Narsis loe…

Oktober 11, 2011 pukul 8:20 am | Ditulis dalam Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag:

Mitologi Yunani menceritakan tentang seorang pemuda yang mencintai dirinya sendiri, sehingga ia puas memandangi dirinya sendiri pada sebuah bayangan yang ditimpulkan efek kolam air. Itu disebut narsis.

Narsisme dianggap sebagai upaya untuk menonjolkan ke-aku-an, egoisme, dan puas terhadap diri sendiri.

Jika seseorang berfoto ria, sendirian, dengan lenggak lenggoknya yang unik, lalu dipajang secara maya di jejaring sosial,… orang lalu berteriak: “Narsis loe”, atau dengan kata sedikit dapat diterima: “Narsis juga loe”.

Memang itu perkara-perkara kecil, tetapi kita memahami bahwa bahasa-bahasa yang mudah dimengerti dan gampang dilakukan bisa menciptakan karakter.
Cepatnya berkenderaan motor di Jakarta lambat laun telah menciptakan karakter, serampangan lahir dari bahasa ingin buru-buru, dan tidak beraturan lahir dari bahasa aku ingin cepat. Semua celah bisa menjadi jalan tikus, bahkan trotoar, kaki lima, dinaikin sepeda motor seolah ia ajalah pejalan kaki yang budiman, predesterian dicuri dengan mudah.
Pejalan kaki bahkan harus “menyembah-nyembah” si pemilik mobil mewah, supaya ia dapat menyeberang, jika sedikit kesalahan ditemukan, klakson kencang keras, bernada marah didengungkan. Dan ternyata pejalan kaki juga bisa berlenggak lenggok tak beri kesempatan kepada pengendara yang merendahkan dirinya. Karakter telah tercipta, di Jakarta. Dan karakter itu tidak baik.

Mengasihani diri sendiri, merasa diri lebih baik dari si anu, merasa tidak perlu untuk ini dan itu bagi orang lain, dan sebagainya bisa lahir dari kebiasaan mudah dalam memraktekkan narsis-narsis yang kita tidak sadari.
Dari sudut ini dan itu kita mengambil gambar kita, mungkin terlihat mantap dan bagus, lalu kita melayakkan itu sebagai yang terbaik, lalu foto ini di-post-kan. Satu yang diinginkan adalah agar terlihat indah dan kitapun puas menerima pujian. Sekali pujian akan melahirkan foto-foto berikutnya, dan kitapun terus berburu pujian,… dan suatu saat ketika pujian tidak datang, kita bisa kesal tak karuan…ketika itulah kita bisa memahami bahayanya narsis.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: