Bersembunyi dalam jaring “Individualis”

Februari 23, 2011 pukul 7:19 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Bicara tentang “kesendirian” kita langsung meluncur kepada Kitab pertama sekali, yaitu:

TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”
(Kejadian 2:18)

Lingkungan sosial pertama kita adalah keluarga, dan mendengar kata sosial kita sudah seharusnya tidak lagi berpikir tentang kesendirian.

Relasi antara dua insan membutuhkan perangkat tentunya, dalam bahasa ALKITAB itu disebut kasih, dan untuk mendukung keberlangsungannya ada yang disebut sebagai hukum hati nurani. Hati nurani berbicara mengenai hukum rohaniah, hukum yang tidak terlalu keras dan tegas di depan mata, sedikit terlihat berkelok dan bengkok, kesan pertama seperti itu, namun harus kita yakini bahwa pada akhirnya atau pada saatnya semuanya ternyata membawa kepada segala sesuatu yang disebut sempurna atau indah. Jika hukum hati nurani yang berbicara tentu gereja-gereja tidak akan pernah berpecah baik secara pengajaran, baik secara organisasi, baik secara apapun yang fisik-fisik yang dapat kita lihat. Sebab bukan hanya dengan akal budi kita memuja dan menyembah tetapi juga dengan tubuh insan , tetapi memang tubuh adalah lemah, dan sering terjerambab jauh ke bawah, ada hukum dosa yang selalu dilayani oleh tubuh kita ini, tubuh ini sering mengalah dalam arti kalah. Jika gedung gereja ditolak maka hukum hati nurani akan berbicara tentang persekutuan rumah ke rumah, persekutuan sel, tetapi apa yang terjadi kadang-kadang kita memaksa gedung gereja harus berdiri di atas, kadang-kadang, darah dan tangis, sesuatu yang tidak perlu bukan?

Bicara pergumulan, maka perjuangan diri kita sendiri adalah perjuangan solo, kita bertanding solo, kita adalah solois, tetapi efek dan kekuatan menghadapinya lebih membawa makna dalam lingkaran kebersamaan, seorang mendoakan yang lain, seorang menasehati yang lain, seorang mengajar yang lain, seorang mengingatkan yang lain, seorang mendidik yang lain, atau mungkin seorang menegor yang lain, banyak hal lain yang dapat kita sebut. Penolakan yang sering dimainkan oleh tubuh kita dalam menerima peran serta orang kedua itu dapat kita sebut individualis. Terkadang ketika kita dinasehati hati kita bisa marah, meski nasehat itu adalah benar dan membawa untung kepada kita, dan malah sering di dalam pikiran kita timbul ide-ide pembenaran yang justru membelokkan kebenaran dan keadaan sebenarnya.

Terlebih dari segala yang kita sebut diatas, bahwa memang manusia telah diciptakan dua orang (pertama sekali) untuk nantinya berkembang biak, menjadi banyak. Dan karena akan menjadi banyak maka hati nurani akan melepaskan seseorang dari keterikatan jaring individualis.
Contoh yang dikemukakan Kitab Korintus adalah apa yang terjadi pada diri kita secara solo dan efeknya pada sekitarnya. Secara solo kita bisa saja berdoa dalam bahasa-bahasa rohaniah yang hebat, beberapa orang menyebutnya bahasa-bahasa malaikat, sebab tidak ada orang yang dapat mengerti selain daripada ilham Roh pada orang yang cenderung tertentu pula, solo lagi. Tetapi karena doa dalam bahasa roh bersifat solo, maka kita dalam mengucapkan doa-doa roh itu harus benar-benar di dalam keadaan sadar penuh, yang menyadarkan itu adalah hukum nurani tadi. Hukum nurani itu berbicara tentang fungsi dan motivasi. Apa gunanya kita menguasai seluruh bahasa bahkan bahasa-bahasa malaikat sekalipun jika ternyata tidak ada seorangpun yang dapat mengertinya?, itu sebuah essay Alkitabiah dalam hikmat Paulus. Apa kita ingin terlihat rohaniah dari pada seseorang yang lain hanya karena bisa berbahasa roh?, itu juga pertanyaan yang harus dijawab di dalam nurani juga. Bukankah buah-buah Roh adalah kasih, suka cita, kelemah lembutan, penguasaan diri, dan seterusnya? jika demikian bahasa kita adalah bahasa kasih, bahasa suka cita, bahasa kelemahlembutan, bahasa pengusaan diri, dan bahasa yang seterusnya,… itu adalah hukum-hukum yang ada pada hukum hati nurani… kita tidak perlu berteriak keras membawa parang dan pentungan untuk menyatakan seseorang jahat atau penista keyakinan kita, sebab hukum hati nurani tadi mengaminkan bahwa pilihan seseorang akan berujung kepada penghakiman yang sama dengan penghakiman yang akan kita hadapi juga, kebaskan saja debu dari sepatu, sendal kita sebagai pertanda penolakan atau sebagai pilihan berbeda dari pilihan kita. Dan dalam tatanan sosial ada hukum negara yang mengatur segala bentuk kekerasan dan kekejian, dan nurani kita berbicara tentang doa yang harus kita panjatkan supaya Pemerintah Adil dan bijak sana, tetapi bagaimana kita berdoa supaya pemerintah adil dan bijaksana sementara kita masih solois dengan motivasi uang dan harta ?…, bahkan beberapa dari pejuang keadilan ternyata adalah koruptor, individualis yang menyamar dalam jaring kebersamaan.. serigala berbulu domba. Ini berbicara lagi dalam koridor kesanggupan dan idealisme, perfeksionisme. Kita menginginkan segala sesuatu sempurna, sementara di dalam diri kita ada sesuatu yang tidak akan pernah dapat sempurna, dan jika hati nurani tidak ada maka akan ada pemaksaan kehendak, belum lagi kalau ternyata kita memiliki kekuatan dan kuasa, maka sangat memungkinan kekerasan dan kekacauan akan mengikuti, sekarang mungkin tidak terlihat, tetapi nantinya semua akan jelas, yang nyata seperti ini biasanya akan sangat memalukan.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: