Tetap Saja ESA, SATU

September 13, 2011 pukul 4:46 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , ,

Kata “SATU” harus sedikit diperdalam maknanya jangan sampai mutlak dalam arti numerik.
Jika kita katakan TUHAN adalah SATU, maka kita tidak bisa mengamplikasikan besaran, atau numerik. Bahasa Ibrani sendiri untuk kata “SATU” adalah merupakan kata sifat, meski digunakan untuk menyatakan jumlah.

Jika kita harus mengertikan kata “SATU” sebagai numerik, maka kita harus hati-hati kepada aplikasi matematis. Matematika mengenal operasi kali, bagi, tambah, kurang (masing-masing dengan awalan pe- dan akhiran -an) supaya mempersingkat saja. Nah jika kita harus menggunakan numerik Satu dalam hal kata “ALLAH ADALAH SATU”, maka hati-hatilah terhadap aplikasi operasi matematika tadi, artinya dengan demikian otomatis ALLAH dapat di-kali, di-bagi, di-tambah, dan di-kurang.
ALKITAB JELAS menentang itu dengan keras.

Untuk menghindari itu lebih elok menggunakan kata ESA, TUNGGAL. Meski efeknya adalah SATU. Dalam hal menggunakan kata ESA, TUNGGAL, kita sedikit lebih paham kenapa kata SATU menjadi kata sifat dalam bahasa Ibrani. ESA, TUNGGAL, SATU diartikan sebagati “TIDAK ADA YANG SAMA SEPERTI”, “KEADAAN YANG TIDAK ADA DUANYA”, “SIFAT-NYA MELAMPAUI SEGALANYA”.

Kita tidak dapat merumuskan secara detail tentang YANG ESA tadi, sehingga kita sebut saja keterbatasan kita itu dengan titik terakhir terhadap apa yang dapat kita sebut. Kita sebutlah itu MAHA. Melewati pemahaman kita, tetapi dapat kita rangkum dalam sebuah Nama.

Bicara mengenai sifat, atau nama, kita bisa menyebut banyak.
Contohnya MAHA ADIL, MAHA BAIK, MAHA KUDUS, dan sebagainya.
Meski YANG MAHA ADIL hanya SATU, YANG MAHA BAIK hanya SATU dan YANG MAHA KUDUS hanya satu dan seterusnya, tidaklah mengartikan bahwa yang MAHA adalah jumlah dari semua nama MAHA tadi, tidak lebih dari SATU, tetap saja SATU, ESA.
Katakanlah NAMA YANG MAHA itu ada 100 buah, bukan berarti YANG MAHA ada 100 (numerik), melainkan, tetapi hanya SATU (Sifat), karena operasi matematis tidak berlaku dan tidak dapat digunakan. Ke-Khas-an inilah yang harus kita dalami dan haruslah dapat diterima dengan baik.

Dalam bahasa matematis, numerik 3 memang tidak bisa dan tidak akan pernah sama dengan numerik 1. Dan sebaliknya juga.
Tetapi karena kita tidak akan pernah dan tidak akan bisa mempergunakan hukum matematis kepada suatu yang bukan numerik berarti apa yang dipikiran kita itulah yang SALAH BESAR. Jika kita masih memamdang numerik dalam membaca “ALLAH ADALAH SATU”, maka kita juga harus siap-siap untuk dapat mengoperasikan kata “satu” itu kepada operator, +/-/x/:.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Benar dan memang dalam ke Esaan Allah itu kita dapat mengerti bhw Kristus bukanlah manusia yg di perTuhankan manusia. Dalam ke Esaan itu juga Injil memberitahukan bhw ALLAH itu hanya satu satunya Ilahi yg disembah . Dan melalui anakNYA Kristus , Allah membuka mata manusia bhw DIA adalah Tuhan melalui Kristus yg telah berbicara dari sejarah masa lampau manusia pertama sampai kedatanganNYA utk menebus dosa manusia.
    SALAM Kasih laeku.

    • salam kasih selalu lae


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: