Pemimpin harus belajar mendengarkan seperti Naaman

Juli 28, 2011 pukul 7:42 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram.
Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta.

Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel.
Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.”

Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya: “Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu.” Maka jawab raja Aram: “Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel.”

Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian. Ia menyampaikan surat itu kepada raja Israel, yang berbunyi: “Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman, pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya.”
Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: “Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku.”

Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: “Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel.”
Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa. Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.”

Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: “Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?”

Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati. Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: “Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir.”

Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir. Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!”
(2Raja-Raja 5:1-15)

Jika dengan sabar membaca ayat kutipan yang lumayan panjang di atas, maka alurnya akan didapat dengan jelas.

Aram, disebutkan oleh beberapa penerjamah bahasa Ibrani diartikan sebagai “tinggi”, atau “daerah tinggi”.
Negeri Aram seperti namanya disebutkan terletak di atas wilayah yang terbentang dari Timur Laut Palestina sampai Sungai Efrat, kala itu disebutkan mencakup wilayah Siria, Yunani, sampai Mesopotamia. Bisa jadi Negeri Aram ini adalah daerah yang dikuasai oleh Aram keturunan Shem, anak Nuh.

Seorang diantara orang Aram ini adalah Naaman. Melihat pembuka ayat kutipan di atas maka kita ketahui bahwa Naaman ini seorang pemimpin, dapat diandalkan, disayang tuannya, bahkan digelari pahlawan tentara, meski ia masih hidup. Bisa jadi ia telah beberapa kali memenangkan perang, selalu berhasil dan membanggakan. Kontras ketika dikatakan, bahwa meski ia seorang yang WAH oleh orang Aram, ia berpenyakit kusta. Dalam terjemahan rohani Israel, ia menjijikkan dan layak dikucilkan. Kontras.

Dari kutipan ayat di atas, apa yang dapat saya sebutkan adalah bahwa seorang pemimpin haruslah senantiasa bersedia dan rela mendengarkan.
Contoh Naaman, terlihat bahwa paling tidak ia mendengarkan orang dari 3 warna sekaligus.

Pertama, ia sepertinya selalu belajar untuk mendengarkan istrinya. Istrinya sendiri mendapat sebuah informasi dari seorang budak, pembantu,… warna rendah disebutkan jaman itu maupun sekarang ini. Dan hebatnya Naaman mendengarkan. Ia menurutinya.

Kedua, ia taat kepada atasannya. Raja Aram, membuat sebuah protokol, tatacara kerajaan dalam melakukan maksud Naaman. Ia mendengarkan tatacara itu, meski ditujukan kepada Raja Israel, lalu dilampar kembali oleh Raja Israel kepada Nabi Elisa, ia menurut, ia mendengarkan dan melakukan dengan baik. Bayangkan sebuah birokrasi berbelit yang melempar kita kesana kemari, menyesakkan itu. Ia dilempar kesana kemari karena Raja Israel tidak mengasihinya, beda dengan Raja Aram yang mengasihinya, ia mendengarkan Naaman. Birokrasi yang melempar kita kesana kemari, kemungkinan besar memang kita tidak disayangi dengan baik oleh birokrasi itu. Pasti ada yang salah disana.

Ketiga, ketika ia meragukan Nabi Elisa ia mendengarkan dan melakukan usulan bawahannya.
Ujian memang selalu datang, disebutkan tak kala ia meragukan Nabi Elisa, ia menggerutu. Tetapi di atas gerutunya ia mendengarkan juga nasehat bawahannya.

Nasehat yang baik yang datang dari siapapun juga, mari kita yang merasa sebagai pemimpin atau sedang memimpin, belajarlah untuk mendengarkan. Pertimbangkan, dan lakukan, tidak usah malu. Naaman tidak malu melakukan usulan yang berawal dari seorang budak perempuan, atau dari bawahan-bawahannya sekalipun, dengan tidak malu, akhirnya ia beroleh apa yang ia inginkan, kesembuhan. Kesembuhan ia peroleh karena kerendahan hati. Mendengarkan dimulai dari memiliki kerendahan hati.
Kepala batu tidaklah rendah hati.

Pemimpin yang WAH saja mendengarkan, apalagi kita yang tidak dianggap apa-apa oleh dunia ini, masak ngga mau mendengarkan. Kontras nantinya.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: