Aku berdusta supaya DIA benar?

Oktober 12, 2011 pukul 7:36 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 1 Komentar
Tag: , , , ,

Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?
(Roma 3:7)

Dua orang tua memasuki ruang praktek dokter. Si Bapak mengentar istrinya, si ibu sudah sangat kelelahan dengan semakin keroposnya tulang-tulangnya, dan bahkan ia sudah sering menangis di dalam hatinya, ia sudah tidak kuat menahan derita sakitnya yang hampir ia derita selama 40 tahun.
Dua orang tua ini datang dari tempat yang jauh, menuju sang dokter di pusat kota.
Ketika mengucapkan kata-kata dengan terbata-bata si dokter mengerti arti sebuah semangat yang rapuh. Ia terjun untuk menyemangati, dan ia mengucapkan kata-kata penghiburan. Si sakit bisa merasa kuat, tetapi si dokter mengetahui segala kekejaman penyakit yang menggerogoti tubuh si ibu renta ini.
Toh si ibu itu dalam hitungan bulan sudah meninggal dunia.

Ketidaksiapan beberapa orang yang masih didalam kelemahan bisa membuat seseorang lain menyimpan informasi yang sebenarnya, itu tekniknya, katanya.

Seorang bapak membawa anaknya yang masih balita kekerumunan sahabat-sahabat, dengan bangga ia menceritakan lucu-cerdik dan cerdasnya sang anak. Memang kita masih mudah mendapati hal sedemikian, bahwa semua orang tua bangga akan anak-anaknya yang balita. Meski beberapa anak setelah dimakan usia menjadi didalamkeadaan meremukan hati orang tua, tetapi jika berhadapan dengan muka perbandingan, si anak tetapkah si unggul.

Pada usia anak-anak setiap mereka menganggap kedua orangtuanya adalah superman-superman yang hidup. Mereka dengan mudahnya mengadu dan meminta perlindungan, meski beberapa orang tua harus juga meloncat ketakutan dikala melihat tikus dalam pelarian di rumah.

Itu semua ilustrasi dari realitas yang bisa menghasilkan suatu yang WAH dengan cara yang natural dari keadaan manusia itu sendiri.

Rasul Paulus dalam Kitab Roma sedang menjelaskan antara manusia, hakekat manusia dan TUHAN dan hakekat TUHAN. Ketika manusia telah jatuh ke dalam dosa, maka manusia memiliki karakter yang secara alamiah melawan image Kristus. Ketika kita katakan kita suci, benar dan baik, tetapi seorang pria masih memiliki hawa nafsu kepada seorang wanita dan sebaliknya dan seterusnya. Dan hawa nafsu itu tidak bisa dilawan karena manusia harus juga bereproduksi, supaya bumi dan segala isinya “dikuasai” manusia. Manusia bisa menahan hawa nafsu tetapi manusia yang hakiki masih juga memiliki mulut untuk makan dan berbicara, dan untuk makan dan berbicara orang bisa “keseleo”, dan godaan “keseleo” cenderung lebih diunggulkan demi sesuatu yang dianggap lebih dapat diterima.
Si dokter lebih suka “keseleo” demi menyelamatkan rasa galau pasien. Contohnya.

Jika dikatakan semua manusia masih memiliki sifat natural demikian, maka berdusta juga adalah alamiah bagi manusia. Meski kita ketahui berdusta itu tidak baik, hati nurani kita bisa mengetahuinya, tetapi begitu mudahnya seseorang berdusta dengan dalih supaya dapat terlihat lebih benar, supaya terlihat lebih logis, supaya terlihat masuk akal, dan supaya terlihat menggelambungkan.
Dan ternyata itu semua adalah keadaan yang ada pada orang pada umumnya, itu sifat natural manusia…
Dan karena semua manusia masih memiliki itu maka hukum dianggap sebagai sesuatu yang dapat meredamnya, meredam kesanggupan berjinah, meredam kesanggupan berdusta, membunuh, mengingini hak orang lain, dan sebagainya. Terkadang hukum diterjemahkan sebagai melakukan apa yang harus tidak dilakukan.
Sementara ketika KRISTUS telah datang, hukum itu bukanlah sebagai peredam segala sifat natural kita, melainkan sebagai tonggak tegak, sebagai penulis keadaan kita yang sebenarnya, yaitu orang yang benar-benar telah jatuh dalam dosa dan akan mati akibat dosa itu. Sebab dikatakan pelanggaran terhadap satu hukum ALLAH adalah pelanggaran keseluruhan hukum itu, dan pelanggaran hukum ALLAH adalah mati, mati dilempari dalam prakteknya, sebagai simbol betapa memalukannya berbuat dosa bagi umum.
Sifat dasar kita itu masih tetap ada pada kita, kita masih memiliki tubuh, daging, tetapi bukan oleh tubuh dan daging yang sewaktu-waktu dapat berdosa itu kita hidup sekarang, dan bukan oleh hukum yang membatasi tubuh kita bergantung, melainkan kepada KASIH KARUNIA TUHAN, kita bergantung kepada ROH KUDUS. Kita melakukan apa yang harus dilakukan.

Ketika manusia dikatakan telah berdosa, semuanya, tetapi beberapa orang dari yang berdosa itu disebut menjadi nabi, rasul, orang-orang kudus, maka bukan karena usaha mereka menjadi sedemikian, melainkan oleh TUHAN dikatakan benar, bersih dan suci. Kita tidak maha kuasa sehingga sanggup mendekati tahtaNYA atau sanggup berbincang-bincang dengan SI EMPUNYA SEGALAnya itu minimal di dalam doa, tetapi karena TUHAN adalah MAHA dan kita tidak, maka TUHAN berinisiatif, IA bertindak, membuat IA dapat disentuh dan didekati, oleh ROH KUDUS yang dicurahkan bagi setiap orang yang percaya, yang memanggil YESUS adalah TUHAN, bagi kemulianNYA, kita disanggupkan oleh DIA.

Jadi TUHAN membenarkan kita, pembenaran. TUHAN membuat kita menjadi ini dan itu. Dan karena TUHAN yang membuat itu maka beberapa orang layak menjadi nabi, rasul, orang-orang kudus. Dan nabi, rasul, orang-orang kudus layak memberitakan INJIL KASIH KARUNIA ALLAH.
Jadi pemberitaan tentang KASIH KARUNIA bukan oleh upaya/kerja/usaha seseorang, itu sama saja dengan si dokter yang menyembunyikan penyakit sesungguhnya, ia hanya menyimpan sesuatu yang menyebabkan kematian, dan malah memberitakan sesuatu yang dapat mempertahankan rasa nyaman untuk sementara saja. Dan karena demikianlah maka surat-surat penggembalaan yang tertulis di Kitab Perjanjian Baru selalu bermuatan dengan kata: “Aku Rasul X, hamba dari YESUS KRISTUS“. Rasul adalah hamba YESUS KRISTUS.

Dan karena segala sesuatu telah lebih dahulu dikerjakan oleh TUHAN, maka kita yang hanya menerima amatlah sangat benar menanggung malu jika kita tidak mengerjakan apa yag diberikan kepada kita pada predikat sebagai hamba.
Karena TUHAN terlebih dahulu menciptakan, maka kita tidak perlu menciptakan lagi, dan atau bahkan kita akan amat sangat malu dan layak dihukum jika kita enggan mengecap semua ciptaan itu dalam karakter dan tanggungjawab.
TUHAN menjadi adil menghukum jika IA mengaruniakan dan kita menolak. Jadi kalau segala anugerah diukur dari perbuatan apapun dari kita, maka kita tidak layak dan tidak adil dihukum sebagai orang berdosa, bahkan kita tidak bisa disebut sebagai orang berdosa.
Dan karena TUHAN memang senantiasa memberi maka kita sangat, atau seharusnya sangat tidak mungkin menolak. Tetapi karena sebagian orang menolak, maka murka TUHAN menyala-nyala bagi mereka.
Jika seorang pengemis meminta-minta, dan seseorang tidak memberinya maka tidak ada alasan bagi dia untuk marah dan mengutuki, meski pengemis ini telah menggunakan kitab-kitab pengemis tingkat sorgawi,…
Tetapi jika seorang pengemis telah diberikan 100 rupiah dan ia mengutuki dan menolak, maka si pemberi layak mengacuhkan beliau.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Terkadang Allah kita seperti berdiam diri di saat kita ingin mengetahui mengapa sesuatu hal yg terjadi diluar keinginan kita. Saya yakin disitulah Allah menyembunyikan perkara yg terkadang memang sangat menyakitkan jikalau kita tidak dipoles oleh sesuatu kejadiaan.. Salam kasih lae


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: