Setan-setan, penipu ulung

September 14, 2011 pukul 7:47 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , ,

Pesan, ajaran…

1Timotius 4:1-2 Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan (2) oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

Ayat ini langsung diikuti berupa “diskusi” hangat antara Yahudi dan non Yahudi, perihal taurat, perihal makanan haram.
Pertama mari kita bahas mengenai ROH yang disebutkan di atas,..

Galatia 5:22-26 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (23) kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (24) Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. (25) Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, (26) dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

Kata kunci untuk sementara ini adalah.. tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Dalam perkara mengikuti hukum maka kita dapat menarik contoh dari kelompok Farisi. Hukum yang kita sebut adalah hukum yang sudah berusia 1400 tahun. Taurat.
Dan mengenai pandangan dan keseriusan melakukan hukum YESUS mengapresiasi mereka sebagai berikut:

Matius 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Kesungguhan kaum Farisi, ketaatan mereka dalam melakukan hukum-hukum, keseriusan mereka dalam pemeliharaan hukum-hukum dan kecintaan mereka akan hukum-hukum itu dipraktekkan dalam kehidupan mereka, mereka benar-benar tenggelam dalam kekayaan hukum-hukum agama mereka.

Buah-buah Roh, atau apa yang tampak dari kehidupan kita setelah menerima ROH, dalam praktek kepercayaan kita kepada YESUS sudah disebutkan di atas, antara lain kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, sehingga orang yang murtad atau menolak secara sadar atau orang yang menganggap bahwa semua tindakan ini adalah salah dipastikan berasal dari setan-setan, penipu, pendusta ulung.

Keseriusan menerima, dan tidak cukup menerima, tetapi memancarkan, atau tepatnya jika memanggil Nama TUHAN YESUS, maka buahnya adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.. Pohon kita adalah pohon kehidupan dalam cangkokan persaudaraan iman, satu roh, dan kita dicangkokkan pada Pokok Anggur yang Benar, maka tentu buah-buah di atas adalah konsekuensi logis dan mutlak. Sehingga murtad dalam arti sengaja memotong diri kembali dari kesatuan, akan otomatis menampakkan negasi dari setiap buah itu. Kontrasnya adalah berada dalam keadaan tidak akan berbuah, tidak melakukan hal-hal yang disebutkan di atas.

Kita harus giat melakukan “mengeluarkan buah” seperti orang Farisi giat dalam melakukan tradisi agama.
Karena buah ROH jauh melampaui hukum-hukum apapun termasuk hukum-hukum agama.
Ketika Paulus berulang kali dijejali cibiran oleh mereka yang mengutamakan hukum agama, Paulus menegaskan bukan hukum itu yang terutama sekarang, melainkan bagaimana keadaan kita dihadapanNYA.
Bukan perkara makan Haram, Sunat dan sebagainya, toh Farisi taat akan semua itu, tetapi yang dapat jelas kita lihat adalah justru mereka yang berpegang teguh kepada aturan-aturan, hukum-hukum ketat agama, justru merekalah yang tidak dapat melihat kemuliaan KRISTUS, TUHAN Yang datang sebagai manusia. Kenapa bisa gagal?
Karena mereka terhalang oleh tameng peraturan, mereka tidak menceburkan diri pada kekayaan ROH.
Kita bisa leluasa melakukan hukum-hukum, contohnya setiap Kristen bisa puas dan semangat ke Gereja melakukan kebaktian, tetapi bukan melakukan kebaktian itu sebagai buah ROH, sebab bisa jadi dalam kebaktian itu kita tidak sukacita, kita bisa tidak sabar karena doa si bapak anu terlalu bertele-tele, dan kemungkinan lainnya.

Seorang bisa rajin kebaktian dan dalam kebaktian ia memanggil TUHAN YESUS, tetapi jika kenyataan tidak ada buah roh, maka ia sama dengan orang yang berteriak di akhir jaman kepada YESUS :”Tuhan-tuhan”… Sebab dikatakan,

Matius 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Sekali lagi dalam kebaktian kita berseru Tuhan kepada Kristus, tetapi jika itu hanya seruan, dan tidak ada nampak satupun buahnya, maka ia bisa jadi telah tertipu, mengikuti penipu, tertarik kepada setan-setan, iblis.

Kristus adalah TUHAN, maka lakukanlah apa Yang ROHNYA inginkan, IA ingin kita berbuah.
Dan buah-buah yang disebutkan itu mengatasi semua hukum-hukum, termasuk hukum-hukum agama. Karena hukum agama bukan yang utama, kesaksian kita bukan yang utama, yang utama adalah interaksi dalam memperlihatkan kepercayaan kita yang termaktum dalam “Kasihilah TUHAN Allahmu,…. Kasihilah sesamamu”. Jika ada hukum yang bertentangan dengan itu atau jika ada pondasi dari suatu Gereja di luar itu, bisa jadi kita adalah korban dari setan yang berikutnya.

Kita mencakup kesatuan jiwa, raga dan roh. Jika kita sanggup pada penyerahan sepenuhnya sampai ke level roh, maka tidak akan ada penghalang dari tubuh dan jiwa, melainkan tubuh dan jiwa dan roh akan menyatu pada penyembahan kepada DIA yang pernah merasakan derita sebagai manusia.
Jika seorang hanya melihat praktek hukum-hukum agama, maka levelnya kemungkinan besar hanya terlihat pada raga, apa yang sanggup dipuji orang karena terlihat, tetapi ROH TUHAN melihat sampai kekedalaman rohaniah, maka pujian datang dari DIA, itulah keadilan yang tidak akan kita dapatkan dari mata telanjang manusia.

Karena setan-setan, iblis juga ada dalam level roh, maka apa yang dikerjakan tentu menyerang apa yang sanggup roh lakukan. Sehingga jika kita percaya atau sanggup melihat sampai kekedalaman rohaniah, maka kita tahu bahwa seseorang akan anti kepada “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Matius 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
    .
    .
    .
    Sebenarnya hidup dalam keKristenan itu sungguh teramat sulit di bandingkan dari keyakinan agama di manapun di muka Bumi ini… Tetapi kita yg dianugerahkan Roh Kudus yg sama bagi setiap org yg percaya dalam namaNya justru mampu melakukannya karena kita mengasihi Bapa di dalam Anak. Salam kasih lae


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: