Ah sama saja ternyata

Maret 22, 2011 pukul 7:51 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Mungkin kita sering mendengar kata “tumbal”. Entah mitos entah benar adanya, tetapi keadaan tertentu selalu dapat membungai apa yang disebut jual-beli dalam wacana kepercayaan/keyakinan.

Seorang yang ingin kaya memberi ‘sesajen’ kepada setan-setan, atau bahkan bisa saja allah-allah tertentu dianggap diberi penyejuk hati allahnya supaya bermurah hati dalam meberikan sesuatu yang kita inginkan.

Alasan-alasan apapun dapat kita berikan, yang dalam kelas tertentu sama saja dengan ‘berbuat’ baik hanya demi alasan ‘mendapat nilai plus’ dari sesembahan kita. Kita sering melakukannya,…. tetapi ada juga orang yang tampil apa adanya seraya sepertinya tidak memandang situasi, ia mengutarakan apa saja isi hatinya tanpa perlu untuk memperdulikan isi hati orang lain…

Seorang yang menyembah setan, akan ditarik setan, atau seseorang yang menyembah allah tertentu akan ditarik oleh sang ilah itu untuk tunduk, dalam kelas hamba, karena untuk itulah ‘sosok’ itu disebut ilah. Allah.

TUHAN, bukanlah begitu juga?… TUHAN menuntut pengakuan kita baik dalam tubuh, jiwa, dan roh, segalanya harus kita serahkan kepada DIA.

Hmmmm… sama saja ternyata…


Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.
(1Korintus 9:25-26)

Membaca kutipan ini kita dapat menarik sebuah kesimpulan, meski untuk sementara dapat kita sebutkan kesetaraaan (dalam hal ketundukan kepada Ilah/Tuhan masing-masing), tetapi keadaan akhirnya akan sangat jauh berbeda. Orang bisa saja mendapat hadiah, mahkota keagungan, bahkan kuasa dan sebaigainya, tetapi dikatakan itu semua fana, sementara, ketundukan kita kepada TUHAN adalah dalam rangka mahkota yang lebih terarah, tujuan yang pasti, yang bersasaran tepat, kehidupan abadi.

Perasaan menolak ketundukan kepada TUHAN karena menimbang adanya kesamaan ketundukan kepada setan/allah lain, disebabkan oleh sesuatu yang masih belum beres pada diri kita sendiri. Dan karena setiap yang ilahi menginginkan bentuk ketundukan, maka hati-hatilah, selidikilah setiap ilah/Tuhan/Allah…
sebab sudah kita katakan bahwa tujuan dari TUHAN adalah tujuan yang abadi, tidak fana.
TUHAN memampukan kita abadi karena TUHAN Yang Abadi memberikan sesuatu kepada kita yang tidak fana.
Sudah merasakan anugerah itu di bumi? jika tidak, maka dengarkanlah terus ketokan di hati kita masing-masing, sebab IA setia mengetok dan menunggu pintu hati kita dibukakan… beri DIA waktu untuk mengungkapkan PribadiNYA YANG MULIA dan penuh Anugerah.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: