Baca Kitab Suci-nya cooooy

Oktober 6, 2011 pukul 7:39 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Jaman semakin serba cepat. Banyaknya hal yang harus kita kuasai adalah salah satu akibat dari perkembangan jaman itu, kalau tidak, terkadang ada kata aneh yang disematkan ke kita, yaitu “gaptek”. Bisa dibawa positif dan bisa juga negatif.

Demikian juga dengan keahlian manusia, kombinasi semakin rumit, dan spesialisasi semakin banyak.
Jika dulu Kitab Suci hanya berbahasa tertentu, maka sekarang telah banyak terjemahannya ditemukan. Bisa jadi sudah 800-an terjemahan bahasa. Dan yang paling banyak adalah terjemahan di dalam bahasa Inggris.
Keterbatasan dan keahlian tertentu bisa membuat terjemahan baru, dan semoga kita dapat dihindarkan dari segi memperilah hal-hal yang sedemikian.

Pengertian memang bisa didapat dari seberapa banyak informasi yang kita dapat. Sekarang informasi sudah dengan mudah didapat. Kita tidak lagi tinggal di jaman Gereja memegang hak penuh untuk hanya membuka kitab pada lembaran-lembaran tertentu misalnya. Tinggal “klik”, semua versi terjemahan bisa kita dapatkan dengan mudah.

Keadaan ini masih linier dengan keadaan masa para Rasul memberitakan Injil di daerah Yudea dan daerah-daerah pendudukan Romawi.
Ketika Paulus misalkan memberitakan tentang MESIAS yang sudah datang, maka mereka yang baru mendengar tentu bertanya-tanya, “Ajaran dari mana pulak ini”. Banyak pertanyaan yang bisa diajukan.
Sedemikian bisa juga pengajaran beberapa orang saling simpang siur.

Segalanya terbuka buat kita sekarang. Dan tidak selalu menutup kemungkinan ada hal-hal baru yang kita ketahui.

Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.
(Kisah Para Rasul 17:11)

Keterbukaan dan kecepatan informasi harus diolah dengan hati. Seseorang bisa saja simpang siur dalam mengajarkan sesuatu, oleh karena itu, orang percaya di Berea layak dianggap sebagai contoh, simbol kerendahan hati, simbol penguasaan diri. Jika kita sudah terjun dalam keinginan ingin lebih memperdalam di dalam pengertian, maka ada baiknya kita membuka Kitab Suci, menyelidikinya…. dibaca. Dan jika merasa satu terjemahan tidak cukup membuka pikiran, maka galilah pengertian yang dalam dari semua terjemahan-terjemahan yang telah tersedia, itupun kalau berani mendekati bahasa aslinya (tetapi toh kita juga terkadang harus membuka kamus, artinya ada perantara kepada bahasa lidah kita). Terima dahulu dengan rela hati, lalu selidiki. Mulut hati terlebih dahulu berbicara, ketimbang pedang lidah kita.

Ketidakmampuan menguasai segala sesuatu tidak membuat kita seorang yang gagap, melainkan mengaminkan bahwa memang ada YANG MAHA KUASA, dan tentu melatih kita dalam hal menjaga siapa kita di hadapan DIA.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: