Fokus Solusinya Saja

Juli 8, 2019 pukul 6:49 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

2 Raja-raja 5:3 (TB) Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.”

https://alkitab.app/v/2188d7eee001

Mencari makna dalam konteks tertentu saja, sebab makna ayat ini tidak sedang dipaksakan sama seperti makna yang mungkin seharusnya diartikan diawalnya, makna yang sedang ditarik adalah setelah meneropong dari terang Perjanjian Baru. Bukan menjadi makna alternatif, tetapi gejala kejadian di jaman Yesus melayanai dalam keadaan manusia sarat akan kejadian-kejadian bahwa ketika berhadapan dengan pengetahuan keagamaan maka Yesus mengalamai rintangan menjurus kepada keniscayaan; tho memang kedaulatan TUHAN bekerja yang dalam hal tersebut Anak Manusia mengklaim kemesiasan yang sejurus kesetaraan kepada Allah telah menancapkan paku pengadilan DIA harus mati atas proklamasi itu.

Kisah-kisah dalam kitab sejarah di Perjanjian Lama memang begitu sangat memukau.

Alkisah seorang terpandang dari Negeri Aram yang sedang meng-okupasi negeri tetangganya memiliki seorang tawanan, dia menjadi “pembantu” nyonya dari sang terpandang tersebut.

Kejadian unik dapat kita lihat tatkala narasi awal pasal ini berkata sang terpandang ternyata berpenyakit kusta.

Dalam kacamata si tertawan yang adalah seorang Israel tentulah dapat kita menduga banyak hal, yang dalam hal ini dikatakan di awal mungkin saja bukan makna aslinya, tetapi jika dibandingkan dengan ahli-ahli agama yang berpengetahuan luas di jaman Yesus pelayanan sebagai manusia, maka si gadis ini telah menjadi cahaya suluh yang bersinar di atas. Jika beliau menpertontonkan pengetahuannya akan TUHAN, yang mana juga dikenal tuannya itu, maka dapat kita duga akan persis sama seperti ahli agama Farisi dan Saduki; “Tuan… maafkan saya, pengetahuan saya berkata Anda ini meski seorang Panglima, sangat terpandang, tetapi tuan adalah manusia najis”.

Kira-kira begitu reka kekiniannya. Intinya Naaman dalam sudut pandang Kitab Imamat, adalah manusia yang “terbuang”.

Jika kita melakukan pendekatan pengetahuan keagamaan, maka hati-hatilah bisa jadi kita telah memasang jerat yang bisa membunuh orang yang seharusnya mendapat kehidupan.

Sang tawanan fokus terhadap apa yang dapat TUHAN lakukan melalui pekerjaan pelayan-pelayanNya; pengetahuan cenderung melambungkan kita ke atas mempertontonkan apa yang kita bisa dihadapan ketidakberdayaan penerima kasih karunia.

Bahwa manusia perlu dicari dan diberitakan tentang Injil adalah fokus utama, maka mari fokuslah kesitu. Lihatlah banyaknya pengetahuan keagamaan cenderung memecah belah; coreng hitam di muka setiap kita yang mengaku Protestan.

Iklan

Nurani dan legalisasi

Juni 28, 2019 pukul 7:14 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

2 Raja-raja 5:18 (TB) Dan kiranya TUHAN mengampuni hambamu ini dalam perkara yang berikut: Apabila tuanku masuk ke kuil Rimon untuk sujud menyembah di sana, dan aku menjadi pengapitnya, sehingga aku harus ikut sujud menyembah dalam kuil Rimon itu, kiranya TUHAN mengampuni hambamu ini dalam hal itu.”

Tentu tanpa membaca seluruh alur cerita dari peristiwa Naaman dan Nabi Elisha yang tertera di kitab 2 Raja-raja 5 mungkin agak tidak dapat dipetik maknanya cepat. Tetapi singkatnya ketika Naaman mendapat kesembuhan dari kustanya dengan cara yang justru membuat dia marah sampai keubun-ubun, Naaman memberitahukan sesuatu yang mungkin amat sangat mengganggu hatinya selama ini kepada Elisha.

Bahwa beliau digunakan TUHAN meski seorang Aram di jaman dimana raja-raja di Israel dan Yehuda ada kecenderungan menjauh dari TUHAN, yang nyatanya di Aram ada praktek keagamaan yang berbeda.

Di Aram pelaksanaan keagamaan terhadap bukan TUHAN, dewa Rimon.

Di Israel dan Yehuda mungkin masih ada pelaksanaan prosesi pemujaan terhadap TUHAN.

Di Israel penyembahan Baal dilegalkan oleh rajanya dan bahkan dewa-dewa lain. Di Aram dilegalkan penyembahan Rimon. Di Israel ada TUHAN, di Aram ada Rimon.

Di Israel orang menyembah Baal di Aram ada yang menyembah TUHAN, yaitu Naaman.

Orang Israel menyembah Baal dengan cara menyembah Allah yang diplesetkan.

Di Aram ada yang menyembah Rimon padahal hatinya tidak di sana, ada pergolakan batin karna prinsip ketaatan kepada atasannya. Naaman terpaksa ikut menyembah Rimon karena mungkin cara penyembahannya harus gandengan tangan atau mungkin atasannya cacat entahlah yang pasti Naaman terpaksa ikut menunduk tatkala raja, atasannya, menunduk kepada Rimon.

Bukan berarti menjadi legalisasi bahwa kita bisa berbuat yang aneh-aneh meski dalam hati kita tidak setuju, tetapi lebih kepada bagaimana kita menperjuangkan nurani.

Saatnya tiba, bahwa dengan cara yang unik Naaman beroleh kelegaan.

Ada kusta, ada perang, ada budak Israel yang ditawan, ada Nabi yang diceritakan sang budak, ada cara yang tidak lajim dan ada kesembuhan kusta dan terakhir Naaman menumpahkan gejolak nuraninya. “Saya terpaksa ikut-ikutan memraktekkan prosesi penyembahan Rimon, … mohon ampuni saya”, kata Naaman.

Dan Elisha mengucapkan suatu perkataan yang menghibur hatinya. “Pergilah dengan damai”, kira-kira begitu ucapannya dalam konteks kekinian.

Mungkin saja Naaman sedang mengajari kita lain hal, bahwa kita bisa saja melabrak legalisasi keagamaan tertentu dalam praktek perang rohani dalam bathin demi terciptanya ketaatan kepada atasan atau pemerintah. Prinsipnya adalah Tuhan melihat segala sesuatu dan DIA adalah ADIL.

Iman

April 9, 2019 pukul 8:50 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Markus 2:1-5 (TB)

1 Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah.
2 Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka,
3 ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang.
4 Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.
5 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”

Pemikiran adalah potensi yang tertanam dalam setiap insan. Tentu ada kadar-kadarnya; Semua sama tidak akan membuat mudah memilih ketua kelas di dalam kelas satu sekolah dasar melainkan akan mudah menunjuk dia yang agak bergaul, atletis dan penampakannya menyenangkan. Itu contoh saja.

Potensi yang ada pada diri kita terkadang harus dipicu untuk memancar lebih dan jikalau sudah tergerak bisa bak api yang membakar sekitar di hutan kering.

Ingat juga bahwa:

Potensi yang siap meledak jika salah arah akan vatal kerusakannya.

Pengumpulan informasi yang diolah dalam pemikiran cenderung akan menghasilkan pergerakan-pergerakan bijaksana.

Dan sedemikian di kurun masa pelayanan Yesus, bahwa seantero daerah Galilea, Kapernaun tersiarlah kabar bahwa penyembuhan ada dan nyata oleh Yesus. Pengajaran yang mengagumkan dan bahkan beberapa orang menyebut: “Telah datang yang disebut kitab Musa”.

Kebijaksanaan itulah yang siap digerakkan oleh empat orang yang akan membawa seorang lumpuh untuk mendekat kepada Yesus demi keinginan atas sebuah kesembuhan; dan.. Yesus tidak dapat didekati sedemikian karna Ia sedang berada dalam kerumunan yang padat.

Kerumunan yang niscaya diterobos oleh orang yang sedang menggotong-gotong. Kalau orang pernah berada dalam kerumunan padat seperti di angkutan umum; jangankan merogoh dompet menggerakkan badan saja susahnya minta keringat.

Pengetahuan akan letak dan posisi, keadaan sekitar dan kultur rumah dimana Yesus berada mengerjakan iman mereka, alhasil… Yesus ya Yesus melihat iman mereka yang bekerja dalam segala potensi yang mereka miliki… hadiah kecilnya kesembuhan diperoleh si lumpuh hadiah besarnya iman mereka semakin membara bahwa ternyata Yesus berkenan kepada buah kerja mereka.

Iman, aktif dikerjakan oleh seluruh potensi yang tertanam di dalam kita; termasuk akal. Dan memang itu harus dikerjakan dengan akal pikiran.

Ucapan Serius

Februari 13, 2019 pukul 8:24 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Matius 9:12 (TB) Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.

https://alkitab.app/v/a8e7512065aa

Ada beberapa hal yang patut kita banggakan dari kehati-hatian di dalam pengucapan-pengucapan; dalam diskusi-diskusi dialog dan beberapa yang merasa memiliki latar belakang “wah”cenderung berbunyi mentereng.

Realistis mungkin tidak, tetapi atas nama beberapa hal sering kebijaksanaan terkalahkan begitu saja.

Ide-ide cemerlang memang dibutuhkan, lecutan motivasi yang visioner juga menjadi vitamin, tetapi tanpa dasar pelayanan semua hanya menjadi mimpi tiada arah.

Mobil reot tua karatan bisa dijadikan keindahan dalam konteks berbeda tanpa memimpikannya menjadi mobil canggih super terkini.

Perihal ajakan keras menjadikan si tua bangka itu menjadi si super adalah perjuangan; yang mungkin membutuhkan sesuatu yang supranatural, tetapi buat apa?

“Dokter” tidak dibutuhkan oleh si “mobil tua; tetapi si “pemilik ide cemerlang”.

Sayangnya, itu tadi, karena latar belakang yang mentereng, kebanyakan orang tidak bisa menyadari bahwa ia membutuhkan dokter kebijaksanaan.

Banyak yang menolak Yesus karna ia merasa tidak sedang sakit, atau sakitnya bisa disembuhkan oleh dokter lain, tho kuasa besar juga diberikan kepada manusia dan malaikat-malaikat di bumi ini, tetapi dikatakan keterpisahan dengan ALLAH adalah suatu keseriusan luar biasa. Yang menjauh dikejar oleh TUHAN untuk masuk dalam naungan kasihNya, yang dikejar merasa tidak membutuhkan, maka dengan begitu menjadi suatu pembenaran kelak dia yang merasa sehat itu akan mati kekal dalam dan bersama allahnya.

Ucapan yang benar dan serius bahkan bisa menjadi alat yang dianggap permusuhan bagi beberapa orang.. ajar kami untuk masuk ruang kesembuhanMu TUHAN.

Manusia Baru

Januari 28, 2019 pukul 1:11 pm | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Efesus 4:28 (TB) Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

https://alkitab.app/v/afd00892a59f

Di dalam Perjanjian Lama ada banyak peraturan agama yang dapat kita temui; baik dalam hukum yang kita kenal sebagai Sepuluh Perintah dan lain sebagainya termasuk hukum sunat.

Satu saja kita kutip; jangan mencuri.

Sepertinya hukum yang sama diulang kembali dalam jaman Perjanjian Baru, yaitu seperti apa yang tertulis dalam kutipan ayat di atas. Bisa disingkat sebagai jangan mencuri.

Namun ada sesuatu yang berbeda dalam peraturan baru itu, dikatakan.. jangan mencuri, tetapi tidak cukup hanya di situ kita harus bekerja keras dan baik sehingga tidak hanya berhenti mencuri dan bekerja, tetapi juga untuk dapat memberkati orang lain.

Semua hukum agama terangkum dalam hukum kasih; sedemikian pelaksanaan hukum jangan mencuri menjadi seolah tidak berfaedah jikalau kita hanya melakukan tidak mencuri. Jikalau tidak ada yang dapat dihasilkan maka mencuri akan menjadi solusi, korupsi dll;, tetapi supaya tidak mencuri maka marilah bekerja keras dan bekerja dengan baik; dan mari berkati orang lain dari hasil keringat kita sendiri tadi. Kasihi sesama;

Hukum inilah yang baru; hukum yang hanya dapat dilakukan dengan pertolongan Tuhan Sang Penolong; dan karna sedemikian maka kita menjadi manusia baru, manusia yang melakukan kehendak Tuhan dalam pertolonganNya.

Kita tidak melakukan sunat bersama Allah, itu hanya keperluan dan kepentingan kita sendiri; itu hukum lama; tetapi sekiranya kita mau menjadi manusia baru maka patahkanlah kuk hati yang lama itu biarkan Tuhan bekerja sehingga kita menjadi semakin mengenal Kristus.

Hukum lama dapat dilakukan oleh siapa saja; kita bisa tidak mencuri tidak korupsi, tidak butuh Tuhan untuk melaksanakan itu; tetapi kita butuh Tuhan untuk menolong kita dalam bekerja keras bekerja dengan baik dan memberkati orang lain.

Jikalau kita masih berjuang untuk tidak mencuri atau untuk tampil disunat; maka mungkin kita masih manusia lama, Tuhan Yesus dalam Injil belum kita kenal sama sekali.

Jikalau kita di sorga kelak apanya lagi yang dapat kita lakukan dalam hal jangan mencuri atau jangan bersunat, karna firman kekal dan berlaku di bumi dan di sorga, melainkan hanya ada saling mengasihi, itulah manusia baru; manusia yang sejak di bumi sudah dipersiapkan melakukan hukum kasih; karena Allah adalah Kasih.

Melihat Puing-puing Gereja Perawan Maria Yang Dirusak ISIS 2015 Lalu

Desember 28, 2018 pukul 11:43 am | Ditulis dalam Pemikiran | 3 Komentar

https://news.detik.com/readfoto/2018/12/28/110612/4362041/157/1/melihat-puing-puing-gereja-perawan-maria-yang-dirusak-isis-2015-lalu

Gereja Perawan Maria di Tel Nasri, Suriah dihancurkan ISIS pada 2015 lalu. Gereja itu kini tinggal puing-puing dan tidak dapat digunakan saat perayaan Natal.

Jika suatu masa Nazareth luluh lantah dan bahkan cukup lama hilang dari “peradaban” , maka bukan suatu keanehan lagi, pelan dan lambat laun apa yang terjadi dahulu akan terkuak dan terjadi lagi; akan terjadi lagi.

Bukan untuk mendekam dendam dalam kesumat asa hati, tetapi ini suatu kewajaran yang selalu akan terjadi, jangan tergoreng dalam bathin amarah yang dilampiaskan dalam ujung perselisihan tiada akhir, bukankah para pengikut awal menasehatkan dan bahkan nyata mengalami penganiayaan sampai oleh karna derita itu maka mereka dilayakkan sebagai pengikut Kristus?

Wajib menderita, memikul salib. Hanya pendakwa yang senang menggoyang emosi, menggoda untuk menuntut hak dalam kesetaraan kemanusiaan; tho kita bukan manusia biasa, kita manusia yang sudah dimerdekakan.

Selamat natal dan tahun baru.

Yang menajiskan

Juni 27, 2015 pukul 7:00 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Konteks bisa saja berbicara tentang hal-hal apa yang dilarang dan hal apa yang diperbolehkan dalam kaitannya tentang makanan dan minuman, atau tentang hal-hal prosesi, tentang tata cara, tentang apa yang layak dan tidak, dan sebagainya.

Semua itu perlu, tetapi manusia hidup bukan dari roti saja.

Mat 15:18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.

Kita sebagaimana orang yang disebutkan Protestan, sungguh tidak asing dengan ratusan atau mungkin ribuan denominasi, tidak rahasia, ada saja denominasi tertentu yang mengejek denominasi tertentu, atau merendahkan, atau menyalahkan, atau dan atau yang lainnya.
Nyata di hadapan mata, memang ada saja hal-hal yang bisa kita koreksi dari apa yang sudah membudaya, dan kemudian tidak jarang juga sebuah pertanyaan terungkapkan: “Dia itu atheis, tetapi koq lebih lemah lembut dari si Kristen yang ini?”.

Mari kita ulang kutipan singkat tentang hidup bukan dari roti saja:

Mat 4:4 Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Betul dan benar sekali; kita bukan hanya perlu mendengarkan makanan rohani di denominasi kita masing-masing, tetapi makanan itu kalau tidak terjawantahkan dalam kehidupan sehari-hari, keluar sebagai yang disebut tidak linier dengan apa yang masuk ke dalam, tak lebih kita hanya manusia-manusia najis.

“Jangan mencuri”, makanan ini tidak asing, dan tidak rahasia, sudah bagaikan garam yang awam dalam makanan.
Tetapi, yang keluar adalah….”Indonesia negara terkorup”, bisa diartikan kita belum hidup oleh Firman Allah.
Masih sebatas apa yang masuk ke dalam, belum apa yang sanggup keluar dari dalam diri kita.
Bandingkan saja “agama” yang berbeda sebagai “denominasi” yang berbeda, jika harus demikian kasarnya generalisasi dalam lingkup Indonesia di atas.

Yang menajiskan…

Ajarku ‘tuk semakin percaya

Juli 29, 2014 pukul 8:20 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 6 Komentar
Tag: , , , ,

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego adalah nama yang diberikan pemerintahan Babel kepada tiga pemuda yang terpilih. Mereka adalah pemuda-pemuda buangan dari Israel, meski demikian mereka terpelajar, sehat dan baik perawakannya. Terpilih untuk melayani di dalam pemerintahan para pemuja dewa-dewa. Nama asli mereka, Sadrakh adalah Hananya, Mesakh adalah Misael, dan Abednego adalah Azarya. Sepertinya nama-nama itu diambil dari nama-nama yang berhubungan dengan dewa-dewa Babel. Abednego contohnya, dapat diartikan sebagai anak dari dewa Nebo, pada masa itu tentu Babel menamai dewa ini bukan dewa Nebo, tetapi dalam konteks sekarang, menjadi Allah dengan nama Nebo.

Yang menarik adalah ketika mereka pada suatu ketika dipaksa untuk menyembah patung buatan pemerintahan Babel, mereka menolak. Mereka diancam akan dimusnahkan jika tidak mengikuti perintah penyembahan ‘Allah’ itu.
Jawab mereka:

Daniel 3:17-18 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Paling tidak ada dua hal yang menarik.
1. Nama para pemuda di atas diubah menjadi nama dewa-dewa Babel,
2. Para pemuda itu dipaksa untuk menyembah dewa-dewa Babel.

Ketika nama dirubah, mereka tidak melakukan sesuatu apapun untuk paling tidak menolak. Pada masa-masa sekarang tentu itu menjadi sesuatu yang bisa dikatakan tabu bukan. Karena suatu nama yang berbau dewa, nama allah lain, seseorang rela ‘berganti’ nama. Mungkin ada ritual-ritual, kedengaran aneh, tetapi kenyataannya ada beberapa orang meyakininya.
Atau katakanlah banyak orang ‘beradu’ ngotot hanya demi mempertahankan Yahweh, Yehowa, Yehova, Yesus, Allah, dan sebagainya sebagai Nama yang Ajaib itu.
Namun yang patut di ketahui dari kutipan di atas, ‘nama’ tidak menjadi yang terutama, ‘Nama’ tidak akan menjadi suatu masalah atau perdebatan, selama Pribadi, Object sembahan itu tidak diubah.

Saya tambahkan hal yang menarik yang lain. Dalam suasana pesimis sekarang ini, dalam dunia yang penuh keraguan ini, skeptik, kata pembuka atas jawab tiga pemuda di atas mungkin tidak asing bagi kita:
Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, katakanlah kita tidak perlu menelaah terlalu jauh, kita artikan saja seperti yang tertulis itu, bahwa ada sedikit ketakutan, keraguan bukan.
Dalam hal menyembah ALLAH, kita tidak meragukan tiga pemuda itu, mereka sudah merasakan hadirat TUHAN. Ketika cobaan sedikit meningkat, bayangkan dibakar di pembakaran, sesuatu yang baru dihadapkan, tidak pernah dilalui oleh pendahulu-pendahulu, maka mungkin akan terbersit sebuah kegetiran, bisikan hati: “Apakah TUHAN sanggup?”.

Relevansi cerita di atas sangat membantu kita yang senantiasa setia, tetapi bisa juga berobah arah menghujat ALLAH karena tidak mendapat perlakuan yang sama. Banyak orang mengharap perlakuan yang sama dalam plot, titik yang sama. Mengharapkan TUHAN hadir, turun dari SorgaNYA menolong setiap penderitaan. Bahkan dalam penderitaan yang tidak jelas juntrungannya. Perhatikan kalimat sederhana untuk contoh yang di-simple-kan. Seseorang meminta pertolongan yang Khalik untuk menghilangkan rasa pedas dilidahnya yang seolah membakar. Bayangkan, siapa yang tidak tahu cape pedas?, tetapi berani-beraninya memakannya, dan setelah terserang pedas, berteriak minta tolong, menyumpahi orang lain, dan sebagainya. Bukankah banyak kejadian terjadi atas kesalahan kita sendiri, tetapi lalu menyumpahi TUHAN atas segala kebiadaban kita sendiri?

Meski TUHAN tidak sanggup (dalam nada ragu) melepaskan kami dari bara api, tetapi kami tidak akan mau menyembah ‘ALLAH’ Babel, hanya ALLAH yang akan kami sembah.
Meski TUHAN tidak sanggup (dalam nada ragu) melepaskan kami dari penderitaan, tetapi kami tidak akan mau menyembah dukun, setan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan sebagainya, hanya ALLAH yang akan kami sembah…

Tidak selamanya ALLAH hadir dalam ‘bara’ api, dalam ‘perapian’ dalam theofanyNYA, tetapi keyakinan kita bahwa DIA senantiasa memelihara demi kebaikan kita, itulah yang disebut iman percaya. Tidak terlihat, tetapi pondasinya kokoh.

Maka TUHAN ajarlah kami untuk semakin percaya kepadaMU.

Pura-pura

April 13, 2014 pukul 3:45 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Berkabung adalah suatu keadaan yang tidak dapat dihindari bagi kita, mereka, semuanya yang masih hidup. Sebab jika hidup, maka siap-siaplah, kematian pasti menunggu di depan, entah bagaimana caranya.
Isak tangis biasanya tersisip di sana, sini. Kata-kata penghiburan diturunkan berupa berkat-berkat supaya keluarga yang hidup itu tetap kuat, dan bisa menyelesaikan “masalah perpisahan” sementara itu.
Berbalik dari arah berkabung itu, ada juga kegembiraan, lihat saja prosesi-prosesi kelahiran generasi baru, kado-kado berwarna-warni diberikan sebagai ungkapan kegembiraan.

Idealnya begitu, tetapi ada beberapa gerakan fisik yang menyimpang dari dalam hati, beberapa orang bisa saja begitu tabiatnya.
Maksudnya adalah, orang sedang menangis, gerak-geriknya sama juga menangis, tetapi bukan ungkapan terdalam hati, bisa saja itu hanya sebuah ‘keharusan’, “apa kata orang kalau saya tidak menitikkan air mata?”, kira-kira begitulah ungkapan-ungkapan di dalam hatinya, toh kita susah melihat hal-hal yang sudah berbau di dalam hati seperti itu. Ada banyak yang bergembira ria dalam acara yang semestinya berupa ucapan syukur, tapi siapa dapat menduga ada beberapa orang yang membawa bebannya dipundaknya, sarat, berat, hatinya luluh lantak,… geriknya ‘tak selaras dengan hati’.

Roma 12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!
Tentu kutipan ini tidak bisa dilepaskan dari ayat-ayat sebelumnya. Ayat sebelumnya menjelaskan kita umat ALLAH adalah satu tubuh, meski banyak anggota. Karena satu tubuh itulah, maka cubitan di kelingking kiri akan terasa pada semua tubuh, sebar rasa. Karena satu tubuh itulah yang memampukan untuk dapat bersuka cita bersama orang yang bersuka cita, dan menangis dengan orang yang menangis.
Di luar itu pasti adanya hanya ke-galau-an, tidak selaras, atau bisa disebutkan munafik. Jadi bersatulah dengan umat ALLAH, tanpa itu hanya ada pura-pura.

Serasa Benar

April 6, 2014 pukul 6:07 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 3 Komentar
Tag: , , , , ,

Alkitab mencatat dialog sewaktu peristiwa SALIB. Dua orang di kiri dan kanan YESUS saling melontarkan pendapatnya.
Dan ada juga para imam kepala dan para ahli Taurat, salah satunya berkata demikian:
Harap diingat sekali lagi, argument ini terlontar dari imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat, meski kita tidak terpaku kepada apa yang mereka ucapkan dan tahu sebagai menjadi pondasi kepercayaan, pastinya sepertinya mereka paham apa yang mereka tujukan atas argument itu.


Matius 27:42-43 “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.
Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.”

Kita pisah beberapa argumen beliau sebagai berikut:
1. Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan
2. Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.
3. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia,…dst

Kita membahas dua point, 1 dan 2 saja.
Jika kita terpatri pada kutipan ini, maka amat sangat benar argument mereka. Toh banyak argument seperti ini beredar dari sejak jaman itu sampai terkini, terlahir dari ahli-ahli agama, imam-imam kepala. Tuhan koq mati, ngga sanggup lawan manusia? ,… argument ini bukan tidak awam bukan?. Jamak kita dengar, awam, umum. Kemungkinan besar, argument ini melihat dari sisi ke-manusia-an Kristus. Banyak yang diselamatkan dari lapar, dari penyakit, yang buta melihat, yang pincang berlari, dan sebagainya, mungkin argument ini sangat kuat mengarah kesana. Bagaimana seorang yang menyelamatkan orang lain, malah dirinya sendiri tidak sanggup ia selamatkan?

Berlanjut ke point dua, dimana argument semakin tajam. Raja Israel. Semua umat Yahudi tahu pondasi argument ini. Sisi ini sudah menyerang sisi ke-Allah-an YESUS. Bagaimana tidak, umat Israel mengakui siapa Raja Israel, yakni TUHAN. Mengutip sebuah ayat di Perjanjian Lama :
Zep 3:15 TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.
Mereka, imam, ahli Taurat, tahu ayat ini adalah nubuat tentang Mesias yang akan datang. YESUS berapa kali mengklaim tentang penggenapan Kitab Nabi, Mazmur, kitab Musa, telah terjadi kepada YESUS sendiri, Ia menggenapi nubuat, yang mana artinya YESUS mengaku sebagai Raja Israel.

Argument di atas jika di-kini-kan menjadi: “Jika YESUS adalah TUHAN, maka …….(lanjutkan saja segala yang bisa disematkan kepada TUHAN),.. sehingga aku akan percaya kepadaNYA!”
Dari sisi perkara “politis”, arah argument di atas bisa melahirkan perpecahan hebat. Yang benar bisa salah, yang salah jika diutak-atik terus, bisa serasa benar. Serasa benarnya adalah… YESUS mengklaim sebagai TUHAN,… maka sekali lagi, kenapa tidak sanggup lepas dari salib?…. serasa benar, amat benar bagi mereka yang tertancap pada titik ini saja.

Peristiwa penyaliban dalam argument di atass, hanya setitik dari seluruh peristiwa, jikalau nurut, penyelidikan seharusnya menarik.
Yang tidak merasa menarik dan sudah membuat kesimpulan, tentu kesimpulan itu akan melahirkan keputusan “hakim” yang mentah, tidak berkebenaran, dan ujungnya tidak ada keadilannya.

Salah satu argument, pondasinya adalah, bahwa Mesias itu bukanlah semata mengklaim predikat mutlak TUHAN, tetapi
Mesias itu adalah juga sebagai pusat dari semua titik keselamatan,… nubuat itu berteriak dalam:


Yesaya 53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

dan lebih spesifik YESUS menjelaskan nubuat Mesias yang menderita itu, kepada murid-murid IA berkata:

Markus 9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.”

Maka,…justru untuk menderita IA datang, untuk mengangkut semua derita kita, kepada kematianNYA, dan membawa kita kepada kemenangan oleh kebangkitanNYA. Bukankah argument para ahli agama di atas semakin jelas? yaitu, mereka adalah anak-anak iblis yang tidak ingin:
1. pekerjaan TUHAN tuntas
2. manusia selamat.

YESUS tidak menghardik ahli agama itu, karena argument-argument seperti itu sudah menjadi seperti ideologi yang tidak dapat dilawan,… sudah membumi, mengakar.

Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Unik tapi ‘tak tidak manusiawi

Maret 10, 2014 pukul 7:10 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Yunus 4:1-2
Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.
Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.

Mungkin kita sering mendengar para pemberita berkata: “Mari kita semakin intim dan semakin mengenal TUHAN”.
Tentu ajakan itu bisa benar, dan hanya kurang detail saja.
Bayangkan seorang Yunus di kutipan di atas, bahkan karena beliau mengenal TUHAN-lah maka beliau begitu geram kepadaNYA. Jadi ajakan itu kurang mengena dengan tepat. Kadang-kadang, melihat konteks, mungkin.

Kita tidak harus bertahan kepada seolah seperti batu yang tidak berjiwa dan bergerak, tidak dinamis, kita bahkan dihebuskan roh, toh kita bisa memilah, memilih dan menilai, dan itu harga yang sangat melangit,.. karena dinamis, ALLAH yang hidup juga bisa menjadi objek dari anugerah yang diberikan kepada kita itu, salah satunya adalah mempertanyakan DIA SANG KHALIK.

Pernahkah kita mengetuk dan meminta?, dan belum ada tanda jawaban YA, terlalu sabar kita menanti, terlalu kita mengalahkan ketakutan untuk bertanya… sampai….kita memaksa…. arah hanya dua, kecewa dan dihembuskan dengan amarah, atau bersabar sampai membatu,… ada pilihan lain tentunya, yaitu KEHENDAK-MU jadilah, tetapi apa kita tahu kehendakNYA yang sebenarnya?. Kita tidak seperti Yunus yang bisa bercakap-cakap langsung dengan TUHAN, mungkin kita hanya memainkan perasaan-perasaan, indera-indera, kebiasaan-kebiasaan yang tidak lajim,…

Yunus 4:9
Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.”

Beberapa filsuf menyenangi gaya Yunus, yang tidak tedeng aling-aling, yang kesal kepada TUHAN. Orang kesal kepada jawaban TIDAK, bisa membuat orang anti TUHAN, toh TIDAK dianggapnya bukan jawaban, YA selalu dianggap jawaban, .. bagaimanapun seolah tidak dapat membedakan mana jawaban yang dipaksakan dibanding kerelaan hati atas semua jawaban. Bayangkan setiap delik pembukuan dengan angka-angka akhir disodorkan kepada TUHAN untuk dipenuhi, setelah dipenuhi, syukurnya datang,.. “Oh TUHAN menjawab doa kita”, coba tidak dipenuhi, apa masih bisa bersyukur. Justru makin banyak yang dijawab, dipenuhi angka-angka itu, semakin orang bebal, sering memaksa TUHAN.

Itukah yang terjadi dengan Nabi Yunus?,…. kalau kita membahas mutlak sang Yunus yang meski nabi, tentu unik, sampai beliau dipanggil sebagai Nabi, tetapi beliau juga tidak bisa lepas dari sisi kemanusiaannya.
Tetapi tidak hanya di sana, surat Nabi Yunus tetaplah cerita tentang cinta kasih TUHAN yang Maha Besar.

Yunus
4:10-11 Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

Meski Allah adalah ALLAH yang Murka atas dosa, tapi lihatlah kutipan terakhir yang menutup Kitab Yunus di atas…
TUHAN tidak begitu mudahnya mengumbar amarah, meski TUHAN dipertanyakan, bahkan ada kesan dipaksa dan ditekan oleh kemaauan dari sisi kemanusiaan Yunus.

Ada, mungkin, yang takut mempertanyakan ke-AKU-an TUHAN, silahkan, toh DIA bukan TUHAN yang membatu, bukan TUHAN yang membara, DIA terbuka akan itu semua, bahkan menjadi manusia-pun DIA rela, meski sejuta pertanyaan yang tidak dapat terjawab mengiringi langkahNYA.

“TUHAN” yang tidak bisa dipertanyakan adalah tirani, bukan ALLAH YANG MAHA PENGASIH.

Buktikan padaku

Desember 31, 2013 pukul 9:33 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Kata-kata yang paling menggelitik di dunia sekuler sekarang adalah..”Mana buktinya“.
Bahkan sekiranya kita memberi “bukti”, atau katakanlah sanggahan, maka paling-paling akan dibalas dengan seruan: “Tapi itukan iman…“.

Mungkin reduksi kata “iman”, sedikit dipraharakan dengan kata “meyakini”.
Kita, orang percaya, meyakini bahwa Alam semesta diciptakan ALLAH.
Kita, para murid sekolah, atau katakanlah pengagum fisika, meyakini bahwa rumus energi adalah E = mc2
Kenapa disebut meyakini?, karena dua “kita” di atas tidak menyaksikan sendiri perihal object yang diyakini, melainkan diterima sebagai suatu kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Meyakini, kita tahu itu benar, jadi tidak usah diganggu gugat.

Atau dalam istilah penemu, banyak penemu. Nama-nama disematkan untuk mengingat penemu-penemu itu.
Oleh karena suatu temuan tertentu, maka seorang akan terkenal, dan tidak perlu lagi seorang yang lain mengerjakan hal yang sama untuk menemukan hal yang sama.
Sederhananya, si A menemukan A, jadi tidak perlu si B bekerja keras untuk menemukan A, karena A sudah ditemukan si A.
Si B hanya bisa meyakini bahwa si A telah menemukan A, mungkin hanya dalam mengolah beberapa pola saja sampai si B menemukan B dari pengembangan A oleh si A. Katakanlah si B mengkorfirmasi temuan si A.

Gampangannya lagi, kita tidak musti membawa laboratorium tingkat mutakhir untuk selalu meneliti kadar nasi, supaya dapat dimakan 3 kali sehari, ya toh?, yakini saja bahwa nasi adalah makanan sehari-hari, khususnya di Indonesia.

Iman Kristen dalam banyak hal didasarkan pada pola ini.
Kita perhatikan tulisan Rasul Yohanes berikut:

1 Yohanes 1:1 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Bukankah itu pola-pola yang digunakan para penemu, dalam kolom ilmiah yang akan ia gunakan dalam mengungkapkan suatu argumentasi modern?
Ya betul, mereka mendengar, melihat, meraba, … mengolah data-data dalam statistik-statistik, rumuspun tercipta dengan pendekatan-pendekatan segresi…
Kita tinggal menggunakan hasil temuan itu, tanpa harus menjadi “penemu lagi”.

Jadi didasarkan oleh buktilah pondasi Kekristenan didirikan,….
Yakinilah hal itu,… tetapi Kristen adalah antikemapanan, kita tidak bisa stagnan di titik itu saja, kita harus jauh menyelami keyakinan itu, sampai bisa ke dalam konteks kekinian, yaitu kita turut serta merasakan, mendengar, meraba… tentang Firman Yang telah menyelamatkan itu.

Anak-anak tidak usah dibawa-bawa dalam ranah penemuan smartphone tercanggih, selain menerima bahkan beberapa game ia mainkan di sana, sudah ada khusus team lain pengembang smartphone. Artinya ada memang beberapa orang yang tidak usah repot-repot menanyakan bagaimana sesuatu itu bisa ada, melainkan realistis dengan keadaan itu, lalu menggunakannya sedemikian rupa.

Jadi kalau ada kata: “Buktikan padaku”….
Apa yang perlu dibuktikan, semua sudah terbukti,…

Jikalau semuanya harus diperjelas, satu-satunya cara adalah melalui perbuatan kita, kita tunjukkan karakter kita sebagai bukti bahwa TUHAN ada di dalam kita.

Yohanes 10:37-38 Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku,
tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”

Orang tidak selamanya bisa melihat ALLAH,… tetapi orang bisa melihat sesamanya, jika sesamanya adalah kita, yang percaya Kristus, maka baiklah orang melihat pekerjaan-pekerjaan kita, Oleh pekerjaan itu iman kita dibuktikan dengan sendirinya.

“Buktikan padaku”, …..

Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Orang tidak selamanya mengerti iman kita, tetapi orang bisa melihat karakter kita..
Bahwa para nabi, rasul dan bapa-bapa pendahulu, telah membuktikan Jalan Keselamatan itu.
Tidak ada lagi cara-cara untuk membuktikan itu selain kita meyakini apa yang sudah benar..

Buktikanlah

Salmon si Pengintai

Oktober 19, 2013 pukul 9:36 am | Ditulis dalam Apologet | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

(Mat. 1:5) Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai,…
Dan setrusnya…. Kristus secara sah hukum Israel adalah keturunan Yusuf, tunangan Maria. Darah Yusuf mengalir darah perjanjian, darah kerajaan.

Pengintaian adalah salah satu ‘prosesi’ awal dari ‘lenggangnya Israel ke Yerikho.

(Yos. 2:1) Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, katanya: “Pergilah, amat-amatilah negeri itu dan kota Yerikho.” Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ.

Jika sekiranya ada waktu silahkan buka link berikut http://en.wikipedia.org/wiki/Jericho
untuk sekedar mengetahui latar belakang Yerikho. Alkitab menarasikan Yerikho sebagai daerah yang bertembok kuat, dipastikan sulit untuk dihadapi oleh Israel, bangsa yang masih mencari tanah untuk dapat disebut sebuah negara/kerajaan.

Di Perjanjian Lama tidak ada informasi yang dapat kita gunakan untuk detail pengintai yang dikirim oleh Yosua, tetapi di Perjanjian Baru oleh Matius dijelaskan bahwa salah satu pengintai itu adalah Salmon.
Salmon adalah generasi kesekian dari Yehuda, anak Yakub cucu Abraham.

Nubuat kepada Yehuda, berupa berkat yang diucapkan oleh Yakub, bapa leluhur mereka.
(Kej. 49:10)
Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.

Perhatikan kalimat ini sekali lagi..

Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.

Penulisan silsilah dalam Alkitab yang tergolong ribet dan memusingkan itu, tentu maknanya luar biasa, dari bangsa yang terpilih ini sedang menantikan ‘dia yang berhak atasnya’, mengalir janji, mengalir darah kerajaan, … penantian dikumandangkan, siapa kah dia gerangan?

Jika suku Yehuda mengharapkan seorang ‘dia’, tentu banyak alasan untuk menempatkannya kepada orang-orang pilihan yang terbaik. Nyatanya TUHAN memilih Salmon sang pengintai menjadi contoh, model, akan DIA, KRISTUS yang akan datang, yang dinantikan itu, yang sudah datang itu.

Salmon, si pengintai, pilihan bangsanya untuk melihat bangsa luar sana, bangsa najis, Yerikho, Kanaan, dan bahkan tidak sampai di situ, ia menikahi salah satu dari penduduk kota nista itu, Rahab. Rahab sang pelacur. Bayangkan mata manusia kita melihat itu, dari kawasan najis, masih diambil orang ternajisnya menjadi istri, Salmon, menikahi Rahab.

Lihat paralelnya…
(Yoh. 3:16) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

dan

(Wah. 21:9) Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.”

dan jangan tinggalkan ayat ini

(Mar. 2:17) Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Yesus, Sang Utusan, Firman Allah yang dipilih untuk dunia ini, dunia yang nista dan kotor akan dosa, bahkan tidak saampai di situ, IA yang adalah Mempelai Anak Domba, menyelamatkan beberapa dari mereka, yang terkotor, untuk hidup yang kekal.

Jika mata manusia kita berkehendak tentu tak akan pernah kita mampu melihat ada apa gerangan dengan si pengintai Salmon sampai harus memilih Rahab sang pelacur dari kota najis, separah itukah selera Salmon?, bahkan mungkin tidak ada seorang orangtua yang sanggup mengiakan lamaran jenis itu, melamar seorang pelacur?…

Salmon disanggupkan melihat apa yang tidak dilihat mata secara kasat, ada sesuatu yang lebih berharga daripada harta, harga diri, dan sebagainya,…

Ibrani 11:31 Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.

Sesuatu pasti terjadi,… sampai-sampai seorang pelacur tiba-tiba berubah menjadi taat kepada TUHANnya Salmon.
Bacalah Yosua 2 dengan teliti.
Rahab telah beriman karena mendengar, mendengar berarti ada yang memberitakan,… ada yang memberitakan berarti ada yang pemberita, ada pemberita berarti ada yang diutus,… dan seterusnya dan seterusnya, tentu tidak asing kata-kata ini bukan? rujukannya pasti tahu dimana.

Ijinkan aku menumpasnya

September 15, 2013 pukul 12:12 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran | 1 Komentar
Tag: , ,

 2 Samuel 16:9  Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: “Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.”

Awalnya Raja Daud menyeberang ke suatu tempat, di sana Simei meradang, mengutuki Raja Daud, melempari dengan tujuan menghina…

Asal tahu saja Simei ini adalah kerabat Raja Saul, raja pertama yang memerintah Israel. Dan mereka ini adalah keturunan bermarga Benyamin.
Bayangkan betapa kesukuannya membara ketika suksesor Raja Saul melewati tanahnya. Jangan salah sangka Simei ini cukup militan, sepertinya dia tau apa yang ia perbuat, baginya suatu kemuliaan, suatu upah yang layak, tak hanya rela mati demi keyakinannya bahwa memusuhi musuh ideologinya adalah mutlak, karuan saja, meski Raja Daud dijaga pengawal-pengawalnya, meski Raja Daud dikelilingi pahlawan-pahlawan perangnya, Simei berani menghina beliau, tidak cukup dengan kata-kata; bahkan Simei melempari iringan itu dengan batu.

Abisai, dan banyak orang tulus lainnya akan berkata: “Ijinkan aku menebas penghina ini..”. Kalau kita lihat ayat kutipan di atas, Simei dikatai anjing, ingat dalam term Yahudi, term Israel, anjing adalah mahluk najis, kotor, kafir, artinya oleh hinaannya Simei sangat layak dibantai. Itu kebenaran menurut Abisai.

Kita tahu Raja Daud melarangnya, dan….
2 Samuel 19: 
16  Juga Simei bin Gera, orang Benyamin yang dari Bahurim itu, cepat-cepat datang bersama-sama dengan orang-orang Yehuda untuk menyongsong raja Daud. 17  Juga ada seribu orang dari daerah Benyamin bersama-sama dengan dia. Dan Ziba, hamba keluarga Saul, dan kelima belas anaknya laki-laki dan kedua puluh hambanya bersama-sama dengan dia datang tergesa-gesa ke sungai Yordan mendahului raja, 18  lalu menyeberang dari tempat penyeberangan untuk menyeberangkan keluarga raja dan untuk melakukan apa yang dipandangnya baik. Maka Simei bin Gera sujud di depan raja, ketika raja hendak menyeberangi sungai Yordan, 19  dan berkata kepada raja: “Janganlah kiranya tuanku tetap memandang aku bersalah, dan janganlah kiranya tuanku mengingat kesalahan yang dilakukan hambamu ini pada hari tuanku raja keluar dari Yerusalem; janganlah kiranya raja memperhatikannya lagi. 20  Sebab hambamu ini tahu bahwa hamba telah berbuat dosa; dan lihatlah, pada hari ini akulah yang pertama-tama datang dari seluruh keturunan Yusuf untuk menyongsong tuanku raja.”

Beberapa saat setelah peristiwa  itu, ketika Raja Daud kembali ke ibu kota, beliau disambut rakyatnya, Simei disana, bahkan seribu orang dia bawa menghadap Raja, ia tunduk, ….

Apa berita yang dibawanya dari prespektif Mesias?
Haleluya, Raja Daud adalah simbol Kristus, Raja segala raja, dan entah bagaimana Rasul Paulus orang Benyamin mirip dengan Simei. Simei orang Benyamin dan Saulus orang benyamin menghina Raja awalnya, berani sangat malah, keyakinan tingkat tinggi, tetapi oleh kebaikan Raja, mereka berbalik 180 derajat, dan malah bukan hanya dirinya tetapi juga membawa seribu penghina-penghina yang lain…

Toh masih banyak Simei di sini, di sana, dimana-mana, meski Sang Raja sedang melawat, hinaan yang didahulukan, yang mungkin datang dari keyakinannya masing-masing..

Jangan seperti Abisai, jangan terpikir menebas lehernya…
Jika Dia berkenan, Simei akan datang sujud sampai ke tanah…

Berubah

September 7, 2013 pukul 8:34 am | Ditulis dalam Apologet | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Titus 3:14  Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.

Beberapa ahli bahasa mengatakan kata pekerjaan di atas bisa diterjemahkan menjadi “berdagang”, dalam konteks sekarang “berbisnis”. Kata asalnya ditransliterasikan menjadi ergon dalam chreia

Toh pada masa itu memang banyak pengikut Kristus yang berprofesi sebagai pedagang. Dalam kekiniin, banyak orang yang percaya tidak melulu sebagai seorang pendeta, atau menyerahkan seluruh hidupnya kepada pelayanan-pelayanan gerejawi. Banyak dari latar belakang dengan apa yang kita sebut sebagai dunia sekularisme, chreia.

Ergon, jujur, pekerjaan yang baik, bisnis yang jujur. Itu tantangannya. Kalau kita hidup di kota metropolis macam Jakarta, dimana oportunis dan persaingan membaur, langkah paling cepat menjadi godaan yang paling membuat keringat dingin. Jika ini maka untung besar, tetapi ini jelas tidak baik, itu beberapa bisikan kontra kepada ketidakjujuran dalam berbisnis.
Kalau satu dua kali tak tersandung, maka sudah akan sedang menjadi kebiasaan, tetapi jika berani menyatakan kebaikan, itulah yang disebut belajar berbuat baik.

Jika KPk, contohnya, menangkap seseorang yang mengaku percaya, dianggap menyelewengkan keuangan negara oleh karena jabatannya, yang ternyata dia itu telah belajar lama dalam hal kebaikan, kejujuran, maka buahnya akan tertulis di koran-koran, televisi, perbincangan umum, si dia itu berintegritas tinggi, nyatanya?… karena banyak yang memilih jalan pintas, semua integritas berubah menjadi cemoohan, dan bukan hanya cemoohan perorangan bahkan cemoohan komunitas atau bisa menghina Tuhan Yang Esa.

Belajar memang nyatanya berat bagi yang belum memulai atau bagi yang telah memiliki kecenderungan tak menyukai pemikulan salib kasar. Tapi nyatanya harapan kita akan Janji Allah itu haruslah menjadi pilihan, atau mungkin bukanlah suatu pilihan lagi melainkan keharusan, ketunggalan yang terlihat di segala jembatan langkah kita.

Bisa berubah jika belajarnya dimulai atau distop.

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.