Nikodemus, simbol observasi dan kegamangan

Februari 16, 2011 pukul 7:40 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: ,

Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.
Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata:
“Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah;
sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”
(Yohanes 3:1-2)

“Nikodemus” biasa digunakan oleh orang Yahudi yang berbasis bahasa Yunani. Dapat kita pastikan bahwa nama itu sendiri adalah pengaruh bahasa Yunani, tentu sebab Yunani pernah menjajah wilayah Israel hampir 5 abad.
Nikodemus artinya penakluk manusia.

Salah satu “penakluk manusia” itu adalah salah satu dari pemimpin Yahudi masa Yesus Historis.
Bukan hanya pemimpin keagamaan, masalah praktek agama ia adalah seorang Farisi (sama dengan Paulus), yang mana Farisi sangat concern masalah detail Kitab Suci, jika kita pergunakan bahasa Indonesia, mereka itu tahu titik komanya Kitab Suci.

Memang banyak pemuka agama di Yahudi masa itu, dan ada yang unik pada diri Nikodemus, sebab jika kita mendengar Fairisi, kita sedikit terbawa image bahwa mereka ini tidak percaya YESUS. Keadaan sebenarnya tidak demikian, kita akan melihat bagaimana Nikodemus ini pada awalnya.

Di antara pemuka agama memang ada upaya supaya umat Yahudi tidak mempercayai YESUS, mereka akan mengucilkan masyarakat yang mempercayai YESUS adalah Mesias (Raja Penyelamat) yang dinantikan itu.
Dalam konteks orang Batak akan sangat terasa arti dikucilkan ini, jika seorang Batak melakukan kesalahan besar, contohnya perjinahan, maka adat akan mengucilkan mereka, dan orang yang dikucilkan akan amat sangat menderita jika ada acara-acara adat yang harus ia lakukan.

Jika ada peratusan seperti itu, maka akan menjadi sangat memalukan jika ternyata pemimpinnya mempercayai YESUS bukan?…
Itulah yang ada di benak Nikodemus.

Tetapi jika ternyata YESUS bukan MESIAS, maka timbul pertanyaan, bagaimana YESUS bisa sebegitu berkuasa?, bagaimana nubuatan-nubuatan yang telah IA genapi? (ingat bahwa Yahudi memiliki daftar, list, nubuat yang harus digenapi oleh MESIAS). Jelas Nikodemus telah melakukan observasi, dan dari observasinya ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri,…
dan puncak kegalauannya itu ia ungkapkan secara sembunyi-sembunyi kepada sumbernya langsung, kepada YESUS…. ia “curhat” secara sembunyi-sembunyi, pada malam hari pula.

Nikodemus berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah;
sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”
Itulah observasi beliau. Dan kita tahu sampai YESUS kemudian mati, disalib, barulah Nikodemus dapat menyimpulkan bahwa ia harus mempercayai YESUS. Perjalanan panjang tentunya…

Orang yang jujur, tulus banyak bertebaran di dunia ini, mereka cerdas, mereka kuat, mereka relijius,.. sama seperti Nikodemus. Tetapi terkadang ada perbedaan bahwa tidak semua yang cerdas, yang kuat, yang relijius melakukan observasi kepada YESUS,… atau mungkin ada yang sudah melakukan macam Gandhi, tetapi tidak seperti Nikodemus yang akhirnya menyerah di bawah telapak Tuhan YESUS.

Mungkin ada juga orang yang tulus yang mencari kebenaran sampai sekarang, setelah melakukan observasi, mungkin akan timbul kegamangan, gamang karena imannya sebelumnya atau gamang karena pandangan lingkungan, “penghakiman” sesaat, persis seperti Nikodemus, yang meski sudah dapat menyimpulkan hasil observasi, tetapi ia masih gamang,…
gamang bukan karena alasan tertentu dari kesimpulan itu, tetapi gamang karena “takut” akibat konsekuensi menerima YESUS…

Nikodemus, yang tulus, yang melakukan penelitian, yang meski sempat gamang, ia memilih juga, dan tentu pilihan dia diwujudnyatakan pada waktu peristiwa salib.

Iklan

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. […] tidak bertele-tele seperti pertobatan yang dapat diperlihatkan oleh orang-orang terpelajar (macam Nikodemus). – Jadi kita memiliki pikiran yang terkadang menghakimi manusia dari apa yang tampak, – Dan kita […]

  2. Amen ..
    sangat setuju lae …..
    Kta menganggap kita sederajat dgn Tuhan di saat kita mengira kita tidak memerlukanNYA. Hanya dalam kelemahan kita ternyaa DIA sangat berkuasa dan penentu akan mejadi apa kita di hadapanNYA. Sangat dilematis, krn Tuhan tidak perna menginginkan kita lemah dlm segala hal tetapi justru DIA ingin agar kita mengakui kekuatanNYA sekalipun kitatidak lemah …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: