Mempercayakan diri

Januari 7, 2011 pukul 8:42 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag:

Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.
(Yohanes 2:24-25, Terjemahan Baru)

Sekarang kita mengecap pemerintahan yang dipilih langsung oleh rakyat.
Orang yang percaya kepada seseorang oleh alasan tertentu maka akan terpilih menjadi “penguasa”.
Dan kita pasti sadar betul yang namanya mayaritas tunggal (Single Majority) itu amat sangat kecil terjadi mengingat begitu banyaknya kontestan.
Nah pada posisi tertentu si terpilih akan mempercayakan dirinya kepada pemilihnya, supaya ia dapat disebut orang yang terpecaya, orang yang memegang janji. Nyatanya memang banyak juga yang tidak menepati janji-janjinya. Salah satu faktor yang menyebabkan itu adalah terkadang orang yang kita pilih telah mempercayakan diri kepada golongan atau ornamen lain dari kekuasaan. Dalam bahasa saya Partai tertentu harus berkolaborasi dengan Partai lain supaya bisa kuat dan kokoh. Itu disebut mempercayakan dirinya juga, dan… terjadilah kompromi-kompromi.
Karena mempercayakan diri, maka tidak bisa independen, tidak bebas, terikat, dan yang paling parah bisa terjadi yang disebut “jaga image”.
Mengutarakan yang benar menjadi pilihan terakhir karena takut menyakiti dan takut mengurangi kepercayaan.
Misalkan seorang pemimpin memiliki ide cemerlang, ia nyatakan waktu kampanye, tetapi ketika terpilih, ide itu tidak bisa diterapkan karena begitu lebarnya dan begitu kuatnya jaring laba-laba yang harus diputuskan untuk memecahkan masalah, salah satunya masalah korupsi,….. ternyata biangnya korupsi ada pada pusat-pusat individu dari orang yang dia percayakan dirinya sendiri.

Ketika YESUS dipercayai oleh banyak orang oleh karena pekerjaan-pekerjaan besar, mukjizat, ada hal yang mengikuti, antara lain mereka ingin mengangkat YESUS menjadi raja, penguasa yang melakukan keinginan mereka sebagai manusia dunia. Nyatanya YESUS memilih menjadi Kristus yang tersalib, bukan raja yang memerintah di dunia, YESUS telah menolaknya di gurun pada saat dicobai Iblis. Orang yang percaya oleh karena mukjizat saja akan memiliki nilai kepercayaan yang berbeda tak kala ada sesuatu yang mengubah pikiran mereka. Dan itu memang terjadi, ketika penguasa agamawi mewanti-wanti mereka tentang ke-MESIAS-an YESUS, mereka memilih menolak YESUS ketimbang dikucilkan dari masyarakat Yahudi.
Ketika TUHAN memperkenalkan diriNYA kepada MUSA, IA berkata: “AKU ADALAH AKU”, itu independen, bebas dari hikmat manusia, dan IA tidak membutuhkan siapapun untuk bertindak,… itulah yang sedang dilakukan YESUS, kenapa bisa? karena IA mengetahui kedalaman hati manusia, dan terlebih karena IA adalah Firman ALLAH Yang telah menjadi manusia…

Tidak ada istilah “asal bapak senang”,…. karena IA tidak berasal dari dunia. Di dunia keputusan politis bisa dan sering terjadi untuk menjaga kepercayaan, tetapi TUHAN tidak dan sangat tidak seperti itu. IA Berotoritas Mutlak, tetapi IA bisa dan mau dipercayai.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: