Ajarku ‘tuk semakin percaya

Juli 29, 2014 pukul 8:20 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 6 Komentar
Tag: , , , ,

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego adalah nama yang diberikan pemerintahan Babel kepada tiga pemuda yang terpilih. Mereka adalah pemuda-pemuda buangan dari Israel, meski demikian mereka terpelajar, sehat dan baik perawakannya. Terpilih untuk melayani di dalam pemerintahan para pemuja dewa-dewa. Nama asli mereka, Sadrakh adalah Hananya, Mesakh adalah Misael, dan Abednego adalah Azarya. Sepertinya nama-nama itu diambil dari nama-nama yang berhubungan dengan dewa-dewa Babel. Abednego contohnya, dapat diartikan sebagai anak dari dewa Nebo, pada masa itu tentu Babel menamai dewa ini bukan dewa Nebo, tetapi dalam konteks sekarang, menjadi Allah dengan nama Nebo.

Yang menarik adalah ketika mereka pada suatu ketika dipaksa untuk menyembah patung buatan pemerintahan Babel, mereka menolak. Mereka diancam akan dimusnahkan jika tidak mengikuti perintah penyembahan ‘Allah’ itu.
Jawab mereka:

Daniel 3:17-18 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Paling tidak ada dua hal yang menarik.
1. Nama para pemuda di atas diubah menjadi nama dewa-dewa Babel,
2. Para pemuda itu dipaksa untuk menyembah dewa-dewa Babel.

Ketika nama dirubah, mereka tidak melakukan sesuatu apapun untuk paling tidak menolak. Pada masa-masa sekarang tentu itu menjadi sesuatu yang bisa dikatakan tabu bukan. Karena suatu nama yang berbau dewa, nama allah lain, seseorang rela ‘berganti’ nama. Mungkin ada ritual-ritual, kedengaran aneh, tetapi kenyataannya ada beberapa orang meyakininya.
Atau katakanlah banyak orang ‘beradu’ ngotot hanya demi mempertahankan Yahweh, Yehowa, Yehova, Yesus, Allah, dan sebagainya sebagai Nama yang Ajaib itu.
Namun yang patut di ketahui dari kutipan di atas, ‘nama’ tidak menjadi yang terutama, ‘Nama’ tidak akan menjadi suatu masalah atau perdebatan, selama Pribadi, Object sembahan itu tidak diubah.

Saya tambahkan hal yang menarik yang lain. Dalam suasana pesimis sekarang ini, dalam dunia yang penuh keraguan ini, skeptik, kata pembuka atas jawab tiga pemuda di atas mungkin tidak asing bagi kita:
Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, katakanlah kita tidak perlu menelaah terlalu jauh, kita artikan saja seperti yang tertulis itu, bahwa ada sedikit ketakutan, keraguan bukan.
Dalam hal menyembah ALLAH, kita tidak meragukan tiga pemuda itu, mereka sudah merasakan hadirat TUHAN. Ketika cobaan sedikit meningkat, bayangkan dibakar di pembakaran, sesuatu yang baru dihadapkan, tidak pernah dilalui oleh pendahulu-pendahulu, maka mungkin akan terbersit sebuah kegetiran, bisikan hati: “Apakah TUHAN sanggup?”.

Relevansi cerita di atas sangat membantu kita yang senantiasa setia, tetapi bisa juga berobah arah menghujat ALLAH karena tidak mendapat perlakuan yang sama. Banyak orang mengharap perlakuan yang sama dalam plot, titik yang sama. Mengharapkan TUHAN hadir, turun dari SorgaNYA menolong setiap penderitaan. Bahkan dalam penderitaan yang tidak jelas juntrungannya. Perhatikan kalimat sederhana untuk contoh yang di-simple-kan. Seseorang meminta pertolongan yang Khalik untuk menghilangkan rasa pedas dilidahnya yang seolah membakar. Bayangkan, siapa yang tidak tahu cape pedas?, tetapi berani-beraninya memakannya, dan setelah terserang pedas, berteriak minta tolong, menyumpahi orang lain, dan sebagainya. Bukankah banyak kejadian terjadi atas kesalahan kita sendiri, tetapi lalu menyumpahi TUHAN atas segala kebiadaban kita sendiri?

Meski TUHAN tidak sanggup (dalam nada ragu) melepaskan kami dari bara api, tetapi kami tidak akan mau menyembah ‘ALLAH’ Babel, hanya ALLAH yang akan kami sembah.
Meski TUHAN tidak sanggup (dalam nada ragu) melepaskan kami dari penderitaan, tetapi kami tidak akan mau menyembah dukun, setan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan sebagainya, hanya ALLAH yang akan kami sembah…

Tidak selamanya ALLAH hadir dalam ‘bara’ api, dalam ‘perapian’ dalam theofanyNYA, tetapi keyakinan kita bahwa DIA senantiasa memelihara demi kebaikan kita, itulah yang disebut iman percaya. Tidak terlihat, tetapi pondasinya kokoh.

Maka TUHAN ajarlah kami untuk semakin percaya kepadaMU.

6 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Roh Kudus tolong kami supaya rajin,tekun dan selalu membaca firman Mu, agar iman percaya kami kepada Mu di kuatkan terus….GBU

    • Kami Piet Hein Frans Karinda Sekeluarga mengucapkan :

      “SELAMAT NATAL 25 DESEMBER 2014 DAN SELAMAT MENYONGSONG TAHUN BARU 1 JANUARI 2015….kepada PIMPINAN dan STAF serta seluruh KARYAWAN BAPAK…….semoga pelayanan tugas pekerjaan dibuat berhasil oleh TUHAN dan sehat-sehat selalu TUHAN MEMBERKATI “…….AMIN..!!!

      • Amin, terimakasih dan salam sejahtera selalu…
        Selamat Natal dan Tahun baru. Haleluya.

  2. Selamat hari Natal ma laeku ….
    Segala puji dan hormat hanya bagi ALLAH Bapa yang telah mengutus AnakNYA Yesus Kristus untuk menjadi manusia supaya dengan kelahiranNYA membawa terang bagi manusia dan percaya di dalam NAMANYA . amin

    • Selamat natal lae,… Tuhan Yesus memberkati kita selamanya

  3. Februari Tahun 2015 sementar lagi kita memperingati hari paskah semoga semua dosa2 kita terlepas dari darahnya yang menetes diatas kayu salib AMIN. SALAM BAHAI.GBU.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: