Terhukum turun temurun

September 1, 2013 pukul 6:07 pm | Ditulis dalam Pemikiran | 2 Komentar
Tag: ,

Ratusan tahun Samaria dan Yudea terpisah. Dari sejak penjajahan Babel, lalu Persia, lalu Macedonia, lalu Romawi, mereka telah terpisah. Israel terbagi dua sejak jaman akhir Raja Salomo, menjadi dua bagian Utara dan Selatan. Utara disebut Israel ibukotanya Samaria. Selatan disebut Yudea ibukotanya Yerusalem. Meski pada jaman-jaman Romawi pernah menjadi satu propinsi, toh mereka telah terpisah dalam praktek agama yang berbeda.

Turun temurun orang Yudea dalam agama Yahudi telah menghukum orang Samaria sebagai bangsa najis, kotor, kafir, tak layak disebut sebagai sesama manusia. Bahkan perintah Allah untuk mencari hanya orang Israel telah disalah mengerti bahwa hanya latar belakang Yudealah yang dapat mengecap Berita Gembira, 12 rasul toh berpikir demikian awalnya.

Mungkin pengajar-pengajar yang kita kenal bisa saja menyatakan hal-hal yang berbau demikian, bahwa si anu, si agama anu, si itu, si ini, adalah najis, kotor, kafir, tak layak dihadapan Tuhan, praktek kehidupannya jauh dari kebaikan… katanya… jauhi saja…

Lukas 17:15-16
15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,
16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

Lihat respon terhadap anugerah kesembuhan Yesus. Justru seorang Samaria yang datang kepada Yesus mengucapkan syukurnya. Kemana yang lain? Mungkinkah mereka adalah orang-orang yang merasa layak menerima karunia karena segala usaha mereka?

Pengajarkah yang salah, yang mencekokin pikiran kita sehingga menghukum orang-orang ‘Samaria’ sebagai ‘anti-Tuhan’, tanpa mengecek kebenarannya? Sementara nyatanya justru beberapa dari mereka adalah orang Israel sejati.

Roh Kudus di dalam pena Rasul Paulus menyimpulkan, justru dalam keadaan berdosalah kita di-‘jenguk’ TUHAN semesta alam, atau Tuhan Yesus berkata: “Orang sakitlah yang membutuhkan tabib”, kedua hal itu sama.

Ada orang, banyak, yang merasa sehat, mana mau dia datang kepada Tabib.
Ada orang, banyak, yang dicekokin pengajar-pengajarnya untuk membenci orang-orang lain yang dianggap kafir, najis, kotor, sampai-sampai tidak ada waktu untuk memikirkan cara mengasihinya.

Tuhan Yesus mengajarkan… kasihilah sesamamu. Berdoalah kepada musuhmu.

Memukul seorang anak dengan rotan adalah bagian dari mengasihi sang anak, dengan tidak ada ketegasan, turun temurun akan lahir generasi-generasi yang suka membangkang.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Memukul seorang anak dengan rotan adalah bagian dari mengasihi sang anak, dengan tidak ada ketegasan, turun temurun akan lahir generasi-generasi yang suka membangkang. Kami tidak mengerti……apa sebenarnya maksudnya?

    • @saudara Karinda;

      Mengasihi terkadang dipelesetkan dalam praktek “tidak boleh menghukum” dari setiap kesalahan-kesalahan, dengan menganggapnya sebagai suatu proses kewajaran. Nyatanya banyak anak-anak menjadi akan di dalam keadaan manja, jika setiap kesalahan-kesalahannya tidak dibenarkan dengan menghukumnya. Hukumam memberitahukan bahwa kelakuan seseorang arahnya sedang di dalam tidak benar, Nah kalau arah kelakuan yang tidak benar diteruskan, maka dia akan cenderung berbalik arah dari jalan kebenaran itu sendiri, seterusnya sampai menjadi sebuah budaya, jika terus menerus dimaklumi.
      Contoh: sudah menjadi suatu kewajaran bahwa setiap pekerjaan harus ada upahnya, maka setiap pengurusan KTP di kantor-kantor pemerintahan cenderung pegawainya akan kita beri “uang” sebagai tanda terimakasih, padahal hal-hal kecil begini akan melahirkan budaya korupsi, maka tidak heran Indonesia menjadi bangsa yang paling korupsi, karena sudah seolah menjadi sebuah kewajaran untuk “memberi” upah sebagai jerih lelah seseorang kepada pekerjaan yang memang seharusnya adalah pekerjaannya.
      karena sudah sedang di dalam kebiasaan umum, maka tidak heran sangat susah memberantas korupsi di negara kita ini,…. apa mau dikata bisa jadi kita adalah generasi yang dilahirkan oleh generasi-generasi pembangkang.

      Darurat…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: