ITU HAKKU!!!

Oktober 13, 2011 pukul 8:10 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.
(Yakobus 4:4)

Kita bisa melihat makna ayat ini dari ucapan YESUS berikut:

Matius 6:24 Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Alkisah Yakobus adalah seorang yang setia menemai YESUS ketika masa pelayanan, dan karena begitu hal-hal praktis yang ia ungkapkan pada tulisan ini tidaklah menjadi suatu keasingan. Kalimat YESUS di Injil Matius itu dipraktekkan dalam kondisi yang disebut kesetiaan dipandang dari praktek persahabatan seseorang dengan dunia atau ALLAH.

Jika kita telusuri 3 ayat dari Yakobus 4:1-3, kita mengetahui bahwa akibat dari persahabatan dengan dunia adalah kekacauan, dan dosa-dosa yang lain pun akan turun gunung mengurung kita pada penjara yang berujung kepada kematian.

Kita mendengar, setiap orang yang melanggar Hukum Taurat harus mati. Oleh karena itulah kita tidak hidup lagi di bawah Hukum Taurat, melainkan di bawah Hukum Kasih Karunia. Kita menjadi hamba bagi ROH KUDUS.
Dan ketika kita mengaku menjadi hamba ROH KUDUS maka persahabatan kita kepada dunia menjadi didalamkeadaan “dihilangkan”, dipakukan disalib. Jadi kita tidak hidup di bawah hukum yang mematikan melainkan di bawah Roh TUHAN yang menghidupkan. Kita ingat, Adam hidup karena hembusan ROH ALLAH. Sedemikian kita keturunan Adam Kedua, akan hidup oleh hembusan Karunia, Nafas ALLAH, kasih karunia YESUS, baca pembukaan Yohanes pada Injil Yohanes pasal 1 ayat 14 berikut:

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Jikalau kita sudah di dalam hidup bersama Kristus, maka meski masih di dalam tubuh yang bisa dan akan mati,kita yakin dan percaya bahwa tubuh itu haruslah berperilaku seperti keyakinan dan kepercayaan itu, dan jika setia di dalamnya, maka keyakinan dan kepercayaan itu akan terlihat menjadi nyata kelak, ketika KRISTUS mengangkat kita sebagai hakim-hakim dunia pada akhir jaman.

Menjadi sahabat dunia berlawanan dengan realitas rohaniah kita yang telah diangkat menjadi anak-anak ALLAH.
Contohnya?
Mari kita melihat hidup terakhir YESUS di salib.
Sebagai Nabi yang dianggap unik, dan sebagai Seorang yang dianggap Baik dan Benar, yang melakukan banyak mukjizat dan sekaligus memiliki pengikut yang banyak, maka jelas YESUS berhak, sanggup, bisa memimpin pemberontakan atas Romawi, toh ada nubuat: “Mesias akan membebaskan umatNYA dari penjajah”.
Dan terlebih lagi, IA adalah Anak ALLAH, maka ketika peristiwa salib akan mendekati jelas IA memiliki hak untuk menurunkan berlaksa-laksa malaikatNYA untuk memerangi mereka yang berani-berani menyentuh ANAK ALLAH.
Apa yang kurang dari YESUS untuk bisa menempatkan hakNYA sebagai yang terutama? yang olehNya seluruh dunia diciptakan, Ia berhak meluluhlantakkan segala sesuatu pada masa itu. Atau pada masa sekarang, ketika IA dihina dan dicibir, IA berhak menutup setiap mulut, tetapi HAKNYA tidak IA kedepankan. Toh ada tertulis: “Pengrajin berhak penuh atas tanah liatnya”.
IA tidak mengedepankan cari selamat dari salib lalu diangkat ke sorga, tetapi IA melepaskan haknya supaya maksud yang lebih besar tercapai, IA harus disalib bahkan mati, supaya banyak orang lain yang mau percaya beroleh selamat. 3 ratusan orang yang menyalibkan DIA harus diberi kuasa mengedepankan haknya yang mana pada saat yang sama hak YESUS diinjak-injak, tetapi justru karena itulah kita 3 milyard orang mendapat berita kesukaan, anugerah keselamatan, anugerah sorga yang menjadi Jalan Lurus.

Filipi_2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

ADa waktu TUHAN yang sedang terjalin pada waktu manusia, dan IA mengikatnya pada kebijaksanaan, dalan ROH YANG KUDUS yang mengetahui seluruh pemikiran ALLAH.

Dalam rapat-rapat gereja sering kita temui penatua membanting meja, seraya mengucapkan kata-kata yang benar, saya berhak mendapat ini dan itu karena saya sudah melakukan ini dan itu, tetapi justru ketika ia mengedepankan haknya, yang terjadi adalah kekacauan, ia tidak melihat KRISTUS yang disalib.

Ketika orang semakin berani atau malah terlalu berani, mengucapkan haknya di dunia demokrasi, maka tidak menjadi sebuah keheranan tv diwarnai berita-berita demostrasi, dan ketika apa yang mereka tuntut tidak tercapai, massa yang semakin banyak dikerahkan, dan jika tuntutan tidak tercapai juga, maka chaos akan logis terjadi.

Dan bayangkan “pintu kebangkitan” kelak dikala orang-orang berteriak berhak menerima anugerah ALLAH, karena ia secara sadar dan yakin telah melakukan perintah ALLAH.
Bahkan ada tulisan:

Matius 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Jika bagi kita yang percaya berlaku seperti ini apalagi kepada orang di luar Kristus yang menuntut haknya.
Bukan di dalam keadaan salah seseorang bertindak, berperilaku. Seseorang yang berperilaku baik tentu akan melahirkan hak, tidak menjadi salah mereka menuntut haknya, karena memang mereka melakukan apa yang hebat, apa yang bagus, apa yang benar, tetapi justru karena melihat hak sebagai sesuatu yang logis dari apa yang diperbuat diri sendiri menjadikan ia masih manusia-manusia yang terhukum, yang tidak melihat KRISTUS yang disalib, yang melepaskan hakNYA demi suatu yang lebih besar, yaitu KESAMAAN dalam BAPA yang juga melepaskan HAKNYA demi kelangsungan Rancangan Damai Sejahtera. Bukankah yang menyalipkan YESUS adalah orang yang mengaku berhak mengadili setiap kesesatan?, bukanlah YESUS dituduh sesat karena YESUS meski seorang manusia tetapi mengklaim sebagai ALLAH juga?

Jika ALLAH menuntut hakNYA maka tidak ada manusia yang sanggup melakukan, sekali lagi karena IA MAHA dan kita tidak. Kita bisa melihat hukum sebagai gambaran hak TUHAN, tetapi hukum macam apa yang dapat kita lihat yang tidak maha ini, seberapa luas hukum itu mengurung setiap delik pelanggaran rohaniah kita?

Hukum paling utama adalah hukum kasih, jadi jika hak TUHAN dikedepankan maka ketika kita tidak mengasihi maka kita bukan akan mati seketika atau mati dihukum seperti hukuman pada pelanggaran Hukum Taurat, tetapi jika kita tidak ada kasih maka kita adala seorang pendusta, yang masih menyayangi dunia, yang memperilah Mamon, tidak ada ROH ALLAH. ROH ALLAH adalah HIDUP, dan karena kita hidup sesuai dunia, maka ROH ALLAH tidak ada pada kita, dan ketiadaan ROH itu adalah ketiadaan hidup. Itulah yang dijelaskan Einstein pada dialog Mahasiswa vs Professor, ketiadaan terang adalah gelap, dst

Sesuai rencanaNYA, IA, memberi suatu masa yang kita sebut sebagai masa anugerah, waktu dimana IA menunggu dengan sabar, sampai berita INJIL telah dikumandangkan ke seluruh dunia, lalu kesudahannya semakin dekat, di ambang pintu.
Jadi kalau kita menuntut hak oleh perbuatan-perbuatan kita, itu adalah dunia, itu datang dari dunia, tidak datang dari Atas, tidak datang dari Sorga, itu bukanlah INJIL.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: