Sekiranya(1): Abraham-TUHAN

Agustus 29, 2011 pukul 7:51 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Sekiranya Pertama:
Abraham dan TUHAN

Abraham, siapa yang tidak mengenal beliau. Daripadanya lahir raja-raja dan bangsa-bangsa.
Kita bisa mengaminkan segala pujian yang disematkan kepada beliau, tetapi kalau kita ditempatkan pada posisi Abraham, maka kita akan mengerti bagaimana kegalauan Abraham dikala menanti-nanti janji TUHAN. Seperti kata pepatah “Menunggu adalah pekerjaan yang sangat berat/tidak menyenangkan”.

Janji kepada Abraham membuat dia galau. Janji itu adalah mendapatkan seorang penerus.
Dan oleh karena janji ini, Abraham sering menekankan tentang alur pemikirannya, “Seandainya..”, kira-kira begitu bahasanya..

paling tidak ada 2 kali beliau mengucapkan kata “sekiranya” dalam konteks pesimis,

PERTAMA:

(Kejadian 15:2-4) Abram menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.”
Lagi kata Abram: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.”
Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.”

Karena usianya, Abram, atau Abraham, mulai putus asa. Bagaimana janji mendapatkan seorang anak akan terjadi, usianya sudah semakin tua.

Dan karena usianya semakin tua, istrinya Sara menyodorkan sesuatu yang sekali lagi dilahirkan oleh pemikiran “seandainya”. “Seandainya” hambaku ini, Hagar, engkau “ambil” maka tentu “anak” janji itu akan nyata. Abraham mengambil pemikiran “seandainya” itu, lalu lahirlah Ismael.

Tetapi apa yang terjadi?

KEDUA:

(Kejadian 17:18) Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”
Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

Dua jenis “seandainya” di atas bukanlah sesuatu yang dapat diterima, kenapa?
Mari kita telusuri.

1. TUHAN menuntut/melihat Iman.
Jika kita membaca Perjanjian Baru, maka beberapa orang telah menerima kasih karunia dari YESUS ketika beberapa orang itu dapat memancarkan imannya, iman mereka dapat dilihat oleh YESUS.
Sedemikian maka ketika Abraham dan Sara kembali mereset segala jenis “seandainya” (di atas telah disebutlah ada 2 “seandainya”, maka mereka akhirnya menanti di dalam iman. Dan dalam iman Sara melahirkan seorang anak iman, Ishak namanya. Oleh karena hanya satu anak yang dilahirkan di dalam iman maka TUHAN menyatakan bahwa Ishaklah anak satu-satunya, anak tunggal. Anak dan atau orang yang lain kepunyaan Abraham bukan dan tidak berada dalam iman, mereka lahir dari pemikiran manusia, bukan dari Janji dan Rancangan TUHAN.

(Kejadian 22:2) Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Anak Abraham yang tunggal, anak satu-satunya, anak pertamanya, adalah Ishak, bukan Ismael, dan bukan yang lain. Karena Ishaklah yang dilahirkan oleh kedua orang tua renta ini dari hubungan iman, dari kerinduan menanti janji TUHAN-nya. Dan karena iman inilah yang kemudian diturunkan oleh Ishak kepada Yakub, maka TUHAN tidak malu menamai HakekatNYA sebagai “Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub”, sebab dalam tiga orang ini mengalir iman yang sama, iman dalam melihat Janji, dan iman dalam menggumuli dalam hidupnya setiap dari perbuatan kata “seandainya”.

2. TUHAN berotoritas sepenuhnya.
Kita memang tidak dapat menjelaskan sepenuhnya secara gamblang, bagaimana bisa seorang Sara yang telah putus masa suburnya bisa melahirkan seorag anak. Perang sepanjang masa antara hukum teoritis dan kenyataan akan selalu berkumandang. Kita tidak apat menjelaskan beberapa hal, meski itu nyata terjadi. Apa yang tidak dapat terjadi menurut pemikiran manusia, ternyata bisa terjadi dan nyata. Tiada yang mustahil di hadapan TUHAN. Bukti salah satunya adalah Sara melahirkan dalam usia yang renta. Karena iman si renta melahirkan. Ia harus melahirkan karena TUHAN berotoritas atas segala ciptaanNYA. Jika seorang penenun menginginkan tenunannya berwarna ungu, maka ia akan bisa membuatnya, sebab ia penenun. Dan jika seseorang meminta penenun mengubahnya menjadi warna lain, ia sepenuhnya bisa menolak jika ia berani mengatakan bahwa tenunannya adalah untuk dirinya sendiri. Seperti kata TUHAN, “segala sesuatu diciptakan untuk kemulianNYA”, maka ketika IA berbuat, itu demi DIA, kata Paulus, “Dari DIA, bagi DIA, dan untuk DIA, bagiNYAlah kemuliaan sampai selama-lamanya”. Jadi jika Abraham menginginan Eliazar, dan juga menginginkan Ismael, maka TUHAN berkata, semua demi kemulianKU, AKU ingin Ishak, bukan dari keinginanmu.
Dan oleh karena berdasar dari keinginan TUHAN itulah maka meski keturunan Abraham, Ishak, Yakub adalah pilihan TUHAN sendiri, tetapi TUHAN tidak segan-segan “membakar” siapa saja dari mereka, jika melanggar kekudusanNYA. TUHAN adalah ROH Yang menghanguskan.

Pemikiran manusia, melahirkan kata “sekiranya”.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: