Berubah

September 7, 2013 pukul 8:34 am | Ditulis dalam Apologet | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Titus 3:14  Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.

Beberapa ahli bahasa mengatakan kata pekerjaan di atas bisa diterjemahkan menjadi “berdagang”, dalam konteks sekarang “berbisnis”. Kata asalnya ditransliterasikan menjadi ergon dalam chreia

Toh pada masa itu memang banyak pengikut Kristus yang berprofesi sebagai pedagang. Dalam kekiniin, banyak orang yang percaya tidak melulu sebagai seorang pendeta, atau menyerahkan seluruh hidupnya kepada pelayanan-pelayanan gerejawi. Banyak dari latar belakang dengan apa yang kita sebut sebagai dunia sekularisme, chreia.

Ergon, jujur, pekerjaan yang baik, bisnis yang jujur. Itu tantangannya. Kalau kita hidup di kota metropolis macam Jakarta, dimana oportunis dan persaingan membaur, langkah paling cepat menjadi godaan yang paling membuat keringat dingin. Jika ini maka untung besar, tetapi ini jelas tidak baik, itu beberapa bisikan kontra kepada ketidakjujuran dalam berbisnis.
Kalau satu dua kali tak tersandung, maka sudah akan sedang menjadi kebiasaan, tetapi jika berani menyatakan kebaikan, itulah yang disebut belajar berbuat baik.

Jika KPk, contohnya, menangkap seseorang yang mengaku percaya, dianggap menyelewengkan keuangan negara oleh karena jabatannya, yang ternyata dia itu telah belajar lama dalam hal kebaikan, kejujuran, maka buahnya akan tertulis di koran-koran, televisi, perbincangan umum, si dia itu berintegritas tinggi, nyatanya?… karena banyak yang memilih jalan pintas, semua integritas berubah menjadi cemoohan, dan bukan hanya cemoohan perorangan bahkan cemoohan komunitas atau bisa menghina Tuhan Yang Esa.

Belajar memang nyatanya berat bagi yang belum memulai atau bagi yang telah memiliki kecenderungan tak menyukai pemikulan salib kasar. Tapi nyatanya harapan kita akan Janji Allah itu haruslah menjadi pilihan, atau mungkin bukanlah suatu pilihan lagi melainkan keharusan, ketunggalan yang terlihat di segala jembatan langkah kita.

Bisa berubah jika belajarnya dimulai atau distop.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: