Berani karena benar, takut karena salah (Salah satu sisi)

April 30, 2012 pukul 1:04 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 4 Komentar
Tag: , , ,

Dalam mengungkapkan atau mengkomunikasikan ide/pikiran biasanya kita gunakan bahasa. Bahasa bisa saja bentuk verbal atau sedikit ke bentuk bahasa tubuh, gerak gerik, bahasa nonverbal.

Dalam interaksi sesama, jelas ada istilah komuni, kebutuhan bersama, dan untuk menjaganya ada hukum-hukum yang menyertai, hukum tertulis dan tidak tertulis.
Dalam beberapa point kita bisa memasukkan norma-norma yang umum diterima, meski tidak tertulis, tetapi ada nuansa kuat untuk menghukum pelanggar dengan etika/moral tertentu.

Komtemporal Jakarta, yang sarat dengan beban kehidupan diwarnai dengan begitu banyaknya manusia.
Jelas terlihat dalam lalulintas, pengendara di jalanan banyak, dan jika kita perhatikan ada norma-norma jalanan, yang tidak terjangkau hukum tertentu, tetapi dijalankan secara bersama, demi kepentingan bersama. Banyak kita lihat di perempatan yang tidak ada lampu merah, beberapa menjaga posisi supaya mendahulukan pengendara yang belok langsung, atau mendahulukan kendaraan yang menaiki tanjakan ketimbang yang turun, atau sebaliknya dan seterusnya dan lain sebagainya.

Timbul suatu keadaan bahwa kompleksitas pengendara terpampang di depan mata kita, senantiasa.
Ributnya jalanan dikumandangkan dengan seruan-seruan klakson, terkadang terkesan tak karuan, garang, membabi buta, bahkan jika dibandingkan dengan budaya Barat sana, jalanan di Jakarta bagaikan praktek bar-bar.

Pemicu (salah satu sisi), adalah…sepanjang hemat saya:
Berani karena benar, takut karena salah

Seorang yang merasa melihat bahasa tubuh si anu melanggar norma tertentu, maka ia dengan praktek legalisme berhak membunyikan klakson, berhak menguasai sisi jalan tertentu, dengan .. ya dengan memamerkan wajah garang, beringas, kesetanan..(hiperbola yang mantap), karena benar, dan ia, atau sehingga ia, menjadi berani.

Bahaya legalisme. Bahaya yang senantiasa ditentang Kitab Suci.

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Habonaron do bona …..
    Kebenaran adalah akar dari segala kebaikan ..
    Jikalau kita benar dan dibenarkan Allah siapakah yg mesti kita takutkan. Dalam hal ini baru saya sadarin mereka rasul yg berani mati martir jaman dulu sampai sekarang adalah karena hati nurani mereka selaras dengan hati Allah itu sendiri.

    • Terimakasih atas kunjungannya,

      salam

  2. ANCOTEX
    Takut Karena Salah; namun kadangkala walaupun salah,Saya ( manusia )
    bertindak untuk menjadi benar nah, apa solusinya untuk mengatasi atau memberantaskan tindakan tersebut ini ?

    • shalom,

      ketika kita menjadikan diri sendiri sbgai dasar dari pengukur perbuatan, maka apapun muatannya, selalu dapat saja atau selalu mencari pembenaran sendiri, maka dengan kesadaran bahwa Tuhan ada, dan kita percaya akan Dia, maka mari meletakkan tali pengukur, pondasi kebenaran hanya pada Dia, sehingga kita akan berpikir seribu kali, berdoa dalam hati sebelum kita melakukan sesuatu apapun, jadi intinga jewantahkanlah kepercayaan kita, iman kita pada kehidupan sehari-hari, dan Kasih adalah yang terutama

      salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: