Demokrasi itu bukan meloloskan setiap perbedaan

April 20, 2011 pukul 8:16 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Demos, Kratos, sederhananya diartikan kekuatan rakyat. Meski ada jenis-jenisnya, tetapi umumnya dapat diartikan adanya kesamaan hak, mungkin bersifat ekonomi, kekuasaan, d.l.l.

Multikultural menjadi di dalam keadaan sangat membutuhkan kesamarataan tentunya. Multikultural tidak sedang berbicara bahwa kultur-kultur yang membentuknya memiliki kualitas yang sama, atau kuantitas yang sama, melainkan selalu saja ada yang disebut dengan ketidaksamaan. Orang lebih awam dengan kata-kata minoritas dan mayoritas.

Timbul masalah dikala ‘dianggap sama’ menjadi ‘tidak sama’. Masalah pelik selalu timbul dikala gesekan-gesekan menjadi amat sangat intens, apalagi jika terkadang manusia-manusia dididik menjadi sensitif.
Sensitif menjadi amat sangat menggelikan organ-organ emosi jika berhubungan dengan ….. TUHAN.
Orang berani berkata ini dan itu, sebab ia memiliki keyakinan. Dan keyakinan bukan berbicara nalar lagi. Itu melampaui logika, meski sering orang merasa lebih logis dari kultur yang berbeda yang lain.
Apa yang umum dianggap salah, oleh keyakinan bisa dianggap benar, atau sebaliknya atau seterusnya.
Ini amat samat pelik. Kepelikan makin runyam dikala tendensi, kepentingan turut serta mewarnai.
Seorang terpandang dan relijius dan memiliki pengikut tidak mungkin mengecewakan pengikutnya. Pengikutnya terkadang dalam keadaan tulus rela mati demi sang pimpinan.

Ketika orientasi-orientasi di perguruan tinggi, ada sebuah prosesi yang amat sangat menggelikan meski kala itu menyenangkan. Yaitu ‘gerakan’ yel-yel. Setiap group atau kelompok yang dibuat diusahakan agar menciptakan sebuah slogan. Dan inti salah satunya adalah menyatakan bahwa groupnyalah yang terbaik, sementara yang lain itu cemen, rendahan, … terkadang gerakan-gerakan cemoohan diusahakan untuk memprofokasi. Meski akhirnya beberapa diantara kelompok itu sebenarnya nyata juga ngga ada apa-apanya dibandingkan dengan kelompok lain. Kelompok-kelompok yang disimulasikan berbeda itu kemudian dilebur kembali ke dalam kelompok besar. Namun terkadang memori kelompok kecil tadi akan melekat, bagi yang memandang ‘demokrasi’ itu akan tampil sebagai lelucon-lelucon, penuh canda dan tawa. Tetapi ada juga memori yang ditanamkan jika berbicara tentang berbeda fakultas atau jurusan, terkadang ‘perang’ diciptakan. Selalu panas dan beringas yang diutamakan.

Kita harus menyadari bahwa memang kita telah berbeda. Bahkan kita dan istri atau sebaliknya jelas-jelas sudah berbeda. Apakah kita semua suami, harus memaksakan istri-istri kita menjadi seorang pria? atau istri kita harus memaksa kita sama seperti wanita?…
Kita meyakini sesuatu benar, dalam keyakinan ada unsur Yang Maha, dan memang amatlah benar keyakinan yang benar harus diberitakan. Tetapi berita itu bukanlah sesuatu yang harus dipaksa untuk diterima, namanya juga Berita Gembira. Kecintaan kita kepada Yang Maha bukan dikeluarkan dengan memaksa orang lain menerima itu. Sebab masing-masing orang dihargai Yang Maha. Yang Maha mengasihi, dan mengasihi bukan lagi berbicara instan. Ada waktu, ada keputusan. Keputusan menentukan arah. Keputusan jangan dipaksa, relakan saja.

Kelompok Paulus, Kelompok Apolos, Kelompok Kephas… dan lain-lain adalah beberapa kelompok yang mungkin telah tercipta di kala kekristenan awal. Secara kultur sangat dimungkinkan telah terjadi jurang pengertian diantara jemaat waktu itu. Gereja Pestakosta, Gereja Bethel Indonesia, HKBP, GKPI,… dan lain-lain sangat nyata perbedaan…
Tetapi perbedaan bukan pada Yang Maha, sama,… yang berbeda adalah cara menjelaskan Yang Maha itu. Berimbas kepada keyakinan, janji, dan prosesi. Lalu haruskan dipaksakan?…
TIDAK, melainkan dikatakan kejarlah terus akan pengenalan akan Kristus. Kenapa harus ke Kristus? Karena meski Yang Maha sanggup melakukan segala sesuatu, tetapi IA memilih untuk duduk bersama kita dalam menuntun pilihan apa yang akan kita pilih. Ia tidak memaksa manusia untuk selamat semuanya, meski keselamatan itu adalah harga mati dan amat sangat penting. Tetapi IA memberikan kita pilihan, dan pilihan itu lebih berharga daripada dipaksa harus memilih. Nilai terbesar dari sebuah pilihan adalah kepuasan akan hasil kebenarannya. Orang jahat akan puas menerima nilai 100, skala 100, tetapi ia memaksa penilainya melakukan itu, atau ia memaksa dirinya menghapal rumusan-rumusan tanpa mendalami makna hapalan itu.

Meski ada perbedaan dari kelompok jemaat itu, tetapi tidak menjadi semua dapat diterima.
Ada beberapa jemaat yang memang dapat kita cap sebagai sesat.
Tetapi apa yang memampukan seseorang disebut sesat? apakah kita?.
Jika seseorang berbicara atas nama TUHAN maka ia dapat mencap seseorang sesat.
Dan jika seseorang itu berbicara atas nama TUHAN, maka biarlah hidupnya juga mencerminkan itu semua.
Dan cerminan, wajah TUHAN yang tidak terlihat itu adalah KRISTUS. Yang tidak memaksakan malah menderita demi membuat kita sama.

Jika pencuri atau koruptor membentuk asosiasi tertentu maka tidaklah menjadi dapat diterima oleh karena kata demokrasi bukan? seberapapun besarnya koruptor, mereka tetaplah penjahat dan tidak dapat diloloskan untuk dapat digabungkan ke dalam kesamaan hak untuk hidup dalam koridor demokrasi.

Meski mayoritas, kita harus belajar menerima pendapat minoritas. Kenapa?
karena kita percaya bahwa TUHAN MAHA BESAR. Hubungannya apa?
Karena TUHAN Maha BESAR maka bisa saja TUHAN menggunakan minoritas untuk mengungkapkan apa mauNYA demi kepentinga mayoritas, atau kepentingan bersama.

Maka Ahab mengumpulkan kira-kira 400 nabi lalu bertanya kepada mereka, “Bolehkah aku pergi menyerang Ramot atau tidak?” “Boleh!” jawab mereka. “TUHAN akan menyerahkan kota itu kepada Baginda.”
(1Raja-Raja 22:6)

400 nabi, melawan 1 nabi (nabi Mikha). Kala pemerintahan Raja Ahab atas Israel, dan Raja Yosaphat atas Yehuda, ada warna demokrasi yang harus dipraktekkan. Mayoritas nabi mendukung perang demi kemenangan, minoritas (1 orang) mengatakan silahkan berperang karena kamu pasti akan menderita kekalahan.
Dan memang benar mayoritas tadi ternyata salah.

Disini tidak sedang mengatakan bahwa minoritas harus selalu benar, atau minoritas harus selalu diperhatikan demi menjaga demokrasi, demi menjaga kesamaan, demi menjaga sesuatu apapun yang di dunia ini,…

Tetapi yang perlu dijaga adalah hubungan kita kepada Yang Maha. Dan hubungan yang salah tidak selalu dapat diloloskan hanya demi mengatasnamakan apapun di dunia ini. Bagaimana kita dapat mengatakan hubungan kita kepada Yang Maha adalah lurus dan benar jika ternyata mahluk yang TUHAN ijinkan hidup di dunia ini saja kita tidak ajak mendekat ke TUHAN?….

Orang terkadang sensitif dengan mengatakan dirinya menjadi bagian dari kelompok, baik kelompok mayoritas maupun kelompok minoritas. Padahal jika diteliti lebih jauh lagi, semakin kita kenali terkadang orang hanya memiliki ketakutan-ketakutan. Kelompok yang disebut minoritas masih terpecah, pasti. apalagi yang mayoritas.
Berikan satu kondisi, maka setiap kepala akan mengucapkan apa isi hatinya dan apa isi kepalanya,… mereka terpecah-pecah.. Dan karena terpecah itulah dapat kita pastikan perlunya ‘kedingan’ hati dan kepala dalam prinsip bersama yang kemudian disebut demokrasi. Dan perpecahan itu tidak musti meloloskan setiap perbedaan. Sebab ada perbedaan yang benar-benar menyimpang. Dan biarlah yang menyadari segala sesuatu yang menyimpang dapat menjelaskan dengan lemah lembut dan penuh damai sejahtera menjelaskan dan mendidik.

Orang yang bekerja buat Tuhan tidak patut bertengkar; ia harus ramah terhadap semua orang, dan dapat mengajar orang dengan baik dan sabar. Ia harus dengan lemah lembut mengajari orang-orang yang suka melawan; mudah-mudahan Allah memberi kesempatan kepada orang-orang itu untuk bertobat dari dosa-dosa mereka dan mengenal ajaran yang benar. Dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, dan terlepas dari perangkap Iblis yang telah menawan mereka dan memaksa mereka mengikuti kemauannya.
(2Timotius 2:24-26)

Yang tidak lemah lembut akan ditertipkan negara..

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: