Turun dari langit

Oktober 10, 2011 pukul 8:24 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,


Sumber gambar: en.wikipedia.org

Artemis, adalah ibu atau dewi dari ilah-ilah yang ada di hutan-hutan atau penguasa perbukitan. Pusat penyembahannya ada di Efesus ibu kota Romawi untuk wilayah Asia, karena menurut tradisi Diana lahir di dekat Efesus dekat sebuah kuil. Artemis? Diana?…
Kisahnya penyembahan dewi semacam ini sudah didahului oleh orang kuno sebelumnya (pra-Yunani), dan penyembahan ini hanya diteruskan saja oleh Yunani, lalu menamai dewi ini sebagai Artemis. Kemudian Yunani diduduki oleh Romawi dan menamai Artemis sebagai Diana. Jadi Artemis adalah Diana. Dewi mahabesar yang patungnya dikatakan turun dari langit. Luar biasa.
Melihat gambar di atas dapat kita bayangkan betapa Efesus dipenuhi oleh patung-patung semacam ini. Ketika saya memasuki Museum Louvre di Paris, banyak sekali patung-patung indah hasil karya orang Romawi/Yunani, termasuk patung-patung dewa-dewi kuno ini. Membandingkannya dengan karya patung buatan lokal-Indonesia tentu sangat tidak bijaksana. Ada suatu hal yang membuat perbedaan, arah seni yang tidak dapat dibandingkan. Lekukan-lekukan batu marmer itu diukir sedemikian rupa, tipis, indah, dan luar biasa.
Hasil karya tangan manusia yang mengagumkan.

Karena patung dianggap sebagai wujud nyata keberadaan dewa-dewa atau dewi-dewi maka banyak orang Efesus bekerja sebagai pembuat patung. Dewa-dewa dan dewi-dewi direpresentasikan pada pahatan-pahatan kayu atau batu yang indah-indah. Dan hebatnya mereka menyembahnya. (Ini sekaligus teguran bagi beberapa dari kita yang membuat patung KRISTUS dan malaikat-malaikat, bahwa kita harus ditegur habis-habisan oleh salah satu dari 10 Perintah ALLAH di dua loh batu Musa yang telah juga ditanamkan di dalam hati kita, patung itu jangan disembah dan jangan dianggap representasi semua yang di Sorga)

Kemungkinan salah satu patung Artemis ada yang dibuat dari batu meteorit yang jatuh dari langit, dan patung ini diletakkan pada kuil pusat dari dewi Artemis, di Efesus.

Ketika INJIL memasuki wilayah Efesus, maka ada sisi sosial yang berdampak pada gesekan tak sedap.
Ketika INJIL mengatakan bahwa bumi dan langit tidak cukup memuat HADIRAT ALLAH, apalagi patung-patung dibuat sebagai representasi YANG MAHA KUASA, itu sebuah dosa besar. Maka INJIL mengajak untuk mengaku dosa di hadapan TUHAN YANG MAHA KUASA yang telah datang di dalam NAMA YESUS KRISTUS.

Kitab Kisah Para Rasul mencatat, bahwa pemberita INJIL di EFESUS tidak pernah sekalipun menghujat Artemis, tidak juga merampok atau menghancurkan patung-patung Artemis, apalagi merusak tempat ibadah Artemis. Karena memang dunia dan segala isinya apalagi patung tidaklah bisa dianggap sebagai tempat hadirat TUHAN.
Yang dicari INJIL adalah manusianya, rohaniahnya. Dan karena orang jugalah yang membeli patung-patung ilah-ilah itu maka karena orang yang sama telah menjadi mulai percaya kepada INJIL maka lambat laun penghasilan orang-orang yang membuat dan menjual patung-patung bisa berkurang. Dan yang dilahirkan dari keadaan seperti ini adalah ….iri, dan iri bisa melahirkan kekacauan. Iri kepada INJIL karena mengurangi pendapatan, maka pengabar INJIL, PAULUS dan SILAS d.l.l lalu diburu dan dibenci dan dihina. Iri karena mengurangi jemaah di si anu juga bisa melahirkan kekacauan.

INJIL mengakui bahwa memang banyak allah, banyak tuhan, tetapi ALLAH hanya SATU dan TUHAN hanya SATU, sehingga allah-allah lain, tuhan-tuhan lain harus memanggil TUHAN sebagai Tuhan, memanggil ALLAH sebagai Allah. (perhatikan huruf-huruf yang digunakan pada tulisan ini). Dan karena ALLAH adalah Allah dari segala allah, Tuhan dari segala tuhan, maka kita tidak perlu merusak apapun dari allah yang mengaku maha besar itu. Kita kabarkan saja INJIL kepada umat dari allah, dari tuhan itu, sekiranya TUHAN membuka hati, mereka dapat melihat TUHAN YANG MAHA BESAR. Toh harus ada juga yang dihanguskan oleh API Kekal itu, jadi Rencana TUHAN jadilah.
Karena TUHAN MAHA BESAR, sehingga tidak perlu dibela, kita yang dibela olehNYA, karena kita lemah. Jangan naikkan tensi urat saraf untuk mengedepankan kebenaran TUHAN, IA sanggup melakukan apa saja meski tanpa kita, tetapi kita perlu hidup dalam perhambaan akan TUHAN, sehingga kita harus tunduk sepeunuhnya kepadaNYA.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: