Kecap No. 1

September 6, 2011 pukul 8:04 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Sebuah bahasa yang kemungkinan berbau sinis ditimbulkan oleh kata Kecap No.1. Timbul dari keinginan produsen supaya konsumen mengenal suatu produk terbaik. Nyatanya selera orang berbeda-beda sehingga baginya kecap nomor satu sana adalah ketiadaan nomor satu sini.

Kebenaran, menurut kamus besar bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai sesuatu yang menyatakan pada keadaan yang sesungguhnya.
Jika pola Kecap No.1 diucapkan dari segi lidah konsumen, maka itu sudah bukan kebenaran lagi.

Ada banyak hal yang benar diucapkan dan dilakukan. Benar bahwa kecap itu enak dan yang sana tidak enak, karena lidahnya ini dan itu. Tetapi benar yang banyak tidak menjadikan itu sebuah kebenaran. Bisa jadi kecap bukanlah contoh yang tepat untuk menyatakan kebenaran. Ada kompromi dari segi konsumen, dan konsumen tidak selalu sama.

Kita bisa melihatnya pada dunia politik, atau semua yang berbau berkehidupan sosial di masyarakat. Dalam kehidupan ini sepanjang apa yang dapat kita lihat hanya ada benar, tetapi kebenaran susah menemukannya atau kemungkinan tidak ada sama sekali.
Dalam praktek kesekian dari politik ada muatan “nama baik”. Jika saya melakukan ini, maka si anu akan mengira saya jelek, atau kompromi, atau kemungkinan lain adalah malah tidak bersahabat, musuh, dan lain sebagainya. Kita melakuan sesuatu karena dikejar oleh pandangan orang lain. Jika ada lidah bermacam-macam maka kita berubah menjadi makanan tertentu sehingga kita dipandang sebagai kecap no.1.

Ada juga jenis politik karena aliran/ideologi/agama. Sehingga nuansa kecap dari segi lidah konsumen di atas juga akan hadir, terlihat dengan jelas. Masing-masing mengejar kebenaran karena ideloginya masing-masing, praktek bisa berbeda, kenyataan dapat kita lihat, bahwa “nama baik” harus menjadi patokan. Terkadang ada juga “mengorbankan nama baik” demi tujuan yang lebih utama, tetapi itu tetaplah dalam koridor nama baik jenis yang lain. Ada maling akan menjarah lebih banyak lagi karena nama baiknya sebagai maling diremehkan. Mencuri lebih banyak akan menciptakan nama yang lebih harum bagi “tikus-tikus”.

Keadaan yang paling menyusahkan adalah ketika kita telah dianggap layak untuk sesuatu, tetapi oleh sesuatu yang kita anggap benar kita bisa berubah dan malah melakukan sesuatu yang meski bertentangan dengan nurani, tetap kita labrak dengan melakukan sesuatu demi tujuan yang lain. Saya melihat ada orang yang menjadi koruptor karena lingkungan yang membenarkan dia melakukan itu. Seorang benar melakukan penyogokan karena kalau tidak disogok kehidupan tidak akan berlanjut. Keputusan politis sangat jarang atau mungkin tidak akan pernah menjadi sebuah kebenaran. Seorang penulis mengatakan bahwa politik itu area kelas kedua dari sebuah hakekat kebenaran. Nama baik itu dilakukan demi sesuatu yang lain, dan dalam melakukannya hal yang salah dikerjakan. Dalam dialog itu sering dipraktekkan dalam keadaan yang disebut “berbohong demi kebaikan”. Kita bernampakkan wajah yang bertentangan dengan hati nurani, atau bertentangan dengan hati kita. Ketika kita galau tetapi wajah menampakkan kebahagian.

Ketika YESUS diperhadapkan dengan orang-orang yang percaya kepadaNYA, percaya sebagai MESIAS yang dinantikan, maka jika politisasi dihadirkan sangat tidak mungkin IA disalibkan. Jika IA rela mengikuti perjuangan ala Makabe, melawan Penjajah, Romawi kala itu, maka sangat benar IA menghimpun mereka yang berani mati demi Israel. Sekiranya IA setuju tidak akan ada Mahkamah Agama yang menolakNYA.
Dari segi orang percaya sekarang, keadaan politis juga dihadapkan kepada YESUS. Meski nuansa itu sedikit ejekan. Jika IA TUHAN masak IA mati disalib, oleh Yahudi pulak. Di sini kental suatu keadaan yang menginginkan keputusan berbau politis. Bagaimana kelak umatNYA, kasihan mereka diejek karena TUHAN-nya dianggap tidak mampu melawan manusia, bahkan harus mati dengan cara dipermalukan, disalib lagi.
Untuk tujuan politis YESUS tentu akan memelihara nama baik, supaya penerus-penerus iman dapat melihat kegagahan, keperkasaan. Bisa jadi kita atau beberapa dari kita sangat akan bangga jika ternyata pada saat YESUS akan ditangkap dan dibelenggu, atau pada saat IA akan digantung di Salib, tiba-tiba YESUS melihat nama baikNya lalu berteriak memanggil berlaksa-laksa malaikatNYA, menghunus pedang, memusnahkan bajingan-bajingan. Toh pada saat peristiwa itu nuansa politis juga didengungkan murid-muridNYA, tetapi YESUS melihat hal yang sesungguhnya.
Apa yang terjadi adalah: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” baca: Lukas 23:34. Bukan malaikat yang Ia panggil untuk menyatakan keilahianNYA, melainkan kata pengampunan. Bahkan IA tidak menamai mereka bajingan, malah memohon pengampunan kepada mereka. Setelah kejadian itu kita beroleh kebanggaan iman kita, bahwa IA meski dihina, IA dimuliakan karena kebangkitanNYA. Kita bangga dalam keadaan sesungguhnya, bukan cara politis, tetapi dengan cara menyelesaikan suatu masalah dengan menghadapinya secara gagah. Hasilnya kemudia akan terlihat.

Jika TUHAN MAHA KUDUS, maka IA akan mudah mematikan siapapun yang berlaku tidak kudus. Nyatanya IA menahan KEKUDUSANNYA karena IA mencipta bukan untuk kesia-siaan. CiptaanNYA seharusnya mengenal DIA YANG ESA. Maha Kudus ESA dengan Yang MAHA KASIH. TUHAN mengedepankan KASIH bukan karena demi nama baik dalam nuansa konsumen merasakan kecap nomor satu, tetapi karena AKU ADALAH AKU, karena OTORITAS. Meski demikian tidak sesuatu yang salah IA lakukan untuk tidak mematikan yang tidak kudus. Melainkan oleh KASIH-NYA, oleh NAMANYA adalah KASIH, IA bisa mengerjakan kebenaran. IA mengampuni, meski dengan pengampunan itu IA dipermalukan di Salib. YESUS berkata: “AKULAH KEBENARAN”, karena IA tidak melakukan pekerjaan dari pemikiran manusia yang akut nuansa politis, IA tidak melakukan kesalahan ketika KASIHNYA mengejar ketimbang KUDUSNYA. Justru dalam ke-KUDUS-an itu IA menunjukkan KASIH-NYA supaya setiap orang yang percaya kepadaNYA tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Jika siapapun kita mengedepankan keputusan politis, takut dianggap ini dan itu lalu melakukan hal yang salah, maka kita berada pada kelas dua dari kebenaran. Dan jika kita mengagumi tokoh-tokoh yang memilih nama baik maka semakin jauhlah kita dari kebenaran.
Dan ternyata kita harus sering minta ampun, dan harus lebih giat belajar untuk percaya bahwa perbuatan semacam itu sering kita lakukan.

Kita mungkin mudah mengatakan TUHAN adalah PENCIPTA. Tetapi sering kita melihat TUHAN dari segi politis. Sama seperti orang yang menghadapi YESUS kala itu, bagian apa yang paling nyata yang dapat dilihat jikalau MESIAS memimpin perang untuk merebut Israel dari penjajah dan mengembalikan kejayaan masa silam. Jika kita pengaku percaya, itu sekaligus mengakui bahwa dunia ini adalah milikNYA, jika kita percaya dunia dan segala isinya milik TUHAN apa urusan TUHAN sampai rela mewahyukan, merencakanan, membuat peraturan, dan sebagainya, maka jika kita melihat bahwa kita manusia dicipta oleh imageNYA, maka sangat nyambunglah dengan hakekat kita yang berharga, dan keadaan sebenar kita sedemikian maka sangat penting dikembalikan kehakekatnya jika telah terjadi kerusakan.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: