Peraturan sekunder…

Maret 11, 2011 pukul 7:51 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

“Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”
Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?
(Matius 15:2-3)

Ada dua hal yang dapat kita lihat, adat istiadat nenek moyang dan perintah Allah.
Adat istiadat yang dimaksud bukanlah adat istiadat moral universal, menghormati orang tua, menyayangi sesama, dan toleransi, melainkan ada adat istiadat yang sepertinya sengaja dibuat oleh beberapa nenek moyang orang Israel yang malah melabrak perintah Allah.
Jika kita lanjut pembacaan dari Pasal 15 Injil Matius di atas, maka disebutkan salah satu contoh adalah beberapa pemegang otoritas Jemaah ALLAH itu telah mengatakan bahwa persembahan pada ALLAH lebih diutamakan ketimbang mengikuti perintah ALLAH untuk menghormati orang tua. Dan lebih parahlah bukan perkara memberi persembahan sebagai wujud nyata cinta kasih kepada TUHAN melainkan melaksanakan peraturan-peraturan itu hanya dalam tatanan prosesi.

Kita dapat membaca “WARNING” ini pada Kitab Nabi Yesaya:
Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,
(Yesaya 29:13)

Jadi telah dibentuk suatu adat istiadat, suatu pola, kebiasaan, suatu karakter umat yang cenderung mengedepankan tampilan depan. Kita memang dapat mengatakan bahwa manusia melihat apa yang terlihat, sehingga itulah yang perlu dipoles, tetapi meski apa yang terlihat juga perlu satu lagi yang tak kalah perlu adalah tampilan di dalam, jiwa kita, roh kita harus benar-benar selaras dengan tampilan tubuh kita, dan sebaliknya dan seterusnya.

Apa gunanya kita menghapalkan seluruh isi ALKITAB, apa gunanya kita mengetahui seluruh perintah ALLAH, jika ternyata tak satupun yang dapat kita lakukan, atau lebih parah lagi jika ternyata ALLAH itu sendiri tidak kita kenal sama sekali. Satu hal lagi adalah bahwa melanggar satu sama saja dengan melanggar semuanya, satu titik hitam merusak semua adonan. Hanya hapalan, hanya di luar, tidak bermanfaat.

Ada peraturan sekunder yang dibuat manusia untuk menutupi apa tuntutan primer yang seharusnya dikedepankan,…. dan kita harus hati-hati dengan hal-hal seperti ini.

Dalam acara-acara adat batak sering diucapkan kata-kata indah,… dan sering pula itu hanya sebuah kata-kata indah tanpa tindak lanjut, kosong dan hampa. Seorang tua menasehatkan seorang yang baru menikah supaya taat dan kuat dan gagah, tetapi sipenasehat tidak menunggu jam sudah melanglang buana diarea tempat mabuk dan menjudi dan lain sebagainya,… memang nasehatnya perlu bagi kita, tetapi ada baiknya nasehat itu sendiri dapat ditegaskan pada dirinya sendiri.

Bahkan kata-kata ini juga harus menjadi pasung buat penulis, untuk terus berjuang dalam menghadapi segala kelemahan-kelemahan dan keinginan-keinginan sekunder yang berlawanan dengan perintah primer ALLAH.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: