Menantang Nasionalisme

April 15, 2011 pukul 7:59 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Segera sesudah Ahab melihat Elia, ia berkata kepadanya: “Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?” Jawab Elia kepadanya: “Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal.
(1Raja-Raja 18:17-18)

Dalam kerangka perjuangan benar bahwa orang Israel diminta dan disarankan untuk mempertahankan diri dari segala bentuk perongrongan dari pihak luar.
Cerita di Kitab Hakim-Hakim sedikit memberi pintu pembuka bagi kita bagaimana Israel dan wilayahnya harus dipertahankan. Meski sering dijajah tetapi mereka tetap bangkit seiring dengan kedekatan mereka kepada TUHAN. Dikala mereka jauh dari TUHAN, maka TUHAN membiarkan bangsa-bangsa di sekitarnya melawan Israel, dan sebaliknya dikala mereka bertobat dan mendekat kepada TUHAN, maka janji TUHAN yang telah TUHAN berikan sejak di Sinai akan bersinar.

Karena mereka bangsa yang dipilih maka mereka memiliki hubungan langsung dengan TUHAN, apapun yang mereka pilih harus dan wajib bertanya kepada TUHAN, sedemikian juga kita yang telah dipilih TUHAN menjadi umatNYA, wajib dan harus bertanya terlebih dahulu dalam segala bentuk pilihan kita.

TIbalah pada saat Raja-Raja memerintah di Israel. Tentu Raja menjadi simbol pemersatu, simbol kekuatan dan wajah bangsa. Dalam tatanan tertentu Raja wajib dan harus melindungi rakyat dan segala bentuk kehidupan. Jika rakyat telah berwarna-warni maka Raja harus menjaga kesamaan, kesatupaduan, kesinambungan demi keamanan. Tetapi ada juga kalanya Raja itu sendiri yang mengharuskan rakyat berlaku seperti ini dan seperti itu, mengikuti seleranya, dan itulah yang terjadi dengan Raja yang dihadapi oleh Nabi Elia.

Dalam tendensi bernegara, berbangsa maka wilayah adalah suatu harga mati. Kesatuan adalah suatu titik puncak.

Nabi Elia, dalam berbagai pesannya selalu meresahkan Raja, dan juga rakyat yang mendukung dia. Jika Raja ingin berperang melawan musuh, Elia berkata kamu akan kalah. Jika Raja ingin senang-senang, Elia berkata kamu pemalas… Kira-kira begitu keadaannya. Apapun yang dilakukan Raja selalu menjadi mendapat sorotan negatif dari Nabi Elia. Sampai-sampai Raja kala itu mencap Elia sebagai pangacau. Melawan jiwa nasionalisnya, tidak membela bangsanya sendiri… merusak, pemecah belah rakyat…mencelakakan Israel.

Ada apa gerangan?

Nabi Elia berpandangan bahwa nasionalisme selalu dapat ditembus oleh Janji dari TUHAN. Jati diri Israel bukan terletak pada Raja, dan juga bukan terletak pada wilayah dan kekuatan dan pengakuan bangsa luar, jati diri Israel ditandai dengan pengenalan akan TUHAN, kesetiaan kepada TUHAN…

Dalam tatanan bernegara, untuk menjaga kesatuan dan apapun yang ada di dalamnya, wajar berkompromi dengan ‘penyandang dana’, ‘donatur’, ‘sponsor’.. yang ada di dunia…
Tetapi ELIA berkata: “Sponsor utama adalah TUHAN, dan bukan dewa Baal”. Dan sponsor itu telah dijewantahkan dalam bentuk kerajaan, yaitu seorang Raja haruslah menceritakan tentang TUHAN kepada rakyatnya, melindungi rakyatnya dalam Nama TUHAN yang mereka sembah…. Tetapi
Raja telah melegalkan penyembahan dewa-dewa karena Izebel, penyandang dana/sponsor moral dan kekuatan bagi Raja,… dan Raja yang kita sebut adalah Raja Ahab.

Musa yang berkumandang tentang Nasionalisme sejati, Yosua, .. dan banyak tokoh lain di Alkitab,…
tetapi Nabi Elia oleh karena kejahatan Raja, ia menantang nasionalisme.

Bukan karena Elia tidak nasionalis, melainkan bagaimana Elia melihatnya dari sisi kebenaran TUHAN, sisi Janji yang menyertai Israel. Dan karena itulah ia berkata: “Raja Abah, engkaulah yang mencelakakan Israel”.

Kenapa?

Karena sejak dahulu Israel telah dikawal oleh Janji, dan salah satu ikatan didalamnya adalah kutukan, hukuman dan pecutan dikala menantang dan jauh dari TUHAN, dan karena Raja Ahab sedang di dalam keadaan jauh dan menantang TUHAN dengan dewa-dewa kejijikannya, dan membiarkan dirinya tuntuk kepada Izebel dan bukan kepada TUHAN, serta membiarkan rakyatnya takut kepada dewa-dewa dan imam-imamnya dan bukan kepada TUHAN,.. maka kutuk akan segera mencelakakan Israel, nasional Israel segera akan hancur lebur karena tangan TUHAN akan turun, wajah TUHAN dalam keadilan dan kekudusan akan menghampiri…

Elia mengharuskan Raja jahat itu memandang nasionalisme dari wajah kemurahan TUHAN yang menyertai Israel.

Nasionalisme kita harus dipandang dari Kasih TUHAN yang menyertai, melindungi bangsa Indonesia ini… apakah bangsa ini terpilih? Jika tidak maka negara ini segera akan menemui ajalnya. Perang saudara dimana-mana…semua berkata benar, banyak mulut berbusa mengungkapkan kebenarannya sendiri demi kepentingan sponsornya sendiri….Jika mencintai negara ini maka… pandanglah Janji TUHAN kepada bangsa ini….

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: