Lebih masuk akal yang mana?

Maret 14, 2012 pukul 9:10 am | Ditulis dalam Pemikiran | 2 Komentar
Tag: , , , , ,

Dari segi pelajaran teks, maka jaman Ayub disejajarkan dengan jaman Abraham. Bicara nubuat tentang Mesias kita disuguhi suatu keadaan dari diri Ayub perihal Mesias,

<b>Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.
(Ayub 19:25-27)</b>

Ayub begitu rindu dan merana karena rindu itu. Merana karena rindu ini dapat digambarkan seperti seorang suami istri yang jarang ketemu, atau sepasang kekasih yang jarang ketemu, atau seorang yang ingin pulang kampung setelah merantau puluhan tahun, atau hal lain yang memang nyata ada, dan ia belum dapat memenuhi keadaan supaya ia dapat melihat yang ada itu, dimana yang nyata ada itu sangat ingin sekali ia lihat. Keinginan yang berat tetapi belum dapat kesampaian, itu membuat merana.

Jika para ahli berkata Abraham sejaman dengan Ayub, maka setelah kira-kira ribuan tahun berikutnya Penebus itu memang hidup, dan bangkit dari debu, dan kerinduan Ayub tetap tidak kesampaian karena beliau sudah lama mati, sudah lama menjadi debu (menggambarkan usia menjadi di dalam keadaan mati).

Posisinya adalah mungkin kita sama keadaannya dengan Ayub sekarang, yaitu menanti kedatangan Penebus keduakalinya. Janji YESUS memang begitu, bahwa IA akan datang kembali, tetapi bukan lagi seperti kedatangan yang pertama, melainkan akan datang dalam kemuliaan BAPA.

Tidak ada manusia yang percaya di dalam TUHAN YESUS sekarang ini yang tidak rindu akan hari itu.

Tetapi mari kita balik melihat ke masa lampau, setiap Kristen masa kini, yaitu orang-orang yang percaya di dalam Nama TUHAN, pasti ada keinginan berada pada masa YESUS, di kisaran Palestina sekarang ini. Melihat YESUS mengajar, membimbing… atau menyaksikan YESUS melakukan mujizat-mujizat,… pasti menyenangkan. Menjadi pengalaman yang dinginkan sekali, sekiranya, begitulah keadaannya.

Kita memang tidak dapat lagi kembali kesana. Yang kita lihat kenyataannya adalah mayoritas orang pada masa itu menolak YESUS.

Banyak hal yang diceritakan Kitab Injil mengenai penolakan itu. Jadi kalau kita berada pada masa itu, kemungkinan besar kita juga akan menolak YESUS, kerinduan kita, Kristen masa kini, berada pada masa itu adalah dikarenakan kita sudah di dalam keadaan percaya. Sama seperti Ayub, kerinduan dia yang kuat akan Penebusnya adalah karena ia sudah percaya.

Penolakan kepada YESUS dikomandoi oleh ahli-ahli agama, ahli Taurat, ahli Kitab Suci, imam-imam, kenapa bisa begitu?

Banyak point yang bisa kita ucapkan, tetapi saya menyebutkan hanya satu, yaitu YESUS itu tidak masuk akal dalam ranah/logika/tafsir mereka.

Suatu kampung di tanah Batak sana, didiami oleh orang-orang yang ketat dengan adat. Si mertua laki-laki sakit, dan akut dalam kesendirian, maka sangat tidak masuk akal jika menantu perempuannya yang merawat dia, itu diluar kebiasaan adat istiadat. Orang Batak lainnya akan berkata: “Ndang maradati” (Tidak taat adat dia itu), atau dalam term orang Jakarta disebut: “Tidak masuk akal tuh perempuan yee”. Bagi kita apa salahnya menantu perempuan merawat mertua laki-lakinya bukan? bagi kita itu tidak masuk akal kalau ada keadaan seperti itu, itu aneh menurut kita bukan? Tetapi bagi adat Batak, justru seorang menantu perempuan tidak masuk akal merawat mertua laki-lakinya.

Banyak paradoks-paradoks seperti itu kita temui.

Ketika YESUS dianggap melabrak sabbat, maka kaum Farisi berkata: “Kamu wahai YESUS, tidak masuk akal, mengaku Yahudi tetapi tidak mentaati hukum sabbat”. (penekanan penulis saja).

Banyak hal yang menurut ahli agama tidak masuk akal, tidak sejalan pikirannya dengan YESUS. Menurut mereka Mesias akan membawa kemenangan gilang gemilang, justru Mesias ini disalibkan.

YESUS memang tidak masuk akal, tetapi oleh ketidakmasukakalan mereka itu, kita beroleh anugerah.

Ketika ahli agama berkata hanya Taurat satu-satunya jalan, YESUS malah berkata: “Hanya AKU, YESUS, satu-satunya jalan ke Bapa”.

Dari pandangan kita sebagai manusia, maka apa yang dapat kita setujui, itulah yang masuk akal bagi kita. Karena apa yang dapat kita setujui cenderung diolah oleh pikiran, maka hati-hatilah, bisa jadi apa-apa yang masuk akal bagi kita, ternyata adalah suatu ketidakmasukakalan bagi TUHAN. Seperti ahli agama waktu itu, mereka berkata: “Sangat masuk akal seorang tidak dapat lagi membantu saudaranya yang sakit yang sedang membutuhkan uang, karena ia sudah menyumbangkan uangnya ke Bait Suci”. Karena memang ada hukumnya Bait Suci harus dijaga dan dipelihara, dan itu membutuhkan uang, dan ada pula tertulis “perpuluhan adalah kunci berkat”, atau membantu pembangunan Bait Suci, tempat ibadah akan mendapat keuntungan/balasan dari TUHAN, itu hal-hal yang disetujui sehingga masuk akal, tetapi Rasul Yohanes menceritakan: “Siapa yang tidak perduli kepada saudaranya, lebih buruk dari orang murtad”.

Sekarang pilih, lebih masuk akal mana…

“Seorang menjadi baik karena melakukan hukum?”, atau “Seorang melakukan kebaikan, karena memang ia baik?”.

“Sebongkah emas akan tetap menjadi emas?” atau “Sebongkah tembaga dilapisi emas akan menjadi emas?”

Seorang tidak dapat menjadi baik meski ia melakukan hukum-hukum agama,

tetapi

Seorang akan menjadi baik, jika DIA YANG BAIK ada di dalam hatinya, ia menjadi sumber.

 

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Puji Tuhan karena kasih karuniaNYA-lah serta penerangan yang kudus oleh Rohkudus kami diberi kesukacitaan dan semangat bahkan makin bertambah-tambah dalam pengertian akan firman TUHAN dan perenungan-perenungan HAKADOSH.
    TUHAN selalu memberikan Rohkudus untuk tetap semangat dan keberanian memberitakan Injil TUHAN melalui media ini.
    Tuhan memberkati Bapak dan keluarga!

    • Terimakasih telah berkunjung dan memberi semangat kepada saya…

      TUHAN memberkati kita semua,

      Shalom


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: