Ketika theologia kita diuji

Maret 16, 2012 pukul 8:44 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 13 Komentar
Tag: , , ,

Mengenai dialog Ayub ada 3 kali dibahas di blog ini;
Dialog-para Relijius 01
Dialog para Relijius 02
Dialog para Relijius 03

Theologia berasal dari bahasa Yunani, yaitu Theos(TUHAN) dan Logia (firman), jadi sederhananya Theologia adalah Firman-firman TUHAN atau ucapan-ucapan TUHAN.
Theologia sendiri sudah menjadi cabang pengetahuan tersendiri, sehingga banyak arti yang bisa diambil dari kata ini, beberapa orang berkata Theologia adalah dialog pemikiran yang berhubungan dengan TUHAN, ada juga tentang ilmu pengetahuan tentang yang ilahi.

Dalam term sederhana saya, kata theologia dalam judul di atas sebagai “Pemahaman kita tentang TUHAN”.

Dari tiga judul dialog di atas kita temua adanya pemahaman-pemahaman yang berbeda, meski TUHAN YANG ESA-lah yang diucapkan dan dibahas.
Singkatnya begini, sahabat Ayub berpendapat, atau memandang TUHAN itu samat adil, dimana letak keadilan itu dapat dilihat dengan nyata pada kehidupan kita. Sampai di sini mungkin masih dapat kita terima. Pengejawantahan keadilan itu dalam kehidupan itu, itulah yang kemudian membedakan sahabat Ayub dengan Ayub sendiri. Sahabat Ayub berpikiran bahwa penderitaan Ayub disebabkan oleh kemungkinan pelanggaran Ayub atas hukum-hukum TUHAN. Pemikiran ini dapat didasarkan pada thema “TUHAN pasti menolong hamba-hambaNYA dan melimpahkan mereka berkat”, atau “TUHAN mengganjar orang sesuai dengan kelimpahan jika ia taat”.
Logikanya begini, saudara akan berbuat baik kepada seseorang, karena seseorang telah lebih dahulu berbuat baik kepada saudara.
Jadi TUHAN membuat Ayub berkelimpahan dengan harta dan kebahagian karena Ayub telah berbuat segala kebaikan dihadapan TUHAN, itulah theologia sahabat-sahabat Ayub.
Dan lebih jauh lagi ke dalam, salah satu dari mereka malah berkata..
“Mungkin penderitaanmu ini masih sebagian kecil dari hukuman yang akan datang, hukuman ini masih kecil karena TUHAN Maha Penyayang, jadi akuilah dosa-dosamu dihadapanNYA”.
Bayangkan penderitaan Ayub, beliau dalam sehari langsung kehilangan semua harta bendanya, bahkan anak-anaknya mati seketika, ia jatuh miskin, borokan, bau,…dihujani tuduhan-tuduhan, disalah mengerti sahabatnya,….bahkan istrinya mulai memarahi beliau, penderitaan apa lagi yang lebih ngeri dari itu? kata sahabatnya itu masih tidak seberapa, masih terlalu kecil, karena TUHAN masih menahan penderitaan yang lebih besar, karena IA MAHA PENYAYANG.
Beliau berkata begitu masih berangkat dari pemikiran bahwa Ayub telah melakukan kesalahan di hadapan TUHAN. Artinya dalam sisi positif, TUHAN akan selalu memberi berkat, bagi orang-orang yang melakukan kebenaran. Jadi karena Ayub menderita, maka dipastikan TUHAN tidak sedang memberkati, dan kenapa tidak diberkati? karena Ayub pastilah pendosa berat.

Dalam akhir kisah dari kitab Ayub, kita ketahui theologia sahabat-sahabat Ayub adalah salah besar.
Thelogia Ayublah yang benar. Pembuka kitab Ayub dapat kita lihat bagaimana iblis membeberkan pemikirannya.
“Karena ENGKAU menjagai Ayub, memagarinya, maka ia taat kepadaMU”, itu tuduhan iblis, jika kita perhatikan tuduhan itu, sama persis dengan sahabat Ayub.

Renungan kita adalah meski yang kita membicarakan TUHAN ALAM SEMESTA, tetapi bisa jadi pondasi pemikiran kita itu sama dengan pondasi si Iblis, si Ular Tua.

TUHAN dalam MAHA BIJAKSANA mengijinkan Iblis membuktikan sendiri tuduhannya, dan ternyata … tak satupun penderitaan Ayub yang sanggup menggoyahkan percayanya kepada TUHAN. Tuduhan tak mempan.
Kenapa? karena Ayub memiliki theologia, pemikiran yang benar, yaitu Yang paling berharga adalah hubungan dengan TUHAN. Ketika harta dan anaknya semua lenyap, apa yang ditangisi Ayub? bukan hartanya, tetapi bagaimana hubungannya dengan TUHAN. Ayub diam seribu bahasa bukan menangisi penderitaanya, tetapi menunggu hadirat TUHAN. Sehingga ketika TUHAN datang sendiri kepada Ayub, apa yang terjadi? apakah TUHAN menjawab semua pertanyaan Ayub? TIDAK, justru ada kesan bahwa TUHAN malah yang balik menanyai Ayub, tetapi meski TUHAN tidak menjawab satupun pertanyaan Ayub, dan malah menjelaskan siapa TUHAN sebenarnya, kenapa Ayub puas? kenapa Ayub senang?, karena yang beliau tunggu adalah hadirat TUHAN sendiri, hartanya yang paling berharga, ia tahu TUHAN tidak menjauh dan meninggalkan beliau.

Sekitar tahun 60-Masehi, theologia Rasul Paulus juga dipertanyakan. Jemaat pertama yang menerima Kristus dalam kerasulan Paulus diperkirakan adalah Jemaat di Galatia. Jemaat di Galatia sering dibina dan dibimbing oleh penatua-penatua dari Yerusalem. Karena itulah kejadiannya, bahwa setiap jemaat di luar Yerusalem, akan selalu mendapat kunjungan dari penatua-penatua, soko guru, murid-murid awal, Rasul-Rasul lain, bisa jadi diantaranya adalah Rasul Petrus, Rasul Yakobus, Rasul Yohanes, dan lainnya.
Dari sekian penatua yang datang dari Yerusalem adalah mereka yang datang dari latar belakang Yahudi yang ketat. Mereka ini berceramah di Galatia, lalu memberi pemikiran begini :”Kalian akan sempurna keselamatannya jika kalian mematuhi hukum-hukum agama Yahudi, hukum taurat”, dan bahkan dikatakan jauh lebih dalam lagi: “Kalian akan beroleh selamat jika kalian mematuhi hukum taurat”.
Mungkin pondasi pemikirannya jelas, yaitu bahwa seorang yang taat kepada ALLAH tentunya adalah seorang yang mematuhi perintah dan larangan TUHAN, perintah dan larangan itu adanya di taurat, jadi selamatlah kita jika kita melakukan hukum taurat. Selidiki kata dan pemikiran ini, itu identik dengan pemikiran sahabat Ayub, polanya sama. Intinya saya berbuat baik karena Anda berbuat baik kepada saya. Hukum jual beli. Rasul Paulus melandaskan pemikirannya pada fakta yang terjadi, ia berkata :”Hey penduduk Galatia, katakan kepada saya, apakah kalian menerima ROH KUDUS ketika kalian telah melakukan Taurat, atau ketika kalian percaya kepada YESUS?”. Ingat penduduk Galatia yang disebut Rasul Paulus adalah penduduk yang tidak satupun tunduk sepenuhnya kepada Taurat, orang Yahudi mengatakan mereka itu adalah kafir, tadinya kafir. Jadi Roh Kudus turun kepada orang percaya jauh sebelum mereka mengenal satu titikpun hukum taurat.. relasi, hubungan, hadirat TUHAN datang sebelum mereka tahu hukum larangan dan perintah TUHAN, jadi jangan terbalik, jangan menjadi bodoh, ingat Abraham dikatakan TUHAN sebagai orang benar bukan karena hukum taurat karena hukum taurat belum ada, tetapi ia dikatakan benar karena imannya, itulah thelogia Paulus, itulah pemikiran Paulus.

sekali lagi..

Renungan kita adalah meski yang kita membicarakan TUHAN ALAM SEMESTA, tetapi bisa jadi pondasi pemikiran kita itu sama dengan pondasi si Iblis, si Ular Tua.

Seperti Paulus/Ayub melandaskan thelogianya kepada Alkitab, juga orang-orang yang berlawanan dengan mereka, tetapi sekali lagi hubungan kita dengan TUHAN akan dominan mewarnai perbedaannya.

13 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Salam kasih. Matius 19:9. Markus 10. Roma 7:3. 1 korintus 7. Klo menurut theologia bgm sebenarx arti ayat tersbt dalam arti bgm 1. (posisi orang Ɣªηƍ di Ceraikan) sm pasanganx sementara Ɣªηƍ menceraikan ƧƱƌǎЂ menikah lɑ̤̥̈̊ƍΐ?? 2.apakah itu Zinah namax apa tidak mesti di perkawinan kedua mendapat berkat lɑ̤̥̈̊ƍΐ dr Grj?? 3.klo zinah apakah org Ɣªηƍ di ceraikan bisa menikaah la gi dgn alasan zinah ato bgm?

    • Salam kasih;
      saya ambil pokok2 dari ayat yang saudara kutip, sbb:

      Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”
      (Mat 19:9)

      Lalu kata-Nya kepada mereka: “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.”
      (Mar 10:11-12)

      Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain.
      (Rom 7:3)

      Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.
      (1Kor 7:11)

      mari kita melihat jawaban Yesus dikutipan Markus mengenai pondasi pernikahan,
      Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
      (Mar 10:6-9)

      point utamanya:
      – Suami-istri adalah lembaga yang dibentuk oleh ALLAH sendiri, bukan atas kemauan si laki-laki atau si perempuan, karena itulah umat ALLAH meletakkan pernikahan sebagai salah satu SAKRAMEN KUDUS, karena dua dijadikan satu, secara manusia suami-istri adalah dua, tetapi TUHAN sudah satukan menjadi satu.
      – Apa yang sudah disatukan TUHAN, tidak boleh diceraikan manusia, karena TUHAN yang mempersatukan.
      – Kematian adalah hak TUHAN, jadi hanya TUHAN melalui kematian yang bisa memisahkan suami istri.
      – Selama suami-istri hidup, berarti mereka akan tetap satu.

      Oleh karena itulah, ketika seseorang sudah dipersatukan oleh TUHAN, dengan cara apa lagi seseorang ingin membuat dirinya satu, atau tuhan mana lagi yang bisa mengikat dia menjadi satu sangat tidak mungkin TUHAN mengingkari DiriNya sendiri, kecuali tuhan lain (ingat di PL perjinahan disamakan dengan penyembahan allah lain, tuhan lain).

      Berbagai penjelasan di PB sudah kita perhatikan bahwa umat ALLAH adalah anti legalisme, sedemikian dijelaskan oleh ayat kutipan di atas, bukan karena seseorang berjinah lalu legal untuk bercerai, melainkan karena seseorang bercerailah maka perjinahan sudah diambang pintu, oleh karena itu di Korintus orang-orang mengajukan pertanyaan2 kepada Paulus, dan salah satu kondisinya adalah bahwa ada beberapa orang Kristen awal yang ternyata tidak sengaja telah bercerai, contohnya adalah seseorang menjadi bercerai karena si suami telah percaya kepada YESUS, sementara si istri belum sehingga ada perpecahan, atau sebaliknya, lalu dinasehati oleh Paulus, meski salah satu tidak percaya, pernikahan tetap harus tidak boleh dilanggar selama suami istri itu masih hidup (artinya masih dipelihara TUHAN), jadi dalam kondisi di atas, jika ada seorang bercerai oleh kemungkinan alasan perbedaan ideologi, maka sebisa mungkin upayakan perdamaian, kalau tidak bisa berdamai, maka jangan menikah, karena kalau menikah itu sudah berzinah.

      Hubungan suami istri diibaratkan sebagai hubungan Kristus Kepala Gereja dengan Gereja,…
      salah satu pointnya adalah bahwa Kristus hanya satu, ESA, TUHAN YANG ESA, dan karena Kristus telah datang maka tidak mungkin ada lagi Kristus yang lain, melainkan kristus-kristus palsu (anti Kristus)

      salam

      • Trima kasih banyak atas balasanx.jd menurt om@Par,bgm Ɣªηƍ sebaikx/seharusx Ɣªηƍ di lakukan pihak Ɣªηƍ. DiCeraikan sementara pihak Ɣªηƍ Menceraikan sudah Menikah lɑ̤̥̈̊ƍΐ sementara perkawinan Ɣªηƍ pertama ƧƱƌǎЂ di resmikan di Gereja? Apakah pihak Ɣªηƍ di Ceraikan gak bisa menikah la gi dgn alasan apapun sementara Ɣªηƍ menceraikan ƧƱƌǎЂ menikah la gi? Mohon bimbinganx

      • Salam kasih;

        Pihak yang diceraikan jika menjaga ‘kesatuannya’ dalam pernikahannya sebelumnya tidak disebut berjinah selama dia tidak menikah lagi dan selama yang menceraikan itu belum meninggal. (dapat dilihat di ayat kutipan saudara 1 Korintus 7:11 atau Roma 7:3)

        Pihak yang menceraikan, jika menikah lagi adalah seorang pejinah.
        (dapat dilihat di kutipan saudara di Matius 19:9, Markus 10, 1 Korintus 7:11 dan tentu Roma 7:3)

        Jika seorang telah menerima dan percaya kepada Sakramen Kudus pernikahan, maka mereka percaya TUHAN telah mempersatukan,…
        jika apa yang sudah TUHAN persatukan, meski secara manusia terlihat terpisah (bercerai), maka adalah perjinahan jika mereka menikah lagi dengan alasan apapun.
        Membuat lembaga pernikahan baru di luar pernikahan pertama jelas adalah melanggar iman percaya itu sendiri, itulah yang dihubungkan dengan jinah di PL, yaitu menyembah allah lain, menuhankan allah lain.
        Karena kita percaya telah dipersatukan TUHAN, maka dapatkah kita meminta TUHAN mempersatukan lagi dengan orang lain?….

        Di luar itu adalah kekeraskepalaan, itu kata YESUS…dan jelas banyak tokoh2 di PL yang keras kepala, dan terlihat keturunannya kacau, contoh pertama Raja Daud..

        salam

      • Makasih ats penjelasanx. @Par, meski secara manusia terlihat terpisah (bercerai), maka adalah perjinahan jika mereka menikah lagi dengan alasan apapun. — Jd meski perkawinan pertama mendpt. BERKAT’ dr grj,trs Ɣªηƍ menceraikan di perkawinan keduax mendapat ‘BERKAT’ LAGI dr grj krn katax alasan SESUATU entahlah sy kurang mengerti jg mengapa bisa demikian padahal di perkawinan pertamax pernikahanx bukan atas dasar Paksaan,bukan jg di menikah di bawah umur

      • Makasih ats penjelasanx. @Par, meski secara manusia terlihat terpisah (bercerai), maka adalah perjinahan jika mereka menikah lagi dengan alasan apapun. — Jd meski perkawinan pertama mendpt. BERKAT’ dr grj,trs Ɣªηƍ menceraikan di perkawinan keduax mendapat ‘BERKAT’ LAGI dr grj krn katax alasan SESUATU entahlah sy kurang mengerti jg mengapa bisa demikian padahal di perkawinan pertamax pernikahanx bukan atas dasar Paksaan,bukan jg di menikah di bawah umur, apakah itu di bolehkan menurut Theologi ttg BERKAT Ɣªηƍ kedua itu? Legal apa tidak ataukah bisa di namakan zinah meski udah dpt berkat dr grj? Mohon bimbinganx la gi

      • Seperti kutipan saudara, saya kira sudah jelas pondasinya.
        Pernikahan adalah prakarsa TUHAN, dan kecuali oleh karena kematian tidak ada yang memisahkan (note: kematian adalah hak TUHAN).

        Gereja memang “bertindak” sebagai “wakil/perantara” dalam prosesi yang disebut Sakramen Kudus Pernikahan, tetapi kembali ke awal, meski Gereja sebagai “wakil/perantara” di dalam iman TUHANlah yang mempersatukan, jika kita beriman dalam sakramen yang pertama, maka iman macam apa lagi yang bisa mempersatukan kita? tidak ada, karena TUHAN kita ESA, artinya hanya tuhan lain “yang bisa” melakukan hal seperti itu.

        Apakah Gereja bisa salah? jelas bisa, toh dari awal banyak gereja-gereja palsu.
        Jika Gereja memahami arti Sakramen Kudus pernikahan, maka tentu jika mengetahui calon mempelai adalah calon2 pejinah, dalam Nama Kristus Kepala Gereja, pasti menolak permintaan itu.
        Artinya Gereja bisa saja memberkati, tetapi apakah Gereja yang dimaksud adalah Gereja yang adalah “wakil/perantara” Kristus, atau Gereja yang kepadanya adalah Kristus?

        Nyatanya banyak gereja2 yang melakukan kesalahan dalam hal pernikahan ini, diberkati di Katolik, lalu cerai dan menikah secara Protestan, dan sebagainya dan sebaliknya…
        Meski gereja dapat ditemui praktek yang salah seperti itu, tetapi bukanlah demikian hakekatnya yang diajarkan oleh Kitab Suci.

        salam

      • @Om Parhobass

        Nyatanya banyak gereja2 yang melakukan kesalahan dalam hal pernikahan ini, diberkati di Katolik, lalu cerai dan menikah secara Protestan, dan sebagainya dan sebaliknya…
        Meski gereja dapat ditemui praktek yang salah seperti itu, tetapi bukanlah demikian hakekatnya yang diajarkan oleh Kitab Suci.

        :
        :
        Sekedar ingin kejelasan nih Om……
        :
        Bagaimana cara mengklasifikasikan, tolok ukur dan dasar acuan yg dipakai guna menentukan ajaran atau sakramen yang dilakukan Gereja, Pendeta, Pastor dll tsb SALAH atau BENAR, sementara masing-masing institusi dan tokoh2 Gereja tsb menyatakan dengan penuh keyakinan (iman) bahwa apa yg mereka ajarkan, berlakukan dan berkati adalah implementasi kasih yang hidup dalam KRISTUS dan ajaran ALKITAB?
        :
        Salam

      • para jagoan theologi mendasarkannya secara berbeda:
        Luther berkendaraan iman,
        Calvin berkendaraan ratio,

        tetapi pondasi utama mereka berdua adalah Kitab Suci.
        dan itu juga yang mendasari diskusi saya di sini, semua pembahasan saya dengan saudara terkasih di atas termaktup di Kitab Suci

      • @Par,Makasih banyak atas bimbinganx. Kirax aku slalu di kuatkan dgn blog ini. TUHAN memberkati. Di tunggu lɑ̤̥̈̊ƍΐ tulisan2 terbarux

      • salam dan terimakasih juga atas kunjungannya di blog ini….

        shalom

  2. […] atau diulas lagi di: Ketika Theologi kita diuji […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: