Mengikuti ‘Arus’

Maret 29, 2011 pukul 7:58 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Arus, dalam makna tertentu bisa disebut sebagai kebiasaan yang sudah lazim. Umum dan sah dilakukan, benar dilaksanakan dan baik dampaknya. Dalam khasanah orang Yahudi disebut adat istiadat yang berpatokan pada hukum Musa, dalam makna terdalam lagi disebut tunduk kepada ALLAH.

Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.
(Hakim-Hakim 13:1)

Di sini terlihat ada dampak yang tidak baik ketika ‘arus’ dilawan.
‘Arus’ tentu memiliki latar belakang yang musti dirunut agak ke belakang lagi, ya sebab sekitar ratusan tahun silam nenek moyang Israel telah berjanji di Sinai untuk mematuhi ARUS dari TUHAN. Janji itu masih segar diingatan nenek moyang mereka, dan salah satu tugas mereka adalah mengajarkan atau menceritakan apa yang telah TUHAN pernah kerjakan, yang telah mereka saksikan sendiri, kepada anak-anaknya, kepada keturunan-keturunan mereka, sehingga ketika keturunan-keturunan itu menghadapi masalah mereka dapat mengandalkan TUHAN, mereka bisa mengandalkan TUHAN karena mereka mengenal TUHAN, dan mereka mengenal TUHAN karena mereka mengikuti ‘arus’.

Kebiasaan yang buruk dapat juga dilakukan secara bersama-sama, dilakukan karena kemungkinan sudah lumrah diterima awam, dan sisi salahnya sudah menjadi kabur, itu disebut juga mengikuti arus.
Mengendarai kenderaan bermotor dengan tidak memperhatikan rambu-rambu, dan membawa kenderaan melebihi kecepatan tertentu bisa menjadi tidak merasa ada salah karena ternyata keadaan melanggar itu diperlukan supaya dapat menempuh jalan dan sampai ke tujuan dengan lebih cepat. “Mumpung tidak ada polisi”, kata beberapa orang. Atau ada juga ucapan begini, “Kalau saya berperilaku benar di negara Indonesia ini, saya tidak akan pernah dapat makan”. Itu perihal beberapa orang yang memperpanjang hidupnya dari mengerjakan proyek-proyek yang berhubungan langsung dengan instansi-instansi pemerintahan. Dipaksa mengikuti arus.

Contoh-contoh sederhana di atas menjelaskan ada dua arus. Kita tinggal pilih, memilih arus yang berakhir pada kekekalan atau arus yang berkompromi dengan keinginan kita semata.

YESUS yang mengikuti ‘arus’ bahkan harus menderita, dipermalukan, bahkan mati disalib, tetapi ada juga yang mengikuti arus dunia dikenang sangat berharga, mulia dan gagah perkasa. Manusia, kita masih merasa manusia, tinggal pilih.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: