Dialog Para Relijius – 01

Oktober 17, 2011 pukul 8:39 am | Ditulis dalam Pemikiran | 10 Komentar
Tag: ,

Dari kitab Ayub kita dapat melihat jarak yang tipis dari pemikiran antara sahabat AYUB dan AYUB sendiri, tetapi jika kita mengerti pondasinya kita dapat melihat sebenarnya ada jurang pemisah yang dalam dan terjal dari dua corong iman sahabatnya dan iman Ayub.

Tangan iblis keduakali menghantam Ayub, TUHAN mengijinkan itu,… lalu sahabat Ayub mengunjungi beliau, dan…

Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.
(Ayub 2:13)

Setelah masa “sela” itu, lalu dimulailah perbincangan relijius dan berikut pandangan mereka:

Pokok Bahasan Pandangan Sahabat AYUB Pandangan AYUB
Penderitaan, hukum tabur tuai ELIFAS: Ayub pasti telah melakukan kesalahan di mata TUHAN, sehingga Ayub menuai penderitaan Ayub mengatakan rahasia penderitaan ada pada TUHAN bukan berdasar realita manusia
Keadilan dan Kebenaran BILDAD: Anak-anakmu binasa karena mereka tidak berbuat jujur dan baik, sedemikian Ayub juga telah tidak jujur dan tidak baik maka TUHAN adil menghukum, karena manusia ada ketidakadilan dan ketidakbenaran maka TUHAN layak menghukum Ayub percaya bahwa TUHAN memang ADIL dan BENAR, bahkan tidak ada satupun manusia yang ditemukan dalam kebenaran dan keadilan, tetapi keadilan dan kebenaran TUHAN tidak terlihat dari perbuatan manusia, melainkan karena TUHAN adalah KEADILAN dan KEBENARAN, dan tidak ada untungnya bagi TUHAN bermain-main seperti itu, seolah TUHAN bertindak dari timbangan perbuatan manusia
Kesombonngan, keangkuhan ZOFAR: TUHAN MAHA BESAR sehingga kita kecil dihadapanNYA, pengakuan bahwa kita bersih dihadapanNYA adalah sebuah bualan, kesombongan dan keangkuhan, dan oleh karena itu layaklah kita dihukum, dan kalau kita terus hidup bersama TUHAN maka niscaya tidak akan pernah mengalami penderitaan Ayub mengatakan segala rahasia ada pada ALLAH, dan beliau ingin mengetahui rahasia kenapa ia mengalami penderitaan, sekali lagi bukan karena perbuatan tetapi oleh otoritas ALLAH segala sesuatu terjadi.

Dalam dialog di atas AYUB ingin berperkara langsung dengan TUHAN, ingin mendengar langsung TUHAN menjawab rahasia penderitaannya.
Sementara sahabatnya beranggapan rahasia itu ada pada Ayub sendiri, Ayub pasti telah melakukan suatu kesalahan yang tersembunyi, kesalahan besar yang membuat TUHAN adil menghukum. Karena jika kita berbuat adil maka TUHAN akan berbuat adil, sebaliknya jika kita jahat maka TUHAN adalah adil dan benar berbuat jahat juga.
Ayub menilai sahatnya membela ALLAH, sementara Ayub mengatakan kita mengimani TUHAN Yang Maha, jadi tidak perlu kita membela DIA, yang perlu adalah semakin intim dan dekat kepada TUHAN sehingga dapat mengetahui rahasia-rahasia kehidupan kita.

Berlanjut ke Dialog Para Relijius – 02

10 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. […] Dialog Para Relijius – 02 October 17, 2011 at 8:40 am | Posted in Pemikiran | Leave a comment Tags: Ayub, relijius Lanjutan dari Dialog Para Relijius- 01 […]

  2. […] Dialog Para Relijius 01 Dialog Para Relijius 02 […]

  3. AYUB adl contoh orang saleh yg tidak mau mencari2 pembenaran akan cobaan yg di hadapinya apalagi sampai menyalahkan TUHAN, walau sebenarnya dia punya ‘kesempatan’ utk melakukan itu.
    Saya tertarik dengan pernyataan “…Ayub percaya bahwa TUHAN memang ADIL dan BENAR, bahkan tidak ada satupun manusia yang ditemukan dalam kebenaran dan keadilan…” ,karena sejak jaman Adam tidak adalagi kebenaran dan keadilan dalam diri manusia, yang ada adalah upaya-upaya semu untuk dibenarkan dan mendapat keadilan palsu
    Salam Amang Parhobas😆

  4. Great! Nice posting!

    Salam

  5. saya lagi sibuk sampai desember, tidak bisa posting dan comment,

    harap maklum

    salam

  6. Menarik sekali.
    Ayub memang hebat!

    Emang, Tuhan nampak “pelit”.
    Kita selalu disuruh berusaha.
    Kata-Nya, kita telah diberi kuasa.
    Jadi, gunakanlah kuasa itu.

    Ada dialog doa permintaan yg kek gini nih:

    Ini bukan doa komat-kamit sampai ngelindur.
    Doa ini bukan juga doa replek yg monoton
    Tapi doa permintaan kpd Tuhan yg “pelit”

    Jika Tuhan tidak menjawab Doa kita,
    Dia tahu bahwa kita tak benar berdoa,
    Hhe!

    Menurutku, banyak permintaan kita yg rasa-rasanya belum dikabulkan Tuhan, apalagi permintaan itu hanya lama tercetus di dalam hati saja atau minta bangsa ini segera “take off” segala. Atau permohonan itu tak pernah diucapkan secara tegas dan sungguh-sungguh ditransmit kepada-Nya.
    Tapi, secara tak sadar, banyak juga hal-hal yg tidak kita minta justru bagai sekonyong-konyong ada tanpa praduga. Keberadaan kita dan properti kita kini kebanyakan diluar perhitungan akal rasio kita semula. Ada yang telah merasa memperoleh lebih dari yang diharapkan semula, ada yg telah merasa cukup dan ada juga yg masih merasa kurang dari yg selayaknya hrs dia peroleh jika dibandingkan dgn amal-soleh perbuatannya. Bila aku telah merasa cukup dari apa yg aku butuhkan kini dan bersyukur kepadaNya, maka aku hrs percaya bahwa keberadaanku kelak pun akan di-cukupkan-Nya juga. Pengharapanku itu pun pasti akan jauh dari pengharapanku saat ini tentu, karena Dia tau kebutuhanku yang sebenar-benarnya.
    Mengapa Tuhan tidak serta merta mengabulkan apa yg kita minta? Apakah doa-doa permohonan kita itu tertuju pada Tuhan yg salah sehingga yg kita terima selalu yg lucu-lucu? Atau, apakah hal ini karena doa-doa kita itu belum pernah ngecun kepadaNya, walau rasa-rasanya komponen kita sudah bersih tata cara pun tokcer? Atau apakah permintaan kita itu belum pantas kita miliki karena ada banyak prasyarat utk merealisasikan permintaan yg seperti itu, “take off” misalnya. Dgn kata lain, apakah permintaan kita itu terlalu muluk-muluk atau aneh-aneh sehingga selalu dicuekin? Atau apakah permintaan kita itu tidak kita mengerti sepenuhnya apa dan hanya meminta begitu saja ikut-ikutan komat-kamit hingga permintaan itu latah saja. Atau kita tidak merasa bertanggungjawab atas permintaan yg seperti itu? Atau apakah kita tidak tau apa yg kita minta, sehingga kita pun tidak tau juga apakah kita pernah menerimanya? Atau dll, hh!
    Berikut adalah imajinku ttg permintaan-permintaan kepada Tuhan,
    yang percis sama dengan sumber dari suatu mailist.


    Diceritakan, doanya beg ini:

    Aku meminta kepada Tuhan utk menyingkirkan kesedihanku,

    Tuhan menjawab, Tidak!
    Itu bukan untuk disingkirkan,
    Tapi agar engkau mengalahkannya.


    Aku meminta kepada Tuhan utk menyempurnakan tubuh-cacatku,

    Tuhan menjawab, Tidak!
    Jiwa adalah kesempurnaan,
    Tubuh hanyalah sementara.


    Aku meminta kepada Tuhan utk menghadiahkanku kesabaran,

    Tuhan menjawab, Tidak!
    Kesabaran itu adalah hasil dari kesulitan;
    Itu tidak dihadiahkan;
    Itu harus dipelajari.


    Aku meminta kepada Tuhan utk memberiku kebahagiaan,

    Tuhan menjawab, Tidak!
    Aku memberimu berkat,
    Kebahagiaan tergantung pd mu.


    Aku meminta kepada Tuhan utk menjauhkan penderitaan,

    Tuhan menjawab, Tidak!
    Penderitaan menjauhkanmu dari dunia,
    Dan mendekatkanmu kepada-Ku.


    Aku meminta kepada Tuhan utk menumbuhkan rohku,

    Tuhan menjawab, Tidak!
    Engkau harus menumbuhkan roh-mu sendiri,
    Tetapi Aku akan memangkasnya
    Untuk membuatmu berubah.


    Aku meminta kpd Tuhan segala hal agar aku dpt menikmati hidup,

    Tuhan menjawab, Tidak!
    Aku akan memberimu hidup,
    Sehingga engkau dpt menikmati segala hal.


    Aku meminta kpd Tuhan utk membantuku mengasihi orang lain,
    Seperti Dia mengasihi aku,

    Tuhan menjawab, Ahhh …!
    Akhirnya engkau tau!
    Hari ini adalah milikmu!
    Jangan engkau sia-siakan!

    Bagi dunia, engkau mungkin hanyalah seseorang!
    Tapi bagi seseorang engkau bisa jadi dunianya!
    Jadilah rahmat bagi semesta alam;
    Aku memberkatimu!




    Jadi mungkin:
    Bila kita nggak pernah ngecun dgn Tuhan,
    Periksalah keinginan-keinginan tubuh kita,
    Periksa juga keinginan-keinginan roh kita,
    Lalu jiwa menimbang-nimbang menyimpulkan,
    Barulah kita berdoa dgn gambar yg jelas dan pass,
    Bukan doa yg bergambar “take off” yg nggak jelas.

    Salam Damai!
    http://perhatikanlah.wordpress.com/2010/08/30/agama-para-utusan/#comment-215

  7. Maren Kitatau
    Aku meminta kepada Tuhan utk menghadiahkanku kesabaran,

    Tuhan menjawab, Tidak!
    Kesabaran itu adalah hasil dari kesulitan;
    Itu tidak dihadiahkan;
    Itu harus dipelajari.
    .
    .
    .

    Terkadang dalam kesabaran itu kita jadi banyak mengerti dan melihat siapa kita di hadapan Allah yg Maha Kuasa..
    Allah tidak perlu menunjukkan diriNya kpd manusia spt DIA pernah datang ke dunia ini 2000 thn lalu…., tetapi dgn ketulusan hati dan sabar menjalanin hidup kita ini, kita dapat merasakan bhw DIA senantiasa berjalan di samping kita.
    Salam kasih ma bereku

    • Lebih penting dari ujuk diri-Nya adalah ujuk kerja-Nya.
      Jika tidak demikian maka makin banyak Munarman2 lain,
      Jubir FPI yg tak sabar menanti kebenaran demi kebenaran.

      Salam Damai!

  8. […] Kaitkata: pemahaman, Rasul, theologi, ujian Mengenai dialog Ayub ada 3 kali dibahas di blog ini; Dialog-para Relijius 01 Dialog para Relijius 02 Dialog para Relijius […]

  9. […] Ayub dengan sahabatnya sudah kita rangkum dalam artikel: Dialog-para Relijius 01 Dialog para Relijius 02 Dialog para Relijius […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: