Curang

Juni 2, 2011 pukul 10:36 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , , ,

Imamat 19:15
Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan;
janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.

Di dalam KBBI, kata curang dijelaskan sebagai berikut:
curang cu.rang
[a] tidak jujur; tidak lurus hati; tidak adil

Dalam ayat kutipan di atas sepertinya penekanannya adalah di dalam hal memutuskan sesuatu oleh seorang yang dianggap layak memutuskan suatu putusan di pengadilan.
Ayat ini juga langsung menekankan hal-hal yang langsung berkenaan dengan si pengambil keputusan. Si pengambil keputusan akan langsung membagi peran-peran yang bisa mempengaruhi keputusannya, yaitu orang kecil, dan orang besar.
Ditekankan bahwa meski seseorang itu dikategorikan besar atau kecil, dua-duanya disebut adalah sebagai sesama. Jadi ada balance, ada kewajaran yang harus ditekankan, tidak memihak.

Orang besar di sini langsung dikotakkan pada cirinya yang menonjol, yaitu dapat mempengaruhi. Kita dapat melihatnya dalam kondisi negara kita saat ini, dikala seseorang dikategorikan orang besar, maka begitu susahnya ia dijebloskan ke penjara, karena ia dapat mempengaruhi keputusan, sementara sebaliknya ada sesuatu yang tidak wajar dikala orang yang dikategorikan kecil maka putusan akan begitu mudah jatuh bahkan dapat digambarkan menimpa tanpa penghalang kepada dirinya.

Membela orang kecil juga dikatakan harus sewajarnya, sebab meski orang kecil mencuri “timun”, maka yang dikatakan mencuri tidak menjadi di dalam keadaan akan diputuskan tidak mencuri oleh karena ia dikategorikan orang kecil. Pemutus keadilan tidaklah harus dapat dipengaruhi oleh latar belang semacam itu.

Untuk memutuskan sesuatu yang disebut keadilan maka landasannya disebutkan di ayat di atas adalah dengan kebenaran.
YESUS berkata: “Akulah kebenaran”, dan seterusnya.

Berpesanlah ia kepada hakim-hakim itu: “Pertimbangkanlah apa yang kamu buat, karena bukanlah untuk manusia kamu memutuskan hukum, melainkan untuk TUHAN, yang ada beserta kamu, bila kamu memutuskan hukum. Sebab itu, kiranya kamu diliputi oleh rasa takut kepada TUHAN. Bertindaklah dengan seksama, karena berlaku curang, memihak ataupun menerima suap tidak ada pada TUHAN, Allah kita.”
(2 Tawarikh 19:6-7)

Jadi kebenaran yang ditekankan adalah melandaskan segala sesuatu kepada TUHAN, takut kepada TUHAN, bekerja buat TUHAN, dan melakukan perintah TUHAN.
Jika kita mengingat kata YESUS, “Apa yang aku kerjakan, dikerjakan Bapa”,….”Aku melakukan apapun yang Bapa inginkan”,… dan puncaknya adalah ..”Bapa dan Aku adalah Satu”,…. jadi itulah kebenaran yang dapat kita lihat dalam memutuskan.
Terkadang kita juga menjadi hakim/pengadil terhadap apa yang dapat kita lakukan atau yang harus kita pilih dalam melangkahkan kaki, jika kita tidak menjadi di dalam keadaan “curang”, maka landaskanlah segalanya seperti Kristus melandaskan segalanya berdasarkan apa yang Bapa inginkan kepadaNYA. Dan apa yang diinginkan Bapa itu dilakukan semuanya, dan oleh karena itulah YESUS disebut juga “KEBENARAN”. Sebab di dalam keadaanNYA sebagai manusia IA melakukan apapun yang diperintahkan kepadaNYA, bahkan sampai mati melepaskan ragaNYA, tetapi oleh karena pilihan itulah kita semakin dapat berkata bahwa benarlah adanya DIA disebut KEBENARAN.

Kutipan dari ayat Imamat di atas dapat kita balik seperti ini, memutuskan dengan kebenaran berarti tidak curang, tidak berpengaruh oleh lingkungan, meski orang besar atau kecil sekalipun. Dan jika dihubungkan dengan ayat dari Tawarikh, maka melakukan dengan kebenaran karena landasannya adalah TUHAN, dan oleh karena TUHAN tidak dapat digoyahkan oleh suap dan keterpihakan kepada siapapun.
YESUS disebut kebenaran oleh karena IA tidak curang, malah rela memberi nyawaNYA, IA tidak terpengaruh oleh apa kata orang-orang yang tidak percaya kepadaNYA dan bahkan tidak terpengaruh kepada orang yang percaya kepadaNYA sekalipun (ingat saja apa kata Petrus dikala detik-detik penyaliban), sebab IA tahu siapa DIRINYA di hadapan BAPA yang mengutusNYA, IA adalah Firman ALLAH yang telah menjadi manusia, TUHAN bagi kita dan alam semesta ini.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. horas amang tua , lama saya tak berkunjung …

    keadilan (ketidakcurangan) memang mutlak diperlukan dalam hidup manusia. jika bermain curang maka suatu saat akan dicurangi balik… Tuhan Yesus pernah berkata ,”Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur orang lain , kelak akan diukurkan kembali kepadamu…”

    So… harus adil… plus kasih… berhikmat dan bijaksana

    • horas amang…

      maaf lagi sibuk berat di sini, sampai2 ngga sempat update…

      GBU All


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: