Jadi tiang garam

Mei 31, 2012 pukul 10:13 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Lagu sekolah minggu….”Jadi tiang garam”, lalu anak-anak akan serentak diam dan mematung.
Terkadang beberapa dari mereka akan menggelitiki teman disebelahnya, bercanda, gembira, senang, bahagia.

Kebalikan dari canda tawa anak-anak tadi, kesedihan, kesalahan, kebobrokan, kekhilafan, dan sebagainya dari masa lalu bisa membuat kita amat sedih, terganggu sangat, … dan kita bisa merasakan penghakiman-penghakiman di dalam hati, kita dituduh ini dan itu…

Seperti menarik beban yang sangat berat, kita berusaha maju, tetapi seolah beban itu menancap kokoh, tidak bisa bergerak dan malah seolah menarik kita ke arah dia.
Seperti itulah ketika kita menoleh ke belakang, melihat masa silam yang kelam,… suatu saat mungkin kita sudah merasakan kemerdekaan, tetapi beban menarik deras, seolah menarik , dan….

Mungkin akan ada cerita kekalahan, bukan lagi canda tawa, bahagia, tawa-tawa kecil, melainkan tangis, keperihan, kepedihan…


Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus.
(Kisah Para Rasul 3:19-20)

Lepaskan, itu tugas, lepaskan tali kuk itu, beban berat itu serahkan kepada KRISTUS, DIA yang berurusan dengan itu, kita tidak sanggup kembali ke masa silam untuk memperbaiki kekelaman, mari memandang ke masa depan… berjalan dalam salib Kristus.
Memandang ke depan, melangkah ke depan, melihat terangNYA yang ajaib, terkadang, pada saat-saat tertentu, menginjak kerikil-kerikil kecil, menyakitkan, tetapi ingat sebelum kita mengikatkan kembali tali kuk beban yang berat itu, sebelum kita menjadi tiang garam, ingat ada SALIB KRISTUS yang sudah menjaga kita, pandanglah salibNYA, berjalanlah terus, seperti tidak terlihat, tetapi dalam iman itu jelas dan nyata.

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
(Filipi 3:13-14)

Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.
(Lukas 9:62)

Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.
(Kejadian 19:26)

….Anak-anak sekolah minggu dalam ceria bernyanyi: “Jadi tiang garam”.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: