Sekiranya(2): Abraham-YESUS

Agustus 29, 2011 pukul 9:05 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Sekiranya Kedua:
Abraham dan YESUS

Farisi arti sederhananya adalah “terpisah”. Mereka menyebut atau mungkin disebut sebagai orang-orang yang suci, bersih, bermoral. Kita tidak tahu sejak kapan aliran ini mengalami degradasi, sampai tiba saatnya pada masa YESUS, beberapa golongan ini telah menjadi sangat eksklusif. Membenarkan diri sendiri, memisahkan diri nya dari kebiasaan-kebiasaan umum, dan lain sebagainya. Tetapi tuntutan mereka kepada YESUS bukanlah suatu tuntutan yang mudah untuk dapat ditolak. Dengan latar belakang penguasaan agama, Taurat dan segala yang berhubungan dengannya mereka dapat dan sangat layak ditakuti untuk dapat menggoyangkan beberapa dari kita (sebab nyatanya banyak neo-farisi di jaman akhir ini).

Mari kita telusuri salah satu tuntutan Farisi kepada YESUS:

I.OTORITAS
Dalam hukum Taurat ditekankan untuk jangan bersaksi dusta, karena itu berhubungan dengan nyawa seseorang. Nyawa amat sangat dihargai karena itu adalah pemberian TUHAN (moral, dan ini salah satu kekuatan Farisi). Karena “jangan berdusa” (baca Keluaran 20:16, Ulangan 5:20), maka saksi dari beberapa perkara juga harus menjaga integritas. Dan perkara akan dianggap putus jika saksinya terdiri dari dua atau tiga. Keterangan oleh dua atau tiga orang saksi suatu perkara dapat diputuskan (baca: Bilangan 35:30, Ulangan 17:6).
Semua itu berhubungan dengan otoritas. Seseorang berotoritas menghukum si terdakwa jika keterangan dua atau tiga saksi telah mengatakan kebenaran bahwa si terdakwa benar-benar bersalah.

(Yohanes 8:12) Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

Dalam hal ini YESUS telah mengklaim, dan memberi suatu perkara, yaitu bahwa IA adalah TERANG DUNIA.

Tentu perkara ini langsung mendapat tanggapan dari Farisi:

(Yohanes 8:13) Kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Engkau bersaksi tentang diri-Mu, kesaksian-Mu tidak benar.”

Farisi bukan tidak tahu efek dan makna dari ucapan YESUS. Dalam Perjanjian Lama, Kitab Suci, dikatakan bahwa TUHAN-lah terang dunia yang menuntun dari gelap kepada TERANG-nya yang ajaib (baca: Yesaya 42:16).

Efek dari perbincangan ini sedang menekankan bahwa YESUS adalah MESIAS yang dinanti-nantikan. Dan meski seperti itu MESIAS ini adalah ALLAH yang menjadi manusia. Farisi melihat klaim dan efek, maka mereka menantikan saksi-saksi. Dan karena YESUS mengklaim sendiri, maka oleh Taurat YESUS dapat dikatakan tidak benar.

YESUS menimpali Farisi itu:

(Yohanes 8:14) Jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Biarpun Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, namun kesaksian-Ku itu benar, sebab Aku tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. Tetapi kamu tidak tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi.

Di sini YESUS sedang menekankan tentang keunikan DIA, tentang OTORITAS sepenuhnya. IA berbeda dari nabi yang lain, berbeda dari pengajar yang lain, berbeda dari imam yang lain, berbeda dari rasul yang lain.
Jika berbicara otoritas maka IA sedang mengatakan kepada Farisi, “AKU adalah TUHAN”.

Sebagai seorang Farisi pernyataan ini amat sangat berat, amat sangat menghujat, amat sangat keras, memekakkan telinga. Sebagai seorang yang “terpisah” itu amat sangat telak dan sangat membuat amarah suci. Dapat diterima dengan masuk akal bagaimana mereka amat sangat membenci YESUS, dan ingin membunuhNYA. Sedemikian amat sangat dapat dimengerti kenapa Kristen awal sangat dibelenggu oleh Yahudi.

Perbincangan tidak berhenti sampai di situ, begitu YESUS mengucapkan “OTORITAS” penuh, yang mana TUHAN adalah pemilik OTORITAS TUNGGAL,… maka belanjutlah diskusi Farisi dengan YESUS.

Klaim “OTORITAS” tadi bukan tidak membuat perpecahan, jelas menjadi perpecahan. Beberapa Yahudi itu menjadi percaya. Tentu mereka dapat percaya karena beberapa hal yang telah mereka lihat, yang mereka dapati dapat YESUS lakukan. Itu perkara apa yang dapat dilihat dan dirasakan, bukan perkara apa yang dapat dipikirkan secara teoritis lagi. Beberapa diantara mereka langsung berpikir “seandainya” YESUS adalah MESIAS yang dijanjikan itu, maka sebentar lagi kemerdekaan ISRAEL akan tiba…

tetapi ada lagi tuntutan yang baru:
II. IMAN

(Yohanes 8:31-33) Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?”

Sekali lagi YESUS mengutarakan tentang keadaanNYA yang unik, DIA menyebut diriNYA TUHAN, sebab hanya firman TUHAN-lah yang patut di jaga dan dilakukan, tetapi mari beralih kepada “seandainya” beberapa yang percaya kepada YESUS itu.

Israel amat sangat tepat bisa mengklaim sebagai keturunan Abraham, sebab banyak bangsa mengklaim hal yang sama. Dalam hal ini Yahudi yang percaya ini sedang membicarakan hal yang khusus, yaitu bahwa mereka adalah keturunan di dalam iman. Mereka bukan lahir dari keinginan manusia, dari Ismael. Mereka lahir oleh Sara yang dipilih TUHAN langsung. Abraham adalah asal usul, dan bukan dari budak Hagar, melainkan dari dia yang merdeka, Sara. Lebih lagi bukan dari EDOM (ESAU, mungkin dibaca ISA) yang meremehkan Janji, melainkan dari Yakub, yang bahkan dipilih ALLAH sendiri sejak lahirnya.

Tepat mereka adalah keturunan Abraham, dari Ishak anak satu-satunya, anak tunggal, anak pertama dan hanya satu, anak iman. Perbincangan kembali hangat karena ternyata dari beberapa yang percaya ini memikirkan sesuatu yang duniawi, yang lahiriah…

(Yohanes 8:47) Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah.”

Karena mereka amat sangat susah menelaah, amat sangat susah menerima YESUS apa adanya, maka timbul perpecahan lagi. Setelah perpecahan dari efek “OTORITAS” maka timbul lagi perpecahan oleh efek “IMAN”.
YESUS katakan jika benar engkau anak Abraham (anak karena iman), maka tentu kamu akan paham makna ini:

(Yesaya 43:25) Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.

.

yaitu bahwa TUHAN adalah PENYELAMAT, bahwa YESUS adalah TUHAN, dari BAPA untuk manusia.
Nyatanya mereka tidak bisa menerima.
Malah oleh klaim YESUS ini mereka menghujat ALLAH. Hati-hatilah kepada mereka yang telah mengaku adanya ALLAH, kadang-kadang oleh “seandainya” oleh pemikiran kita, kita bisa menghujat ALLAH.
Kita tidak sanggup memikirkan bagaimana ADANYA TUHAN, tetapi ketidaksanggupan itu jangan sampai menghujat ALLAH. Kita tidak sanggup memikirkan bagaimana Sara si renta melahirkan anak, tetapi jangan sampai karena tidak sanggup lalu kita menghujat ALLAH, kita tidak sanggup memikirkan bagaimana Maria Sang Perawan bisa melahirkan YESUS, tetapi jangan karena itu kita menghujat ALLAH, kita tidak sanggup memikirkan bagaimana YESUS meski dalam keadaan manusia tetapi IA mengklaim OTORITAS sebagai ALLAH, tetapi jangan karena ketidaksanggupan itu kita menghujat ALLAH.

YESUS melihat iman beberapa yang percaya kepada DIA, dan ternyata beberapa dari mereka malah menghujat YESUS. Beberapa mengatai YESUS dengan menyebut DIA berasal dari si Dusta, dari Setan, dari Iblis, dari Belzebull.

YESUS melihat beberapa orang yang beriman sejati di antara Farisi dan Yahudi itu, sehingga IA meninggalkan suatu klaim OTORITAS yang mulia, dan memberi penguatan iman.

Dalam bahasa Injil Yohanes, kita kembali disuguhi makna Injil yang luar biasa; TUHAN menunjukkan semua itu karena DIA adalah TERANG, dan gelap tidak menguasaiNYA.
Salah satu “gelap” itu adalah ketika beberapa Yahudi bertanya kepada DIA seraya mengejek;

(Yohanes 8:57) Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?”

Ini sangat tepat, YESUS belum berusia 50 tahun. Sehingga seandainya DIA manusia yang belum berusia 50 tahun maka mana mungkin IA dapat melihat Abraham, bapa iman, yang berada 2000 tahun yang lalu. Seandainya dipertontonkan.
YESUS berulang kali menekankan “seandainya” kamu keturunan Abraham maka iman itulah yang turun. Abraham melihat ALLAH dari kaca mata iman, iman yang bercerita tentang suatu perkara yang tidak bisa dipikirkan manusia tetapi dapat dilakukan TUHAN, oleh iman Sara si renta lahirkan, jika demikian imammu, lalu bagaimana sekaligus kamu mengatakan bahwa TUHAN tidak bisa menjadi manusia, dalam diri YESUS, dimana imanmu? Kamu bukan menunjukkan iman, malah engkau menghujat AKU.

Dan lebih tegas lahi YESUS menjawab cercaan di atas:

(Yohanes 8:58) Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”

Dalam terjemahan bahasa Indonesia, bagi pemula, bahasa ini agak tidak berkekuatan, tetapi dari kita yang dapat diwarisi iman Abraham, kata YESUS ini amat sangat berkuasa, penuh OTORITAS dan dapat menguatkan iman.
Dan bagi yang menolak, dan menghujat, klaim itu bisa melahirkan “perang suci”, hujatan, dan kematian iman.

Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada, kata YESUS. Aku telah ada,
dalam bahasa Yunani (bahasa asli Perjanjian Baru), kata itu diterjemahkan dari kata: εγω ειμι, diterjemahkan perkata menjadi:
AKU ADALAH AKU, AKU ADALAH ADA.

bandingkan itu dengan:
(Kejadian 15:1) Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.”

(Keluaran 3:14) Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

Karena YESUS adalah “εγω ειμι“, maka sebelum Abraham IA telah Ada, pra existensi. Dan itu sangat sudah diterima jika tidak ada IMAN, tetapi jika iman Abraham turun kepada kita, maka itu menjadi penguat iman yang dasyat, berkuasa dan penuh kekaguman.

Oleh klaim yang berotoritas inilah, iman kita dikuatkan, bahwa TUHAN telah datang ke dunia untuk mengangkut dosa kita kepada SalibNYA, sehingga kita menjadi keturunan yang merdeka, bukan dari “seandainya”, lahir dari ROH yang sama, dari iman yang sama… dan bukan tanpa sebab perpecahan akan timbul, sehingga kita dipisahkan dari gelap…

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: