TUHAN menjawab perselisihan agama

Januari 17, 2012 pukul 8:42 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 24 Komentar
Tag: , , , , , ,

Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah. Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. Kata mereka: “Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka.”
(Kisah Para Rasul 11:1-3)

Pandangan bahwa keselamatan hanya kepada orang bersunat masih kental di sesama pengikut YESUS.
Pengikut YESUS perdana memang dari golongan bersunat. Golongan bersunat umum digunakan untuk penyebutan kepada pengikut agama Yahudi. Sunat di sini bukan sejenis dengan sunat-sunat yang dilakukan oleh siapa saja, melainkan menjelaskan tentang Perjanjian Sunat.

Jadi pengikut YESUS perdana adalah dari orang-orang Yahudi, baik penganut agama Yahudi maupun orang Yahudi (dalam status kebangsaan). Bagi mereka Yahudi itu khusus, karena dipilih oleh TUHAN langsung, dan tentu betapa gembiranya mereka ini ketika ternyata mereka menyaksikan Mesias yang datang, yang menggenapi Kitab Suci.

Bagi mereka menjaga kesucian juga sekaligus harus menjaga pergaulan, bergaul dengan orang yang bukan menyembah ALLAH adalah najis. Bisa menyuntikkan sesuatu yang tidak baik, pengaruh buruk.
Jumalah pengikut Kristus kala itu sudahlah banyak, perhitungan awal mencatat, diperkirakan TUHAN menamhakn orang percaya kra-kira 3000, kemudian 5000 orang. Di sini dapat dipastikan hanya dihitung berdasar jumlah laki-laki yang sudah dewasa saja, seperti umumnya perhitungan Israel. Jadi jika laki-laki dewasa ada sekitar 5000 orang berarti paling tidak jika mereka semua sudah menikah dan punya anak, maka diperkirakan ada sekitar 15.000 orang Kristen di seluruh Yerusalem dan sekitarnya.

Dan ternyata tidak cuma di Yerusalem, Sidon, Samaria dan kota-kota di luar Yehuda sudah pula banyak yang ditambahkan TUHAN kepada umatNYA, diperkirakan mereka adalah orang-orang dari penganut Agama Yahudi yang tidak semuanya dari latar belakang Israel, atau bisa juga orang Yunani. Kala itu untuk mengatakan kafir, atau mengatakan orang yang tidak percaya TUHAN, cukup dikatakan orang Yunani. Jadi orang yang tadinya tidak percaya TUHAN atau orang Yunani, sekarang telah percaya.

Masalah timbul karena ada istiadat yang mengikutinya, Yahudi memiliki istiadat yang religius dan Yunani juga demikian, masing-masing memiliki idealismenya sendiri.
Sebagai suatu bangsa yang terpilih sejak awal, dan Mesias juga salah satu dari suku Israel, maka ada nuansa merasa di atas, bahwa istiadat Yahudi adalah patokan.

Sebelum perselisihan itu terjadi, ROH TUHAN telah terlebih dahulu menjawab, yaitu melalui turunnya “tenda makanan haram yang disuruh dimakan oleh Petrus.
Peristiwa itu akhirnya memberi pemahaman kepada Petrus, bahwa ROH TUHAN telah membuka pintu keselamatan kepada dunia, kepada orang Yunani, keluar dari pusatnya, Yerusalem.

Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita. Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?” Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”
(Kisah Para Rasul 11:15-18)

ALLAH sendiri menanamkan akar yang kuat pada Yahudi, dan oleh mereka diberi tugas untuk menjangkau Yunani, sebagai bukti bahwa umat TUHAN adalah garam dan terang dunia. Dan perbedaan tentu kontras ditemukan, dan sebelum terjadi pergesekan TUHAN telah menjawab, IA memberi solusi.
Apalah solusi yang ditawarkan TUHAN menyelesaikan masalah?
Bagi yang percaya dan mengaku KRISTUS TUHAN, tentu mereka sama seperti di ayat di atas, yaitu menjadi tenang dan memuliakan ALLAH, tetapi apakah semua menjadi tenang dan memuliakan ALLAH? tidak, ada yang tidak tenang dan ada yang tidak memuliakan ALLAH, beberapa menjadi pembunuh dan perusak umat ALLAH.

TUHAN menjawab perselisihan Agama, tetapi jika kita menolak cara TUHAN dengan memaksa benak kepala kita, maka bisa jadi kita adalah orang yang tidak bisa tenang, orang yang tidak memuliakan ALLAH, dan justru perusak umat, penghujat ALLAH, sumber masalah.

24 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Permasalahannya perintah bersunat datang dari yesus, dan yesus sendri bersunat, bagaimana penulis menjelaskan fakta bahwa banyak umat kristen tidak bersunat?bukankah memuliakan itu berarti kita harus mengikuti perintahnya??

    • kalau saudara merasa bersunat penting silahkan dilakukan,
      jika saya merasa tidak penting, jangan paksa saya melakukan sunat;
      karena TUHAN tidak melihat sunat khatan saudara, yang IA lihat adalah keadaan hati/rohani saudara…

      analoginya,
      tidak semua orang bersunat berkelakuan baik bukan?
      dan tidak semua orang yang tidak bersunat juga berkelakuan baik..

      jd apa intinya?
      intinya hati siapa yang “nyangkut” di hati TUHAN,…

      Saudara melakukan hukum2 agama, itu baik,
      tapi jangan karena telah melakukan hukum agama saudara pikir bisa menyuap TUHAN..dan atau karena melakukan hukum agama saudara merasa layak dihadapanNYA…

      salam

      • Maafkan kata-kata saya,mungkin sedikit menyinggung saudara penulis, tapi jujur saya hanya ingin memberikan fakta dari apa yang saya baca dari bible yang sangat anda imani dan sumber dari agama saudara, dan mengajak anda berdiskusi mengenai ini, tidak menutup kemungkinan saya yang salah dan ngawur, karena saya yakin kebenaran hakiki hanya milik Tuhan..
        pada prinsipnya saya tidak memaksakan saudara untuk bersunat. sekali lagi tidak. saya mengapresiasi pendapat saudara mengenai ini, jika kemudian itu jawaban yang saudara sanggahkan atas pertanyaan saya, maka yang menjadi pertanyaan besar adalah
        anda pengikut siapa?
        jika anda mengatakan yesus, apakah yesus pernah mengatakan demikian ketika dia hidup? yang ada adalah fakta yesus bersunat, ini dijelaskan dalam ayat berikut
        Firman Allah kepada Abraham
        Kejadian 17:7-14
        17:7 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.
        17:8 Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.”
        17:9 Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
        17:10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
        17:11 haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.
        17:12 Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.
        17:13 Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.
        17:14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”

        Lukas 2:21
        “Sesudah berumur delapan hari, anak itu disunat. Dan mereka menamakannya Yesus, nama yang diberikan malaikat kepada-Nya sebelum Ia dikandung ibu-Nya

        Saudara mungkin akan mengatakan perjanjian pada Kejadian itu kan terdapat dalam perjanjian lama jadi hanya berlaku untuk yesus karena Yesus adalah bangsa Yahudi, jadi bagi non Yahudi tidak diwajibkan, maka akan timbul lagi pertanyaan
        1. Apa yang menyebabkan bangsa non Yahudi pengikut yesus mendapatkan keistimewaan dari pada bangsa Yahudi mengenai khitan?
        2. Perjanjian diatas bersifat kekal, seperti bunyi ayat pada kejadian 17-7, apakah Allah saudara (non yahudi) dan Allah bangsa Yahudi berbeda, hingga tidak berlaku kepada saudara (non yahudi) perjanjian tersebut?
        3. Jika saudara menuhankan Yesus, maka berdasarkan perjanjian diatas Yesus memberikan perjanjian kepada Abraham, apakah saudara hendak mengatakan bahwa perjanjian itu tidak berlaku kepada saudara padahal Yesus dan Bapa adalah oknum yang sama (sekali lagi ini menurut saudara) pada Perjanjian Baru sebagai sumber ajaran agama yang saudara ikuti?
        4. jika kitab Perjanjian lama tidak berlaku bagi saudara, bagaimana posisi ayat diatas? batalkah? atau saudara mau mengatakan bahwa saudara lebih istimewa dari pada Bapa/Yesus/Rohul Kudus karena yesus bersunat dan saudara menganggap sunat tidak penting, walaupun yang mengadakan perjanjian diatas adalah bapa yang berarti juga Yesus?
        5. jika kemudian saudara mengatakan bahwa itu hanya untuk bangsa Yahudi berdasarkan Hukum taurat/perjanjian lama dan tidak berlaku kepada saudara maka bagaimana anda menjelaskan ayat yang disampaikan Yesus ketika diatas bukit berikut:
        Matius 5:17-20
        5:17 Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
        5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
        5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
        5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

        maka apa dasar jawaban saudara mengatakan ini kepada saya
        “intinya hati siapa yang “nyangkut” di hati TUHAN,…
        Saudara melakukan hukum2 agama, itu baik,
        tapi jangan karena telah melakukan hukum agama saudara pikir bisa menyuap TUHAN..dan atau karena melakukan hukum agama saudara merasa layak dihadapanNYA…?”
        bukankah Yesus dalam hal ini Tuhan menurut saudara tidak mengatakan seperti demikian berdasarkan ayat diatas?
        Baik, saudara pun mungkin akan menggunakan ayat Paulus berikut ini
        Galatia 5:6
        Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.
        1 Korintus 7:19
        Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.
        maka sekali lagi akan timbul pertanyaan
        1. Siapa Yesus dan siapa Paulus?siapa yang paling berhak menentukan aturan bagi agama saudara?
        2. Apakah Yesus ketika menjadi Allahnya Abraham dan Yesus (ketika hidup) ketika menjadi Allahnya Bangsa Yahudi dan Nasrani berbeda dengan Yesus ketika setelah mati disalib dan menjadi Allahnya Paulus? kalau sama,knapa ajarannya berbeda? kalau berbeda, Allah siapa yang benar dari ketiga masa itu (1. masa Yesus sebelum lahir,2. masa yesus ketika hidup dan 3.masa yesus ketika sudah disalib)?
        3. saudara perhatikan kata-kata “Hukum-hukum Allah” pada korintus 7:19, apakah perjanjian kekal antara Allah dan Abraham tidak termasuk juga Hukum Allah?
        Saya tidak bermaksud menggurui saudara mengenai ajaran agama saudara, tapi saya mengajak saudra untuk memikirkan kembali jwaban saudara kepada saya. kiranya itu tanggapan dari saya,semoga saudara berkenan menjawab..
        terimkasih

      • @habib

        Saudara bersunat atau tidak bersunat tidak menjadi patokan bahwa saudara telah di dalam TUHAN ALLAH…

        contohnya gini;
        Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim.
        Tentu dengan kondisi seperti itu maka mayoritas adalah bersunat.
        Tetapi apakah dengan sunat itu lantas Indonesia menjadi negara yang tidak terkorupsi terbesar di dunia?
        Korupsi sama dengan mencuri,

        Keluaran 20:15 Jangan mencuri.
        Ulangan 5:19 Jangan mencuri.

        Jadi sia-sialah Indonesia menjadi mayoritas bersunat tetapi tetap saja menjadi pencuri, koruptor terbesar di dunia ini.

        Paulus dalam surat-suratnya menekankan tetang kasih karunia TUHAN dalam Nama YESUS Kristus, yaitu meski saudara tidak bersunat atau meski saudara bersunat, TUHAN menganugerahkan Keselamatan bukan berdasar sunat, bukan berdasar perbuatan saudara, melainkan berdasar kemurahanNYA saja, nah jika saudara telah menerima kasih karunia secara cuma-cuma apakah saudara mau meneguhkan pemberian cuma-cuma itu dengan kembali meyogok TUHAN dengan perbuatan-perbuatan saudara? Saudara dalam keadaan berdosa saja IA anugerahi kasih sayang, apalagi dalam keadaan sudah percaya ya toh…
        Paulus sekali lagi menekankan, tidak perbuatan dan tidak usaha kita dan tidak hukum sunat yang membuat orang diperhitungkan oleh TUHAN, tetapi semata karena KASIH KARUNIA-NYA…

        Saudara mungkin telah bersunat, tetapi apakah saudara bersunat pada hari ke delapan seperti Paulus yang mengikuti tradisi sunat? saya ragu
        Saudara mungkin disunat, tetapi apakah saudara juga adalah anak keturunan Abraham? sebab kepada Abrahamlah janji Sunat diberikan..
        atau…
        saudara mungkin telah bersunat, tetapi apakah saudara dapat mengetahui bahwa saudara telah diselamatkan TUHAN YESUS di salib?
        saya kira meski saudara mungkin bersunat, tetapi saudara tidak mengimani point-point di atas….

  2. Saya sangat sepakat dan mendukung saudara bahwa bersunat bukanlah satu-satunya tiket kita menuju surga, saya janjikan kepada saudara bahwa kita satu suara mengenai itu. tapi yang saudara harus ingat, bukan satu2nya itu berarti adalah salah satunya. Baik saya berikan ayat bible kepada saudara dimana yesus mengatakan:
    Matius 19:16-19
    Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah g Allah.” Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri .
    Sangat benarlah kata anda bahwa bersunnat bukanlah salah satu didalam ayat itu. saya setuju.
    Tapi dalam pasal dan ayat lain yesus kemudian mengatakan
    Matius 5:19-20
    5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
    5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
    Apa yang saudara tangkap dari Matius pasal 5 ayat 19-20 tersebut?
    Saya cuplik agar pembahasan lebih fokus
    “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
    Maka sudahlah jelas bahwa selain perintah yesus di Matius 19 : 18-19 maka anda pun diharuskan untuk mengikuti Taurat (Perjanjian lama) dimana letak perintah bersunat pun ada disitu. Saya ingatkan lagi, bersunat memang bukan satu-satunya tiket kita masuk surga tapi juga menjadi salah jika kemudian saudara menyangkalnya karena itu salah satu perintah yesus kepada saudara, karena yesus menyuruh saudara untuk mengikuti hukum taurat seperti orang2 farisi.
    Jika saudara masih menyangkalnya, saya bertanya kepada saudara, kenapa Yesus bersunat?

    Saya mencoba menjawab pertanyaan saudara
    Saudara bertanya:
    “Saudara mungkin telah bersunat, tetapi apakah saudara bersunat pada hari ke delapan seperti Paulus yang mengikuti tradisi sunat? saya ragu”
    Jawaban saya:
    Saudara tidak perlu ragu, karena saya memang tidak bersunat pada hari ke delapan, kenapa? karena saya mengikuti perintah Allah melalui Nabinya, Muhammad SAW. Nabi saya bersunat maka saya bersunat. Dan tidak ada diatur untuk masalah harinya. Sudah cukup jelas bagi saya. Selain mengikuti perintah nabi, saya melakukannya karena kesehatan, bagaimana menurut saudara?? bukannkah perintah ini perintah yang baik?
    Saudara bertanya:
    “Saudara mungkin disunat, tetapi apakah saudara juga adalah anak keturunan Abraham? sebab kepada Abrahamlah janji Sunat diberikan.”

    saya menjawab:
    kurang lebih sama jawabannya dengan jawaban saya diatas, saya memang bukan anak keturunan Abraham tapi jelas karena Nabi Muhammad menyuruh kami bersunat maka kami bersunat. Sama seperti halnya saudara, Bukankah saudara disuruh Yesus mengikuti hukum taurat? Bukankah di hukum tauratlah ada berjanjian bersunat?
    Saudara bertanya:
    “saudara mungkin telah bersunat, tetapi apakah saudara dapat mengetahui bahwa saudara telah diselamatkan TUHAN YESUS di salib?”
    saya menjawab:
    jika pertanyaan itu saudara tujukkan kepada saya, maka saya akan menjawab, keselamatan saya tidak ada hubungan dengan peristiwa penyaliban. Karena dosa saya bukan orang lain yang menanggung,tapi individu2 itu sendiri dalam kata lain, saya lah yang menanggung dosa saya sendiri, bukan orang lain. Sekarang saya balik pertanyaannya kepada saudara:
    1. Adakah yesus mengatakan dia menebus dosa saudara di tiang salib?
    2. Jika hanya dengan percaya yesus disalib untuk menyelamatkan saudara, dan saudara telah terselamatkan, untuk apa yesus membuat aturan-aturan diatas? (jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri dll)
    3. Sekarang saya mencoba mengikuti jalan pikiran saudara, Darimanakah saudara dapat mengetahui bahwa saudara diselamatkan Yesus di Tiang salib??

    Sebagai jawaban penutup, memang benar indonesia mayoritas beragama islam, dan sudah tentu mayoritas bersunat, dan fakta yang saya sangat tidak saya sangkal adalah Indonesia dinobatkan sebagai negara terkorup asia-pasifik. Tapi apakah ada korelasi agama dengan korupnya indonesia?? Jelas tidak! Karena agama islam melarang praktek korupsi, tapi jika ada individu islam yang korupsi, maka tidak lah merepresentasikan islam. Dan hukum Allah lah yang berlaku kelak di ketika dia mati. Sebenaranya contoh saudara tidaklah tepat, menghubungkan hal2 yang bersifat individu dengan agama. Sama halnya seperti ini, saudara dilarang yesus untuk berzinah dan membunuh. Saudara tau di Eropa dan Amerika praktek perzinahan adalah hal yang biasa, adakah mayoritas mereka beragama islam?? Bahkan mungkin di Italia yang sangat dekat dengan vatikan, praktek seperti itu adalah hal yang sangat biasa sekali, beragama apakah mereka?? Saudara tau istilah kata “mafia” berasal dari mana? Ya dari italia, dan italia sangat dekat dengan vatikan, bunuh membunuh adalah kewajaran. Atau di meksiko, sindikat pengedar obat terlarang yang membunuh banyak orang, adakah mereka mayoritas muslim?? Tidak perlu saudara jawab, karena saya yakin pasti saudara akan memisahkan antara perbuatan individu dengan perintah agama, walaupun kita tahu mayoritas yang berzinah disana beragama kristen.
    Kiranya itu, mohon saudara jawab pertanyaan saya
    terimakasih

    • @habib

      YESUS mengajarkan tidak ada satupun cara atau tidak ada satupun tiket yang bisa menjadikan kita beroleh hidup kekal, hanya melalui YESUS…

      Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

      Melalui YESUS berarti seperti yang IA ucapkan diktupin saudara, intinya adalah mengasihi sesamanya,…

      10 perintah ALLAH, semua Taurat dan semua kitab para nabi berdasarkan pada kasihilah ALLAH dan kasihilah sesamamu…

      “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
      (Matius 22:36-40)

      Jadi jangan seiotapun dihapuskan untuk tidak menjadi mengasihi….
      Kasihilah sesamamu….

      Keuletan dalam mengasihi itu diumpamakan YESUS seperti keuletan Farisi menjaga aturan-aturan agama, mereka bahkan tahu titik komanya Alkitab, mereka giat dalam mengajarkan Agama, mereka tidak lupa berpuasa, mereka disunat hari ke delapan seperti ajaran Kitab Suci, dan sebagainya dan sebagainya,… seperti giatnya Farisi mempraktekkan/menjaga/memelihara aturan agama, sedemikian giatnyalah kita yang percaya juga melakukan kasih….

      Untuk mempraktekkan kasih saudara tidak perlu disunat bukan? untuk melakukan kasih saudara tidak perlu melakukan ritual-ritual bukan?
      dalam keadaan Anda yang sekarang saudara sudah siap dan mampu melakukan kasih tanpa prosesi-prosesi, termasuk hukum-hukum agama.

      Cobaan manusia sampai sekarang adalah merasa perlunya aturan-aturan atau prosesi-prosesi untuk mengurung dirinya sendiri, sehingga oleh agama banyak orang merasa legal untuk membunuh si anu, untuk menghancurkan si anu dan si anu yang lain yang tidak cocok dengan dirinya..

      Si kafir layak dihukum mati kata si anu, saya membunuh karena tertulis di kitab suci bahwa kita boleh menghukum mati kafir kata si anu, si anu yang lain berkata saya menjadi begini karena takdir saya sudah dibuat begini, kata si anu itu tanpa rasa bersalah ketika ia berkata dusta dalam mengajar…
      dan banyak perkara yang lain yang sepertinya legal melakukan tindakan amoral dengan merujuk aturan/ajaran agama.

      Tidak ada rumusnya seorang yang bersunat menjadi bertambah mengasihi orang lain dan bertambah mengasihi TUHAN,…
      ia melakukan sunat untuk dirinya sendiri,…mengasihani dirinya sendiri (antara lain dengan alasan kesehatan),…
      Dan tidak ada juga rumusannnya seorang melakukan hukum-hukum yang lain menjadi bertambah mengasihi orang lain dan bertambah mengasihi TUHAN….
      Tidak ada rumusannya menjadi seorang penganut agama Kristen atau penganut agama lainnya menjadi semakin mengasihi sesamanya dan semakin mengasihi TUHAN…terbukti hampir semua masalah dunia diawali dari penganut agama-agama, dan digiring untuk menjadi masalah agama…

      jadi sekali lagi YESUS katakan bukan aturan, bukan agama, dan bukan yang lain, melainkan melalui YESUS, melalui kasih…

      sekali lagi saya ulang:

      Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.


      (Matius 22:36-40) “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

      salam

      • terus terang saudara tidak banyak menjawab pertanyaan saya, baik saya ulangi pertanyaan saya
        1. kenapa Yesus bersunat?
        2. Adakah yesus mengatakan dia menebus dosa saudara di tiang salib?
        3. Jika hanya dengan percaya yesus disalib untuk menyelamatkan saudara, dan saudara telah terselamatkan, untuk apa yesus membuat aturan-aturan diatas?

      • @habib

        Semoga jawaban2 saya tidak sia-sia, dan semoga itu melekat di memori saudara…

        1. Sebenarnya pertanyaan ini ulangan saja dari diskusi yang lain, mari kita lihat kutipan ini:
        Matius 5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
        YESUS menggenapi Hukum Taurat sampai titik komanya (term untuk menjelaskan lengkap dan tidak kurang dan tidak melebih2kan), jika sunat termasuk salah satunya, maka DIA menggenapinya. Setelah digenapi maka YESUS menanggung semua tuntutan Taurat itu dan membebaskan kita dari kemungkinan mati akibat Hukum Kudus itu. Contohnya, bagi kalangan Yahudi dsebutkan aturan ini:
        Kejadian 21:4 Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya.
        maka karena saudara mungkin tidak sunat hari kedelapan maka saudara sudah pasti dihukum mati dalam roh, tetapi YESUS menanggung hukuman itu bagi saudara, sehingga meski saudara tidak disunat hari kedelapan tetapi jika saudara beriman kepada TUHAN, maka saudara akan beroleh selamat; karena Kitab SUci berkata: “Manusia diselamatkan melalui imannya”

        2. Ada. sebagai pembuka baca Matius 26:2. Dan point utama ingat konteks.

        3. Kutipan ini mungkin perlu bagi saudara:
        Yakobus 2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.
        jadi setan dan orang beriman dalam konteks percaya ALLAH adalah ESA itu sama, tetapi ada yang membedakan setan dan pengikutnya dibandingkan dengan orang yang percaya di dalam ALLAH, yaitu mengasihi, mengerjakan kasih, sumber kasih. YESUS tidak membuat peraturan-peraturan di atas, YESUS mengutip Kitab Suci (Perjanjian LAMA), yang mana inti dari Kitab Suci adalah kasihilah ALLAH dan kasihilah sesama. Bagaimana kita, saya dan saudara mengasih maka tirulah YESUS, yaitu bahkan rela mati dihina (disalib) karena TUHAN dapat melihat kebenaran sesungguhnya yang mungkin dilihat manusia tidak demikian, itulah yang diajarkan YESUS…dan itu jugalah yang diajarkan ROH KUDUS dalam hikmat Rasul Paulus yang menulis demikian:
        Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
        (Filipi 2:5-8)

        salam

  3. 1. Statement ini lengkapnya saya jawab di diskusi kita yang lain (baca; versi alkitab) di blog saudara. intinya begini, saya meminta saudara untuk mengartikan berdasarkan konteksnya, sekali lagi berdasarkan konteks, saudara silahkan baca matius 5 secara komprehensif. jika saudara bingung, begini, posisikan saudara pada posisi yesus, kenapa dalam ayat itu yesus harus naik di atas batu dan duduk disitu? Karena yesus melihat banyak orang, jadi itulah kesempatan yesus untuk mengajarkan risalahnya. Kenapa orang-orang tersebut mendengarkannya? Karena kabar kedatangan mesiah, Raja Yahudi, Al-Masih, sang penyelamat, yang dalam hal ini anggapannya adalah Yesus. Kenapa menjadi penting yesus membahas Taurat di sela Risalahnya? Karena untuk meyakinkan khalayak yahudi, bahwa kedatangan Yesus tidak untuk meniadakan Hukum Taurat, tapi menggenapinya, karena Yesus tau, sebelum kedatangannya telah berlaku hukum taurat, maka Yesus menjelaskan bahwa dengan kedatangannya hukum Taurat masih berlaku, dan yesus tidak membawa aturan yang benar-benar baru tapi malah menggenapi hukum yang telah ada, yaitu hukum Taurat. menggenapi seperti apa? memperjelas yang tidak jelas dari Hukum Taurat, mempertegas yang kurang Tegas dari Hukum taurat, menegakkan aturan yang tidak ditegakkan dari Hukum taurat dan menyempurnakan yang kurang sempurna dari Hukum Taurat. Itulah arti menggenapi. Ketika saudara membaca ayat tersebut saran saya sekali lagi Ingat konteks nya. Tapi jika saudara mempertahankan dogma saudara, maka sia-sia lah kebenaran ayat bible tersebut.
    Ikuti contoh saya berikut ini (saya harus kembali bercerita agar saudara benar-benar jelas).
    Perusahaan minum AQUZA adalah perusahaan yang besar, seperti perusahaan besar yang lain AQUZA juga mempunyai peraturan perusahaan yang harus di taati karyawannya, peraturannya adalah sebagai berikut:
    – Masuk kantor jam 7 pagi
    – Pakaian hari senin dan selasa merah putih, rabu dan kamis hitam, jum’at pakaian batik
    – Tidak boleh merokok
    – Tidak boleh korupsi
    – …………….dll
    – Pulang jam 5 sore
    Karena ada pergantian direktur, maka direktur baru katakanlah si A, memberikan sambutan di acara penyambutan di depan seluruh karyawannya.
    Bla..bla..bla..
    Inti pidatonya
    “ saudara-saudara harus tau, kedatangan saya tidak untuk membuat peraturan baru, karena peraturan lama adalah peninggalan direktur lama yang masih sangat relevan, kedatangan saya tidak untuk meniadakan malah menggenapinya agar perusahaan berkembang pesat, maka peraturannya menjadi
    – Masuk kantor jam 7 pagi harus sudah sarapan
    – Pakaian hari senin dan selasa merah putih, dan menggunakan dasi. rabu dan kamis warna hitam serta menggunakan sepatu hitam, jum’at pakaian batik dan wajib memakai blangkon
    – Tidak boleh merokok, dan hanya boleh merokok di tempat yang disediakan
    – Tidak boleh korupsi
    – …………….dll
    – Pulang jam 5 sore”

    Itulah kiranya cerita yang mirip dari ayat yang dijelaskan oleh Yesus. Saya harap saudara paham dan mengerti cerita saya.

    2. Mari kita baca Matius 26:2
    26:2 “Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah , maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.
    Artinya yesus mengatakan bahwa Anak Manusia yang dalam hal ini Yesus, akan disalibkan, itu kan harapan saudara menginginkan saya membaca ayat tersebut?
    Saudara Parhobass, tampaknya saudara tidak menjawab pertanyaan saya, baik saya ulangi, perhatikan dengan baik.
    ==> Adakah yesus mengatakan dia menebus dosa saudara di tiang salib?
    Kalau saudara bingung, begini saja, Mana ayat yang mengatakan bahwa dengan tersalibnya yesus, dosa saudara akan tertebus??
    Hal ini menambah pertanyaan saya
    – Disuatu waktu yesus mengatakan Anak manusia, dilain kesempatan Anak TUHAN, dan saudara malah mengatakan TUHAN, sebenarnya yesus itu siapa?
    3. Statement ini lengkapnya saya jawab di diskusi kita yang lain (baca; versi alkitab) di blog saudara di nomer 5.

    • @habib

      untuk menghindari pembahasan yang terlalu panjang dan bertele2…

      mungkin saudara bisa menjelaskan apa seh Hukum Taurat yang dimaksudkan oleh pengajar-pengajar Farisi/Yesus/Paulus di kisaran waktu itu?

      note:
      Saya tidak tahu latarbelakang saudara menulis YESUS dengan tulisan “yesus” dengan “y” huruf kecil, bisa dijelaskan?

      salam

      • ==> Saya tidak tahu apa yang saudara pikirkan dengan bertanya kepada saya mengenai ini. dengan banyaknya penjelasan dan bukti yang telah saya sampaikan, kemudian saudara memberikan statement ini kepada saya. semoga kekhawatiran saya terhadap saudara salah.
        ==> Mengenai tulisan, Kalau saudara tersinggung dengan penulisan tersebut saya minta maaf, sama halnya saudara menulis Allah saya dengan “allah”, tapi bagi saya menAgungkan tidak hanya melalui tulisan, karena tulisan hanya kesepakatan manusia saja. itu saja dari saya.
        terima kasih.

      • @habib

        Saya tidak tersinggung, saya hanya bertanya latar belakang literatur saudara, huruf depan nama manusia seharusnya huruf kapital bukan?.
        Jadi kalau saudara menulis yesus, saya kira itu salah, seharusnya Yesus.
        Kesepakatan yang bagus itu tidak musti dikotori oleh kemauan saudara ya toh?.., karena bagaimanapun itu pasti salah.

        diskusi ini memang bukan diskusi sastra/bahasa dan sebagainya, tetapi saya hanya menganalisa tulisan saudara dimana ada kesengajaan menulis nama khusus kata “Yesus” menjadi “yesus”.

        Mengenai tuan saudara “allah” atau “tuhan”, saya tulis karena memang itu adalah tata tulis yang benar kepada allah lain di luar ALLAH YANG ESA di ALKITAB.

        Pertanyaan saya sebelumnya mohon dijawab:

        Hukum Taurat apa yang didiskusikan/diucapkan/dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada masa abad awal masehi?
        Kenapa ini penting, karena meski namanya disebut hukum taurat, tidak mesti sama object dan maknanya bagi orang dan golongan di kisawan waktu itu.

        contohnya;
        1, Pembunuh itu namanya si Joko
        2, Pemerkosa itu namanya si Joko
        3, Pemabuk itu namanya si Joko
        4, Guru agama itu namanya si Joko

        nah meski semua oknum ini namanya si Joko, tetapi tidak menjadi suatu keharusan dan kepastian bahwa 4 orang bernama Joko ini adalah sama orangnya.

        jadi menurut saudara Hukum Taurat yang didiskusikan oleh orang-orang Yahudi di hadapan YESUS kala itu apa dan bagaimana?

        salam

  4. @Om Parhobass
    Maaf fanya tergelitik ikut share pendapat stlh menyimak bahasan Om Parhobas dan Om Habib thd eksistensi perintah sunat. fanya rasa ketentuan/perintah sunat memiliki kemiripan dgn ketentuan memiliki/membawa Surat Ijin Mengemudi (SIM) bagi setiap pengemudi kendaraan di jalan umum, dan cukup relevan utk dijadikan analogi.

    SIM jelas bukan jaminan bhw pengemudi PASTI tidak akan berbuat kesalahan saat mengemudi. Lebih dari itu para pelaku kecelakaan di jalan raya bahkan dalam kasus kecelakaan paling fatal sekalipun (misal kasus Afriani & guru Boddhicita yg menabrak 16 siswa TK dan SMP Perguruan Boddhicita, Medan, Sumatera Utara) umumnya dilakukan oleh pemilik SIM.

    Dengan pola pikir Om Parhobass diatas, karena SIM TIDAK MENJAMIN terciptanya PERILAKU & SKILL yg baik dari Pengemudi saat berkendaraan maka eksistensi SIM TIDAK DIPERLUKAN sehingga aturan yg mengharuskan seseorang membawa SIM saat mengemudi harus dihapuskan.

    Kenyataannya, polisi kerap menggelar razia kendaraan dan thdp pengemudi yg kedapatan TIDAK MEMBAWA SIM (bukan TIDAK MEMILIKI SIM), pasti dikenai sanksi dan diberi tilang (bukti pelanggaran), meski faktanya ybs mengemudikan kendaraannya dengan baik, benar, aman, tidak mencelakai siapapun dan ybs secara sah telah memiliki SIM. Lebih dari itu, tanpa mengantongi sertifikasi (di bidang Lalu-lintas, Medis, Hukum dll) apa yg diperbuat selama ini meski tidak mengakibatkan kecelakaan, dapat dijadikan dasar hukum penuntutan dan penetapan sanksi hukum thdp ybs. (Apakah masih ingat kasus seorang mantri di Kalimantan Timur dipidana karena memberi pertolongan kepada pasien? Nama mantri itu Misran. Tidak lama setelah itu, Irfan Wahyudi, (36), mantri di desa Trebungan, Mangaran, Situbondo, Jawa Timur juga diciduk polisi karena persoalan serupa pada 8 Desember 2010).

    Dari fakta kehidupan tsb terlihat bahwa penilaian thdp aspek KETAATAN thdp HUKUM terpisah dari penilaian thdp KOMPETENSI seseorang. Maka dari itu, kepatuhan terhadap perintah/hukum Allah tekait kewajiban sunat bagi pria yg mengaku BERIMAN kepada-Nya, tidak ada kaitannya dengan karakter atau cara hidup seseorang kedepan.

    Salam

    • @fanya

      Karena saudara beranalogi bahwa hukum sunat adalah seperti SIM. Paulus dan Alkitab tidak beranalogi seperti itu, dan entah bagaimana saudara bisa beranalogi seperti itu, bisa dijelaskan?

      salam

      • itulah kontradikisi ajaran Yesus dan Paulus..

      • @Om Parhobass

        Perintah/keharusan bersunat bagi pria yg beriman kepada Allah adalah sebuah produk hukum. Demikian pula keharusan memiliki SIM bagi pengemudi, juga adalah produk hukum.

        Sunat tidak menentukan baik-buruknya perilaku seseorang dlm hidupnya.
        Demikian pula kepemilikan SIM tidak menentukan baik-buruknya perilaku seseorang dalam mengemudi.

        Fakta bahwa mayoritas kecelakaan lalulintas terjadi/dilakukan oleh pengemudi yg tlh memiliki SIM, tidak pernah dijadikan alasan untuk menganulir aturan/UU yg mengharuskan kepemilikan SIM. Keharusan memiliki SIM selaku produk hukum hakekatnya merupakan wujud BUKTI KETAATAN HUKUM, dimana ketaatan hukum tsb sangat penting bagi terjaganya disiplin dlm mengemudi yg pd gilirannya akan meminimalisir kemungkinan terjadinya kecelakaan lalulintas.

        Demikian pula dengan aturan/perintah sunat. Meskipun mungkin tak sedikit orang bersunat melakukan tindakan tak terpuji, tidak bisa dijadikan alasan utk menganulir aturan bersunat. Perintah bersunat pada hakekatnya juga adalah UJIAN/WUJUD KETAATAN MANUSIA PADA HUKUM TUHAN dan WUJUD KESETIAAN PADA JANJINYA/Tidak ingkar janji.

        Kepatuhan manusia thdp hukum Tuhan, adalah aspek penentu terciptanya harmoni kehidupan dan kedamaian sebagaimana diajarkan-Nya lewat Nabi-nabi dan Rasul-rasul-Nya.

        Apapun dalih pembangkangan/pengingkaran manusia thdp janji dan hukum-hukum Tuhan, jelas merupakan benih suburnya pembangkangan-pembangkangan manusia terhadap hukum-hukum Tuhan lainnya!

        Salam

      • @habib

        Yohanes_14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

        itu kata YESUS,…
        di sini dikatakan hanya melalui YESUS sendiri, bukan hukum lainnya, termasuk sunat…

        ditegaskan oleh Rasul Paulus:

        Roma_5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.

        Dan khusus mengenai sunat, bacalah Roma 2.

        Dan satu hal yang lain yang dilupakan oleh saudara2 yang menitik beratkan sunat:

        Ulangan_10:16 Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.

        Yeremia_4:4 Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu, hai orang Yehuda dan penduduk Yerusalem, supaya jangan murka-Ku mengamuk seperti api, dan menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkan, oleh karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat!”

        Dari kutipan di atas menurut saudara gimana?

        salam

      • @fanya

        Perintah/keharusan bersunat bagi pria yg beriman kepada Allah adalah sebuah produk hukum. Demikian pula keharusan memiliki SIM bagi pengemudi, juga adalah produk hukum.

        a. Jika saudara seorang yang beriman, dan saudara seorang perempuan, apa yang harus Anda lakukan untuk dapat diseimbangkan dengan sunat khatan pria?…
        Tetapi saudara, jika perempuan, akan seimbang dengan pria manapun, jika hati saudara dibawa kehadpan TUHAN, lahir baru.

        b. Secara khusus dan literal saja saya utarakan, Perjanjian Sunat diberikan kepada Abraham dan keturunannya,…Perjanjian itu diberikan atas dasar bahwa Abraham telah beriman kepada ALLAH, ia telah lebih dahulu memberikan hatinya, lahir baru, di hadapan TUHAN, sunat lahiriah adalah tanda yang dapat dilihat dari hal rohaniah yang mendahuinya.

        c. Perjanjian Sunat tidak diberikan kepada orang Batak, orang Kalimantan, atau orang Arab, jadi tidak relevan dengan analogi SIM.

        d. SIM dapat diurus untuk legalisasi bahwa saudara bisa mengendarai jenis kenderaan tertentu.
        Sunat tidak dapat sebagai legalisasi bahwa saudara telah beriman dan layak dihadapan TUHAN.
        Jika ada allah lain yang mengharuskan sunat bagi siapa saja, maka pasti allah ini bukan ALLAH yang berfirman di ALKITAB.

        jadi skali lagi analogi SIM saudara tidak cocok.

        Sunat tidak menentukan baik-buruknya perilaku seseorang dlm hidupnya.
        Demikian pula kepemilikan SIM tidak menentukan baik-buruknya perilaku seseorang dalam mengemudi.

        Jadi apa yang menentukan?… yaitu sunat hati, kerelaan saudara lahir baru, menerima iman lebih dahulu…
        dan sekali lagi analogi SIM menjadi tidak relevan.

        Fakta bahwa mayoritas kecelakaan lalulintas terjadi/dilakukan oleh pengemudi yg tlh memiliki SIM, tidak pernah dijadikan alasan untuk menganulir aturan/UU yg mengharuskan kepemilikan SIM. Keharusan memiliki SIM selaku produk hukum hakekatnya merupakan wujud BUKTI KETAATAN HUKUM, dimana ketaatan hukum tsb sangat penting bagi terjaganya disiplin dlm mengemudi yg pd gilirannya akan meminimalisir kemungkinan terjadinya kecelakaan lalulintas.

        Demikian pula dengan aturan/perintah sunat. Meskipun mungkin tak sedikit orang bersunat melakukan tindakan tak terpuji, tidak bisa dijadikan alasan utk menganulir aturan bersunat. Perintah bersunat pada hakekatnya juga adalah UJIAN/WUJUD KETAATAN MANUSIA PADA HUKUM TUHAN dan WUJUD KESETIAAN PADA JANJINYA/Tidak ingkar janji.

        Fakta bahwa beberapa Yahudi yang mengaku TUHAN ESA dan yang melakukan sunat justru mereka banyakan membunuh nabi-nabi, bahkan MESIAS disalib…
        Dan fakta juga bahwa negara yang mayoritas Islam, yang nota bene pasti bersunat, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, adalah negara paling terkorup di dunia.
        Jadi fakta ini menjelaskan bahwa legalisasi oleh sunat tidak relevan,…

        Kepatuhan manusia thdp hukum Tuhan, adalah aspek penentu terciptanya harmoni kehidupan dan kedamaian sebagaimana diajarkan-Nya lewat Nabi-nabi dan Rasul-rasul-Nya.

        Alkitab mengatakan sebaliknya,…
        Terimalah TUHAN di dalam hatimu, maka tidak ada satu hukumpun yang dapat mengikat..
        Merdeka tetapi bertanggung jawab, bebas tetapi mau dipimpin oleh ROH..
        Contohnya sudah jelas…
        kepatuhan besunat yang dilakukan mayoritas Islam di Indonesia tidak menjadikan mereka menjadi tidak korupsi, nyatanya meskipun patuh kepada hukum allah saudara itu, mereka tetap saja korupsi, paling tidak menurut data statistik Indonesia masih negara tertinggi korupsi. Contoh ini sangat serupa dengan keadaan Bangsa Israel keturunan Abraham, dimana Perjanjian Sunat diberikan, beberapa dari mereka ini beranggapan bahwa jika telah melakukan Hukum Taurat maka mereka merasa sudah menyenangkan TUHAN, nyatanya justru karena mereka merasa sudah layak karena melakukan Hukum ALLAH, maka mereka sebenarnya telah mati rohani, nabi dibunuh, mereka dibuang, bahkan negaranya hancur lebur, itu contoh dari bangsa/negara/pribadi yang menganut legalisasi,… jadi kalau negara RI mau maju, maka tinggalkan hukum2 legalisasi, bertobatlah, taruhlah HUKUM ALLAH di hati masing-masing…

        Apapun dalih pembangkangan/pengingkaran manusia thdp janji dan hukum-hukum Tuhan, jelas merupakan benih suburnya pembangkangan-pembangkangan manusia terhadap hukum-hukum Tuhan lainnya!

        Salam

        Jadi legalisasi karena melakukan HUKUM atau menerima SIM karena keharusan tidaklah tepat, melainkan lakukanlah HUKUM dan terimalah SIM jika saudara sudah diberikan dihatinya HUKU<, jika saudara sudah diberikan SIM oleh TUHAN..

        Bisa tidak saudara bedakan?
        kalau tidak saya sari sedemikian..
        a. saudara tidak menjadi lebih baik jika saudara bersunat kulit khatan, contohnya Indonesia mayoritas Islam dan pasti bersunat, tetapi masih negara terkorup.
        tetapi saudara akan menjadi lebih baik, jika saudara percaya dan mau menerima ROH Kebenaran di dalam hati saudara (sunat hati).

        b. Ada kencenderungan orang taat melakukan suatu hukum karena ia takut kepada hukuman dibalik hukum itu, jadi bukan takut kepada si pembuat hukum. Ada juga yang takut sama si pembuat hukum, tetapi karena sama-sama melakuan hukum, bukan berarti keduanya sama bukan, maka keduanya akan dilihat dari motivasi melakukan hukum itu, masalah motivasi sudah masalah hati, hanya ROH yang dapat melihat itu semua, jadi karena itu bereskan dulu hati saudara di hadapan TUHAN.

        c. YESUS melalui RasulNYA Paulus, menekankan seperti itu, bereskan dulu dirimu di hadapan TUHAN, maka IA akan menjelaskan kenapa Hukum Taurat tidaklah jalan.
        Jika Hukum Taurat yang diucapkan oleh TUHAN langsung kepada Musa sudah tidak menjadi jalan, apalagi hukum-hukum lain yang mirip-mirip dengan HUKUM Taurat yang dibawa malaikat bukan?

        Salam

  5. @PARHOBAS & Habib : saya setuju dengan pernyataan kalian berdua diatas { habib & parhobas } pendapat kalian berdua itu memang benar .. tp yang saya ingin tanyakan pada saudara habib : mengapa anda mendalami Al-kitab padahal anda adalah orang islam ? .. inilah yang saya sesalkan pada anda . mengapa anda sungguh sok amat tahu tentang ajaran agama kristen ? jika memang anda orang yang beriman dalam agama anda , sebaiknya lakukanlah apa yang sesuai dengan ajaran anda (atau mungkin anda adalah orang yang dihinggapi oleh Roh Kudus sehingga pintu hati anda dibukakan untuk membaca bible Al kitab) ..
    INTINYA SEBENARNYA HANYA 1 = Habib tidak percaya kepada Kristus .. sehingga sulit sekali untuk menyatukan pikiran bpk.parhobas dan pak habib tentang perdebatan bersunat ini ..
    ‘sekian dari saya ‘

    • @leander

      terimakasih atas kunjungannya..

      salam kasih

  6. Saya pikir selama terdapat perbedaan dogma dan ajaran, pasti tidak dapat dipertemukan kesatuan pandangan dan kesepakatan. Karena masing-masing akan bersikukuh yang paling benar. Dalam situasi semacam ini yang diperlukan adalah 1, yaitu sense of understanding. Itu saja. Karena kebenaran hakiki adalah milik Tuhan. Jauh lebih penting adalah hidup damai dan menjaga kelangsungan hidup seluruh ciptaanNYa di bumi. Terima kasih.

    • Sense itu adalah pengejawantahan dari pengenalan akan Tuhan itu sendiri, oleh karena itulah hukum utama itu sangat tak terelakkan dan benar, yaitu hukum kasih, mengasihi Tuhan sama dengan mengasihi sesama.

      Kebenaran itu harus berpribadi dan dilakukan dalam ruang rohaniah sehingga kita lepas dari konsekuensi relatifitas kebenaran.

      Salam

  7. DARI SYARIAT TAURAT MENUJU INJIL
    ————————————————

    Yesus adalah orang Yahudi, tinggal di kawasan Yahudi, dan berada dilingkungan agama Yahudi. Apakah Yesus mengikuti syariat Taurat Yahudi ataukah Ia membawa misi transformasi menuju Injil yang memerdekakan?

    Umat Perjanjian Baru pada saat Yesus hidup masih berada dilingkungan hukum Taurat dan adat-istiadat Yahudi, karena mereka umumnya tinggal di Yerusalem dan Yudea dimana kekuasaan para Rabi itu dominan, sekalipun orang-orang Israel kala itu berada dibawah pemerintahan Romawi.

    Yesus sendiri semasa masih bayi dibawa ke bait Allah di Yerusalem, disunat pada hari kedelapan dan menjalani ritual pentahiran dan penyerahan anak sulung (Luk. 2:21-24), dan pada umur 12 tahun Ia kembali diajak oleh kedua orang tuanya untuk pergi ke Yerusalem merayakan hari raya Pesakh Yahudi sebagai peringatan keluarnya orang Israel dari perbudakan di Mesir (Luk. 2:41-42). Namun, apakah itu berarti bahwa setelah Yesus mulai mengajar, ajaran-Nya adalah ajaran Yahudi yang berpusat Taurat? Sekalipun berlatar belakang agama Yahudi, sejak awal Yesus sudah melakukan transformasi keyahudian.

    Sejak Yesus mulai melayani, Ia sudah menunjukkan reformasinya terhadap ibadat Yahudi yang sudah membeku, agama Yahudi yang sudah kehilangan gigitannya dan menjadi ritual yang memberatkan umat. Ditengah konteks demikianlah Yesus hadir mengadakan reformasi. Yesus sejak awal menunjukkan suatu ritual baru yaitu Ia dibaptiskan oleh Yohanes (Luk. 3:21-22), suatu ritual baru yang tidak ada dalam ibadat Israel selain adat basuhan, namun kenyataannya pada peristiwa pembaptisan itu ritual itu direstui oleh Roh Kudus dan Allah Bapa.

    “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya-lah Aku berkenan.” (Mat. 3:16-17).

    Di sini kita melihat gambaran Trinitas yang jelas, dimana pribadi Yesus dibedakan dengan pribadi Yahweh, dan pribadi Roh Kudus juga dibedakan dari pribadi Yahweh. Ini menunjukkan perbedaan dengan konsep tauhid dalam kepercayaan Yahudi. Demikian juga konsep kehadiran Roh Kudus dalam diri Yesus (Luk. 4:1) membedakannya dari kehidupan berdasarkan syariat Taurat Tanakh Yahudi.

    Di Nazaret ketika Yesus mulai melayani, Ia semula masih beribadah di hari Sabat (Luk. 4: 16,31), di sinilah Ia menyatakan diri sebagai Messias yang diurapi, suatu penggenapan nubuatan PL dengan cara membaca surat nabi Yesaya (Luk. 4:18-19). Ini mengindikasikan bahwa sejak awal pelayanannya di bumi ini, Yesus sudah membedakan diri dari ibadat Yahudi. Ia yang bukan ahli kitab dan keturunan imam, tetapi bisa mengajar di sinagoga-sinagoga seperti di Nazaret, dan kalau ibadat Yahudi berpusat di Bait Allah dan Sinagoga, Yesus mulai mengajar di banyak tempat, di tepi pantai, di pasar, di rumah jemaat, bahkan termasuk kotbah di Bukit (Mat. 5-7).

    Injil, kabar baik dihadirkan bukan sebagai syariat yang memberatkan umat dengan segala ritualnya seperti yang terjadi dalam agama Yahudi yang secara ketat diawasi oleh para imam agama, tetapi Yesus mendatangkan tahun Sabat (Tahun Rakhmat Tuhan) sebagai anugerah kepada umat manusia, konsep pembebasan yang dalam Perjanjian Lama hanya dimengerti secara teoritis tetapi sekarang ditampilkan dalam kenyataan. Karena pelayanannya yang sejak awal sudah membedakan diri dengan agama Yahudi tradisional sejak pelayanan perdananya Yesus kemudian ditolak dan seisi rumah ibadat marah kepada-Nya bahkan Ia akan dilemparkan dari atas tebing (Luk.4:28-29). Selanjutnya Yesus mulai mengadakan banyak mujizat sebagai penggenapan Yes. 61:1-2 / Luk. 4:18-19, dimana Ia membebaskan banyak orang dari belenggu penyakit dan kerasukan setan.

    Soal kebiasaan berpuasa, yaitu tidak makan pada hari-hari dan jam-jam tertentu, yang dalam adat istiadat Yahudi telah merosot dipraktekkan dengan tidak makan sambil menunjukkan muka muram, dalam kehidupan Yesus yang baru diberi pengertian yang baru, bahkan kemudian Yesus mengatakan kepada hadirin yang mendengar kotbahnya:

    “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada yang tua … tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang lama.” (Luk. 5:33-39).

    Dengan demikian, Yesus telah memberikan gambaran ibadat yang baru yang digambarkan sebagai baju agama yang baru, menggantikan ibadat ritual yang lama yang telah koyak bagaikan koyaknya baju yang sudah tua. Pandangannya mengenai hari Sabat juga berubah, bahwa Sabat bukan lagi ritual yang memberatkan pada hari Sabtu, tetapi Sabat adalah suatu aksi yang membebaskan umat, karena Yesus sendirilah Tuhan atas hari Sabat.

    Selanjutnya dengan mengumpulkan kedua-belas murid, Ia telah membuka era pelayanan baru yang selama ini berpusat pada pelayanan para Imam yang secara turun temurun melayani ritual di rumah ibadat (bersifat sentripetal/memusat), sekarang bersifat melayani keluar melalui para murid yang diutus (bersifat sentrifugal/ menyebar). Dalam Perjanjian Lama, keimaman dilayani oleh keturunan Lewi karena merekalah yang diberi wewenang secara keturunan sebagai pemelihara ritual agama, namun sekarang pelayanan dilakukan murid-murid yang dipilih bukan atas dasar keturunan keimaman melainkan karena panggilan, iman dan anugerah Allah. Rasul Petrus mengatakan:

    “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” (1 Ptr. 2:9).

    Yesus mengajarkan dasar iman yang benar, bukan karena kita menyebut nama ‘Tuhan’ maka kita selamat dan diperkenan melainkan bila kita melakukan kehendak-Nya (Mat. 7:24-27). Kehidupan Iman tidak lagi terkurung tembok-tembok rumah ibadat dan ritual sesuai tradisi nenek-moyang, melainkan dunia ini menjadi rumah ibadat bagi Yesus dan jemaat, dan Yesus mengutus murid ke dalam dunia (Yoh. 17:18). Umat tidak lagi menyembah di Yerusalem atau di bukit Gerizim, tetapi menyembah Bapa dengan roh dan kebenaran (Yoh. 4:21-24), Manusia menjadi Bait-El (1 Kor. 6:19).

    Doa yang selama ini merupakan pengulangan ayat-ayat doa melalui pimpinan para Imam, berubah menjadi doa langsung kepada Tuhan sebagai ungkapan hati yang bertobat (Mat. 6:5-15). Doa menjadi percakapan dialogis dengan Tuhan yang hidup. Yesus bahkan membandingkan doa dan puasa seorang Farisi dan ahli Taurat yang bersifat ritual dengan doa orang berdosa yang dengan tulus diucapkan (Luk. 18:9-14). Menariknya, dalam kedua doa itu, justru doa orang miskin itulah yang lebih diperkenan Tuhan daripada doa ritual orang Farisi.

    Konsep ibadat yang menekankan Iman dan Anugerah jelas dalam pengajaran Yesus, dan ini dikaitkan dengan konsep kelahiran baru dimana Roh Kudus dikaruniakan ke dalam diri manusia yang berbeda dengan keselamatan karena melakukan hukum Taurat :

    “Jikalau seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.” (Yoh. 3:3)

    Demikian juga ada berita anugerah yang indah ditawarkan kepada manusia, bahwa:

    “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)

    Konsep iman sudah berbeda dengan konsep iman akan hukum Taurat yang bertumpu pada perbuatan, iman perjanjian baru itu ibarat gandum yang bertumbuh di tanah yang baik (Mat. 13:1-43) yang menghasilkan buah karena pohonnya berakar di tanah yang baik dan mendapat siraman firman Tuhan yang menyegarkan dan menghidupkan.

    Karena pengajaran Yesus yang makin melepaskan diri dari ritual hukum Taurat yang bersifat lahir itulah, Yesus dianggap berseberangan dengan orang Farisi khususnya dan hukum agama Yahudi umumnya, bahkan dalam hal Sabat berkali-kali Yesus disalahkan oleh orang Farisi. Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Mat. 23:1-36), apalagi ketika Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah, dan menyebut bahwa “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:20) dan mengaku bahwa “Aku Anak Allah” (Yoh.10:36), dan bahwa “Bapa didalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Ia kemudian diadili dan disalibkan.

    Dalam hal hukum Taurat, Yesus berkata:

    “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat. 5:17).

    Lalu apakah yang dimaksudkan dengan ‘menggenapi’ seperti yang dikatakan Yesus itu? dari konteks perikop ayat di atas jelas bahwa kalau hukum Taurat biasa bersifat perbuatan lahir dan dimengerti secara harfiah, maka hukum kasih bersifat rohani dan tertulis dalam hati, seseorang bukan diukur dengan ritual yang kelihatan diluarnya tetapi lebih karena motivasi dalam hati.

    Yesus sering dikritik karena tidak melakukan adat-istiadat nenek-moyang yahudi:

    “mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek-moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.” Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat-istiadat nenek-moyangmu?” (Mat. 15:2-3).

    Bagi Yesus ‘menggenapi’ berarti membuka selubung Taurat yang selama ini membuat para pengikutnya tidak bisa melihat makna sebenarnya dari hukum itu. Jadi menggenapi bukan meniadakan tetapi mengembalikan kepada pengertian hakiki hukum yang sebenarnya. Mengutip surat Yesaya, Yesus bersabda:

    “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Mrk. 7:6-8).

    Disini Yesus ingin membawa umat manusia kepada pengertian hukum Taurat yang benar, yaitu hukum ‘Kasih.’

    “… seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat. 22:35-40).

    Berbeda dengan anggapan seakan-akan Yesus patuh pada hukum Taurat sesuai tradisi turun temurun dan penafsiran para Imam Yahudi, dan Pauluslah yang kemudian melepaskan kekristenan dari akarnya Yahudi, kita sudah melihat bahwa sejak awal pelayanannya, Yesus sudah dengan pelan tapi pasti melepaskan diri dari adat-istiadat Yahudi dan bayang-bayang hukum Taurat yang dipercayai secara harfiah dalam agama Yahudi, dan kemudian membawanya masuk ke dalam hukum kasih, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia.

    Kita dapat melihat bahwa Yesus maupun para Rasul tidak lagi memegang hukum Taurat (seperti dimengerti agama Yahudi) tetapi Taurat Perjanjian Lama diperbarui menjadi Injil Perjanjian Baru yang mem­bawa ma­nusia kepada iman, kebenaran dan kasih, dan menyadarkan umat bah­wa keselamatan dan kebenaran bukanlah tergantung dari melakukan perbuatan hukum-hukum Taurat melainkan karena Iman dan Kasih Karunia dengan menjalankan hukum Kasih. Dengan demikian umat Kristen Perjanjian Baru telah dimerdeka­kan dan hidup dalam kabar kesukaan Injil, dengan Roh dalam hati yang diperbaharui dengan roh yang baru (Yer. 31:31-33/Yeh. 36:26-27).

    Dalam persidangan di Yerusalem berkenaan dengan kontroversi sunat, para rasul memutuskan bahwa ritual sunat tidak lagi mengikat karena umat menerima keselamatan oleh kasih karunia dan bukan karena perbuatan sunat, dan ini bukan lagi menjadi hak orang Yahudi saja.

    “Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.” (Kis. 15:11).

    Sunat sebenarnya ialah sunat rohani di dalam hati dan bukan sunat yang dilakukan secara lahir.

    “Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah.” (Rm. 2:29).

    Yesuslah yang pertama membawa pembaruan ibadat dari yang lama menjadi baru di kalangan orang Yahudi, dan barulah rasul Paulus dan rasul-rasul lainnya yang melanjutkannya di kalangan Yahudi perantauan dan orang asing sehingga mereka disebut sebagai Kristen (Kis. 11:26). Dalam Kisah Para Rasul pasal 22 dan seterusnya, Paulus membawa umat Yahudi keluar dari tradisi ’Taurat’ dan membawanya kepada ’iman dan anugerah Injil’.

    Dalam surat Paulus kita melihat ajaran ’Injil’ yang lepas dari Taurat, karena kita hidup dari ’iman dan anugerah Allah’ dan bukan lagi karena ’perbuatan dan melakukan Taurat’ (Rm. 5–8; Gal. 3; Ef. 2; Flp. 3; Kol. 2).

    Menghadapi mereka yang masih mengikuti Taurat (makanan halal-haram & merayakan hari-hari tertentu seperti Sabat), rasul Paulus mengingatkan mereka yang sudah tidak mengikutinya agar ‘tidak menghakimi mereka yang lemah’ yang masih menjalankan hal itu (Rm. 14), tetapi ia mengajak agar umat kristen meninggalkan sikap iman yang masih lemah termasuk merayakan Sabat karena kita sudah dimerdekakan oleh Roh Kristus (Gal. 4:1-11). Paulus berkata:

    “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya itu hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedangkan wujudnya ialah Kristus.” (Kol.2:16)

    Rasul Paulus juga menekankan konsep Injil Anugerah yang berbeda dengan ajaran Taurat yang dipercayai tradisi:

    “kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kritus. … karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. … Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima perdamaian itu.” (Rm. 5:1-11)

    Sebagian umat kristen ingin mengembalikan umat Kristen kembali kepada hukum Taurat dan adat-istiadat Yahudi, padahal Yesus, dan kemudian para rasulnya, sudah melepaskan kita dari kuk Taurat dan membawa kita ke bawah anugerah Allah. Rasul Paulus berkata kepada mereka yang masih terikat hukum Taurat, bahwa:

    “Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah engkau sekarang mengakhirinya di dalam daging?” (Gal.3:3).

    “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya.” (Ef. 2:8-10).

    Perlu disadari bahwa sama halnya dengan Yesus yang ingin menggenapi Taurat, rasul Paulus juga tidak mengajarkan umat untuk merombak hukum Taurat melainkan meneguhkannya.

    “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.” (Rm. 3:31).

    Meneguhkan dalam pemikiran Paulus sama dengan menggenapi dalam pemikiran Yesus, soalnya memang sekalipun Paulus mengatakan tidak membatalkan Taurat, ia memberikan arti sebenarnya dibalik huruf-huruf Taurat itu yaitu pengejawantahannya yang bukan dengan “perbuatan” tetapi dengan “iman.”

    Dalam konteks ayat Rm. 3:21-31, Paulus menyebut bahwa tanpa hukum Taurat (yang bersifat lahir) umat mengenal kebenaran Allah karena:

    (ay.22) iman; (ay.24) pembenaran itu terjadi karena kasih karunia penebusan Kristus; (ay.25) karenanya manusia memperoleh jalan pendamaian karena darahnya; karena itulah disimpulkan bahwa: (ay.28) “Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Dengan demikian jalan keselamatan tidak hanya menjadi hak orang Yahudi yang bersunat saja tetapi hak semua orang (ay. 22,26,29,30).

    Perikop ini dilanjutkan dengan uraian mengenai “Abraham dibenarkan karena iman” pada fasal 4. Rasul Paulus kemudian memberikan pengertian hukum Taurat dengan jelas, sebagai berikut:

    “Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.” (Rm. 7:6).

    Dapat dimengerti mengapa mereka yang ingin kembali ke akar yudaik menganggap Surat-Surat Paulus sebagai kurang berotoritas bahkan ada yang menolaknya sama sekali, soalnya ajaran Paulus dengan jelas mengajarkan umat agar berakar dalam Tuhan Yesus Kristus dan bukan berakar pada ajaran turun-temurun yaitu akar adat istiadat Yahudi.

    “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kritus.” (Kol. 2:6-8)

    Sumber: yabina

    • Shalom
      Sebaiknya jangan copy paste dari sumber lain, dan artikelnyapun jgn semuanya di- share…

      Paulus, dan semua rasul lainnya, tetap sebagai Yahudi… yang mana Yahudi yang lain menamai mereka sebagai sekte Jalan Tuhan, dan orang di luar Yahudi memanggil mereka Kristen.
      Kita tidaj musti berseberangan dengan akar ke Yahudian itu, Kristus memerdekakan kita semua, termasuk memerdekakan dari segala eksklusifitas.

      Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: