Kepentingan diri sendiri

April 26, 2011 pukul 8:10 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , , , , , ,

Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.
(Galatia 5:15)

Tidak sedang mengatakan bahwa saling menggigit atau saling menelan dapat diterima secara wajar, tetapi sedang mengatakan bahwa kemungkinan saling menggigit atau saling menelan itu bisa saja terjadi.

Kata menggigit dan menelan di sini bisa saja diartikan literal, tetapi amat sangat lebih mengena jika diartikan sebagai “perumpamaan”, atau “perbandingan” yang dapat diartikan persaingan yang tidak sehat,… dan salah satu bentuknya disebut adalah “mendahulukan kepentingan diri sendiri”.

Kepentingan diri sendiri bisa saja berbuah kepada perpecahan yang lebih buruk lagi. Jika seorang sudah mengaku lebih berhak atas sesuatu, maka ia bisa saja, dan kemungkinan besar akan memiliki ‘kekuasaan’ untuk bertindak lebih jauh. Merusak atau mungkin ‘menghina’ yang dianggapnya tidak sesuai dengan kepentingannya.

Banyak jenisnya tentunya, bisa jadi kekuasaan, harta, keyakinan, d.l.l. Kepentingan diri sendiri berbicara tentang individualis, dan seterusnya kepada oportunis sejati. Tidak memandang efek disekitar tetapi yang penting saya aman dan senang. Pegitu saja.

Sehingga ada kalanya memang kita oportunis, ada kalanya kita mendahulukan kepentingan kita sendiri, selalu ada celah bagi kita yang lemah ini. Tetapi kita juga sedang tidak dikatakan untuk pasrah terhadap keadaan lemah sehingga kita mengajak siapapun manusia di muka bumi ini untuk menerima keadaan kita, zona aman ini harus diruntuhkan. Kutipan di atas sedikit memberi gambaran supaya ketika kita mementingkan diri sendiri pada suatu saat, maka jangan sampai berlanjut seterusnya, lakukan jeda untuk memikirkan ulang, reset kelakukan itu, dan minta ampun pertama kepada ‘korban’ kita seraya memohon ampun pada TUHAN. Sehingga dengan demikian tidak terjadi saling membinasakan.

Gereja ‘suku’ pertama di tanah Batak adalah HKBP, tetapi selalu ada intrik kepentingan jika ‘organisasi’ sudah besar, dan akhirnya HKBP pecah, terpecah menjadi gereja-gereja lain yang meski masih identik dalam theologinya, macam HKI, GKPI, d.l.l. Nah dari sejarah gereja-gereja di atas yang saya sebut itu sendiri terkadang diiringi juga dengan nuansa ‘kepentingan diri sendiri’. Dan efek dari ‘mementingkan diri sendiri’ ini dapat kita lihat secara nyata. Gereja terpecah….
Syukur yang dapat kita lihat sekarang adalah HKBP, HKI, GKPI dan gereja-gereja sejenisnya yang dahulunya “berasal” dari HKBP tidak ada kondisi ‘saling menelan’, berbaur dalam suatu masyarakat, itu pertanda bagus. Artinya mereka tidak saling menelan. Tetapi meski berbeda dalam organisasi, tetap satu dalam kumpulan jemaat ALLAH, yang tujuan utamanya adalah hidup sama seperti KRISTUS.

Perbedaan terkadang dihadirkan sebagai metoda untuk menguji dan meneguhkan kita sebagai umat ALLAH yang berani berkata milik KRISTUS. Dan proses pertama dari peneguhan itu adalah memandang diri kita yang nyata berbeda dari sekitar kita, tetapi tidak menonjolkan diri kita sendiri di atas diri orang lain. Menghargai perbedaan adalah mengharga TUHAN yang berkarya membuat perbedaan itu sendiri. Ketidaksamaan dan ketidakmenonjolkan diri tidak berarti bahwa kebenaran dapat ditawar-tawar, tetapi mari memandang kepada TUHAN, sebab DIA adalah HAKIM. Tidak pernah ALLAH memberikan kuasa kepada kita untuk menghakimi, IA menugaskan kita untuk memberitakan Injil Kerajaan ALLAH.

Iklan

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Gereja saja bisa terpecah, tak pantaslah kau untuk hidup seperti kristus yang agung
    Injil di kerajaan ALLAH tidak bisa seenaknya saja diubah2 sesuka hati oleh kalian yang mengaku suci.

    by Tio (0813 6753 8181)

    • @tio

      salam…

      1. yang pantas itu seperti apa?
      2. yang mengaku suci siapa?
      3. yang mengubah Injil siapa?

      Gereja tidak menentukan benar tidaknya TUHAN,
      meski Gereja seharusnya paralel dengan garam dan terang dunia.
      Tetapi itu adalah tugas dan bukan penentu kebenaran TUHAN, sebab sekali kita sudah mengaku bahwa IA adalah Tuan dari segala tuan, artinya IA berotoritas, tidak membutuhkan penasehat…

      salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: