Iman melahirkan ketekunan

Agustus 8, 2011 pukul 8:47 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , ,

(Kejadian 50:23 [ITB])
Jadi Yusuf sempat melihat anak cucu Efraim sampai keturunan yang ketiga; juga anak-anak Makhir, anak Manasye, lahir di pangkuan Yusuf.

Efraim artinya adalah berbuah duakali lipat.
Jika menilik Ayat di awalnya, kita dapat mengerti kenapa anak kedua Yusuf diberi nama Efraim.
Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.”
(Kejadian 41:52)

Yusuf menyebut Mesir sebagai negeri kesengsaraan. Padahal kita tahu ia di Mesir adalah seorang “bangsawan”. Ia mendapat perlakuan yang baik dari “atasannya” dan juga dari rakyat Mesir kala itu.
Tepat, ia memang mengalami semua itu, tetapi dalam iman ia sadar bahwa mereka, bangsanya, sebenarnya adalah dalam negeri pengasingan.

Kedekatan dia dengan Yakub ayahnya, dan menurut beberapa ahli Perjanjian Lama, Yusuf yang sering ditinggal oleh saudara-saudaranya kala masih tinggal di Kanaan, membuat ia sering diceramahi oleh kakeknya Ishak dan tentu Yakub sendiri. Bukan sembarang ceramah, tetapi ceramah mengenai janji ALLAH yang dituturkan dari nenek moyangnya mengenai tanah Kanaan, dari Abraham, turun ke Ishak dan sekarang turun ke ayahnya, Yakub.

Iman sehebat itulah yang dapat kita lihat pada Yusuf sampai-sampai keberadaannya yang nyaman sebagai bangsawan disebutnya sebagai negeri kesengsaraan. Meski mereka sekarang sedang dipengasingan, dan sepertinya belum ada titik terang kapan bangsanya kembali ke Kanaan, ia tetap beriman, bahwa pada waktu TUHAN janjiNYA akan ditepati.

Dan oleh iman seperti inilah ia dapat berkata dengan bijaksana, ketika saudara-saudaranya yang menjual dia berjumpa lagi dengan dia.

(Kejadian 50:20 [ITB])
Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Iman tanah Perjanjian membuat dia percaya bahwa walau jalan apapun yang dianggap orang adalah penderitaan dan kesengsaraan dan kemustahilan, dalam TUHAN, dapat direkakan menjadi kebaikan. Sebab TUHAN beserta kita, Imanuel.

Memaafkan dan melupakan adalah sepaket, kata Charless R Swindoll. Itu kita lihat dari Yusuf. Ia tekum menjalani segala “jalan berliku”, karena ia memiliki iman. Ia belum melihat bagaimana caranya bangsanya kembali ke Kanaan, Tanah Perjanjian, tetapi ketika ia mau meninggal ia berkata, “Kalian harus membawa tulang belulangku kembali ke Kanaan”. Karena ia yakin bahwa bangsanya suatu saat nanti pasti kembali ke Kanaan.

Kembali ke Efraim. Pada saat Yakub akan meninggal ia terlebih dahulu memberkati cucunya. Efraim dan Manasye, dua-duanya adalah anak Yusuf. Manasye adalah anak pertama, dan Efraim adalah anak ke dua. Yusuf menghadapkan dua anaknya itu kepada Yakub, ia mengurutkan mereka sesuatu kesulungan lahiriahnya. Tetapi Yakub menyilangkan tangannya, dan menyerahkan hak kesulungan kepada Efraim. Yusuf awalnya “protes”, tetapi Yakub berkata: “Aku tahu Yusuf”. Ada apa?, sebab Yakub telah melihat di dalam iman jauh ke depan, sehingga ia memberkati Efraim sebagai yang sulung.

Dari kutipan di atas dapatlah kita lihat salah satu buktinya. Suatu waktu TUHAN berjanji bahwa keturunan Yakub/Israel akan banyak. Dan kalau kita perhatikan Yusuf, ia sampai melihat keturunan ke tiga dari anaknya Efraim, dan kemungkinan besar lebih diberkati ketimbang dari Manasye. Dan untuk lebih hebatnya lagi, kedua anak Yusuf malah dihargai Yakub sebagai anaknya, dengan memberi “marga” baru bagi Israel, Efraim dan Manasye.

Efraim melahirkan anak cucu, dan kita tahu bahwa keturunan kesekian dari Efraim adalah panglima perang Israel yang gagah berani, sekaligus pengganti Musa, Yosua. Beberapa penulis Alkitab menulis nama Yosua sebagai Yehoshua, Yesohua, Yesua, atau Oshea (Hosea). Beliaulah yang menyeberangkan bangsa Israel menuju Kanaan. Tanah yang dirindukan Musa, tetapi tidak dapat ia injak/masuki.

Anak cucu Efraim dekat dengan Yusuf, dan mereka dapat kita pastikan selalu diwarisi tentang Perjanjian TUHAN, TUHAN yang dikenal dan menyebut Nama DiriNYA menurut nama nenek moyang mereka, yaitu ALLAH ABRAHAM, ALLAH ISHAK, ALLAH YAKUB.

Jika saya dapat berspekulasi, maka iman Yusuf yang ditaburi kepada anak cucunya, dan diteruskan kepada generasi selanjutnya, itulah yang tertanam pada Yosua, sampai-sampai hanya Yosua dan Kaleblah yang gagah berani mengatakan, “Kanaan telah diserahkan TUHAN kepada kita”, meski mereka sadari Kanaan kala itu sedang dikuasai oleh orang-orang yang perkasa, bersenjata lengkap, tangguh dan mengerikan.

Ketekunan didapat karena ada Janji yang akan sedang dinyatakan kepada kita, pasti akan ADA/TERJADI meski kita belum dapat menggenggamnya sekarang, belum nyata. Dan karena kita yakin PASTI ADA/TERJADI maka kita menantikannya dalam iman. Iman melihat dengan nyata, dan kita melihat dengan nyata karena dicangkokkan kepada JANJI yang sama dari bapa-bapa iman kita. Iman melihat dengan nyata, seperti bapa-bapa leluhur melihat dengan nyata akan Tanah Perjanjian meski jalan berliku-liku di hadapan mereka, dan karena melihat dengan nyata maka ada keberanian untuk mengggapainya, dan karena waktu TUHAN adalah waktu kebijaksanaan, maka kita menuggu dengan tekun. Orang beriman adalah orang yang tekun menanti waktu TUHAN. Dan kesabaran menanti dalam iman itu melahirkan ketekunan.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: