Waddduh, lebih baik tidak kawin deh kalau begini

Januari 28, 2011 pukul 8:17 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Di dalam hukum Musa, dituliskan berbagai hukum yang menyangkut pentingnya hidup kudus.
Salah satu hukum itu adalah jika si suami mendapati istrinya sudah “tidak benar”, atau tidak dicintai lagi, maka ia bisa menceraikannya, karena rumah tangganya bisa jadi sudah tidak bisa lagi diselamatkan, bisa tidak hidup kudus. Karena masalah sepele kekudusan bisa dilanggar.
Hukum ini menjadi disahkan sebagai hukum hubungan suami istri, bahwa seorang pria bisa saja menceraikan istrinya,… terbayang jika seorang pria tanpa alasan yang jelas bisa meminta surat cerai kepada Imam Yahudi, pengurus keagaam.

Suatu saat ahli agama Yahudi, Fairisi, bertanya kepada YESUS;
Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?”
(Matius 19:3)

Mereka sedang bertanya masalah legalisasi perceraian yang ditulis Musa di dalam Taurat, yang seharusnya bertanya tentang kekudusan rumah tangga.

Yesus menjawab dua-duanya, legalisasi perceraian dan masalah kekudusan rumah tangga.

Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya:
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,
sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.
Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
(Matius 19:4-6)

Karena pernikahan itu diikat oleh ALLAH, maka mereka menjadi satu, dan jika sudah mengaku satu maka perceraian dari satu akan menyebahkan setengah,… itu hantu, setan, begu (kata orang batak), sebab tidak ada manusia setengah yang dapat hidup bukan?…. itu sudah mati namanya,.. YESUS langsung menancapkan ke akar masalahnya, yaitu ADAM dan HAWA adalah dari satu menjadi dua, dan akhirnya menjadi satu lagi…, sepasang.

Tetapi memang benar timbul pertanyaan,…
Jika demikian dari awalnya lalu kenapa TUHAN, melalui Musa, melegalkan perceraian, atau dalam bahasa saya, melegalkan manusia menjadi setengah, atau seperempat, atau seperlima (karena ada juga orang yang menikahi pria/wanita lebih dari dua atau tiga atau empat kali)

Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?”
(Matius 19:7)

Yesus menjawab:
Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.
(Matius 19:8)

Oleh karena ketegaran, oleh karena ketidakkudusanlah maka itu dilegalkan. Jika kita ingat peristiwa Saul menjadi raja, maka itu dimulai pada saat rakyat Israel bersitegang dengan Samuel. Samuel pada waktu adalah Hakim, Nabi, yang menghubungkan ALLAH dengan rakyat. Dan rakyat merengek terus meminta seorang raja yang memimpin mereka, dan alasannya bukan karena ALLAH menginginkan demikian, tetapi karena rakyat melihat bangsa-bangsa lain memiliki raja,… dan mereka mendapatkannya, karena TUHAN mengijinkannya, meski diberikan seorang raja, TUHAN mewanti-wanti mereka bahwa setiap raja harus tunduk kepada RAJA YANG ESA itu, dan setiap raja harus mengajarkan tentang takut kepada TUHAN (nyatanya hanya Raja Daud yang bisa didaftar sebagai raja Israel yang takut pada TUHAN, raja pertama, Raja Saul sendiri telah menanam contoh yang tidak baik).

Oleh karena ketegaran, oleh karena kekeraskepalaan, dan oleh karena TUHAN menyayangi mereka, TUHAN mengabulkan permintaan mereka, permintaan yang dibatasi oleh kekudusan dan kesetian dari si penerima anugerah.

Setelah itu, TUHAN YESUS mengatakan pundasi utama dari pernikahan, dan bagaimana menjaga kekudusan pernikahan itu,

Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”
(Matius 19:9)

Mendengar kata Zinah, maka orang Yahudi akan serasa diingatkan oleh hukum yang lain, yaitu:
“Jangan berzinah”…

Salah satu hukum taurat, dimana jika tidak melakukan satu saja itu sama dengan tidak melakukan yang lain,… jika seorang telah berzinah, itu sama dengan tidak menyembah ALLAH sebagai ALLAH,.. mereka hidup bukan sebagai umat ALLAH,…

dan karena sangat “ngeri”, kudus, suci, begitu atas makna dan pondasi pernikahan, maka murid-murid YESUS, yang mengerti hukum taurat itu, langsung berkata:

Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.”
(Matius 19:10)

Sekali lagi, saking kudus, suci dan didasarkan atas pernikahan adalah “ikatan” yang dibuat ALLAH, maka mereka berkata:”Waddduh, lebih baik tidak kawin deh kalau begini” (ekspresi saya dalam konteks masa kini saja).

Setelah itu, YESUS lebih lanjut menjelaskan:
Akan tetapi Ia berkata kepada mereka:
“Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.
Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya,
dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga.
Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”
(Matius 19:11-12)

Itulah variable-variable yang diberikan sebagai pembatas kepada kita bahwa masalah perkawinan/perceraian bukan menjadi point utama, tetapi adalah masalah kekudusan, masalah hati kita,.. masalah ketundukan kita di hadapan TUHAN. Tetapi meski bukan point utama, TUHAN juga memberi pondasi, bahwa pernikahan haruslah kudus dan suci, dan…..sepasang, sama seperti ikatan KRISTUS dan GEREJA,…
Gereja bukanlah gedungnya, tetapi gereja adalah kumpulan orang yang memiliki hubungan yang baik dengan TUHAN.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: