Di atas langit ada langit

Desember 19, 2011 pukul 8:11 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Seorang atlit mencatatkan rekornya, ia melampaui rekor yang telah dipajang tahunan.
Seorang juara sejati, pada waktunya tumbang juga oleh lahirnya juara baru.
Jagoan-jagoan akan gugur juga oleh bentuk dan keahlian yang dapat memukau.

Dan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak perlu untuk diagungkan lebih tinggi, ada sebuah kalimat untuk mengajak tidak takabur, tidak sombong, yaitu menyadari bahwa “Di atas langit ada langit”.
Kita manusia terbatas yang terkadang memiliki sesuatu yang bisa dibilang tak terbatas, suatu saat akan dilampaui oleh orang yang lain.
Manusia meski dapat melakukan kontiniutas seperti itu, toh ia masih dibatasi, terbatas. Yang tidak dapat dibatasi akhirnya hanyalah sesuatu yang kita sebut sebagai “KEINGINAN”, “HASRAT”, .. dalam konotasi buruk sering orang menyeleweng sehingga disebut “NAFSU”.

Kombinasi dan efek, warna dan gairah, kadang itu saja yang berubah ketika suatu titik menuju stagnan, asimtot telah ditemui. Kadang resesi ekonomi hanya sebuah efek dari kebosanan yang menginginkan sebuah bentuk lain. Keserakahan menjadi tanduk keras beringas yang dipamerkan, yang membuat nilai nol harus dituju, ditata ulang kembali, turun ke bawah, lalu naik lagi.

Jika kita terlalu sibuk dengan hal-hal seperti ini maka kita terikat pada ikatan awang-awang, menjaring angin, hidup sia-sia.

Dalam hal melangit, contoh yang akurat dapat kita ambil pada pemerintahan Romawi dahulu. Sampai-sampai kata anak allah disematkan kepada Kaisar, karena dianggap sudah tidak ada lagi langit yang dapat menampung pujian dan kuasa dan kemuliaan seorang kaisar, selain disamakan saja dengan allah.

Pada kisaran waktu yang sama, pada saat Romawi ada di Kanaan, Anak Manusia ada di sana. Ia melintasi semua “langit”.
Langit kekuasaan, IA tinggalkan…
Langit kemuliaan, IA tinggalkan…
Langit dari semua langit, IA tinggalkan…
IA tinggalkan demi menjadi seorang bayi mungil, di Betlehem, Tanah Daud, Efrata.
Bukan hanya bayi biasa, Ia seorang yang miskin, lahir dipalungan,
ketika umur 12 tahun, pemuka agama hanya terkagum kepadaNYA karena IA “mungkin” tidak dianggap apa-apa tetapi koq mengerti tentang TUHAN begitu dalam.
Setelah pelayananNYA, orang dan pemuka agama juga mengejek, “Siapa DIA ini, bukankah orangtuanya si tukang kayu?”.
Bahkan tidak sampai ke situ…

IA meninggalkan juga kehidupanNYA, IA mati.
IA mati bukan dengan kegagahan macam pahlawan-pahlawan, yang patut dikenang dengan nisan bertinta emas, tidak. IA meninggalkan kehidupan dengan cara dipermalukan, hukuman terhina yang dapat dibuat oleh Romawi pada saat itu adalah SALIB.

Firman ALLAH, yang turun dari Hadirat ALLAH, meninggalkan segala langit, menjadi manusia, dihina sehina-hinanya, untuk MELAYANI.

DIA katakan: “Siapa yang ingin besar, ia harus melayani”.
Itulah yang dicontohkan, itulah pola pikirNYA.
Sebuah paradoks, mungkin malah kontrakdiksi kuat dari cara pandang dunia, cara pandang manusia biasa. Itulah Tuhan kita, Kristus.

Sekali lagi, “Siapa yang ingin besar, ia harus melayani”, kita dapat membaca berita gembira ini di kisaran penghujung Kitab Injil Matius. Dimana pada saat yang sama pemuka agama, pengajar agama, memikirkan tentang kuasa dan kebesaran dari apa yang mereka ajarkan, dari apa yang sanggup mereka ucapkan dan dari segala sesuatu yang dapat dilihat oleh manusia sehingga ia dapat pujian, sementara KRISTUS mengutamakan sesuatu yang tidak terlihat, kasat mata, tetapi dilihat oleh BAPA YANG TIDAK TERLIHAT itu.
“Kalau kamu berdoa jangan pake TOA, kunci kamarmu, berdoa disana kepada BAPA YANG TIDAK TERLIHAT”, .. kira-kira begitu nasehat YESUS pada masa 2000 tahun silam, jika dikalibrasi kepada telinga kontemporer abad ini.

Sejalan dengan ajaran Kristus, karena IA telah terlebih dahulu melakukan segala sesuatu yang baik, sehingga IA berkuasa mengajarkan segala sesuatunya. IA mengasihi maka IA berkuasa mengajarkan tentang KASIH, IA turun dari segala “langit” sehingga IA penuh wibawa berbicara tentang kerendahan hati, penguasaan diri, kelemahlembutan, dan sebagainya.
Dan karena IA melayani maka IA menjadi Yang Sulung dari semua saudara.

Bukan cuman Yang Sulung….

(Ibrani 4:14) Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.

dalam terjemahan bahasa Indonesia masa kini disebutkan:

(Ibrani 4:14) Itulah sebabnya kita harus berpegang teguh pada pengakuan kepercayaan kita. Sebab kita mempunyai Imam Agung yang besar, yang sudah masuk sampai ke depan Allah–Dialah Yesus Anak Allah.

Semua kuasa, keberanian, kegagahperkasaan, kemampuan, DIA lalui, DIA lewati.
Jika Romawi salah menempatkan Kaisar yang duduk di tahta sebagai anak allah, maka Kristus disebut oleh ALLAH sendiri sebagai ANAK. ANAK TERKASIH, ANAK SATU-SATUNYA, karena semua dapat dilihat dari perbuatan-perbuatanNYA. Injil Yohanes mengatakan: “Ia penuh kebenaran dan kasih karunia”.

Kita yang lemah, yang mungkin dianggap hina,… masih seperti dahulu, selalu dipakai secara paradoksal oleh TUHAN YANG PERKASA.
Ingatlah..”Israel dulu adalah budak, tetapi dipilih”.
Ingatlah..”Elia adalah nabi seorang diri, tetapi melawan 500-an nabi Baal”.
Ingatlah..”Kristus adalah si miskin, tetapi IA adalah ANAK ALLAH”.

KRISTUS, turun melintasi langit.
Imam Agung kita, KRISTUS, naik melintasi seluruh langit, semua langit yang di atasnya masih ada langit, sampai kepada ALLAH, IA tetap ada di sana, SORGA, HADIRAT ALLAH, digambarkan dalam istilah Palestina, duduk di sebelah kanan.

IA turun untuk turut merasakan derita kita, derita atas perlawana terhadap dosa.
IA naik untuk dapat membawa kita, orang yang telah menderita oleh Salib, untuk kemuliaan bersama kekal BAPA MAHA KASIH.

Jadi dalam berperilaku di bumi ini, kita memiliki teladan, KRISTUS. Lemah lembut, setia, kasih, suka cita, dan sebagainya. Karena kita telah didamaikan, maka kita wajib hidup dalam Kristus.

Dalam persiapan kita hidup dalam persekutuan orang kudus, kita memiliki Imam Agung, yang membawa semua doa-doa kita langsung di hadapan ALLAH, pusat segala doa dan pujian dan hormat.

Di atas langit ada langit, berlaku bagi manusia yang terbatas.
Di atas langit ada TUHAN, karena kita percaya kepada TUHAN.
Karena manusia yang terbatas tidak sanggup meloncat oleh segala upayanya menuju atasnya langit
maka TUHAN, oleh Imam AGUNG kita, YESUS KRISTUS, memberikan anugerah-anugerah, IA membawa kita kepada pelataran KUDUSNYA… “menjala” kita, lalu mengangkatnya, dan …
Maranatha,… TUHAN datang dalam KEMULIAAN.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: