Pertentangan

Januari 5, 2013 pukul 10:42 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Suatu masa, pengerja agama diperhadapkan dengan pengikut yang kontroversial. Agama mengatakan peraturan-peraturan, dan agama diyakini diturunkan Sang Khalik, perintah yang harus dilakukan, jika tidak amarah Tuhan akan turun. Ingat peristiwa Ayub, beberapa sahabatnya menyatakan demikan, bahwa perbuatan kita akan “mengendalikan” kemurah hatian Tuhan, jika kita berbuat baik, Tuhan akan berbuat baik juga, mirip sekali dengan sesembahan Batak kuno, mirip sesembahan animisme, jika kita beri sesajen maka sesembahan itu akan memberikan imbalan, jika tidak, maka sesembahan akan murka. Bahkan gerak gerik harus ditata, pakaian harus diini itukan, banyak hal harus dilakukan dalam perkara badaniah, mengingatkan kita sekali lagi kepada berhala-berhala, yang seumpama berhala itu bisa melihat, maka ia hanya bisa melihat gerak gerik, tata prosesi, dan hal-hal yang di luarnya.

Jangankan masa dulu, keyakinan itu masih mendarah daging dalam beberapa orang, mereka ini terkadang akan bergosip ria, menyebarkan isu-isu, bahwa penatua harus berpakaian ini itu, pendeta harus memakai pakaian yang ini dan itu, barulah ia, mereka, layak memimpin jemaat dalam ibadah, lalu beberapa pendeta akan menjadi gemuk, supaya terlihat berwibawa, beberapa jarinya akan disematkan cincin-cincin besar supaya tampil berkharisma, dan mungkin jubah-jubah akan disematkan, supaya kelihatan mentereng.

Ada seribu peraturan, perintah, naikkan itu di pundak, maka ketika kamu sanggup mengangkatnya, kamu layak disebut taat, dan orang taat layaklah dapat sorga. Begitu singkatnya..
Bicara apa yang sanggup diangkat pundak, maka berbicara kekuatan kita. Kekuatan kita diukurkan dengan anugerah yang diturunkan kepada kita?, kemurahan Tuhan lalu disematkan sedikit demi sedikit, dibunykan demikian, Tuhan tidak membebani kita melebihi kemampuan kita. Namun itu terlalu jeneral, bagaimana orang yang konon diijinkanNya terlahir tak sanggup mengangkat beban seribu peraturan, toh seorang yang terlahir buta akan kehilangan kesempatan membaca ayat-ayat suci, jika satu dari seribu peraturan adalah award sempurna dari melantunkan ayat-ayat Tuhan, malang benar hidup beliau-beliau ini.

Terlalu banyak hal yang harus dipertaruhkan jika kekuatan kita dilinierkan dengan kasih sayang Tuhan.

Yohanes 8:36 Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”

Tuhan terlebih dahulu menyiapkan, melakukan, segala yang baik bagi kita, dan karena Dia telah melakukannya, dalam Roh Kudus yang diturunkan bagi kita yang percaya, maka jadilah kita pelaku-pelaku Firman. Sangat mudah bagi seorang buta mengasihi sesamanya, tanpa harus membaca ayat-ayat langitan bukan?. Generalnta, sangat mudah bagi kita melakukan kasih, tanpa harus berjubahkan pakaian-pakaian penghias bukan?, dan sangat tidak ada kolerasi dari berkekuatan penuh dengan memiliki hati yang mulia bukan?, bukankah orang yang memiliki lebih gampang memberikan sisa kepunyannya dibanding seorang yang kiskin memberikan seluruh kepunyannya bagi sesamanya?.

Jika Kristus telah mengangkat semua beban perintah Tuhan yang menyanggupkan kita mengenal segala potensi dosa pada kita, maka kita hanya bisa bersyukur, sebab kita telah menjadi benar-benar merdeka.
Jika seorang berkeras, sekarang ini, untuk menetapkan peratuan-peraturan yang ketat, maka cobalah cari seorang Lewi untuk memimpin ibadahnya, janganbiarkan seoarng Batak, Jawa, Kupang, Londo, atau siapaun duduk di tempat kudus, pelataran, berikan hakmitu kepada Lewi, bisa?, Roh Kudus melimpahkan berita gembira melalui tangan Rasul Paulus, berbunyi, “Sia-sialah Kristus menderita”. Itu memang sudut bahasa negatif, arahnya sama, bahwa kita telah benar-benar merdeka, sebab Kristus telah menang, dan jika kita berlawanan arah dari itu, maka kita bukan lagi orang yang percaya, bahkan kita telah menuduh Kristus belum datang sama sekali, kita melawan, berdiri sebagai penentang Kritus.

Pertentangan selalu, akan, dan terus ada, baiklah kita menjaga hati kita, supaya kita juga jangan sampai terjatuh pada dosa,

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: