Pengharapan

September 29, 2011 pukul 8:25 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 3 Komentar
Tag: , ,

Dalam kamus bahasa Indonesia, pengharapan diidentikkan dengan kata harapan.
harapan
ha.rap.an
[n]
(1) sesuatu yg (dapat) diharapkan: ia mempunyai ~ besar dapat memenangkan pertandingan itu;
(2) keinginan supaya menjadi kenyataan: ~ ku agar ia kelak menjadi orang yg berguna bagi nusa dan bangsa; (3) orang yg diharapkan atau dipercaya: pemuda ~ bangsa

Dalam sebuah kotak besar berisi bola-bola bernomor, yang diputar-putar, pemandu acara akan menyuruh seorang peserta undian mengambil satu bola saja. Dan jika ia menemukan bola tertentu ia akan beroleh sesuatu yang sesuai dengan harapannya.

Hadiah itu pasti ada di sana, dan bola bernomor undian itu pasti ada di sana. Tetapi tidak musti, tidak pasti bahwa peserta si A yang akan mendapatkannya, malah bisa jadi tidak mendapat apa-apa.

Jika suatu negara kacau, harga-harga melangit, kerusuhan dimana-mana, atau kondisi politik semakin tidak menentu, maka pengharapan bisa buyar. Kita berpikir keras untuk sebisamungkin melewati simpul-simpul kerasnya kehidupan. Beberapa orang akan stres karena biaya sekolah yang semakin mencekik. Atau ada juga orang yang membubungkan kerja demi harapan mendapatkan untung yang melangit.
Artinya di sini pengharapan didasarkan pada suatu keadaan disekitarnya.

Hidup ini sering juga dianggap sebagai undian dengan harapan, jika kita melakukan yang baik maka kita akan beroleh kebaikan juga, memang ada hukum: “Lakukan apa yang orang lain ingin lakukan kepadamu”.

Pengharapan, hope, ekspektasi, yang digambarkan Kitab Suci melebihi apa yang disebutkan di atas. Malah bisa jadi tidak identik, meski prosesnya sama.
Pengharapan seperti yang dijelaskan oleh kamus bahasa Indonesia di atas menjelaskan sesuatu yang akan didapat secara tidak pasti.
Sementara Kitab Suci mengatakan Pengharapan kita malah sesuatu yang akan didapatkan secara pasti karena kita justru telah mendapatkan di dalam realita rohaniah dan di dalam ingin mempertahankannya sampai realita badaniah kita menemui waktunya.

Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.
Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.
(1 Yohanes 3:1-3)

Kasih ALLAH mengaruniakan kita, mengangkat kita, memberikan sesuatu kepada kita, yaitu sesuatu yang disebut anak-anak ALLAH. Kita disebut anak-anak ALLAH karena IA melahirkan roh baharu kepada mereka yang percaya kepada apa yang telah dilakukan, terhadap apa yang akan dilakukan, dan terhadap apa yang selalu dilakukan TUHAN kita. Secara rohaniah kita telah menjadi anak yang dilahirkan dari ROH, tetapi keadaan itu belum nyata karena kita masih hidup pada kemah badaniah ini. Badan, tubuh kita disebutkan sebagai kemah karena suatu saat akan berpindah kepada istana yang menetap. Jika kita mengingat pengembaraan orang Israel yang keluar dari MESIR menuju Kanaan, maka mereka sering membangun kemah, kemah itu dipenuhi oleh HADIRAT TUHAN, tetapi kemah itu juga akan dibongkar dan dipasang kembali seiring perjalanan mendekati Kanaan, dan baru setelah di Kanaanlah Bait Suci dibangun, bukan kemah lagi. Dan semua itu seolah seperti perlambang bahwa ALLAH berkenan “singgah” pada kemah, tubuh kita, untuk suatu saat nyata keadaan kita yang sebenarnya di TAHTANYA di KERAJAANNYA.
Karena kita disebut anak-anak ALLAH maka kita memiliki pengharapan yang pasti kepada suatu keadaan yang membedakan kita pada kemah yang telah dicurahkan ROH ALLAH ini. Dan jika kita memiliki pengharapan yang sedemikian pasti maka sangat wajarlah kita menyucikan diri kita sebab DIA adalah suci. Artinya kita mengaku dan percaya di DALAM DIA, maka sesuatu yang pasti adalah kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada DIA, kita mengenalNYA dengan perbuatan-perbuatan kita.

Contoh kondisi Gereja awal dan sampai maranatha untuk menggambarkan perlunya memperlihatkan pengharapan kita dari perbuatan kita adalah..

Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.
Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.
(1Petrus 4:15-16)

Pengharapan. hope, ekspektasi, yang dilandaskan pada sesuatu yang tidak pasti seperti disebutkan Kitab Suci di atas, maka Kitab Suci yang sama mengatakan:

Pengharapan orang fasik gagal pada kematiannya, dan harapan orang jahat menjadi sia-sia.
(Amsal 11:7)

Setiap orang yang mengaku beragama tentu ada penharapan yang ada padanya, ada sesuatu yang ia inginkan karena ada tawaran-tawaran dari ilah, dari tuhan, dari TUHAN, dari tuan, dari allah, dari ALLAH.
Dan ternyata pengharapan ada dua jenis, pengharapan berujung diiringi perjuangan tetapi ketidakpastian sangat kentara dan pengharapan berujung diiringi perjuangan karena kepastian sudah digenggam meski belum nyata di dunia ini.

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Dalam suatu misteri tertentu.., adakalanya disuatu tempat Iman itu meredup, kasih dan cinta itu sudah mati.. Tetapi yg masih tetap hidup di keadaan itu adalah pengharapan. Berharap agar kiranya ada pertolongan dari Bapa kita yg Maha Baik. Amen

  2. […] bisa diterjemahkan sebagai agama dalam berbagai konteks. Pengharapan sudah kita bahas di artikel Pengharapan Jadi agama dan pengharapan akan dengan sendirinya tidak diperlukan, tidak menjadi didalamkeadaan […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: