa melakukan hukum-hukum yang membatasi kegiatan dan berkehidupan dalam raga meski terlihat rohaniah, itu hanya untuk kepentingan raga, tidak akan ada faedahnya untuk kepentingan roh, untuk kehidupan setelahnya.

Karena kita meyakini dan mempercayai bahwa akan ada kelak akhir dari dunia ini, maka jangan terpaku kepada seruan-seruan dan keinginan-keinginan dalam hal-hal yang berbau sementara, termasuk diantaranya menuntut dan melakukan hukum-hukum yang meski terlihat rohaniah, mari berjuang untuk meraih bagian terdalam dari tujuan hidup kita yang semestinya yaitu, hidup di dalam ROH.

Lukas 12:23 (TB) Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian.

Menjadi sempurna

Maret 8, 2020 pukul 8:21 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Matius 19:21 (TB) Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Seorang pemuda kaya raya mengikuti tuntutan hukum taurat, klop dan tepat. Sepuluh hukum tauratpun nyata sudah berani dia klaim dilaksanakan dengan baik.

Tetapi masih merasa hampa; seperti ada yang kurang, ia utarakan kepada Yesus, sepertinya demikian juga banyak orang di dunia ini. Telah melakukan tuntutan-tuntutan keagamaan, tetapi hampa. Karena tidak ada Roh yang menggerakkannya.

Kekosongan diisi dengan melakukan di luar batas kebiasaan agama, karena agama seyogyanya adalah alat bantu mengenal Allah, jangan menjadikan alat bantu itu seperti Tuhan, Dia jauh lebih berkuasa dari itu.

Mengikut Yesus, ya Dia akan membaptis dengan Roh Kudus, dan kekosongan kita pun menjadi penuh.

Seperti seorang wanita yang menderita sakit pendarahan menahun, karna iman dia mengikuti Yesus dan menjamah jubahNya pada saat kerumunan ramai mengikuti Yesus. Jika mengikuti hukum Yahudi, dia seharusnya menjauh dari keramaian, dia sedang najis, berkurung diri saja. Tetapi dia digerakkan oleh imannya melawan alat dari TUHAN yaitu agama untuk mendekat kepada sumber agama itu; imannya nyata; bekerja dan membuahkan hasil. Dia peroleh sembuh.

Jika kita mendekat dan berada pada Yang Sempurna; maka kita akan semakin disempurnakan, dan kita menjadi sempurna.

Orang Gerasa aka kita

Maret 8, 2020 pukul 8:12 am | Ditulis dalam Pemikiran | Komentar Dinonaktifkan pada Orang Gerasa aka kita

Para ahli sejarah sibuk mencari dan mendefinitifkan dimana Gerasa. Entah apa nama yang benar, pula kita bisa dibuat samar akan makna narasi atau peristiwa yang ingin ditangkap sebagai benih pengajaran firman Allah.

Nyatanya peristiwa itu terjadi, dan kegelapan juga bisa terjadi persis seperti kejadian di masa itu.

Markus 5:10 (TB) Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu.

Itulah permintaan roh-roh jahat itu kepada Yesus, Anak Allah.

Yang disuguhkan di awal pasal 5 Markus adalah bahwa ada peternakan babi di daerah itu. Ada kemungkinan gua-gua dimana orang menguburkan orang-orang mati di sana. Jika diukur dengan kitab Imamat betapa najis dan gelapnya daerah ini. Sangat najis, tidak cukup dari situ bahkan roh-roh jahat tinggal di sana, tidak hanya gentayangan bahkan ribuan jenisnya berada pada satu orang; siapa namanya juga kita tidak tahu, tetapi jangan teralihkan.. nanti gelap dan najis jadinya.

Dikala setan-setan ini minta bertahan di daerah itu, karena secara lahiriah cocok buat mereka, dikatakan di atas, najis, tempat mayat, babi, dan.. orang-orangnya menolak Yang Benar…

Markus 5:17 (TB) Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Jika pemuka agama masa-masa itu atau orang-orang modern jaman media sosial ini diperhadapkan terhadap peristiwa pengusiran roh-roh jahat dari seorang ke ribuan babi oleh Yesus, maka betapa hebohnya kejadian yang akan ditimbulkannya, tetapi kegelapan daerah Gerasa terpatri dari buah pikiran mereka yang diungkapkan dari pengusiran Yesus dari daerah mereka.

Setan-setan ingin tinggal di situ dan orang-orangnya menolak Yesus di daerah itu. Klop, pas, serasi, cocok.

Itulah kita, jika gelap dan petang menyeliputi maka itu adalah nyatanya penolakan akan Tuhan Yesus.

Cerita belum putus sampai di sana. Tuhan Yesus memberi cara menerangi orang-orang yang cenderung menolak Anak Allah.

Markus 5:19 (TB) Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!”

Ada tugas yang diberikan kepada orang yang sekedar hanya ingin dekat-dekat kepada Yesus. Orang kerasukan tadi sangat berbahagia karena sudah sembuh, pikirannya sudah waras, wajar dia ingin dekat bersama Sang Tabib itu. Tetapi Yesus melarang dan menyuruhnya jadi penyuluh jadi pelita dikampungnya.

Diutus oleh Yesus, lalu beritakan apa yang telah dirasakan dari pertemuan dengan Tuhan Yesus, menceritakan apa yang sudah dirasakan dari kasihNya yang nyata. Jika ada bukti susah orang menyangkalnya.

Kitapun demikian jika diperhadapkan dengan suatu yang susah masuk akal tetapi nyata terjadi di depan kita jangan keras hati, Penerang sedang mengetok pintu.

Mati

Maret 7, 2020 pukul 7:22 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

1 Samuel 5:2 (TB) Orang Filistin mengambil tabut Allah itu, dibawanya masuk ke kuil Dagon dan diletakkannya di sisi Dagon.

Pada masa keluaran tabut Allah mempunyai makna yang sangat banyak. Kehadiran Allah dilambangkan dengan keberadaan tabut itu. Ada 2 loh batu didalamnya, secara fisik mungkin tidak ada yang istimewa dan memang menjadi istimewa karena TUHAN beracara dalam perancangan dan prosesi-prosesi yang berhubungan dengan tabut itu.

Tuhan Yesus pernah berbicara perihal membuat sumpah. Dilatarbelakangi oleh beberapa orang yang merasa akan lebih kuat sumpahnya jika ia bersumpah dalam nama Bait Suci dan Allah. Tuhan Yesus menjelaskan hal tersebut tidak bermakna, jika bersumpah dalam Allah lakukanlah, tidak akan lebih meyakinkan orang jika kita tambahi sumpah itu dengan demi bait suci, sebab Allah-lah yang membuat bait suci itu berharga, Tuhan Esa, jadi menambahkan sesuatu yang diciptakan kepada Yang Esa adalah perbuatan tidak berguna dan membinasakan. Katakan Ya jika ya, Tidak jika tidak, selebihnya dari si jahat.

Tabut Allah diambil oleh Filistin dari Israel. Tabut Allah perlambang hadirat Allah didekatkan kepada Dagon, sesembahan Filistin, tuhannya musuh. Filistin perlambang musuh Allah. Israel adalah pilihan TUHAN.

Yesus adalah gambar dari Allah yang tidak terlihat. Pada masa akhir pelayananNya, Dia diambil dari kehidupan manusiaNya, Dia mati. Manusia-manusia yang Dia pilih sebagai murid merana, kocar-kacir, ketakutan, galau dan cemas.

Tetapi apa yang terjadi?

1 Samuel 5:4 (TB) Tetapi ketika keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN, tetapi kepala Dagon dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu, hanya badan Dagon itu yang masih tinggal.

Ya, kita tahu makna yang tersirat dari peristiwa yang nyata disekitaran jaman seribuan tahun sebelumnya tentunya, ketika si Dagon T.K.O.

Matius 28:1 (TB) Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.

Sang Mati, maut, T.K.O

Penyimpangan

Maret 3, 2020 pukul 6:27 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Jika kita bertanya arah jalan suatu jalan, biasanya kita disuguhkan simpangan-simpangan. “Nanti lurus, lalu kalau ketemu pohon rindang belok kiri;…..” itu contoh saja.

Dalam kenyataan sehari-hari kita ada miripnya seperti jalan itu, kadang lurus dan tiba-tiba menyimpang. Dalam tahap personal mungkin masih bisa diluruskan dalam arti kembali ke yang lurus lagi, tetapi bagaimana kalau simpangan tersebut sudah mendarah daging, diimani, diajarkan dan dibudayakan untuk mengurung yang disembahnya kepada ruang lingkup ajaran itu sendiri?; “Simelekete” jadinya.

Matius 22:29-30 (TB)
29 Yesus menjawab mereka: “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!
30 Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.

Itulah jawaban Yesus perihal beberapa pemuka agama Yahudi yang disebut Saduki. Saduki menyodorkan satu kondisi yang rumit:

a.1 mereka percaya akan kebangkitan dan penghakiman

a.2 ada seorang wanita yang sudah menikah

a.3 suami wanita itu memiliki saudara lebih dari satu

a.4 hukum Musa berkata jika suami seorang wanita meninggal maka dan belum memiliki anak maka saudara laki-laki itu harus menggantikannya supaya garis keturunannya berlanjut

itu lah keadaannya; Jadi kalau para lelaki itu akhirnya mati tanpa anak, jika mereka bangkit pada hari yang dinantikan itu siapa suaminya si wanita?

Kedengarannya jenius.

Seperti petunjuk arah jalan tadi; sangat begitu mudah membedakan jalan yang lurus dengan persimpangan. Ketika kita berjalan menggunakan kendaraan maka ketika setir agak berbelok, sedikit saja berarti kendaraan sedang diarahkan memasuki simpangan. Sedemikian, sejenius apapun keadaan yang dipertontonkan, disajikan, jika yang disajikan adalah persimpangan maka akan sangat mudah mengetahuinya.

Menyatakan adanya kawin mengawin setelah kebangkitan adalah….

b.1 tidak mengenal kuasa Allah

b.2 tidak mengenal hidup setelah kebangkitan

Jadi jika kita menelisik rupa-rupa pengajaran; meski diajarkan oleh orang-orang yang terlihat saleh dan berjubah keagamaan yang agung, hati-hatilah; mungkin raginya berasal dari Saduki. Penyimpangan yang berbahaya.

Yang nampak

Maret 2, 2020 pukul 7:37 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Kejadian 1:1 (TB) Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

https://alkitab.app/v/6cca9a7f7112

Di awal kitab kejadian, kitab yang mengawali pekerjaan-pekerjaan ajaib Tuhan, dimulai dengan pekerjaan Allah. Mencipta. Sampai habis pasal pertama semua perihal pekerjaan.

Alih-alih menyatakan diri dalam deklamasi indah, atau menjadi “objek” untuk disembah, melainkan Dia menyatakan siapa DiriNya dari pekerjaanNya… teringat mustinya apa kata Yesus ribuan tahun setelahnya… “dari buahnya kita tahu”…

Oleh karena pekerjaan-pekerjaan itu, yang nampak bagi kita, kita layak mengenal, menyembah dan bekerja seperti Dia bekerja; dalam penyataan kemulianNya.

Kita mengenal Dia Pencipta; karena Dia mencipta.. Kita mengenalNya Penebus karena Dia menebus.

Tidak musti diterima karena berkoar-koar atau dipaksa diterima karena masih ditolak, Dia tetaplah Penebus karena Ia sudah melakukan pekerjaan menebus.

Yang telah Ada, Yang Ada dan Yang akan Ada.

Yohanes Pembaptis, Nabi yang benar

Februari 28, 2020 pukul 7:51 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag:

Empat Kitab Injil tidak luput dari sosok Yohanes Pembaptis. Bahkan untuk orang yang mengaku percaya YESUS, Yohanes Pembaptis adalah tolak ukur, baik dulu maupun sekarang.

Mengingat profesinya sebagai “pengajar” di gurun, miskin dan terasing, tidak ada alasan membuat dia terkenal sampai berabad-abad, dibandingkan dengan Kaisar di jaman beliau.
Banyak orang menamai anaknya Yohanes, Jhon, Yochana, d.l.l, yang pada waktu yang sama contohnya, orang menamai anjingnya dengan Nero (Seorang Kaisar di kisaran Kristen awal).

Semasa mengajar beliau memiliki murid-murid, pengikut setia, yang kemudian beberapa ahli mengatakan bahwa pengikut Yohanes Pembaptis ada sedikit keterpisahan/perbedaan dengan pengikut YESUS. Beberapa orang menyebutnya kaum bernazar; yang membatasi makanan dan minuman; yang mengkhususkan diri. Bagaimanapun murid-murid Yohanes Pembaptis dipanggil yang pasti ada kesamaan pada murid-murid Yesus, yaitu mereka percaya bahwa YESUS adalah MESIAS yang dinantikan.

Nabi sebagaimana kita tahu bertugas memberitakan tuannya, dan tuannya adalah TUHAN.
Hubungan spesial antara TUHAN dengan nabi menyebabkan nabi sering dilihat mendapat respek dari orang-orang yang mempercayainya, dan tentu akan selalu berseberangan bagi orang yang tidak mempercayainya. Paradoks terjadi itu lumrah, misalkan saja Yeremia. Meski Yeremia dikenal sebagai nabi besar, tetapi tidak ada satupun orang yang dapat berubah pikiran dan jalan hidupnya oleh pemberitaan langsung dari beliau.

Nabi penyambung lidah TUHAN, sedemikian juga Yohanes Pembaptis. Yang membedakan Yohanes dari nabi sebelumnya adalah kepada Yohanes diberikan waktu yang sama dengan MESIAS yang dinantikan itu. Dia diberikan suatu pertanda bahwa orang yang kepadanya ROH KUDUS turun DIA-lah MESIAS, sedemikianlah kenapa disebut Yohanes sebagai orang paling besar diantara mereka yang dilahirkan oleh wanita.

Beberapa nubuat dirujuk kepada beliau, yaitu mempersiapkan jalan bagi TUHAN, bagi INJIL.
Dan karena itulah dia berkata: “Aku akan semakin kecil dan DIA akan semakin besar”. Beberapa murid beliau disarankan mengikut YESUS, yang kemudian kita kenal sebagai bagian dari 12 Rasul pertama.

Jika kita merujuk Kitab Suci, dikatakan bahwa seorang nabi jika mengatakan suatu yang tidak benar ia layak dihukum mati, dengan cara dilempari batu atau apapun, atau jika seorang mengaku nabi tetapi mengajak menyembah allah lain, maka mati juga adalah bagiannya. Yohanes memang mati dipenggal kepalanya, tetapi bukan karena ia berkata tidak benar atau mengajak orang menyembah allah lain, melainkan oleh karena kebenaran itu sendiri. Itulah INJIL, jalan derita, via dolorosa, yang harus ditanggung, bahkan ditanggung oleh nabi-nabi sebelumnya, bahwa demi TUHAN banyak orang mati, martir.

Salah satu mantan muridnya adalah Rasul Yohanes. Rasul Yohanes dalam Injil Yohanes mencatat suatu yang sarat makna bagi kita. Kita baca Yohanes 10.
Yesus menyingkir ke daerah Yordan tempat Yohanes membaptis, ketika orang-orang Yahudi bengkak telinganya karena mendengar pengakuan YESUS sebagai Anak ALLAH, dimana Anak ALLAH dalam term masa itu diartikan sebagai menyamakan diri dengan Allah, maka Rasul Yohanes menyudahi cerita itu dengan sesuatu yang berhubungan dengan Yohanes Pembaptis.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: “Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.” Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.
(Yohanes 10:40-42)

Dari perkataan beliau yang benar mengenai ALLAH yang mana dia sebagai nabiNYA adalah logis, membuat orang percaya kepada YESUS yang adalah.. “Meski sebagai manusia, tetapi menyamakan diri dengan Allah”.

Lalu apa saja yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis tentang YESUS, banyak sekali tentunya, dan kita bisa menyebutnya beberapa antara lain:
YESUS lebih besar dari dia, YESUS adalah Anak Domba Allah, YESUS adalah Anak Allah, YESUS adalah Penyelamat Dunia, YESUS adalah MESIAS, YESUS akan membaptis dengan ROH KUDUS dan api.

Jika pernyataan di atas agak sulit kita terima, maka salah satu ajaran yang umum dikenal adalah bahwa Yohanes mengatakan bahwa YESUS adalah MESIAS, dan karena itulah banyak orang dari latar belakang murid atau pengikut Yohanes Pembaptis menjadi percaya kepada YESUS. Perkataan Yohanes yang benar disertai dengan tanda-tanda hebat yang dilakukan oleh YESUS membuat orang percaya.

Mempersulit diri sendiri

Februari 28, 2020 pukul 7:36 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Matius 21:27 (TB) Lalu mereka menjawab Yesus: “Kami tidak tahu.” Dan Yesus pun berkata kepada mereka: “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”

Peristiwa para pemuka agama mengikuti Yesus tidak asing. Mereka mengikuti bukan dalam makna menjadi murid, melainkan sedang mencari-cari titik masuk untuk mendakwa dan menuduh yang bukan-bukan. Toh maksud dan tujuan mereka tercapai, Yesus terbunuh di tiang salib. Suatu pengkhinaan yang terjadi dan harus terjadi untuk kebaikan manusia, bahwa anak kesayangan menolak Rajanya; maka Sang Raja melimpahkan anugerah besar keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Banyak juga para pengikut modern mengikuti hal-hal yang terlihat, ikut ibadah, ikut ke gereja, ikut pelayanan, ikut organisasi dan kegiatan kegerejaan; nyatanya demi mencari celah untuk saling cakar mencakar.

Dilema kehidupan sering terjadi dihapan kita untuk ditelaah dan diputuskan dalam hal apa yang harus dilakukan. Berpikir keras adalah upaya pertama; menimbang untung rugi lalu ketika sudah merasa nyaman dan sedikit kurang lebih menguntungkan dan nyaman maka dilakukanlah apa yang sudah menjadi kesimpulan tadi. Atau pengambil resiko untuk keuntungan yang sepertinya sudah nampak namun sedikit samar.

Pemuka agama dalam hal ini melakukan hal yang sama. Di awal mereka ingin menguji Yesus; tetapi pertanyaan Yesus membuat mereka berpikir dan menimbang keras.

Pertanyaan perihal otoritas Yohanes Pembaptis; premisnya begini

a.1. Allah memberi otoritas ke Yohanes

b.1. Pemuka agama melayani Allah

c.1. Pemuka agama membenci dan menolak Yohanes Pembaptis.

Kami pemuka agama yang menyembah Allah, nyata-nyata membenci Yohanes, sementara Yohanes yang dibenci oleh penyembah Allah adalah pemberita dan suruhan Allah…. terlihat ada yang aneh.. tidak nyambung. Lalu mereka berpikir keras untuk premis berikutnya, peluang yang lain.

a.2. Manusia memberi otoritas kepada Yohanes

b.2. Yohanes disebut orang nabi

c.2 Pemuka agama takut sama orang

d.2 Pemuka agama menolak Yohanes

Jika pemuka agama takut orang dimana orang yang memberi otoritas kepada Yohanes dan menyebut dia nabi; layaknya pemuka agama juga harus menerima Yohanes karena sama-sama bersumber dari orang, nyatanya dia ditolak juga. Orang yang lumrah untuk mengajari orang, tetapi menolak apa yang orang harapkan.

Awalnya sudah tidak benar, berikutnya hanya memperjelas ketidakjelasannya itu. Pikiran yang tidak berkebenaran hanya akan mempersulit diri sendiri.

Pertunjukan Sirkus

Februari 27, 2020 pukul 6:18 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Matius 16:1 (TB) Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka.

Pada masa pekerjaan pelayanan Mesias, sungguh banyak tanda-tanda ajaib dikerjakan Tuhan Yesus. Orang mati dibangkitkan, orang kusta disembuhkan, yang buta dicelikkan, bisu dan yang lainnya disembuhkan; banyak hal. Dan dalam narasi semua kesembuhan itu didapati ada makna yang disuguhkan, bahwa semuanya itu demi kemuliaan Bapa di Sorga.

Ada tanda untuk penyataan kemesiasan, ada tanda penyataan kuasa; dan sebagainya. Namun ketika para ahli agama meminta mempertontonkan keajaiban Tuhan, itu dianggap sesuatu yang salah, Yesus katakan bahwa mereka jahat dan hanya akan menyatakan Kuasa Sorga nanti dalam bentuk tanda Nabi Yunus.

Jika meminta sesuatu hanya ingin mempertontonkan kuasa jelas itu suatu kejahatan; ahli agama sadar dan mengakui adanya Tuhan yang satu-satunya, sadar dan tahu bahwa Ia adalah Pencipta; koq malah meminta suatu tanda kekuasan? nyatanya permintaan itu hanya memperlihatkan ketidakpercayaannya kepada Allah, kepada Kuasa Sorga…. dan terlebih, segala yang jahat seperti ini kita tahu siapa yang mereka sembah sebenarnya..

Yohanes 8:44 (TB) Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

Sejak dahulu kala Iblis menginginkan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran. Jika kita mengingat peristiwa setelah Yesus berpuasa di gurun… mungkin kita bisa pahami kenapa orang jahat meski berbaju agama dan dikatakan pengajar agama cenderung akan menampakkan bulu serigalanya.. ingatlah akhir peristiwa cobaan iblis kepada Yesus…

Lukas 4:13 (TB) Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.

Pemuka agama, yang dianggap nabi, pengajar agama, terpandang dan dikagumi orang-orang yang beragama, pendeta, jemaat, penatua, jika tidak mengenal dan tidak menerima kemesiasan Yesus, atau tidak memandang kebenaran maka ada kecenderungan dia akan berdoa meminta suatu tanda dari sorga; waktu yang tepat bagi iblis memperalat kita menghina dan mendukakan Tuhan.

Sirkus adalah hiburan sesaat, hidup yang diinginkan adalah hidup kekal bersama DIA dalam Kerajaan KekalNya. Kerajaan Sorga.

Budaya dan kehendak TUHAN

Februari 26, 2020 pukul 7:29 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Matius 15:26-28 (TB)
26 Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
27 Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”
28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Dalam pasal 15 Kitab Matius kita disuguhkan suatu cerita yang sarat makna. Ada budaya atau kebiasaan turun temurun yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berdiam di tanah Yehuda kala itu, mereka menyadurnya dalam ritual-ritual keagamaan. Sekarang ini banyak ajakan yang sama dilumrahkan bahwa perbuatan baik, menolong sesama, beribadah, merenungi pengajaran rohaniah harus lah menjadi sebuah habit, kebiasaan sehari-hari.

Seperti pemuka agama yang mengajak Yesus diskusi di pasal 15 itu, “orang-orangmu tidak mencuci tangan sesuai aturan agama”, ringkasnya begitu.

Yesus menjawabnya lugas, bahwa bukan apa yang dilakukan secara kasat mata atau yang dilakukan berdasar peraturan baku, kebiasaan, tetapi berdasarkan pengejawantahan pikiran yang mengawali semua pikiran itu, bahwa Tuhan harus menjadi alasan utama dalam kita bertindak.

Iman kepada TUHAN memampukan pikiran kita bersih dan benar, dan karena demikian maka tindakan kita atas hasil pikiran itu akan membuahkan hasil yang bisa dikatakan dapat dan layak menerima pujian dari Sang Penggerak.

Kita bisa saja memberi bantuan, bisa saja memahami semua pengajaran, tetapi jika bukan Tuhan yang memulai maka sia-sialah itu semua.

Orang bisa saja melakukan apa saja yang dituntut oleh kebiasaan agama, budaya keagamaan, tetapi jika ….

Mesias harus datang mengumpulkan orang-orang pilihanNya. DIA memilih Israel. Tetapi Israel menolakNya. DIA tidak mengambil berkat itu dari Israel, nyatanya murid awal, para Rasul, Kristen awal adalah Israel, Yahudi, tetapi roti yang jatuh dari mereka yang menolak makanan itu, itulah yang menjadi keuntungan bagi yang bukan Yahudi. Pandangan atau pikiran yang benar ini memampukan sang ibu di kutipan ayat di atas dalam menghadapi Yesus. Ada budaya yang diarungi deras, dan….tindakan yang benar itu mendapat pujian dari Mesias.

Saya sudah memberi ke Tuhan maka kekuatan saya untuk memberi kesesama sudah habis. Uang saya ke Gereja, perpuluhan dan lain sebagainya sudah besar, jadi saya tidak perlu memberi ke orang yang memohon bantuan ke saya, biarlah Gereja yang membantunya. Ini budaya yang salah.

Kecintaan, pemberian ke Tuhan dijewantahkan dalam kecintaan dan pemberian ke sesama. Jangan terbalik karena sudah berbakti kepada TUHAN maka .. atau karena kita menguras tenaga untuk melakukan budaya, kegiatan agamawi kita lupa ada manusia sesama yang perlu dicintai dan dikasihi.

Pikiran yang berasal dari Tuhan digunakan untuk pekerjaan yang benar, hasil dari tindakan yang benar itu membangun dan mengasihi sesama, membuahkan segala yang benar, dan Kebenaran akan nampak, memuliakan DIA; dari Dia oleh Dia kepada Dia.

Roma 11:36 (TB) Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Ada yang kurang

Februari 21, 2020 pukul 6:32 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Dalam perjalanan pelayanan di lingkungan kaum Farisi, ada berbagai macam dialog yang kita baca dalam Kitab Matius. Suatu tanda yang paling mengerikan ketika Yesus berkata bahwa menghina Roh Kudus tidak ada kata pengampunannya.

Beberapa penatua atau katakanlah imam Farisi memiliki otoritas mengusir roh-roh jahat. Dan tentu dapat diaminkan itu dapat terlaksana oleh otoritas Roh Kudus. Dan ketika Yesus melakukan pengusiran yang sama, dan karena Yesus dianggap pelanggar hukum agama, maka yang memampukan Yesus mengusir setan para Farisi itu sebut sebagai Belzebul alias Setan. Ketika kita terikat kepada hukum-hukum agama tanpa memangdang luas hukum kasih, itu tanda-tanda apapun, baik yang di dunia dan di sorga akan gampang kita hina. Jangan gampang menyebut si anu memuji Setan atau si anu memuja Allah, jika itu kita dasarkan pada perlakuan hukum-hukum agama; lakukan lah itu dari kacamata Roh Kudus yang memampukan melihat apa yang kasat mata kita lihat.

Matius 12:43-45 (TB)
43 “Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya.
44 Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapi teratur.
45 Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini.”

Siapa saja bisa dan mampu mengusir roh-roh jahat, jika ia dapat karunia itu. Tetapi jika kita mengusir roh-roh jahat dengan kuasa roh jahat yang lebih kuat dari yang kita usir maka hati-hati, roh jahat tadi bisa datang kembali bersama gerombolannya yang bisa jadi lebih jahat lagi.

Lalu apa yang kurang dari pengusiran itu?

Ketika roh jahat diusir, keadaan akan rapi, bersih dan tertata… maka undanglah Roh Kudus Allah menguasai segala sesuatu dalam diri mereka, maka ….lengkaplah.

Roh yang sama, Roh Allah, akan memampukan kita mengenal Kristus dan bahkan hadiah-hadiah besar lainnya akan nampak, yaitu buah-buah roh.

Meski memiliki kemampuan mengusir roh jahat seperti Farisi, tetapi jika masih memiliki pikiran jahat yang disokong memakai hukum-hukum agama, maka dapat dipastikan tidak ada buah yang dapat dihasilkan, maka ada yang kurang dalam kenyataan, Roh Allah, Roh Kudus tidak berdiam dalam dirinya. Kekurangan itu fatal. Mengaku memuja Allah tetapi tidak mengenal Yesus, bagaimana bisa mengenal Yesus, sedangkan Roh Allah saja ditolak.

Hukum Kasih tidak dibatasi prosesi

Februari 20, 2020 pukul 7:20 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Matius 9:14-15 (TB)
14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”
15 Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Kalau kita amati penentang ke-Kristenan era sekarang, sering kita perhatikan, dengarkan, baca, yang berbunyi bahwa ajaran ke-Kristen-an cenderung lebih ke Paulus, nota bene disebut Paulus menentang Yesus, bertolak belakang ajarannya.

Pengamat, komentator bisa menilai dan memberi dugaan sementara atas apa yang dia observasi. Nyatanya Yohanes Pembaptis memang seorang yang bernazar, dia membatasi makanan tertentu, tidak minum yang beralkohol, bahkan Farisi lebih hebat lagi, tuntutan ajaran-ajaran ke-Yahudian-nya dia lakukan secara keras, dengan maksud bahwa dengan cara itu mereka merasa semakin dekat dengan TUHAN.

Kontras.. Yesus malah kita baca sering melakukan perjamuan makan, konon tidak pernah berpuasa dengan murid-muridNya.. makan bersama pemungut cukai, makan bersama pelacur, mengajar orang Samaria dan bahkan menjamah dan menyembuhkan seorang yang berpenyakit kusta. Menurut Kitab Musa, orang yang penyakitnya begini harus mengikuti prosesi pengucilan dianggap najis dan harus benar-benar dijauhkan dari semua yang kudus di Bait Allah.

Matius 11:13 (TB) Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes

Yohanes Pembaptis adalah pembuka jalan, pemberita, yang berteriak di tepi sungai Yordan, mendeklarasikan bahwa Kerajaan Sorga, Kristus sedang akan datang, mendekat di bumi ciptaanNya, Immanuel, Bersama kita ada Tuhan.

Yohanes meski mempraktekkan cara-cara tertentu, Farisi meski mempraktekkan cara-cara yang lebih ketat, tujuannya sama yaitu pengejawantahan kasih yang tidak terbatas. Yang menjadi salah adalah jika kita melakukan pekerjaan agamawi tertentu dan merasa perlu berulang kali melakukan itu untuk menjadi sebuah kebiasaan tanpa menyadari ada praktek kasih yang harus dilakukan, yaitu mengasihi TUHAN dan sesama. Singkatnya demi sebuah prosesi keagamaan seorang Yahudi menolak seorang Samaria yang tergeletak di jalan, sedang butuh pertolongan. Perumpamaan Yesus tentang siapa saudara ini umum kita ingat.

Karena Tuhan mengasihi kita maka kita syukuri berkat itu dalam bentuk penyembahan dan mempraktekkan kasih itu… bukan kita meniru prosesi kasih untuk mendapat upah atas pekerjaan kasih itu. Jangan terbalik, jika terbalik maka selamanya Rasul Paulus akan menjadi batu sandungan, Yohanes Pembaptis akan menjadi batu sandungan bahkan ribuan denominasi akan menjadi batu sandungan, karna nyata cara mengerjakan kasih itu berbeda-beda dalam konteks, dalam latar yang membelakangi dan cara untuk melakukannya..

Allah adalah kasih.. dan Allah tidak terukur, meski tidak ada yang lain seperti Dia, umumnya kita sebut satu, tetapi Dia bukanlah ukuran kita, maka kita sebut saja Esa. Kemahaan yang Esa ini harus membuat kita semakin luas membuka hati dan pikiran, jangan membatasi kemahaan itu dengan prosesi.

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.