Orang apakah Dia ini?

Juni 17, 2012 pukul 6:44 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 3 Komentar
Tag: , , , ,

Seorang ahli hukum, tentu menguasai hukum.
Seorang ahli matematika, tentu menguasai matematika.
Dan seterusnya.. namanya juga ahli.

Seorang nelayan tentu paham betul arah angin, batas keselamatan hidup ketika ombak meninggi, dan sebagainya.
Nelayan ahli laut/danau, tentu menguasai laut/danau.

Seorang ahli akan mengerti dan paham kapan mengucapkan pujian dan pertanyaan ketika ada “sesuatu” yang melebihi apa yang dia miliki.

Disitulah lahir pujian atau malah pertanyaan.

Itulah yang terjadi pada peristiwa sekitar 2000 tahun lalu.
Beberapa nelayan, mengarungi air, katakanlah air luas, nelayan itu adalah murid-murid YESUS. Berbicara nelayan tentu mereka tahu batas keselamatan mereka ketika badai menerjang.

Akhir-akhir ini BMKG sering memberi ‘warning’ kepada nelayan-nelayan kita, “Tinggi ombak sekian, bahaya untuk melaut”, kira-kira begitu anjurannya. Dan beberapa nelayanpun akan menghentikan pencarian ikan ke laut, karena “Uang bisa dicari, nyawa lebih penting”, kira-kira begitu slogannya.

Murihs YESUS, nelayan, masa 2000 tahun lalu itu pertama merasa nyaman mengarungi laut, karena tidak ada tanda-tanda bahaya, tetapi ketika bahaya di depan mata mereka berteriak-teriak, ketakutan..

“Kita binasa”, itulah teriakan nelayan, yang mengerti bahaya yang diakibatkan ombak dan angin yang tidak dapat dikendalikan.

Beberapa tahun yang lampau saya pernah naik speedboat dari Pulau Bunyu menuju Tarakan, tiba-tiba di tengah lautan hujan turun amat deras, angin kencang, ombak semakin tinggi. Si pembawa speedboat, saya yakin, dia merasa ada bahaya, tetapi sepertinya dia tidak mau membuat saya panik, dia terlihat tenang, dan saya memang kala itu menikmati speedboat yang terbang terpontang-panting menghantam ombak. Saya tidak mengerti bahayanya, jadi saya tenang saja. Kemudian hari setelah mengerti barulah saya membayangkan kengerian-kengerian yang diakibatkan oleh hantaman badai. Dan kengerian itu menyelimuti saya ketika berada di lautan di sekitar Thailand.

Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”
(Matius 8:26-27)

Waktu kita anak SMA jaman dulu, kalau ada teman kita begitu lihainya memainkan rumus-rumus matematika, kita akan ‘nyletuk: “Gila otak apa seh otakmu, encer kali”., atau bisa juga: “Anak siapa seh kamu”.

Kira-kira begitulah pertanyaan murid-murid YESUS, yang nota bene nelayan, ketika angin ribut mengamuk menghantam perahu mereka. Angin ribut itu diredakan YESUS… lalu…
Orang apakah Dia ini?

Jawaban pertanyaan ini bukan didapatkan dari mulut YESUS kala itu, YESUS tidak mendefinisikan, tetapi IA bertindak dan bekerja. Dan memang meski agak lama baru sadar, hampir sekitar puluhan tahun setelah peristiwa itu barulah mereka tahu siapa DIA yang meredakan angit ribut itu.
Dan karena YESUS tidak mendefinisikan, melainkan mempertontonkan KUASA dari tindakanNYA, maka sedemikianlah murid-muridNYA, pengikut-pengikutNYA, harus juga membuahkan perbuatan-perbuatan, tindakan-tindakan, “dari buahnya terlihat pohonnya”, dan jika KRISTUS adalah pokok kita, maka buah yang dihasilkanpun buah dari DIA.
Dan jika memungkinkan orang lain akan berdecak kagum kepada kita, “Siapakah dia ini?”.

Namun, ada kalanya, orang akan berteriak ironis, jika melihat orang-orang justru yang relijius yang jahatnya bukan main, dan tentu pertanyaannya bukan lagi seperti diatas, melainkan “Ngikut siapakah dia ini?

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik.
    Perbuatan yang baik tentulah dibuahkan dari pemikiran yang baik.
    Adakah seorang pengumpat memiliki pemikiran yang baik. Tentulah yang dipikirkan adalah umpatan-umpatan.

    Banyak yang berkata-kata baik untuk merayu.
    Orang merayu tentu untuk mendapatkan sesuatu.

    Pohon yang yang baik dan menghasikan buah yang baik.
    Apa yang dilakukan dan apa yang dihasilkan tentu baik untuk semua.

    He..he..he
    Berusaha menjadi manusia yang manusiawi
    Cukup baik bukan?

    Karena begitulah Yesus dengan cintanya
    Yesus memanusiakan manusia yang dianggap hina.
    Penjinah, pemungut cukai, penderita kusta.

    Bila kita sudah bisa menjadi manusia yang manusiawi
    Maka berisiaplah untuk di tanya “Pengikut siapakah kamu?”

    Maka pertannyaan itu tak perlu dijawab.

    Biarkanlah mereka yang menilai

  2. Kita takut karena kita tidak percaya..
    Kita tidak percaya karena kita menganggap Allah tidak ada dalam rencana hidup kita.
    Salam kasih lae


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: