Mudah menyalahkan orang lain

Juli 27, 2011 pukul 11:06 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit kepada tembok. Maka ia memukulnya pula. Berjalanlah pula Malaikat TUHAN terus dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri. Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat.
(Bilangan 22:25-27)

Si Keledai melihat Malaikat TUHAN, sehingga ia tidak lagi takut kepada si empunya, Bileam. Takutnya si Keledai lebih kentara kepada Malaikat TUHAN. Si Keledai tidak berani lagi menerobos tak kala Malaikat TUHAN menggiring dia ke lorong satu arah.

Ketika melakukan kesalahan sering kita juga begitu, kita sudah tidak lagi takut kepada atasan, pimpinan, atau mungkin sekaligus kepada junjungan kita, TUHAN.
Kita melawan “ketakutan” kita sampai kita rela “dipukuli” atau “dihajar” demi merasa nyaman sementara.

Orang yang pernah merasakan perbuatan salah dan kemudian menjadi ketahuan dan menjadi di dalam keadaan terhukum, maka sepertinya pikiran pertamanya adalah mencari celah untuk membenarkan diri, sangat jarang orang mengaku salah, sebisa mungkin malah ia akan menghimpit orang lain, dan itu menjadi sangat mudah dilakukan jika yang dihadapi sangat berat.

Bahkan ketika kita melihat anak kecil dalam masalahnya, ada kecenderungan ia menyalahkan orang lain atas kesalahan yang ia lakukan sendiri.

Lihat dinamika bangsa kita, mana ada ormas atau organisasi atau elemen masyarakat atau mungkin partai yang mengaku salah atas kesemrawutan ini, TIDAK ADA. Ada terdakwa masih diberi sela pleidoi. Begitu mudahnya si anu menunjukkan jari kepada si anu yang lain, sambil berkoar, berbusa, dan mungkin saja teledor.
Ujungnya sekedar slogan harum, yaitu “Ini kesalahan pemerintah”. Huh membosankan.

Semoga beberapa dari kita dimampukan melihat TUHAN, seperti Bileam, dengan alur cerita yang ada pada akhirnya ia dimampukan melihat TUHAN, supaya ia tidak mudah menyalahkan si Keledai yang berani melawan dia.
Sebab memang ada kalanya elemen yang sudah terlalu berani meluapkan keberanian di atas ketakutannya, bisa jadi sesuatu yang besar sedang akan terjadi. Si Keledai sudah menjadi terlalu berani melawan tuannya, sebab ada TUAN yang lewat. Rakyat bisa jadi menjadi di dalam keadaan berani melawan tuannya, jika tuan-tuan itu malah memukuli rakyatnya tak kala tuan-tuan itu sebenarnya terlalu mudah melihat kesalahan dan terlalu mudah meletakkan kesalahan kepada rakyatnya.

Ketika manusia biasa seperti kita mudah menuduh dan menyalahkan orang lain, Kristus punysa solusi, “beranilah memikul salib”, kataNYA. Sekiranya orang berani “memikul salib”, maka begitu mudahnya senyum dan tawa dalam setiap penyelesaian masalah diungkapkan dalam gerik. Nyatanya untuk memulai sinode gereja saja, sering perpecahan dan tangis berserakan. Preneguhan dan penyucian dan penyeleksian terus terjadi, emas-emas murni akan terus tampil dan semakin jarang, sehingga semakin jarang maka semakin mahallah dia.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: