Najis! Najis!

September 20, 2011 pukul 7:43 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , , , ,

Pada Kitab Imamat 13 sampai Imamat 14 dituliskan hukum hubungan antara orang yang diduga berpenyakit kusta, atau orang yang telah berpenyakit kusta dengan imam. Seorang yang telah positif berpenyakit demikian akan dikucilkan paling tidak 7 hari. Dalam prakteknya terkadang malah dikucilkan sepanjang hidupnya.

Untuk melihat gejala dan jenis penyakit ini silahkan baca Imamat 13 tersebut.
Sementara pada Imamat 14 berbicara tentang ritual yang harus seorang lakukan jika ia telah beroleh sembuh dari kusta.

Jika seorang telah diselidiki dan ternyata dia berpenyakit kusta maka ia dianggap najis, tidak bersih, tidak suci, kotor. Beberapa orang menganggapnya kena kutuk, kena hukuman. Bandingkan antara Gehazi, Mirriam, Yoab, dan Raja Uzia.

Saking seriusnya penyakit ini dihadapan imam, maka diulang lagi pada Kitab Ulangan.

Hati-hatilah dalam hal penyakit kusta dan lakukanlah dengan tepat segala yang diajarkan imam-imam orang Lewi kepadamu; apa yang kuperintahkan kepada mereka haruslah kamu lakukan dengan setia.
(Ulangan 24:8)

Di Kitab Bilangan disebutkan, ketika Israel masih dalam perkemahan-perkemahan menuju Kanaan, maka jika seorang didapati mengidap penyakit ini, mereka harus dikeluarkan dari kemah. Bahkan kalau kita ingat peristiwa Raja Uzia, sampai matinya ia dikucilkan karena kustanya.

TUHAN berkuasa atas penyakit ini, Miriam dan Naaman contohnya. Musa berdoa kepada TUHAN supaya TUHAN menyembuhan Miriam, dan Naaman oleh ‘pembantunya’ disarankan untuk bertemu dengan seorang nabi di Samaria/Israel, lalu ia sembuh.

Secara umum Kitab Perjanjian Lama tidak berbicara tentang kesembuhan penyakit ini, melainkan tata cara dan bagaimana memandang penyakit ini.

Bagaimana pandangan orang Israel tentang orang yang berpenyakit kusta masih sama sampai jaman Perjanjian Baru. Dan bisa jadi lebih agak longgar. Maksudnya adalah orang yang berpenyakit kusta bisa jadi telah menjadi pengemis-pengemis yang berkeliaran dijalanan, tanpa ada perhatian dari para Imam, yang ditugaskan untuk menangani mereka secara serius dan hati-hati. Dan bukan malah menangani mereka justru dikucilkan dan ditakuti, takut tertular tentunya.

Yohanes menjelaskan tentang pandangan TUHAN kepada manusia sebagai berikut:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
(Yohanes 3:16)

TUHAN adalah MAHA SUCI, dan kita manusia telah terjatuh ke dalam kubangan, lumpur dosa, NAJIS, KOTOR, KUSTA, layak dikucilkan oleh IMAM AGUNG KITA.
TETAPI karena IMAM AGUNG kita melihat dan berhati-hati kepada KENAJISAN ini IA, oleh kasihNYA menanganinya dengan serius dan tuntas dan kelar.
TUHAN tidak menurunkan hukum-hukum berat, peraturan ini dan itu untuk dapat dilakukan oleh si NAJIS. Karena tidak mungkin sesuatu yang BERSIH keluar dari yang NAJIS. Sebaliknya, logisnya yang BERSIH membersihkan yang NAJIS. Itulah pondasi Hubungan Imam dan si Kusta di Perjanjian Lama tadi yang kemudian ditegaskan kesempurnaannya oleh YESUS dalam Perjanjian Baru.
Apa yang dilihat sebagai bayangan oleh MUSA adalah realita, kenyataan, kebenaran yang akan dan selalu dan telah dilakukan IMAM AGUNG, TUHAN kita. YANG SUCI mengasihi yang najis, dan Imam akan mengurus dengan serius si najis.

Hukum-hukum ini dan itu hanya dapat dilakukan oleh tubuh, tetapi bagaimana hukum ini dan itu dilakukan sementara tubuhnya penuh kenajisan. Ia harus disingkirkan dalam arti ia bukanlah object dari hukum, jadi sia-sia memberi dia hukum agama, hukum ini dan itu, yang ia butuhkan adalah belas kasihan, KASIH, kesembuhan. Hukum berbicara “mengucilkan” sementara Kasih berbicara “sembuhkan”, “jaga”,…dls.

Dalam makna terdalam di dalam rohaniah, kita semua najis di mata TUHAN, dan karena IA KUDUS, IA tidak menurunkan hukum-hukum untuk mensucikan kita, melainkan menganugerahkan ANAK-NYA, oleh KASIH, agar kita beroleh sembuh.

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.
(Markus 1:40-42)

Ayat ini selaras dan identik dengan Yohanes 3:16 tadi, oleh digerakkan KASIH-NYA TUHAN mengulurkan TANGANNYA, menjamah kita, sehingga kita tahir dari kenajisan, dan akhirnya kita tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Imam-imam pada saat itu malah berteriak “Najis, Najis” dan tidak mengurusi si Kusta. Malah ia membebankan hukum-hukum agama, legalisasi untuk mengucilkan mereka.
TUHAN tidak begitu, IA tahu kita najis, kotor, dan layak untuk itu, tetapi meski IA tahu demikian IA tidak membebani kita dengan peraturan-peraturan supaya terlihat tidak najis, kotor, melainkan DIA datang untuk menyembuhkan kita.

Hukum-hukum memampukan kita melihat secara langsung apa yang dapat dilakukan dan tidak dilakukan, dan hukum sekaligus memampukan seseorang untuk mudah menghakimi terhadap apa yang dapat dilakukan dan tidak dilakukan tadi. Sementara KASIH menembus dalam kepada taraf rohaniahnya, jeritan terdalam dari jiwa, sehingga apa yang tersembunyi bagi mata telanjang ini hanya dilihat oleh DIA Yang adalah ROH, disitulah letak KEADILAN TUHAN kita. Hukum akan berteriak: “Najis, Najis”. Sementara Kasih akan berteriak: “Kamu SEMBUH”

Orang yang merasa suci, bersih tanpa basuhan DARAH KASIH KRISTUS, maka kenajisannya itu tetap padanya.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kasih memang menggenapi hukum.

    Orang yang mengasihi orang lain, tidak akan berbuat jahat kepada orang itu. Jadi orang yang mengasihi sesamanya adalah orang yang sudah memenuhi semua syarat hukum agama.Roma 13:10 (BIS)

    • salam dan terimakasih atas komennya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: