Yang ada padaku untuk persembahan

Maret 22, 2012 pukul 11:27 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , ,

Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita?
Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”

Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?
Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu;
dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.

Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya.
Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.
(Matius 15:1-6)

Meski dialog ini sederhana tetapi ada makna yang banyak dapat kita telusuri, salah satunya adalah bahaya legalisasi.
Contohnya sudah jelas di atas, yaitu, singkat dan sederhannya begini,
Seorang penganut Farisi, yang ketat dalam hukum dan peraturan agama, rajin memberi sumbangan berupa persembahan kepada Allah. Dan kemungkinan mereka berlomba-lomba dalam hal jumlah dan intensitas, beberapa dari mereka malah ada yang mengejar nama, supaya terlihat kaya dan wah, maka jumlahnya ditunjukkan. Bandingkan dengan seorang nenek tua yang hanya menyumbangkan 2 keping uang rendahan, tetapi YESUS bilang harganya jauh melebihi sumbangan seorang kaya.
Persaingan itu kesannya bagus, demi persembahan, disumbangkan ke Bait Allah disamakan dengan pemberian ke TUHAN, betapa mulianya, betapa indahnya,… tetapi…
Perlombaan itu menyisakan jejak yang tidak sedap, sanak saudara mereka justru tidak dipikirkan, tidak dijaga,…

Menyumbang adalah satu hal, mengasihi saudara adalah satu hal lain, tetapi kalau keduanya tidak diikat dalam satu kesatuan kasih, maka itulah yang terjadi, salah satu dilegalkan untuk mengilegalkan hal lainnya. Saya sudah mengasihi TUHAN jadi tidak perlu lagi mengasihi manusia lainnya, itulah puncaknya.

Bagaimanakah seorang menghormati ayah dan ibunya jika dia sudah menghormati Allah sepenuhnya? mungkin itulah pertanyaannya, dari segi legalisasi.
Dalam hal ini Farisi melahirkan adat istiadat sebagai penopang hubungan antara sesamanya dan cenderung lebih tinggi nilainya dibanding hukum Tuhan.
Contohnya begini, seorang orang tua memiliki sahabat karib, dua-duanya perokok berat. Salah satu anak mereka membutuhkan uang sekolah, dan memohon uang ke orang tua perokok tadi. Tetapi karena sahabat ini lebih tinggi dan dianggap lebih perlu, maka uang tadi ia pergunakan buat membeli rokok, uang sekolah itu nanti saja.
Itulah yang terjadi pada Farisi di atas, karena merasa sudah dekat sekali denan TUHAN, dan oleh karena itu hal lainnya dianggap tidak perlu. Padahal hukum yang mendasari seluruh hukum adalah silang mengasihi ALLAH dan mengasihi sesama.
Itu juga akan terjadi dengan orang-orang yang cenderung merasa lebih dekat kepada Allah, tetapi gagal dengan hubungan sesamanya, mereka akan seperti beberapa Farisi itu, dikecam oleh YESUS, karena biasanya mereka ini tidak akan segan-segan lagi untuk menghakimi, untuk mengkafirkan orang lain dan sebagainya.
Hubungan sesama ini selalu ditarik ke hubungan tingkat mendasarnya yaitu hubungan di keluarga.

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.
Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
(Efesus 6:1-4)

Seorang anak akan menjadi orang tua juga kelak, dan mereka akan terdidik sebagai orang tua yang baik dan benar jika pada masa anak-anaknya mereka menghormati orang tua yang terdidik dan hidup dalam keadaan yang baik pula. Dimana keadaan itu diikat di dalam TUHAN. Dua-duanya terikat sempurna, karena yang mengikat adalah Yang Sempurna, tanpa bergerak dari apa yang sanggup kita berikan.
Farisi bergerak dari apa yang sanggup dia berikan, maka ia sanggup memberikan persembahan yang banyak, dan karena sudah memberikan jumlah yang banyak maka ia sudah tidak sanggup lagi memberikan untuk keluarganya sendiri, dan karena Allah dianggap lebih penting, maka yang lainnya menjadi tidak penting lagi.
Tetapi Roh Kudus dalam hikmat Paulus telah menyempurnakan pengetahuan kita, bahwa kita harus bergerak di dalam Tuhan, melihat apa yang sanggup Tuhan lakukan, dan kita mengikuti jejakNYA.
YESUS adalah Tuhan, mengasihi ALLAH dengan setia mengikuti apa yang Bapa suruh/lakukan, dan sekaligus mengasihi manusia bahkan sampai rela mati. Dasarnya adalah Tuhan, YESUS diutus dan mengikuti semua yang Bapa inginkan, sekaligus melepaskan kehendakNYA demi kasih kepada manusia,.. terikat sempurna dalam simbol salib yang kasar tetapi menggema itu.

Sebagai Kristen abad ini, mungkin kita harus belajar, bahwa pengumpulan uang yang wah dan banyak hanya demi membangun rumah ibadah, gereja, terkadang membungkam kita, menutup mata kita, kepada banyaknya saudara kita sendiri yang terlantarkan, diterlantarkan karena pilihan.
Bukan berarti membangun rumah ibadah tidak bisa atau tidak boleh, yang menjadi masalah adalah ketika pilihan dikedepankan, maka pilihlah sesuatu yang bijaksana, ikatlah kasih ke ALLAH dan kasih ke sesama adalah dasar dari segala hukum, dan tidak ada yang menentang kedua hukum ini.

Yang ada padaku, semuanya, untuk persembahan, persembahan kasih yang tertancap dalam model SALIB, ke Atas dan ke sesama.

Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”
(Markus 12:42-44)

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: