Buktikan padaku

Desember 31, 2013 pukul 9:33 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Kata-kata yang paling menggelitik di dunia sekuler sekarang adalah..”Mana buktinya“.
Bahkan sekiranya kita memberi “bukti”, atau katakanlah sanggahan, maka paling-paling akan dibalas dengan seruan: “Tapi itukan iman…“.

Mungkin reduksi kata “iman”, sedikit dipraharakan dengan kata “meyakini”.
Kita, orang percaya, meyakini bahwa Alam semesta diciptakan ALLAH.
Kita, para murid sekolah, atau katakanlah pengagum fisika, meyakini bahwa rumus energi adalah E = mc2
Kenapa disebut meyakini?, karena dua “kita” di atas tidak menyaksikan sendiri perihal object yang diyakini, melainkan diterima sebagai suatu kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Meyakini, kita tahu itu benar, jadi tidak usah diganggu gugat.

Atau dalam istilah penemu, banyak penemu. Nama-nama disematkan untuk mengingat penemu-penemu itu.
Oleh karena suatu temuan tertentu, maka seorang akan terkenal, dan tidak perlu lagi seorang yang lain mengerjakan hal yang sama untuk menemukan hal yang sama.
Sederhananya, si A menemukan A, jadi tidak perlu si B bekerja keras untuk menemukan A, karena A sudah ditemukan si A.
Si B hanya bisa meyakini bahwa si A telah menemukan A, mungkin hanya dalam mengolah beberapa pola saja sampai si B menemukan B dari pengembangan A oleh si A. Katakanlah si B mengkorfirmasi temuan si A.

Gampangannya lagi, kita tidak musti membawa laboratorium tingkat mutakhir untuk selalu meneliti kadar nasi, supaya dapat dimakan 3 kali sehari, ya toh?, yakini saja bahwa nasi adalah makanan sehari-hari, khususnya di Indonesia.

Iman Kristen dalam banyak hal didasarkan pada pola ini.
Kita perhatikan tulisan Rasul Yohanes berikut:

1 Yohanes 1:1 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Bukankah itu pola-pola yang digunakan para penemu, dalam kolom ilmiah yang akan ia gunakan dalam mengungkapkan suatu argumentasi modern?
Ya betul, mereka mendengar, melihat, meraba, … mengolah data-data dalam statistik-statistik, rumuspun tercipta dengan pendekatan-pendekatan segresi…
Kita tinggal menggunakan hasil temuan itu, tanpa harus menjadi “penemu lagi”.

Jadi didasarkan oleh buktilah pondasi Kekristenan didirikan,….
Yakinilah hal itu,… tetapi Kristen adalah antikemapanan, kita tidak bisa stagnan di titik itu saja, kita harus jauh menyelami keyakinan itu, sampai bisa ke dalam konteks kekinian, yaitu kita turut serta merasakan, mendengar, meraba… tentang Firman Yang telah menyelamatkan itu.

Anak-anak tidak usah dibawa-bawa dalam ranah penemuan smartphone tercanggih, selain menerima bahkan beberapa game ia mainkan di sana, sudah ada khusus team lain pengembang smartphone. Artinya ada memang beberapa orang yang tidak usah repot-repot menanyakan bagaimana sesuatu itu bisa ada, melainkan realistis dengan keadaan itu, lalu menggunakannya sedemikian rupa.

Jadi kalau ada kata: “Buktikan padaku”….
Apa yang perlu dibuktikan, semua sudah terbukti,…

Jikalau semuanya harus diperjelas, satu-satunya cara adalah melalui perbuatan kita, kita tunjukkan karakter kita sebagai bukti bahwa TUHAN ada di dalam kita.

Yohanes 10:37-38 Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku,
tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”

Orang tidak selamanya bisa melihat ALLAH,… tetapi orang bisa melihat sesamanya, jika sesamanya adalah kita, yang percaya Kristus, maka baiklah orang melihat pekerjaan-pekerjaan kita, Oleh pekerjaan itu iman kita dibuktikan dengan sendirinya.

“Buktikan padaku”, …..

Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Orang tidak selamanya mengerti iman kita, tetapi orang bisa melihat karakter kita..
Bahwa para nabi, rasul dan bapa-bapa pendahulu, telah membuktikan Jalan Keselamatan itu.
Tidak ada lagi cara-cara untuk membuktikan itu selain kita meyakini apa yang sudah benar..

Buktikanlah

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: