DIA-lah yang menyatakanNYA

Januari 4, 2012 pukul 9:04 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , , , ,

Para pemikir menyimpulkan, dan kita bisa mengamininya, bahwa pengalaman tidak bisa dijadikan sebagai acuan untuk menggambarkan sepenuhnya tentang hal-hal yang transenden.
Dalam kondisi kita, bisa dikatakan sebagai kebiasaan, atau mungkin adat istiadat. Contohnya menurut adat istiadat batak, seorang mertua sangatlah tidak baik jika “terlalu” akrab dengan menantu perempuannya.
Sementara dalam beberapa pandangan lain, menantu perempuan malah dianggap bagaikan putrinya sendiri (untuk menggambakan keakraban). Artinya ada dua pengalaman, istiadat yang benar-benar bertolak belakang. Hal-hal seperti ini tentunya akan sering terjadi dan akan menyebabkan perpecahan jika diterapkan dalam menggambarkan dan menerima kebenaran dalam hubungan perihal yang bersifat transenden.

Banyak denominasi, dikatakan mungkin ratusan ribu denominasi Protestan dan Kharismatik sekarang ini, dan bisa jadi beberapa pecahan itu dapat lahir dari penetapan akibat “pengalaman” pribadi maupun kelompok. Bahkan seorang penatua/pendeta bisa saja mengajarkan hal-hal yang asasi berdasarkan pengalamannya sendiri.

Fakta memang menjadi suatu yang amat sulit dilukiskan, didefinisikan. Fakta, mukjizat itu nyata, bagaimana menggambarkannya atau mungkin memulainya, nihil, mustahil dilukiskan atau mustahil untuk dipelajari orang yang lain untuk dapat melakukan hal yang sama secara mekanis. Tidak ada rumusannya.

Fakta, kenyataan, realita sering terjadi, tetapi tidak semua dapat meresponnya dengan baik, dan karena sering terjadi, tetapi harus diladeni dengan “sense” yang berbeda, maka fakta, kenyataan, realita sering terlewatkan. Jika tidak ingin melewatkan fakta-fakta itu maka dibutuhkan relasi yang kuat antara “observer” (pengamat) atau pelaku, dengan “event” (kejadian) atau perihal-perihal, atau keadaan-keadaan.

Apa yang dapat kita terima dari suatu fakta bisa saja terjadi suatu kesalahan, karena ada keadaan paralaks yang sudah menjadi bagian dari diri kita sendiri. Kita tidak dapat menilai atau menghitung secara akurat. Boleh dikatakan itu akibat “image” yang telah dirusak, bagian dari kutuk ADAM/HAWA dari awal. Orang Batak mungkin pada jaman dahulu, jaman raja-raja marga/huta mendominasi yang doyan berpoligami, sering terjadi rebutan wanita antara mertua dan anaknya, sehingga ditetapkan hukum adat mertua dan menantu perempuan harus dijaga jaraknya, sekali lagi, bisa saja kemungkinan ini terjadi, tetapi bisa saja itu salah. Itu adalah penilaian saya sendiri, kemungkinan salah dari rumusan saya ini, itu bisa disebut ketidaksempurnaan saya dalam “merumuskan” adat batak.
Atau contoh lain adalah ajaran “pembakaran” ulos oleh pengajaran-pengajaran karismatik tertentu. Dalam kenyataan yang mereka ungkapkan, pengalaman mereka alami adalah, bahwa sejarah ulos sarat dengan praktek okultisme, dahulu memang begitu, tetapi tidaklah menjadi sedemikian seterusnya karena banyak orang membuat ulos demi menyambung hidupnya, membuat ulos hanya demi sebuah “asesories”, tanpa embel-embel mantera-mantera kuno dalam pembuatannya.

Fisika Mekanika telah dianggap memiliki “kekurangan” sampai harus melahirkan Fisika Quantum. Meski dua-duanya dapat dipadukan. Ada ketidaksempurnaan sampai yang satu harus “diupgrade”.

Meski ada kemungkina terjadi “kesalahan”, atau “ketidaksempurnaan”, bisa dan sangat bisa kita gunakan untuk membuat skets sederhana untuk melukiskan hal-hal yang transenden, dan untuk itulah beberapa penafsir menuliskan ide-ide, pemikiran-pemikiran, penilaian-penilaian. Kita diberi “image” yang baik, sempurna, komplit, meski pernah dan didalamkeadaan yang telah terkontaminasi, kita masih bisa menggunakannya. Senjata nurani masih ada. Dan hati nurani umumnya digerakkan oleh hal-hal yang berbau rohaniah, dan hal-hal yang rohaniah akan cenderung mendapat untuk jika ROH KEBENARAN telah menjamahnya.

Tritunggal memang suatu “defenisi” transenden, yang dicetuskan manusia, yang unsur salah benarnya tidak bisa dilepaskan, itu melekat. Tetapi jika kita mengamati diri kita sendiri, suatu ciptaan agung, bahwa kita memiliki satu kesatuan yang utuh dari roh, jiwa dan raga, maka dari pengalaman yang sederhana ini kita dapat mereka-reka ESENSI TUHAN. roh, jiwa, raga memang tiga hal yang berbeda, tetapi tetaplah satu dalam esensinya. Ini menjadi suatu gambaran sedernana dari Tritunggal yang kudus. Meski sepertinya tidak ada untungnya bagi kita jika kita dapat mengerti esensi TUHAN, sebab pengetahuan akan berlalu, bahkan iman dan pengharapan akan ada waktunya tidak dibutuhkan sebab kasih-lah yang terbesar, kekal.

(Yohanes 1:18) Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Jika kita padukan dengan:

(Matius 7:21) Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

(Lukas 6:46) “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?

Pengalaman kita bisa menjadi didalamkeadaan “berkembang”, “bertumbuh”, dalam mengenal ALLAH. Jangan terlalu dini dalam membuat kesimpulan, itu mungkin kata yang dapat kita gunakan dalam keselarasan yang menyatakan bahwa pengalaman tidak dapat sepenuhnya menggambarkan kebenaran.
Beberapa orang telah memiliki pengalaman-pengalaman yang begitu akrab dengan YESUS, dalam hikmat mereka mereka bisa menuliskan “seribu” kata untuk melukiskan perihal itu, tetapi ada hal ROH KUDUS yang lebih utama untuk hanya melukiskan 10 kata secara sempurna dan kadang tersembunyi bagi orang yang tidak terlalu atau tidak mau akrab dengan DIA.
Roh KUDUS mengetahui sepenuhnya pikiran ALLAH,
Kristus melakukan semua pikiran ALLAH,
Bapa mencetuskan semua ide-ide ALLAH,
Sehingga dan oleh karena KRISTUS-lah yang menyatakan semua keinginan ALLAH, maka ketika kita menerjunkan diri dalam pengalaman-pengalaman bersama KRISTUS, maka rohaniah kita semakin disempurnakan. Kita akan semakin berani melakukan apa yang diingikan Bapa, semakin tegas dalam mengikuti apa yang dikatakan YESUS, dan semakin dapat membedakan apa-apa yang dapat dilihat lebih dalam oleh ROH KUDUS.

YESUS KRISTUS pernah mati, bahkan harus disalib, dipermalukan, untuk melakukan keinginan BAPA dalam fakta yang disebut KASIH.
Kita yang memiliki raga, yang mengaku telah dilahirkan di dalam roh, dapatkan “menderita” ketika salib itu datang? ketika cobaan itu datang? ketika godaan itu datang?, atau kita menggunakan pengalaman-pengalaman yang bisa saja salah untuk melalui itu semua?
Pikullah salibmu, itu berbicara tentang penderitaan. Kalau cobaan/godaan/masalah menghampiri tetapi kita lalui tanpa “berbau” salib, bisa jadi kita hanya tampil sebagai pemenang di dalam raga saja.
Jika gedung gereja dilarang dibangun, karena tidak ada ijin, lalu kita demo sana sini, berkoar-koar, dan tidak mau menderita, kita jangan bangga jika membangun gedung gereja di atas keringat, tenaga kita sendiri. Gereja bukanlah gedungnya, gereja adalah bait ALLAH, kita sendiri, jadi dahulukanlah KASIH. Gereja tanpa gedung bukanlah suatu kenyataan yang menghalangi, tetapi gedung tanpa Gereja yang sebenarnya akan membuat kekacauan, karena Gereja melakukan apa yang diajarkan YESUS, yaitu KASIH.
Kasih melewatkan nyawa sendiri, karena siapa yang menahan nyawanya, ia akan kehilangannya, tetapi siapa yang memberi nyawanya karena mengikut KRISTUS, maka ia akan mendapatkannya.
Memberi nyawa karena Kristus bukan dengan landasan pikiran sendiri, contohnya membuat bom lalu bunuh diri dengan bom itu di depan “iblis-iblis”, melainkan dengan landasan TUHAN Yang adalah KASIH. Seperi lilin, rela habis, menderita, tetapi sekitarnya dapat merasakan kenyamanan, cahaya, bahagia, sukacita, damai sejahtera…

KRISTUS telah menyatakan, dan akan selalu menyatakan Pikiran ALLAH.
Sebab hanya DIA-lah Perantara Yang Sempurna,
Dan karena kita mengaku “di dalam” Kristus yang mau mengubah pengalaman kita dalam Roh Kebenaran, maka pengenalan akan Kristus akan semakin disempurnakan, dan kita dapat berseru dengan berani: “Ya Abba, Ya Bapa”.
Hidup seperti Kristuslah yang menguntungkan kita, bukan pengetahuan tentang TUHAN. Sebab Kristuslah yang menyatakanNya.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. “Roh KUDUS mengetahui sepenuhnya pikiran ALLAH,
    Kristus melakukan semua pikiran ALLAH,
    Bapa mencetuskan semua ide-ide ALLAH,
    Sehingga dan oleh karena KRISTUS-lah yang menyatakan semua keinginan ALLAH, maka ketika kita menerjunkan diri dalam pengalaman-pengalaman bersama KRISTUS, maka rohaniah kita semakin disempurnakan. Kita akan semakin berani melakukan apa yang diingikan Bapa, semakin tegas dalam mengikuti apa yang dikatakan YESUS, dan semakin dapat membedakan apa-apa yang dapat dilihat lebih dalam oleh ROH KUDUS”.

    Kami masih belum mengerti hal tersebut diatas, mohon dijelaskan.
    Terima kasih.
    GBU

    • @Piet

      “Roh KUDUS mengetahui sepenuhnya pikiran ALLAH,

      bacaan:
      Yesaya 40:13-14 (ITB)
      Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?

      Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?

      juga..

      Roma 11:34-36 (ITB)
      Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?

      Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?

      Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

      Dan tentu dari 1 Korintus 2

      ayat-ayat di atas menjelaskan tentang ROH TUHAN, ROH KUDUS, yang ESA dengan ALLAH…

      Kristus melakukan semua pikiran ALLAH,

      Perjanjian LAMA (kitab para nabi, kitab musa dan mazmur) adalah nubuat tentang Kristus yang akan datang, Kristus telah datang dan IA takluk sepenuhnya kepada apa yang sudah tertulis itu:

      Matius 26:56 Tetapi memang sudah seharusnya begitu supaya terjadilah apa yang ditulis oleh nabi-nabi di dalam Alkitab.” Setelah itu, semua pengikut-pengikut-Nya lari meninggalkan Yesus.

      Lukas 24:44
      Setelah itu Ia berkata kepada mereka, “Inilah hal-hal yang sudah Kuberitahukan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kalian: bahwa setiap hal yang tertulis mengenai Aku di dalam Buku-buku Musa, Para Nabi, dan Mazmur, harus terjadi.”

      dan juga:
      Yohanes 1:3
      Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

      Firman TUHAN, Logos, tanpa DIA tidak ada yang jadi, dicipta,….

      Bapa mencetuskan semua ide-ide ALLAH,

      Bapa, adalah ROH, tidak ada yang melihatNYA, tetapi Roh ALLAH dapat dirasakan, Firman ALLAH menjadi manusia..
      Bapa adalah sumber dari segala sesuatu.
      Yohanes 1:3
      Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

      Oleh Firman, Bapa menciptakana segala sesuatu.

      Sehingga dan oleh karena KRISTUS-lah yang menyatakan semua keinginan ALLAH, maka ketika kita menerjunkan diri dalam pengalaman-pengalaman bersama KRISTUS, maka rohaniah kita semakin disempurnakan. Kita akan semakin berani melakukan apa yang diingikan Bapa, semakin tegas dalam mengikuti apa yang dikatakan YESUS, dan semakin dapat membedakan apa-apa yang dapat dilihat lebih dalam oleh ROH KUDUS”.

      Yohanes 1:18
      Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

      Semua penyataan akan kehendak dan kasih ALLAH hanya dapat dikenal dan diketahui melalui Firman ALLAH yang diutus sebagai Kristus dalam keadaan manusia. Dalam Perjanjian Baru dituliskan beberapa point tentang Kristus:
      1. Tunduk sepenuhnya kepada Bapa, untuk menggambarkan supaya kita juga tunduk kepada ALLAH
      2. Kerendahan hati dengan melayani muridNya sendiri, mengajak kita untuk mengejar semua yang rohaniah dibanding yang lainnya
      3. Kesetiaan, bahkan sampai mati disalib, mengajak kita untuk setia sampai mati dalam kasih setiaNYA.

      dan sebagainya…
      Jadi Kristus mengenal dan mengetahui sepenuhnya apa yang diinginkan oleh BAPA, sehingga kita yang mengaku percaya kepada Kristus haruslah juga seperti Kristus.
      Bukan pengetahuan tentang ALLAH yang dinginkanNYA (toh ahli taurat, ahli agama adalah contoh akurat tentang pengetahuan yang mumpuni tentang ALLAH, malah mereka yang menolak Kristus), melainkan tentang pengetahuan ALLAH dari pengalaman hidup kita sehar-hari, dari relasi kita yang terus menerus senantiasa baharu dihadapanNYA, kita tahu murid-murid pertama Kristus adalah orang-orang yang telah mengaku dosa oleh baptisan Yohanes Pembaptis.
      Tetapi siapakah yang dapat mengerti Kristus dan memanggilNYA Tuhan kalau bukan oleh dorongan ROH KUDUS?
      Roh Kudus dicurahkan kepada setiap orang yang DIA pilih, meski yang menerima ROH KUDUS banyak sekali tetapi ROH KUDUS tetaplah ESA, SATU, TUNGGAL.

      Kami masih belum mengerti hal tersebut diatas, mohon dijelaskan.
      Terima kasih.
      GBU

      penjelasan saya mungkin tidak sempurna, jadi ada lebih baik bagi kita membaca Alkitab, mendalaminya, sehingga ROH TUHAN akan berbicara terus menerus di dalam roh kita, olehNYA kita akan semakin mengerti, sebab ada kalanya apa yang dapat kita mengerti sulit diucapkan dan dijelaskan…

      salam dan TUHAN memberkati senantiasa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: