Si Burung Beo yang Menggemaskan

April 28, 2013 pukul 5:07 pm | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar

Sebuah cerita tentang burung Beo yang pandai berbicara.  Dikatakan bahwa burung ini mengucapkan beberapa kata relijius. Membuat beberapa orang terkesima.  “Shalooommm”; “Haleluya…”, itulah beberapa kata yang diucapkannya.  Setiap orang yang berkunjung ke rumah si empunya Beo, maka ucapan itu mengaliri telinganya. Dan senyum hadir, kagum. …

Si burung telah terlatih mengucapkan kata itu. Dia terbiasa mendengarnya, lalu terulang terus dan akhirnya terucap begitu saja.
Mungkin jika si Beo mendengar kata yang lain secara berulang dia akan ‘nurut’ juga.
Bahkan dia tidak tau maknanya; meski beberapa orang telah bahagia karena dia.

Kolose 2: 11
Karena bersatu dengan Kristus, kalian sudah disunat, bukan dengan sunat yang dibuat oleh manusia, melainkan dengan sunat yang dibuat oleh Kristus, yang membebaskan kalian dari kuasa tabiat yang berdosa.

Si Beo bagaimanapun hanya malakukan apa yang melekat pada memorinya. Dia secara budipekerti tidak memahami makna kata-katanya. Karena hewan tidak memiliki budi pengerti. Itu yang membedakan manusia dengan hewan secara ‘jeneral’.

Tabiat mengucapkan kata relijius bisa sekejab berubah jika ternyata si beo dicekokin kata yang lain secara berulang. Konteksnya adalah si beo hanya memiliki karakter membeo; mengulang apa yang ia dengar, meski yang diucapkannya seratus persen tepat, akurat dan dapat dimengerti.
Ini disebut tabiat.

Jika kita orang yang mengaku percaya maka ada tabiat yang dimatikan. Meski tubuh sebelum dan sesudah menerima Kristus sama, secara sadar pikiran kita dapat mem-‘filter’ apa yang tidak baik di luar sana, meskipun itu berbau relijius.

Menggunakan alat-alat tertentu, jubah tertentu, bagian luar yang tampak, bukanlah bagian utama dari pertobatan. Si burung beo bisa mengucapkan kata relijius, sekaligus bisa mengucapkan kata yang tidak relijius karena ia tabiatnya hanya mengucapkan apa yang diajarkan dan apa yang melekat dipikirannya. Dia tidak dapat membatasi dirinya pada makna yang benar dan salah.
Seorang yang dimiliki Kristus bukan tipikal beo.

Meski beberapa kebiasaan relijius bisa membuat kita bahagia, terlihat baik, terlihat beradab, tetapi jika semua itu hanyalah perbuatan-perbuatan yang “membuat gemas”, “menggemaskan”, sebab kalau hati kita tidak terjangkau sebegitu dalam maka akan mudah kebiasaan itu berubah. Sampai kita bisa membedakan, menguji semua roh, maka pengenalan kita akan Kristus semakin disempurnakan, dan paralel dengah itu adalah kita bukanlah si beo yang memiliki kebiasaan mengikuti “peratuan” tanpa keberanian untuk mempertanyakan maksud dan tujuannya.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: