Apaaaaa?

April 28, 2012 pukul 7:01 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.
(Markus 10:24)

Hampir separuh perjalanan Mesias, Kristus, dalam pelayananNYA kepada murid-murid, murid-murid masih belum paham betul hakekat Kristus, memang Roh Kuduslah yang memberi pengertian, dan Roh Kudus belum akan turun jika Kristus masih di bumi.

Setelah Roh Kudus turun barulah mereka mengingat semua kesalahan pengertian mereka tentang Kristus, kejujuran mereka dalam mencatatkan kesalahan mereka patut dihargai, paling tidak jika kita menganggap Kitab Suci sebagai dokument sejarah.

Murid-murid mengetahui dan sudah mengakui bahwa YESUS adalah Kristus, Yang dijanjikan ratusan tahun silam, dinubuatkan oleh nabi-nabi, oleh pendahulu-pendahulu mereka. Kita dapat mengetahuinya jika kita mundur 2 pasal ke belakang dari kutipan diatas,

Ia bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias!”
(Markus 8:29)

Pengakuan ini belum berarti apa-apa jika dalam pengakuan itu ada sesuatu yang tidak searah dengan pengakuan yang benar.
Suatu masa pada awal ‘perekrutan murid-murid’ ada kisah percakapan antara Filipus dan Nathanael.
(bisa dilihat di Yohanes pasal 1)

Filipus:
“Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”
Nathanael:
“Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”
Filipus:
“Mari dan lihatlah!”

Di sini ada makna yang dikumandangkan dengan kuat, yaitu “Mari dan lihatlah!”. Kitab Suci tidak mengumandangkan tentang argument, pemikiran dan sejenisnya dalam menjelaskan tentang kepercayaannya, melainkan “Mari dan lihatlah!”, alamilah hidup bersama TUHAN maka lihatlah bahwa DIA adalah TUHAN.
Sedemikian murid-murid, YESUS menjelaskan tentang posisi Mesias bukan dengan penjelasan-penjelasan dogmatis, bukan dengan defenisi-defenisi, bukan dengan kata-kata kosong, bukan dengan dialektika, bukan dan bukan yang lain selain daripada “Mari dan lihatlah!”, murid diajak, lalu “disuruh” melihat apa kesimpulan dari keikutsertaan mereka bersama Kristus.

Sekarang kesimpulan sudah ada, bahwa YESUS adalah Mesias, mereka mengakui, tetapi mereka belum menceburkan diri kepadaNYA.
Itu jugalah perbedaan antara pakar Kitab Suci dengan pendeta-pendeta (dalam term kita disebut hamba TUHAN), pakar cepat dan lugas dalam menjelaskan Kitab Suci, mereka kuat dalam argument, mereka sadar akan itu dan siap bertempur dalam dialog, tetapi belum tentu mereka percaya kepada TUHAN yang “dilihat” dalam Kitab Suci itu.

Petrus, seperti kutipan di atas, seperti itu juga, beliau percaya YESUS adalah Mesias dari beraninya dia ikut bersama YESUS dan dari melihat apa yang YESUS lakukan, itu adalah anugerah, tetapi anugerah itu dibarengi dengan ‘memakukan’ diri kepada Salib, itu harus, bukan pilihan.
Nyatanya untuk memahami bahwa itu bukan suatu pilihan haruslah diawal dari pilihan-pilihan, dan pilihan Petrus kala itu adalah sama seperti pandangan Yahudi umumnya, bahwa YESUS yang adalah MESIAS akan memerintah alam semesta, berpusat di Yerusalem.
Jika demikian maka Petrus yang adalah murid-murid akan menjadi kaya, kenapa kaya? bayangkanlah Raja Daud, atau Raja Salomo, yang terkenal kaya oleh karena gelar Raja di Israel,… jika YESUS adalah Mesias, maka seluruh dunia akan DIA perintah, dan murid-murid akan terkena imbasnya, orang kita bilangnya ‘kecipratan’.

“Apaaaaaa?”
Itulah ucapan refleks jika apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan, jauh dari …. ya jauh dari idealisme kita.

“Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Inilah ucapan YESUS yang membuat murid-murid harus berpikir ulang, merombak idealisme, tentu kita tahu satu dari mereka setelah tercengang, malah tidak lagi mau mengikuti “Mari dan lihatlah!”. Secara daging ia mengikuti tetapi di dalam roh beliau sudah jauh, mau tahu siapa dia? “SaliB” dan “pengkhianat” itulah kata kuncinya.

Kita, Kristen, bisa juga dalam posisi yang sama, berada pada lingkaran, tetapi secara roh jauh di antah berantah, dan bahkan ada kecenderungan pendeta-pendeta, lingkungan gereja, tidak dapat mendeteksi orang-orang seperti ini, TUHAN mendeteksi, jika manusia dipandang sebagai pendeteksi belaka, dan tidak TUHAN, maka kloplah ketidakpercayaan itu, sekali lagi meski ada pada lingkaran yang mengaku Kristen.

“Mari dan lihatlah!”
dan ….
“Apaaaaa”
kata yang sama juga akan terucap jika TUHAN bekerja, dan kita didalamNYA, sebab banyak perkara yang terjadi yang di luar pemahaman badaniah kita tetapi nyata terjadi, dimengerti sepenuhnya oleh rohaniah kita, yaitu TUHAN bertindak.
bayangkan 11 Rasul sontak berteriak: “Apaaaa”, ya ketika mereka akhirnya memahami bahwa Salib, penderitaan adalah jalan satu-satunya yang harus ditempuh Kristus demi keselamatan dunia dan terus berjuang memberitakan makna “Mari dan ikutlah”. Dan 1 rasul yang gantung diri itu setelah berteriak “Apaaaa” di waktu lampau, beliau menyelesaikan teriaknya “Aaaaaaa”, dan mati sia-sia, gantung diri.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: