Lebih dari itu semua

Agustus 19, 2011 pukul 7:51 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.
(1 Korintus 1:18)

Kita, orang beriman, sepakat dengan apa yang telah dikumandangkan oleh penulis Yohanes

Apa yang telah ada sejak semula,
yang telah kami dengar,
yang telah kami lihat dengan mata kami,
yang telah kami saksikan dan
yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup—

itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

telah dinyatakan, dan
kami telah melihatnya dan
sekarang kami bersaksi dan
memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.

Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu,
kami beritakan kepada kamu juga,
supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami.

(1Yohanes 1:1-4)

Ada satu hal yang sedang ditekankan, bahwa apa yang para nabi dan para rasul dan saksi-saksi iman di dalam Kitab Suci sedang tumpahkan adalah sesuatu yang tidak lajim dicari oleh orang pada umumnya.

Sebuah pepatah Batak berbunyi: “Eme na masak digagat ursa, aha namasa, I niula”, artinya “Padi yang masak, dimakan rusa, apa yang lajim, itu kita lakukan”.

Seperti parallel dengan pepatah ini, maka awam diperhadapkan dengan kebutuhan natural untuk mengetahui sesuatu. Dalam sekolah-sekolah itu adalah menu utama dari setiap pelajaran paket, harus diketahui, disebutlah namanya ilmu pendidikan tentang alam semesta.
Lalu kita generasi-generasi muda dan yang akan mendatang diperhadapkan dengan wajah-wajah kesohor yang mengumandangkan teori-teori asal muasal, teori-teori tentang alam semesta. Semua yang berpendidikan mengejar hal-hal baru, jika tidak berusaha menambahkan, maka ada juga tentunya yang membuat sesuatu yang baharu, seolah start lagi dari awal, atau ada yang berkembang di dunia pragmatis saja, mengurusi kebutuhan manusia secara cepat, mutakhir, terkini, dan berkembang melampaui kemampuan massal, manusia seolah terpaksa dan dipaksa mengikuti aliran deras.

Penulis surat Yohanes di atas mengatakan: “Apa yang telah ada sejak semula..”, dan diteruskan “… itulah yang kami beritakan”.. menjelaskan kepada kita sesuatu yang lain dari pandangan awam di atas. Ada hal lain yang lebih hakiki yang perlu diperhatikan. Tidak disangkal bahwa pakaian, makanan,dan sebagainya kebutuhan sehari-hari perlu dipikirkan, diraih, dipakai, karena kita masih memiliki daging, darah dan otak. Meski itu perlu tetapi ada sesuatu yang dibutuhkan oleh sesuatu di dalam diri kita ini. Ada makanan untuk roh dan jiwa yang harus dipertimbangkan dan diperhitungkan dan diambil keputusan secara tepat.

Jika kita menuju perpustakaan perguruan-perguruan tinggi akan mudah kita mendapati buku-buku dengan isi keahlian masing-masing, mendalam dan sangat membantu kita untuk mengenal seluk beluk segala sesuatunya , yang bisa membantu kita dalam berkehidupan dalam kelas yang disebut berkecukupan, meski bisa juga mengeluarkan ide-ide ambang batas. Ide baru, keperluan baru, rumusan baru, sebab memang untuk itulah diperlukan semua ilmu-ilmu dasar, untuk dapat mengambang jauh ke angkasa sana.
Sedemikian Kitab Suci adalah perpustakaan dari orang-orang yang dipilih dan menjadi kesaksian bagi siapa saja yang ingin melambung tinggi dalam roh, jiwa dan raga ke atas yang lain, atas dalam hal ini selalu digambarkan sebagai sorga. Apa yang kita perlukan dalam kehidupan interaksi rohaniah, telah tertulis ribuan tahun lalu. Dan bagaimana kita mengejawantahkan itu semua dalam ruang lingkup yang berbeda itulah yang sedang dikumandangkan petarung-petarung iman baru. Meski ada juga yang eksklusif.
Seolah propokatif, Kitab Suci mengatakan, TUHAN adalah pencipta alam semesta. Ketika kita melihat rumit dan kejamnya rumus-rumus fisis, rumus-rumus matematis, atau alur-alur logika dari para ahli yang mencoba merangkumkan asal muasal, dan itu masih terus menjadi tanda baca koma, karena masih akan berlanjut, yang padahal sekitar abad 14 sebelum masehi sudahlah menjadi titik. Dicatat begitu saja, untuk diterima sebagaimana kita tidak perlu membuktikan rumus-rumus luas atau volume, kita tinggal menerima saja. Kita sangat jarang dan bahkan mungkin tidak pernah dikasih pembuktian, bahwa 2×2=4, sama seperti itulah kita diajak Kitab Suci untuk menerima saja, bahwa 2×2=4 adalah hitungan yang sama yang berlaku kepada rumusan “TUHAN adalah PENCIPTA alam semesta”. Diajak untuk tidak usah berdali. Belajar untuk tidak berdalih, dalam bahasa Kitab Suci disebut, “Percayalah, itu sudah benar dan tepat”.
Sehingga apa yang telah menjadi titik dalam iman Kitab Suci itu menjadikan tanda koma di lain hal, yaitu tentang KRISTUS.
Perjanjian Lama “bercapek-capek” menulis dan bersaksi tentang kedatangan Kristus, Perjanjian Baru menuliskan tentang Kristus yang sudah datang, dan akan datang lagi suatu saat nanti.
Itulah bidang lain yang tidak awam yang dikumandangkan oleh Kitab Suci dengan para ahli iman yang digunakan menuliskannya yang sekiranya juga dapat mengisi perpustakaan-perpustakaan hati kita.

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
(Ibrani 1:1-2)

Itulah bidang lain yang tidak awam yang dikumandangkan. Ada bidang terpisah yang sedang dibahas, dan karena berbeda, sementara manusia terbentur dalam ruang lingkup sosial, maka terjadilah benturan-benturan.
Dalam hal benturan itu kita sekali lagi diucapkan suatu harapan yang tidap populis: “..melakukan pekerjaan baik,..jangan memfitnah, .. jangan bertengkar,…hendaklah selalu ramah, ..bersikap lemah lembut”

Bagi yang beriman sesuai kutipan Korintus di atas dianjurkan menerima lapang dada. Sebab tanpa dituduh dan tanpa disalah artikan terima saja, bahwa meski bidang kita berbeda, dan meski ada keterkaitan dalam berbagai hal, maka ketika kita memilih suatu bidang dalam bidang yang mencakup jiwa raga dan roh, maka camkanlah kita ini sudah dianggap bodoh.
Awam mengejar hal lain, sementar kita yang bodoh mengejar hal lain. Dan dalam kebodohan itu kita telah menemukan sebuah tanda baca titik, bahwa apa yang dikejar awam tadi segera menemukan akhir, ada akhir karena kita tahu ada awalnya, dan kita tahu akhir dan awalnya karena kita bisa menemukan perpustakaan-perpustakaan berisi para pakar kita yang menyaksikan Sang AWAL dan AKHIR (ALFA dan OMEGA) yang dapat dipercayai, dan karena tanda baca kita bukan koma, tetapi titik, maka orang yang memiliki tanda baca koma akan menemui ajalnya. Jika kita sudah tahu ngerinya tanda baca itu, maka meski harus tetap bergelarkan kebodohan, maka mari kita mengajak beberapa orang untuk menjadi beberapa orang bodoh, sama seperti kita, siapa tahu salah satu dari mereka yang akan binasa itu ternyata sudah terlahir dari roh yang sama.

Bukan berarti penhakiman itu adalah tujuan utama dari kehidupan dan penciptaan, tetapi adalah efek dari Kekudusan dan Keadilan ALLAH.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: