Mungkin inilah cara TUHAN

April 14, 2011 pukul 7:37 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak.
Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya.

Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak.
Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.”
Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.

Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, –yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan–,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.
(Kejadian 16:1-3)

Kita perhatikan cara logika manusia yang terkadang menjadi salah satu bentuk ujian kepada kesetiaan kepada janji TUHAN.

Ada tiga tokoh yang dapat kita sebut di atas,
Abram (Abraham), Sarai (Sara) dan Hagar.
Abram dan Sarai adalah suami istri, mereka memiliki Hagar. Hagar adalah hamba mereka, dia berasal dari Mesir.

Abram dan Sarai dijanjikan TUHAN seorang anak yang akan menurunkan sebuah bangsa, umat ALLAH sendiri.
Tetapi sampai masa seorang perempuan normal untuk dapat melahirkan, Sarai tidak dapat juga memiliki seorang anak.
Sekarang logika datang menguji kesetiaan kepada TUHAN.

Logika: “Kamu sekarang sudah tidak memiliki peluang untuk memiliki anak, monopause kan batasnya?”
Kesetiaan: “Tetapi TUHAN berjanji bahwa saya akan menjadi ibu banyak bangsa”
Logika: “Itu betul sekali, dengan cara mengawini Hagar hambamu bisa juga kan anaknya nanti menjadi anak mu sendiri, kebudayaan kita berkata begitu koq”.
Kesetiaan: “Hmmmmmm, betul juga yah”.
Logika :”Nah itu yang benar, tidak mungkin TUHAN memberikan seorang Hagar kepada keluargamu kalau TUHAN tidak memiliki maksud atas itu semua, TUHAN itu luar biasa bukan?, DIA Maha tahu koq…”

Itu suatu logika yang menguji kesetiaan, dan memang normal sekali bahwa logika bermain, sebab memang kita diberi pikiran.

Kita tahu bahwa Janji TUHAN nyata, cari saja di ALKITAB janji-janji TUHAN itu. Nubuatan-nubuatan yang telah dialami tokoh-tokoh Alkitab sebagai pondasi yang kuat bagi kita bahwa Janji TUHAN pasti digenapi, dan janji-janji itu nyata sekali. Karena nyata maka kita yakin dan percaya, dan karena Janji itu nyata maka kita harus setia menggenggamnya, di dalam iman, sebab memang segala sesuatu tentang Janji-janji terkadang kita belum dalam melihat secara nyata, tetapi kita yakin kita akan menggenggamnya, dan oleh karena kita kita harus setia. Ujian yang paling nyata kepada kesetiaan itu semua adalah logika, apa yang ada pada kita, dan keinginan kita.

Apa yang ada pada kita, logika kita, selalu memungkinkan berkata: “Mungkin inilah cara TUHAN”.

Bayangkan sebuah rumah tangga, di Gereja telah berjanji seia sekata, saling mencintai, berjanji di hadapan TUHAN dan di hadapan Jemaat ALLAH, untuk satu dan setia sampai ajal menjemput, lalu berkata :”Mungkin perceraian adalah jalan terbaik, dan mungkin ini cara TUHAN untuk dapat mendamaikan kedua keluarga besar kita”,…… itu sudah jungkir balik.

Jika kamu belum mengenal atau bahkan menolak TUHAN, maka apapun cara yang kamu tempuh TUHAN serahkan kepada kemauanmu sendiri, sebab ujung dari semuanya itu adalah kebinasaan, tetapi jika kamu sudah diambil oleh TUHAN dari dunia, maka setialah kepadaNYA.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: