Sebelum kita menyadari IA telah melakukannya

September 5, 2011 pukul 9:27 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

(Yesaya 6:5) Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”

Di dalam Perjanjian Baru kita akan sering menemukan ajaran akhir jaman, kalimat untuk menyatakan waktu hanya disebut: “Datang seperti pencuri di malam hari”.
Banyak konteks yang dimuat, salah satunya adalah bahwa IA bekerja seringkali malah telah melakukan segalanya di luar kesadaran kita, yang ada berikutnya hanya kekaguman atau mungkin hanya penyesalan.

Yesaya pada suatu masa melihat Tuhan duduk di tahtaNYA, kesadarannya mungkin baru timbul beberapa saat setelah ia menyadari bahwa yang dilihatnya adalah Yang Kudus, DIA YANG ADA. Setelah kesadarannya kembali ia baru bisa berkata: “Celakalah aku! aku binasa!”…..”..mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”
Kita tahu ternyata Yesaya tidak mati pada saat itu, tidak mati langsung. Itu indikasi kuat bahwa TUHAN telah terlebih dahulu bekerja, memampukan Yesaya melihat Theofani yang agung itu, supaya ia tidak mati binasa. Sekali lagi kita dibawa semakin dalam kepada kepercayaan yang penuh bahwa memang TUHAN bekerja sangat akurat dan kita baru bisa menyadarinya setelah segalanya dibukakan.

Kitab Perjanjian Baru ada pada kita sekarang ini juga didapat dari hal yang sama. Hampir selama 3 tahun murid-murid mengikuti YESUS. Paling tidak 30-an orang setia mengikut DIA kemanapun, ke gunung, ke danau, ke lembah, ke sarang penyamun, ke Bait Suci, ke Yerusalem, ke Kanaan,Galilea, Yudae, dan sebagainya. Mereka mengikut. Dalam peristiwa salib mereka merasa ngeri sampai harus kocar-kocar menyelamatkan diri. Tetapi setelah YESUS bangkit dari mati dan mereka lihat naik ke sorga barulah merekah menyadari bahwa ternyata TUHAN telah bekerja sebegitu antusiasnya. Hampir 40 hari YESUS mengajar Kitab Suci setelah IA bangkit dari mati dan sebelum terangkat ke Sorga, hampir 500-an orang diajarNYA, dalam kaca mata kita, ketika diajar YESUS saat itu kemungkinan besar akan melongo karena baru terbuka matanya, “ooo itu toh artinya”, kira-kira begitulah maknanya, sehingga tidak jarang penulis Injil selalu mengutip nubuat-nubuat tentang YESUS. Seorang penulis berkata: “Selama 3 tahun bersama YESUS mereka menyebut YESUS sebagai ‘tuan’,.. tetapi setelah peristiwa kebangkitan dan kenaikan mereka semakin dalam mengerti bahwa ‘tuan’ itu lebih dari sekedar tuan, YESUS adalah tuan dari semua tuan, DIA adalah TUHAN”. Dalam percakapan waktu YESUS sering dipanggil tuan. Dan dituliskan dalam terang kebangkitan dan kenaikan semakin dalamlah arti tuan, nyata bahwa IA adalah Firman ALLAH yang bersama dengan kita, IA adalah IMANUEL, IA adalah TUHAN.

(Yesaya 7:14) Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.

עִמָּ֥נוּ אֵֽל, Im-ma-nu-El = Bersama kita adalah ALLAH, atau TUHAN beserta kita. Yang bersama kita itu adalah Allah.

Sebelum murid-murid sadar sesadar-sadarnya TUHAN telah lebih dulu hadir, dan karena peristiwa yang erat di kalbu, tidak menjauh seperti Yudas Iskariot, maka kita semakin sadar, meski kadang telat, bahwa TUHAN ternyata sudah datang, IA datang karena IA ADALAH IMANUEL.

IMANUEL, TUHAN beserta kita. Dan jika kita sadar seperti Yesaya, maka kita akan berkata: “Celakalah aku! aku binasa!”…..”..mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”
Ternyata kita tidak celaka, karena TUHAN telah terlebih dahulu menganugerahkan kepada kita sesuatu yang tidak membinasakan kita, IA sungguh telah bekerja di dalam kita, ROH KUDUS dianugerahkan, kita melihat kekuasaanNYA dan hadiratNYA, tetapi kita tidak binasa, karena IA ADALAH IMANUEL, dan dalam Nama itu ada indikasi bahwa IA telah bekerja lebih dini dari keadaan sadar kita untuk mensyukuri semua KasihNYA.

Kita bisa menyadari jika kita belajar untuk terus semakin dalam menyelami kasihNYA. Kita tidak untuk belajar mempercayai, tetapi kita belajar bahwa kita percaya dari awal bukan tanpa alasan, melainkan karena untuk kemuliaan DIA.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: